Night Sight Edition


       Gambar di atas bukanlah gambar yang sekali jadi dari hasil jepretan kamera. Diperlukan proses untuk membikinnya seperti itu. Bukanlah hal yang sulit untuk mengedit foto semacam itu. Karena saya cukup melakukannya dengan applikasi yang sudah terpasang di gadget saya.

       Untuk foto asli gambar di atas dapat dilihat dalam gambar di bawah ini. Foto saya ambil dengan HP saya sendiri, dengan applikasi kamera yang bernama Gcam, menggunakan menu Night Sight. Dari mana saya mendapatkan Gcam dan bagaimana cara memasangnya? Cari saja di kolom pencarian Google, jangan malas mencari tahu ya!


       Nah, lantas bagaimana cara saya mengedit fotonya menjadi seperti gambar yang di atas tadi? Beginilah ceritanya.

       Pertama kali yang saya lakukan adalah dengan mengirimkan foto aslinya ke applikasi yang bernama Picsay Pro. Kemudian dari menu Adjust saya memilih untuk melakukan cropping dengan resolusi 16:9. Konon resolusi 16:9 menjadikan gambar menjadi lebih cinematic dan dramatis. Ingat, perhatikan obyek dalam gambar saat melakukan cropping. Jangan sampai gambar dengan obyek manusia menjadi kehilangan kepalanya saat selesai dipotong.

       Masih di menu Adjust, saya memilih mengurangi Exposure, karena menurut selera mata saya foto asli tersebut terlalu banyak menangkap cahaya. Kemudian saya menambahkan sedikit Boost sesuai selera yang saya ingini.

      Beralih ke menu Effect, di sini saya menambahkan efek Vignette tipis-tipis, dan menambahkan sedikit efek Cross Process. Selesai sudah foto saya edit, dan tinggal disimpan.

       Yang saya lakukan selanjutnya adalah mengirimkan gambar hasil editan Picsay Pro ke applikasi bernama Add Watermark. Aplikasi ini fungsinya hanya untuk menambahkan tanda air. Lewat Picsay Pro bisa juga sih kalau mau menambahkan tanda air, tapi saya pribadi sudah terlanjur terbiasa dengan Add Watermark.

       Ada sedikit salah pencet saat akan mengunggah gambar yang telah saya beri tanda air. Di galeri bawaan HP, saya secara tidak sengaja memencet efek beautifully. Karena saya merasa tidak ada yang mengganggu kepuasan saya atas hasil editan tersebut, ya, sudah saya lanjut saja.

       Sedikit informasi ya, postingan ini pun sebenarnya adalah postingan ulang, karena sebelumnya sudah saya publish. Namun karena kecerobohan saya, post ini terhapus dari dashboard Blogger. Jadi pengen misuh kan, apalagi saya tidak menyimpan draftnya.
TEWEL!!!



       Berbicara mengenai foto editan, tentunya ada di antara kalian yang tidak menyukainya. Mungkin kalian merasa lebih sreg dengan hasil foto asli kamera. Menurut saya, itu soal selera sih. Tidak perlu diperdebatkan. Untuk hasil foto saya sendiri, suka-suka saya mau mengeditnya atau tidak. Sebagaimana saya menulis di blog ini, semuanya untuk kepuasan saya pribadi. Tugas saya bukan untuk memuaskan kalian semua. Emang saya lelaki apaan? Hih!

       Oh, iya, untuk gambar yang paling bawah, pengambilan gambar tetap menggunakan Gcam dengan mode potrait. Saya tidak mengedit foto tersebut, yang saya lakukan hanya menambahkan tanda air sebelum mengunggahnya ke sosial media.

Ketika Tiba-tiba Ingin Menulis Blog (Lagi)


       Ada kalanya keindahan itu bisa dinikmati dari jarak yang jauh, namun ada saatnya pula kita harus berhenti sejenak dan mengamati dari dekat untuk menemukan keindahan yang lain. Begitu banyak keindahan di sekitar kita yang terlalu sayang untuk sekedar kita lewatkan karena cara pandang kita yang tidak tepat. Bagaimanapun jarak pandang dan sudut pandang kita akan berpengaruh terhadap penilaian kita tentang keindahan.

       Saat hidup terasa berat dan dipenuhi dengan kecewa yang bercampur dengan segala macam kepedihan, mungkin hal ini dikarenakan jarak pandang dan sudut pandang kita tentang apa yang sedang kita alami itu sedang tidak pada titik yang tepat. Ada kalanya kita perlu memandangnya dari jauh atau sebaliknya kita perlu memandang lebih dekat segala tentang kesedihan itu sehingga hidup tetap terasa ringan dan menyenangkan.

       Kalau boleh meminjam liriknya Godfather of Broken Heart, Lord Didi Kempot, "Penak ora penak yo dipenak-penake. Seneng opo ora yo diseneng-senengke." Tentunya kebahagiaan hidup akan menyertai jalan kita.

Dongeng yang Belum Diceritakan

         Belakangan ini saya seringkali mengalami mimpi-mimpi yang luar biasa. Mimpi yang bahkan diri saya sama sekali tidak terlibat di dalamnya. Semacam penggambaran sebuah cerita yang tidak pernah saya baca, dengar atau lihat sebelumnya. Jalan ceritanya bervariasi dan lokasi kejadiannya pun selalu berganti.

         Ada cerita tentang pemuda bernama Ali, yang mendapati seorang Ibu pemilik warung gorengan yang tak bisa lepas dari derita kehilangan anak lelaki satu-satunya. Anak lelaki Ibu ini meninggal pada saat berjaga di Poskamling kampungnya. Sampai berbulan kemudian, hingga kedatangan Ali di warung tersebut, Ibu ini selalu merasa anak lelakinya sedang tertidur di rumah, dan sang Ibu akan selalu marah saat ada orang yang lewat di rumahnya karena takut anak lelakinya akan terbangun dari tidurnya. Ali dengan kecerdikannya yang luar biasa, mampu menyembuhkan Ibu pemilik warung dari derita kehilangan yang berkepanjangan.

         Mimpi yang lain bercerita tentang seorang pemburu muda yang terdampar di sebuah perkampungan di tengah hutan. Penduduk kampung ini meyakini adanya Werewolf yang selalu siap menyerang kampung mereka. Mereka memiliki kepercayaan bila tiap malam purnama, sepasang bocah lelaki dan perempuan terpilih dari kampung mereka harus berjalan di sepanjang tepian sungai yang mengelilingi kampung dengan berpakaian pengantin agar Werewolf tidak berani memasuki kampung mereka. Pemuda pemburu berkenalan dengan bocah lelaki yang selalu berkeliling kampung dengan pakaian pengantin di kala purnama. Awalnya pemuda pemburu disangka sebagai jelmaan Werewolf, namun sang pemuda pemburu akhirnya mampu menghapuskan mitos Werewolf yang telah menghantui kampung dalam beberapa generasi.

         Ah, mimpi-mimpi tersebut benar-benar membikin saya enggan bangun di dunia yang sudah sedemikian blangsak ini.


Margaretha Zelle

       Kejadian-kejadian buruk yang menimpanya di usia belia menjadi pendorong utamanya untuk segera meninggalkan tanah kelahirannya, Belanda. Dengan menikahi seorang serdadu yang bertugas di Hindia timur, berangkatlah ia dengan segudang harapan untuk memiliki kehidupan baru di negeri jauh yang dikenal dengan keeksotisan budaya dan alamnya yang serupa surga. Seluruh harapan itu luruh, yang didapatinya kemudian hanyalah penderitaan dan kekecewaan.

       Setelah kembali ke Belanda dengan begitu banyak kesedihan dan penderitaan, ia membuat langkah berani untuk pergi ke Paris, kota yang menawarkan kebebasan dan kegembiraan, sesuatu yang begitu jarang mampir dalam hidupnya. Dengan kemampuannya menari, tak butuh waktu lama baginya untuk menjadi idola baru di Paris sampai hampir ke seluruh daratan Eropa. Pementasannya selalu ditunggu dan segera ia menjadi pusat berita.

       Kehidupan mewah dan pergaulannya dengan kalangan atas telah berhasil direngkuhnya. Hingga kemudian perang dunia meletus, dan segalanya menjadi serba tak menentu. Pemerintah Perancis menangkapnya dengan tuduhan sebagai agen ganda. Vonis hukuman mati dijatuhkan kepadanya meskipun tak pernah ada bukti konkret yang membuktikan bahwa ia adalah seorang mata-mata.

       Hukuman mati harus diterimanya, meskipun dosanya hanya karena ia wanita, dan dosa yang lebih besar lagi adalah karena hidupnya yang merdeka. 


Tak Semua Upil itu Asin

       Belakangan ini saya seringkali dibikin kagum oleh kecepatan warganet dalam mengomentari status atau peristiwa. Rasa-rasanya Supra Ijo yang saya kebut maksimal tak akan mampu mengejar kecepatannya. Baru saja sebuah status atau peristiwa dibagikan, komentar demi komentar dengan cepat bermunculan. Bahkan komentar itu mampu mendahului kecepatan membaca sang komentator dalam membaca sebuah status atau peristiwa yang dibagikan.

       Yang tak kalah mengagumkan dari kecepatan komentar warganet adalah kemampuan mereka dalam mengomentari segala macam hal. Seolah mereka benar-benar menguasai berbagai bidang persoalan. Selain itu, mereka juga begitu kukuh mempertahankan pendapatnya. Pendapat yang berlainan, biarpun dari yang lebih ahli tidak akan mampu menggeser apa yang mereka percayai sebelumnya. Karena bagi mereka, pengetahuan yang mereka miliki adalah yang paling benar, dan apa yang diketahui orang lain adalah salah bila bertentangan dengan apa yang mereka ketahui.

       Terus terang saya merasa ngeri membayangkan status yang saya bagikan mendadak viral dan mendapatkan komentar seperti yang saya sebutkan di atas. Katakanlah, di suatu senja yang indahnya tak begitu lama, saya membagikan status yang menyatakan bahwa tak semua upil itu asin. Sebelum senja yang indahnya tak begitu lama itu berganti menjadi gelap, status yang saya bagikan ternyata dikomentari begitu banyak orang yang kesemuanya menolak pendapat saya. Mereka semua menyatakan tak ada upil yang tak asin. Mungkin memang mereka semua pernah mencoba menjilat upilnya sendiri.

       Saya tetap bertahan dengan pendapat saya dan warganet juga tetap kukuh dengan pendapat mereka. Anehnya, tak ada satu pun dari warganet yang berkomentar di status saya yang mau membuktikan bahwa tak semua upil itu asin. Padahal saya telah bersedia menyiapkan banyak upil sebagai bahan pembuktian untuk mereka jilat.
Ngeri banget kan?

       Ah, andai saja saya mampu membunuh internet.


Dari Hidup Ini Keras Maka Gebuglah ke Hidup Ini Lunak Maka Bentuklah

       Selesai membaca Ipung 4 sampai bab 4 yang menceritakan kembali 4 tokoh sentral dalam novel Ipung, saya memutuskan untuk berhenti sejenak, kemudian mulai membaca ulang dari Ipung 1, Ipung 2, dan Elegi Surtini dan Ayunda. Setelah itu saya melanjutkan membaca Ipung 4 mulai dari awal lagi.

       Kisah Ipung remaja asal Kepatihan, Solo yang sekolah di SMA Budi Luhur Semarang adalah kisah yang telah melewati beberapa generasi. Ipung pertama kali muncul pada medio 90-an dan kembali muncul di tahun 2007 dengan beberapa penyesuaian mengikuti perkembangan zaman. Ipung tetap bersepeda, namun surat, dan telegram telah berganti menjadi telepon dan telepon genggam. Mobil yang dikendarai anak-anak Budi Luhur pun diperbarui sesuai situasi zaman kiwari. Ipung, Paulin, Ayunda dan Surtini bertahan di usia remaja biarpun zaman telah berganti ke era fiber dan digital.

       Rentang waktu kemunculan antara novel satu dengan yang lainnya lumayan lama. Saya rasa inilah yang menjadi penyebab jalinan cerita dari Ipung 1 sampai Ipung 4 sedikit mengalami gangguan lini masa. Dalam Elegi Surtini dan Ayunda, Ipung sudah berada di tahun ketiga duduk di bangku sekolah Budi Luhur, di tahun yang sama Ayunda juga datang sebagai murid baru di Budi Luhur, sedangkan Surtini masih di Kepatihan menunggu tahun ajaran baru untuk memasuki Budi Luhur. Perlu diketahui juga bahwa Ayunda ini awalnya merupakan novel yang berdiri sendiri yang dimasukkan ke Ipung 3 (Elegi Surtini dan Ayunda).

       Saya membaca Ipung 4 dengan kesadaran akan adanya set yang berubah dari 3 novel sebelumnya sebagai bentuk penyesuaian terhadap keadaan terkini. Namun setelah dua kali membaca 4 bab awal Ipung 4, saya merasa mengalami lipatan waktu yang terasa mengganggu. Bagaimana bisa Surtini menjadi satu sekolah dengan Ipung dan Ayunda di Budi Luhur? Padahal di Elegi Surtini dan Ayunda jelas bahwa Ipung sudah di tahun ketiga dan Surtini masih menunggu tahun ajaran baru untuk mendaftar di Budi Luhur. Kemudian saya memutuskan untuk menganggap Budi Luhur yang merupakan sekolah favorit itu membutuhkan empat tahun pembelajaran untuk lulus.

       Kejanggalan lain di Ipung 4 ini adalah Ayunda yang dikisahkan perhatiannya lebih dulu terarah kepada Surtini, alih-alih ke Ipung. Ini tentu berlawanan dengan cerita dalam Elegi Surtini dan Ayunda yang nyaris tidak mempertemukan Ayunda dan Surtini. Kalau saja saya tidak membaca ulang novel Ipung ini berurut dari buku pertama, tentunya kejanggalan-kejanggalan ini tidak akan saya temui.

       Ada beberapa bagian lagi di Ipung 4 yang sedikit membuat kening berkerut, hal ini dikarenakan adanya kesalahan penulisan tokoh. Ayunda tertukar dengan Paulin atau sebaliknya. Tokoh Ipung sendiri tetap tampil dengan begitu sempurna. Jelas sudah kalau Ipung ini adalah sosok remaja ideal menurut sang penulis. Terlalu berlebihan memang, bahkan Pakdhe Prie GS pun mengakuinya dalam sebuah pengantar di halaman depan buku ini:

"Ipung adalah gambaran anak muda yang saya bayangkan, yang begitulah sebaiknya generasi Indonesia menjadi. Terlalu berlebihan, tetapi soal-soal yang ideal memang penting dirindukan, setidaknya untuk menghibur diri. Di dalam kenyataan terlalu banyak soal yang tidak ideal menurut pandangan ego kita, maka hanya di dalam dunia imajinasi, dunia idealisasi dan dunia kerinduan, soal-soal yang memuaskan itu bisa kita dapati." 

       Secara keseluruhan Ipung 4 Hidup Ini Lunak Maka Bentuklah merupakan bacaan ringan yang menghibur. Kelucuan-kelucuan yang ada diselingi dengan petuah-petuah motivasi khas Pakdhe Prie GS mampu membikin saya tertawa dan merenungi kondisi sosial yang sedang terjadi saat ini.

"Kepada siapa cerita ini dituliskan?"
"Kepada siapa yang setia menjaga hati nurani."


Nawang Wulan Pulang

masuk saja ke dalam pikiranku dan temui jalan buntu yang terhalang poster besar bergambar wajahmu

kibar warna-warni bendera partai tak akan pernah menarik hatiku 
pada kibar selendang yang kucuri saat lengah engkau mandi aku teringat

selendang itu rapi kusimpan 
tertawa aku diam-diam melihatmu mencoba terbang dengan selendang yang kaubeli di pasar malam

bejatku setingkat setan budimu setara bidadari 
mungkin selendang petunjuk tuhan agar engkau kumiliki

....
telah kau temukan lagi selendang itu 
kini warna pelangi lengkap sudah 
satu warna yang kucuri telah kembali 
Nawang Wulan melenting pergi

(2013)