Nawang Wulan Pulang

masuk saja ke dalam pikiranku dan temui jalan buntu yang terhalang poster besar bergambar wajahmu

kibar warna-warni bendera partai tak akan pernah menarik hatiku 
pada kibar selendang yang kucuri saat lengah engkau mandi aku teringat

selendang itu rapi kusimpan 
tertawa aku diam-diam melihatmu mencoba terbang dengan selendang yang kaubeli di pasar malam

bejatku setingkat setan budimu setara bidadari 
mungkin selendang petunjuk tuhan agar engkau kumiliki

....
telah kau temukan lagi selendang itu 
kini warna pelangi lengkap sudah 
satu warna yang kucuri telah kembali 
Nawang Wulan melenting pergi

(2013)


Petuah Akhir Tahun

       Jumat ini adalah Jumat terakhir di 2017, karena itu izinkan saya menuliskan sesuatu selagi kadar kegantengan saya yang naik selepas Jumatan tadi belum kembali anjlok ke titik pas. Jadi, tolong diingat, saya menuliskan ini saat sedang ganteng-gantengnya. Kalau anda tidak sependapat akan lebih baik kalau anda sudahi membaca tulisan saya sampai di sini.

       Peristiwa pergantian tahun, baik itu masehi, hijriyah, lunar, saka, atau yang lainnya, sebenarnya hanyalah pengingat bahwa waktu terus berjalan. Rasanya malas setiap pergantian tahun selalu dijadikan ajang perdebatan tentang patut tidaknya pergantian tahun untuk dirayakan. Bagi sebagian orang mungkin perdebatan itu adalah sesuatu yang menarik, namun bagi orang yang sedang menanjak kadar kegantengannya perdebatan hanyalah kesia-siaan. Toh, dirayakan atau tidak dirayakan tahun akan tetap berganti.

       Rasanya juga akan teramat membosankan jika tiap pergantian tahun menuliskan tentang pencapaian-pencapaian selama setahun dan harapan-harapan untuk setahun yang akan datang. Terutama bagi anda yang selama bertahun-tahun tidak mampu mencapai sesuatu di dalam hidup, padahal di tiap pergantian tahun anda selalu berharap tahun depan akan lebih baik dari tahun sekarang, dan ternyata yang anda temui bukanlah apa-apa. Terlebih jika anda melihat orang-orang di sekitar anda memiliki kemajuan yang pesat di tiap tahunnya. Ya, saya tahu anda akan muak membaca tentang resolusi tahun baru dan segala tetek bengek petuah basinya.

       Sebagai orang yang sedang berada di titik tertinggi kegantengan, saya turut prihatin atas ketidakmampuan anda dalam mewujudkan segala harapan anda di tahun ini. Kalau anda masih percaya dengan kegantengan saya, baiknya anda simak sedikit nasihat dari saya di penghujung tahun ini.

       Pertama yang harus anda lakukan adalah jangan pernah khawatir tentang apa yang terjadi pada diri anda di masa mendatang, bahkan kalau anda mampu tak perlu juga khawatir akan surga dan neraka. Satu-satunya hal yang harus anda khawatirkan adalah bila tiba masa di mana anda tidak lagi mampu berbuat baik.

       Yang kedua yang perlu anda lakukan di penghujung tahun ini adalah untuk kembali mengingat seberapa banyak basmallah yang telah anda lafalkan dan seberapa banyak hamdallah yang anda ucapkan. Jika anda mengucap hamdallah lebih sering daripada basmallah, maka yakinlah anda adalah manusia yang berbahagia. Tak ada lagi kekhawatiran untuk menjalani tahun yang baru karena anda tahu yang sebenarnya anda butuhkan adalah memperbanyak hamdallah di dalam hidup.



Aku Belum Mati

       Seorang rekan memberi tahu bahwa ada orang yang sesumbar akan mengirimiku guna-guna di hari Jumat untuk membunuhku. Aku bahkan tidak mengenal orang itu. Namun yang aku tahu, dulu kelakuan konyolku pernah mematahkan mantra pemikat yang dikirimkannya pada seorang perempuan yang aku kenal. Kabar yang aku dengar mengatakan bahwa orang itu dan dukunnya marah besar karena kelakuanku.

       Aku kok yakin ya, kalau Tuhan tidak akan mematikanku dengan cara seperti itu. Mungkin saja aku akan tumbang di hari Jumat terkena guna-guna yang dikirimkan orang itu, tapi tidak mati. Aku percaya teman-teman dan orang-orang terdekatku tak akan tinggal diam mengetahui apa yang menimpaku.

       Sampai jumpa di hari Jumat.

*****

       Ancaman mereka untuk mencelakaiku bukan gertak sambal belaka. Semalam adalah waktu mereka melakukan serangan itu kepadaku. Sebelum tengah malam hujan turun dengan lebat diiringi angin kencang dan kilat yang menerangi gelap malam. Memasuki tengah malam hujan belum juga berhenti, kepalaku mulai berat, sakitnya hingga berdenging. Dadaku terasa sesak, seperti terinjak, dan bernafas pun terasa susah.

       Aku bahkan tak peduli dengan apa yang sedang terjadi. Aku masih yakin bisa melewati Jumat ini, belum saatnya aku mati. Sepanjang malam aku biarkan gangguan-gangguan itu menderaku. Dulu, pernah guru mengajiku mengajarkan doa-doa pelindung diri dari serangan guna-guna dan semacamnya. Tapi itu sudah terlalu lama, dan tentu saja aku telah lupa.

       Seperempat jam sebelum adzan Subuh tubuhku tumbang. Lantai tempat tubuhku terbaring berubah menjadi lubang hitam dan menghisap tubuhku jauh ke dalam pusarannya. Cukup lama tubuhku berputar-putar jatuh ke dalam lubang yang seperti tak berdasar ini, hingga kemudian sungai berair hitam menghanyutkan tubuhku. Aku mencoba berenang di arus yang deras meskipun aku sadar kalau aku tidak pernah bisa berenang di air tenang. Usahaku berenang membikin tubuhku semakin timbul dan tenggelam hanyut dalam derasnya air hitam. Hingga kemudian aku melihat sebilah bambu kuning terjulur ke arahku saat tubuhku timbul ke permukaan. Kukerahkan tenaga terakhirku untuk menggapai bambu kuning itu, aku pegang erat-erat sebelum semuanya menjadi gelap.

       Aku membuka mata di tepi telaga berwarna hijau dikelilingi teman-teman dan orang-orang terdekatku. Salah seorang di antara mereka memberiku minum air dari telaga, beberapa saat kemudian tenagaku pulih dan mampu duduk dengan sempurna. Lalu kami mulai makan bersama. Ada banyak menu yang dihidangkan; sambal ontong, pindang serani, pecel lele, sambal terasi, dan tak ketinggalan kopi Colo yang harumnya membangkitkan energi. Setelah makan dan berterima kasih kepada para penolongku, kami kembali ke tempat masing-masing. Aku pun terbangun dan segera mengerjakan Subuhku yang agak kepagian.

       Di siang harinya, setelah mandi aku berangkat menuju masjid untuk Jumatan. Seekor perkutut dengan kalung leher melingkar penuh menghadang jalanku di gang sempit depan rumah. Setelah aku mulai dekat, perkutut itu terbang ke dahan srikaya yang tak begitu tinggi. Mata perkutut itu terus tajam mengawasiku. Aku pun berhenti dan balas menatap mata perkutut itu. Beberapa saat kami diam saling mengawasi, kemudian aku tersenyum dan berkata pelan kepada perkutut itu, "Ya, aku belum mati." Perkutut dengan kalung leher melingkar penuh itu pun kemudian terbang menuju selatan, dan aku pun kembali melangkah untuk Jumatan.


Menikmati Sajian Rumah Kopi Singa Tertawa

       Buku ini merupakan edisi kedua dari buku yang pertama terbit tahun 2011. Ada tambahan dua cerpen baru di edisi ini. Total ada dua puluh cerita pendek yang ditulis dari tahun 1989-2014 yang sebagian besar pernah dimuat di media massa dalam bentuk yang sama atau sedikit berbeda.

       Cerita-cerita yang dikisahkan sangat beragam. Kalau anda pernah membaca kisah Sungu Lembu dari buku Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi yang terkenal itu, anda akan diajak mengingat kembali petualangan tersebut. Selain itu anda juga akan menemukan obrolan dari meja ke meja di Rumah Kopi Singa Tertawa yang ternyata sangat menarik untuk dicermati hingga oleh penulis dibikin lagi versi 2.0-nya.

       Berbagai khazanah kebudayaan dunia disajikan di buku ini dengan sangat menarik, anda bisa merasakan kegalauan Togog yang nyaris putus asa karena mendapat tugas untuk menjadi Punakawan untuk para raksasa yang tak tahu aturan. Anda juga diajak untuk sedikit mengerti tentang sialnya kehidupan Durna yang sepanjang usianya selalu disalahpahami.  Bahkan anda akan mendapatkan cerita betapa menderitanya Kalagemet atau yang lebih dikenal  sebagai Jayanegara ketika dipantatnya tumbuh bisul yang membawanya kepada maut.

       Beberapa kisah akan membuat anda tertawa lepas, beberapa lagi akan membikin perasaan teriris pedih. Sesekali anda akan dibikin mentertawakan kesedihan, di halaman lain anda akan menangis gembira. Kematian, kemelaratan, kesialan, dan kegilaan mampu dikopyok menjadi kisah-kisah yang terlalu sayang untuk dilewatkan.


Kebahagiaan Warto Kemplung

       Hanya butuh dua kali waktu minum kopi untuk menyimak habis cerita Mat Dawuk yang dibawakan Warto Kemplung dengan begitu runut, seolah dia ikut terlibat dalam setiap adegan yang berlangsung.

       Warto Kemplung memang juara dalam bercerita. Semua orang mengenalnya sebagai pembual nomor wahid, setiap kali ia merasa malu untuk berhutang kopi dan rokok pada Yu Siti, maka bualannya akan menjadi senjata pamungkas untuk memperoleh kopi dan rokok secara cuma-cuma.

       Meskipun Iqbal Aji Daryono mengungkapkan bahwa Mahfud Ikhwan di masa lalu pernah dengan sinis mengatakan, “Juri kan punya subjektivitas masing-masing,” saya tetap yakin kemenangan Dawuk dalam Kusala Sastra Khatulistiwa ke-17 untuk kategori prosa merupakan bukti nyata kesaktian Warto Kemplung dalam mengolah bualan.

       Cerita ini saya lahap dengan begitu cepat, namun kata-kata Warto Kemplung akan saya ingat dalam rentang waktu yang panjang.
"Kebahagiaan itu seperti secangkir kopi. Semakin nikmat, ia semakin cepat habis."