Telembuk Sebuah Kisah yang Tak Pernah Selesai

Pertama kali saya menemukan nama Tumaritis sekitar tahun '90an dari komik Petruk bikinan Tatang S yang bercerita tentang pengalaman Petruk, Gareng, dan Bagong dengan segala jenis hantu yang menjadi teror di Tumaritis. Setelah sekian lama tak terdengar, Tumaritis kembali muncul dalam sebuah Novel karya Kedung Darma Romansha yang berjudul "TELEMBUK dangdut dan kisah cinta yang keparat".

Berbeda dengan komik Petruk, Telembuk tidak lagi bercerita mengenai hantu-hantu penasaran yang bergentayangan di Tumaritis. Adalah Diva Fiesta ---nama panggung dari Safitri--- bintang dangdut Organ Tunggal Langlang Buana yang tinggal di Tumaritis, dan memiliki profesi sampingan sebagai telembuk mencoba melanjutkan kisahnya yang tak selesai di novel "Kelir Slindet" ke dalam novel "Telembuk" ini.

Pembaca akan disuguhi cerita kehidupan masyarakat sekitaran Indramayu yang meliputi; Cikedung, Tumaritis, Terisi, Jenggleng dan juga hutan Sinang yang misterius itu. Sepanjang cerita alunan musik dangdut tarling terus terdengar, diselingi desah manja biduan dangdut yang menggoda. Udara yang pengap bercampur dengan wangi parfum murahan, keringat yang menyengat, dan bau alkohol akan menjadi latarnya. Dan tentunya lika-liku dan luka kehidupan telembuk akan menjadi sajian utama dalam novel ini. Semuanya terasa begitu nyata tanpa ada kesan mengada-ada.

Hal yang menarik dari novel ini adalah cara penyajiannya yang memberikan kebebasan cara pandang, sudut pandang, dan juga jarak pandang kepada pembacanya. Selain menghadirkan cerita dari seorang narator, pembaca juga bisa menikmati novel ini dari kacamata tokoh-tokohnya; Aan, Safitri, Govar, dan Mukimin.

Melalui narator ---di sini lebih senang disebut sebagai Mang Pencerita--- kisah ini disajikan dalam posisi netral. Tak ada penilaian moral apa pun, tidak menghakimi, membela, atau pun merayakan perilaku para tokoh dalam novel ini. Sedang melalui Aan yang tak lain adalah Mang Pencerita itu sendiri, pembaca akan dibawa lebih masuk ke dalam cerita dan pergulatan batin yang dialami oleh Aan selama menceritakan kisah ini. Pembaca diberi keleluasaan untuk memilih dari sisi mana mereka membaca novel ini. Mau menghakimi, menikmati, mengambil hikmah, atau sekedar mengamati, itu terserah pembaca.

Bagaimanapun, cerita tentang mereka yang terus bertahan meski kalah oleh takdir akan selalu ada, dan tak akan pernah selesai untuk diceritakan.


Reputasi, Masa Lalu, dan Harapan

Ketika reputasi dilihat dari cara seseorang menghadapi hal-hal besar di hidupnya, maka kegagalan-kegagalan yang saya alami saat menghadapi hal-hal besar dalam hidup saya di masa lalu sudah cukup untuk membuat saya disebut pecundang. Nyaris tak ada hal-hal besar yang mampu saya perbuat di sepanjang perjalanan hidup saya.

Karena selalu gagal dalam menghadapi hal-hal besar itulah, kemudian saya lebih memilih menghindari perkara-perkara besar. Selanjutnya dalam hidup, saya hanya mengerjakan hal-hal kecil. Dan selalu berusaha untuk memperoleh hasil yang terbaik dari hal-hal kecil yang saya hadapi tersebut. Setidaknya saya percaya, jika reputasi bisa dibangun dari cara seseorang menyelesaikan hal-hal kecil di dalam hidupnya.

Kegagalan dan kekalahan terus-menerus yang saya alami di masa lalu membikin saya tidak lagi pernah berani untuk bermimpi. Hidup saya sekedar untuk hari ini. Alih-alih mencoba menggapai impian, berpikir tentang esok hari saja saya tak berani. Seringkali saat ditanya apa rencana saya esok hari, saya selalu menjawab, ”Sesuk kok dipikir saiki, marai gering." Begitulah, saya tetaplah pecundang hingga hari ini.

Keseharian saya hanyalah usaha untuk menebus masa lalu saya yang selalu gagal dalam hal-hal besar. Saya menjadi terlalu sibuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang saya lakukan di masa lalu. Mungkin dengan begitu reputasi saya bisa dilihat lebih baik di masa yang akan datang. Semacam usaha merebut kembali masa lalu yang selalu dipecundangi, untuk kejayaan di masa depan.

Namun hari ini berbeda. Mendadak hari ini saya mempunyai impian, sebuah harapan tentang masa yang akan datang. Maka dari itulah, saya sempatkan menulis catatan ini sebagai penanda agar di kemudian hari saya tidak melupakan mimpi-mimpi hari ini.

Ada yang bilang, "Orang besar adalah mereka yang memiliki mimpi-mimpi besar." Tidak, saya tidak pernah memiliki keinginan menjadi orang besar. Impian saya hanyalah tentang keinginan untuk tinggal di sebuah rumah kayu di tepi danau ---- dengan pohon-pohon Ketapang rindang di tepiannya --- ditemani seorang istri yang berbudi dan anak-anaknya yang tahu akan bakti. Ah, sepertinya mimpi ini terlalu muluk buat saya yang hanya seorang buruh harian.

Namun kemudian saya mengambil simpulan bahwa impian tersebut bukanlah mimpi besar yang harus saya singkirkan. Saya menganggap impian tersebut sebagai mimpi yang membahagiakan, sehingga perlu untuk saya simpan sebagai harapan dan doa, dan juga patut untuk saya usahakan sepenuh hati agar menjadi kenyataan di kemudian hari.

Saya sadar, kebahagiaan hanyalah milik sebagian kecil dari mereka yang beruntung. Dan itu bisa terjadi pada siapa pun. Mungkin kelak, saya akan menjadi yang sebagian kecil itu. Semoga Tuhan mengizinkan.,


Kata Istana Tarif Listrik Tidak Naik

JAKARTA, KOMPAS.com - Istana membantah isu di masyarakat soal kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL).

"Tidak benar ada kenaikan tarif dasar listrik. Yang terjadi bukan seperti itu," ujar Kepala Kantor Staf Presiden Teten Masduki di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Senin (12/6/017).

Teten menjelaskan bahwa pemerintah mensubsidi dua kategori konsumen. Pertama, subsidi sebesar Rp 23,94 triliun kepada konsumen 450 VA.

Kedua, subsidi sebesar Rp 5,78 triliun kepada konsumen 900 VA.

Per 1 Januari 2017, PLN kemudian memindahkan sebagian besar konsumen 900 VA ke tarif non-subsidi.

Alasannya, banyak konsumen kategori itu yang ternyata berasal dari ekonomi menengah ke atas.

"Setelah TNP2K bersama PLN memeriksa di lapangan 'by name by address' memang sebagian besar dikategorikan sebagai keluarga yang mampu dan tidak layak mendapatkan subsidi. Subsidi itu bukan untuk orang mampu," lanjut Teten.

Teten memberikan contoh, konsumen 900 VA yang dialihkan ke tarif non-subsidi, misalnya mereka yang memiliki usaha dan memiliki kost-kostan, rumah mewah dan memiliki lebih dari satu kendaraan pribadi.

Oleh sebab itu, konsumen yang kini merasa membayar listrik lebih mahal dari biasanya, berarti mereka dikategorikan sebagai keluarga mampu.

"Berdasarkan laporan yang saya terima, pihak PLN kan sudah mensosialisasikan kebijakan itu ke konsumen yang dialihkan ke tarif non-subsidi. Jadi seharusnya itu sudah tersosialisasi dengan baik," ujar Teten.

Di sisi lain, jumlah konsumen listrik 450 VA yang tetap mendapatkan subsidi mengalami kenaikan signifikan.

Data per Juni 2017, jumlah konsumen di kategori itu adalah 23,1 juta konsumen. Kenaikan jumlah konsumen itu karena program pemerintah yang menyasar daerah-daerah yang selama ini tak dialiri listrik.

"Intinya, di satu sisi kalangan ekonomi mampu dipindahkan ke tarif listrik non-subsidi, tapi penerima subsidi listrik di Indonesia semakin banyak," kata Teten

sumber: http://nasional.kompas.com/read/2017/06/12/11471891/istana.tidak.benar.ada.kenaikan.tarif.dasar.listrik
_________________
Alhamdulillah ya, listrik nggak naik, cuma subsidinya saja yang dicabut. Bukan naik tarifnya, catat ya, kalau pengeluaran buat bayar listrik per bulan menjadi dua kali lipat itu bukan karena tarif listrik naik. Pengeluarannya saja itu yang naik. Ya, yang sebelumnya ada jatah buat nyenengin anak jajan eskrim sama coklat ya bisa diganti dengan "horog-orog" atau "gendar". Atau yang biasanya setahun bisa piknik dua kali bisa dijadwal ulang menjadi dua tahun sekali. Ya, buat tambah-tambah kebutuhan bayar listrik yang katanya nggak naik itu.

Alhamdulillah pemerintah "apikan", kami dianggap keluarga menengah ke atas jadi berhak dicabut subsidi listriknya. Rumah mewah kami yang seukuran empat kali dua belas meter di dalamnya terdapat dua buah kendaraan pribadi: satu Supra X keluaran 2004 --- yang mesinnya mengeluarkan bunyi "kemrasak" minta jatah turun mesin dan belum juga kesampaian --- dan satu motor Cina berjudul Minerva. Karena parameter itulah kami dapet anugerah dari pemerintah untuk bayar listrik dua kali lipat dari biasanya dan bebas dari menerima subsidi.

Di rumah memang nggak ada anak-anak yang harus dibelikan "horog-orog" atau "gendar". Pun sudah berpuluh tahun tak pernah terjadi yang namanya piknik bersama di keluarga kami. Alhamdulillah, sekarang ini bapak-ibu yang sama-sama sudah tidak bekerja tetap bisa menikmati nasi yang dari hari ke hari semakin tidak putih dan wangi lagi. Dan kalau lagi beruntung malah bisa menemukan kerikil di antaranya. Alhamdulillah, beliau-beliau di sisa usianya masih sanggup makan lauk yang semakin keras dan menghitam karena lebih sering digoreng dengan jelantah, yang seringnya bikin serak tenggorokan "sepuh" mereka.

Kami harus bersyukur dan berterima kasih pada pemerintah yang dengan segala kebaikannya menaikkan golongan kami menjadi golongan menengah ke atas. Kami harus bersuka bersama merayakan kebebasan kami dari menerima subsidi listrik yang seharusnya diterima oleh mereka-mereka golongan miskin.

Dan bila membayar tagihan listrik non-subsidi ini pada akhirnya memberatkan kami, semoga saja PLN datang mengulurkan bantuan dengan memberikan paket penghematan bagi kami. Semoga PLN lebih sering mati, agar kami para pengguna listrik lebih bisa menghemat pengeluaran kami. Kira-kira tiap pukul 18.00-06.00 PLN mengalami listrik padam dalam satu minggu empat kali kan ya lumayan buat menghemat pengeluaran.

Jadi rakyat itu yang "manut" sama pemerintah, nggak usah kebanyakan protes. Pokoknya maha benar pemerintah dengan segala keputusannya gitu lho!
Saat ini mungkin memang belum saatnya Negara memakmurkan seluruh warga negaranya, setidaknya rakyat masih bisa mensejahterakan pemerintahnya.
"Dak ngono a"?


Activity Log

Tahukah anda kalau segala tindakan yang anda perbuat di Facebook selalu tercatat di activity log? Anda menekan tombol like, memberi komentar, membagikan status, membagi tautan, membagi kenangan, menyunting profil, dan segala macam aktifitas lainnya akan direkam oleh mesin data dan disimpan oleh Facebook. Bahkan Facebook juga menghitung jumlah like yang diterima oleh sebuah akun.

Kalau Facebook saja mampu mencatat segala macam kegiatan yang anda lakukan di Facebook, bagaimana mungkin anda tidak mengimani dua Malaikat yang senantiasa mencatat amal baik dan buruk yang anda lakukan?

Kemampuan Facebook merekam data itu tentu bukanlah apa-apa bila dibandingkan dengan kuasa Tuhan. Facebook sekedar merekam data yang ada, mesin data tersebut tak akan pernah tahu apakah like yang anda berikan sekedar basa-basi atau benar-benar karena menyukai sebuah status. Bisa jadi like yang anda berikan itu karena ketidaksengajaan jempol anda menyentuh tombol like.

Facebook tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya ada di dalam hati dan pikiran anda. Anda bebas saja membuat status berbahagia meskipun pedalaman anda sedang merana. Atau anda juga bisa pura-pura move on padahal anda sebenar-benarnya anggota laskar sayang mantan.

Bagaimana anda berani mengaku mengimani dua malaikat yang menyertai anda, sedangkan perbuatan yang anda lakukan setiap hari sekehendak hati seperti tak ada yang mengawasi?

Apakah anda lupa bahwa Tuhan mengetahui apa yang tersembunyi di hati anda?

Status dan kiriman anda bisa menuai banyak like dan berbagai macam reaksi lainnya, tanpa pernah Facebook bertanya dari mana anda mendapatkannya. Tapi Tuhan tahu, status anda itu jiplakan belaka.



Agen Rahasia

Malam itu saya memberikan gambaran kepada Aqila dan Aliqa perihal kegiatan Yuk Main yang akan mereka ikuti untuk pertama kalinya. Saya jelaskan kalau mereka cuma perlu datang, bermain, dan bergembira bersama teman-teman yang lain. Harapan saya mereka bisa segera membaur dengan yang lain, bagaimanapun saya tidak bisa terus bersama mereka karena saya juga diminta buat bantu foto-foto dokumentasi kegiatan Yuk Main.

Aliqa lanjut ngobrol dengan saya, sedangkan Aqila tertidur sambil membawa pertanyaan apakah benar Dinosaurus adalah nenek moyang ayam?

Pertanyaan Aliqa terus berlanjut, hingga dia kembali bertanya tentang pekerjaan saya.

"Berarti pekerjaan Om banyak ya, yang pertama Satpam, kedua tukang foto, ketiga...."

"Eh, eh, bukan begitu Dek." Segera aku memotong pernyataan Aliqa.

"Kok bukan? Yang bener gimana sih Om?"

"Gini lho Dek, pekerjaan Om yang sebenarnya itu rahasia. Kalau Om jadi Satpam, tukang foto, tukang listrik, penjual vcd bajakan, dan yang lainnya itu cuma penyamaran Om saja."

"Halah, jangan main rahasia Om!"

"Hahaha, kamu tak kasih tahu pekerjaanku yang sebenarnya tapi rahasia lho, tidak boleh bilang siapa-siapa?"

"Janji Om, Liqa tidak akan bilang siapa-siapa." Jawab Aliqa dengan wajah berseri.

"Jadi pekerjaan Om yang sebenarnya itu menjadi agen rahasia Dek, makanya Om sering nyamar dan punya banyak pekerjaan. Tugasnya agen rahasia itu menjaga kedamaian di muka bumi."

"Ooo, capek dong Om?"

"Yaa capek Dek, yang paling capek itu ya harus merahasiakan siapa sebenarnya Om ini. Orang lain tidak boleh tahu apa pekerjaan Om."

"Oooo...." Aliqa menjawab pelan dengan mata tertutup, tak lama kemudian dia tertidur menyusul Aqila yang tengah bermimpi makan Dinosaurus crispy.

Untunglah Aliqa percaya kalau saya ini seorang agen rahasia. Kalau sampai Aliqa tahu saya ini Renjer biru, bisa repot saya karena pasti mereka berdua akan minta untuk menunggang Megazord.


Senja Tak Pernah Tahu

Pernahkah aku bercerita kepadamu tentang perempuan muda yang selalu aku temukan berkeliaran di dermaga pantai Kartini pada sore hari? Sepertinya belum, jadi biarlah aku ceritakan kisah ini kepadamu kali ini.

Perempuan itu masih muda, aku yakin usianya belumlah menginjak dua puluh lima. Wajahnya mirip denganmu, juga tinggi badan dan bentuk tubuhnya. Dia selalu mengenakan kemeja lebar berwarna pastel dipadu dengan rok panjang berwarna gelap dan kerudung berwarna hitam.

Setiap sore pukul lima dia selalu berjalan mondar-mandir​ sepanjang dermaga sambil tersenyum kepada setiap orang yang ditemuinya. Didekapnya erat sebuah buku gambar ukuran A2 dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menggenggam sekotak pensil warna.

Saat senja datang, dia langsung duduk mencangkung di pinggiran dermaga sambil memandang ke arah matahari tenggelam. Dibukanya lembar kosong halaman buku gambarnya. Dan garis demi garis pensil warna mulai dia goreskan ke lembar kertas gambar yang ada di pangkuannya.

Aku selalu senang mengintip perempuan muda itu menggambar, pertama-tama selalu dia menggambar horison. Batas antara permukaan laut dan langit dibikinnya dengan garis-garis yang tegas. Tak butuh waktu lama untuk menyaksikan dia menyelesaikan gambar tersebut menjadi sebuah gambar senja yang indah.

Tapi perempuan muda itu tidak berhenti di situ. Seiring senja yang mulai tenggelam dalam gelap, perempuan muda itu mulai menggoreskan pensil warnanya yang sewarna malam. Gambar senja yang awalnya begitu indah, kini menjadi gelap menghitam. Langit dan laut sama-sama pekat tanpa cahaya, semacam terselubungi asap hitam yang menghalangi pandangan.

Perempuan muda itu menutup lembar buku gambarnya, membereskan pensil warnanya ke dalam kotak, kemudian melangkah pulang dengan wajah tertunduk menahan kesedihan. Tak ada lagi senyum untuk setiap orang yang ditemuinya seperti saat hari masih terang.

Beberapa kali aku mencoba mengajak perempuan muda itu berbincang. Dari mulutnya langsung, aku tahu dia bernama Senja. Dan tiap kali kutanya, mengapa dia tiap sore pergi ke dermaga, selalu saja aku mendapatkan jawaban yang sama. ”Menunggu Lintang pulang." katanya.

Dari penduduk sekitar dermaga aku mendapatkan keterangan. Sudah dua tahun Senja selalu datang ke dermaga saat sore pukul lima. Hanya hujan yang menghalangi Senja datang ke dermaga.

Dua tahun lalu, Lintang ---kekasih Senja--- meninggalkan dermaga pantai Kartini untuk pulang ke Karimunjawa, memohon restu ayah-ibunya untuk melamar Senja. Sayang di tengah perjalanan, kapal motor yang ditumpangi Lintang terbakar. Lima orang meninggal dunia, dan Lintang tak pernah ditemukan.

Sejak saat itulah Senja selalu datang setiap sore pukul lima dan menggambar di dermaga. Menunggu Lintang pulang. Sayang Senja tak pernah tahu, ada satu bintang yang menyala terang saat senja mulai hilang. Ah, betapa kehilangan selamanya tak pernah mudah.




Prison Break Season 5

Setelah seremoni pemakaman Michael Scofield yang menjadi akhir dari Prison Break season 4 (2008), tidak pernah terlintas dalam benak saya untuk menyaksikan kelanjutan serial Prison Break berikutnya. Namun kejutan itu muncul di bulan April 2017, ketika Fox merilis Prison Break Season 5.

Untuk satu season film seri, season 5 ini tergolong pendek. Hanya ada 9 episode --- biasanya  22 episode --- dan season 5 berakhir sudah. Tak ada harapan berlebih dari saya untuk menyaksikan season 5 ini menjadi sesuatu tayangan yang luar biasa. Sepenuhnya dari awal episode saya menyadari kalau season 5 ini sekedar sesi reuni bagi para pemeran Prison Break di season sebelumnya.

Usaha menghidupkan lagi Michael Scofield yang telah mati di season sebelumnya bukanlah sesuatu yang mengejutkan dan sangat biasa terjadi dalam sebuah serial. Tak ada kejutan-kejutan berarti yang terjadi dalam 9 episode season 5 ini. Bangunan dan alur cerita terasa dangkal, sangat jauh bila dibandingkan dengan Prison Break Season 1 (2005) yang penuh ketegangan dan intrik yang memikat. Satu hal yang menarik dari cerita di season 5 ini adalah ternyata T-Bag memiliki seorang anak.

Kaniel Outis (Scofield) lebih sering terlihat gugup saat mengatasi masalah. Jauh berbeda dari karakter Scofield sebelumnya yang selalu mempunyai rencana dan begitu menguasai situasi. Scofield selalu terselamatkan hanya karena dia seorang  lakon, bukan karena kemampuan intelegensinya yang luar biasa. T-Bag juga kurang mendapatkan tempat di season ini, kekejamannya nyaris tidak terlihat. Kellerman agen federal yang njelehi itu cuma kebagian beberapa episode sebelum mati. C-Note dan Sucre juga sekedar tampil di beberapa episode.

Selain muka-muka lawas muncul kembali, kehadiran Whip dan Poseidon sebagai tokoh anyar cukup memberikan warna baru di season 5. Lokasi cerita yang berpindah-pindah dari USA, Yaman, Yunani dan Perancis juga menjadi warna tersendiri. Sebagai serial reuni saya cukup menikmati season 5 ini, namun untuk sebuah season dari Prison Break terus terang gregetnya masih kurang.

Sementara ini saya belum mendapatkan informasi apakah Fox akan melanjutkan serial ini, atau cukup berhenti sampai di sini.


Sumber gambar: FP Prison Break