Menikmati Sajian Rumah Kopi Singa Tertawa

       Buku ini merupakan edisi kedua dari buku yang pertama terbit tahun 2011. Ada tambahan dua cerpen baru di edisi ini. Total ada dua puluh cerita pendek yang ditulis dari tahun 1989-2014 yang sebagian besar pernah dimuat di media massa dalam bentuk yang sama atau sedikit berbeda.

       Cerita-cerita yang dikisahkan sangat beragam. Kalau anda pernah membaca kisah Sungu Lembu dari buku Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi yang terkenal itu, anda akan diajak mengingat kembali petualangan tersebut. Selain itu anda juga akan menemukan obrolan dari meja ke meja di Rumah Kopi Singa Tertawa yang ternyata sangat menarik untuk dicermati hingga oleh penulis dibikin lagi versi 2.0-nya.

       Berbagai khazanah kebudayaan dunia disajikan di buku ini dengan sangat menarik, anda bisa merasakan kegalauan Togog yang nyaris putus asa karena mendapat tugas untuk menjadi Punakawan untuk para raksasa yang tak tahu aturan. Anda juga diajak untuk sedikit mengerti tentang sialnya kehidupan Durna yang sepanjang usianya selalu disalahpahami.  Bahkan anda akan mendapatkan cerita betapa menderitanya Kalagemet atau yang lebih dikenal  sebagai Jayanegara ketika dipantatnya tumbuh bisul yang membawanya kepada maut.

       Beberapa kisah akan membuat anda tertawa lepas, beberapa lagi akan membikin perasaan teriris pedih. Sesekali anda akan dibikin mentertawakan kesedihan, di halaman lain anda akan menangis gembira. Kematian, kemelaratan, kesialan, dan kegilaan mampu dikopyok menjadi kisah-kisah yang terlalu sayang untuk dilewatkan.


Kebahagiaan Warto Kemplung

       Hanya butuh dua kali waktu minum kopi untuk menyimak habis cerita Mat Dawuk yang dibawakan Warto Kemplung dengan begitu runut, seolah dia ikut terlibat dalam setiap adegan yang berlangsung.

       Warto Kemplung memang juara dalam bercerita. Semua orang mengenalnya sebagai pembual nomor wahid, setiap kali ia merasa malu untuk berhutang kopi dan rokok pada Yu Siti, maka bualannya akan menjadi senjata pamungkas untuk memperoleh kopi dan rokok secara cuma-cuma.

       Meskipun Iqbal Aji Daryono mengungkapkan bahwa Mahfud Ikhwan di masa lalu pernah dengan sinis mengatakan, “Juri kan punya subjektivitas masing-masing,” saya tetap yakin kemenangan Dawuk dalam Kusala Sastra Khatulistiwa ke-17 untuk kategori prosa merupakan bukti nyata kesaktian Warto Kemplung dalam mengolah bualan.

       Cerita ini saya lahap dengan begitu cepat, namun kata-kata Warto Kemplung akan saya ingat dalam rentang waktu yang panjang.
"Kebahagiaan itu seperti secangkir kopi. Semakin nikmat, ia semakin cepat habis."



Apa pun Bukunya, Mari Membaca

Ke mana pun saya pergi selalu ada buku yang menemani. Ke gunung, ke pantai, ke pos Satpam, juga ke warung kopi, minimal ada satu buku yang menemani. Kebiasaan yang kemudian selalu mendatangkan pertanyaan dari orang-orang, kenapa saya selalu membawa buku?
Saya sendiri tidak pernah menjawab serius pertanyaan tersebut, biasanya saya cuma menjawab, biar terlihat keren hehehe.

Hari ini saya memutuskan pergi tanpa membawa buku, berat memang meninggalkan buku-buku yang belum terbaca menumpuk di dinding kamar, apalagi saya selalu punya anggapan membiarkan buku tanpa dibaca adalah perbuatan kejam.

Pergi tanpa satu buku pun bukan berarti membuat saya berhenti membaca. Kebetulan di ruang penyimpanan gajet saya masih banyak e-book yang belum selesai saya baca. Ada perasaan ingin kembali bernostalgia membaca buku-buku digital.

Sekitar tahun 2009-2012 saya membaca buku-buku digital melalui telepon genggam Sony Ericsson K630i kesayangan. Telepon dengan OS Java dengan ukuran layar dua Inch tersebut saya pakai untuk membaca e-book berformat doc dengan menggunakan applikasi Operamini MOD. Serial Kho Ping Ho dalam format doc menjadi bacaan saya sehari-hari hingga kemudian saya menemukan jenis buku digital lain yang bisa dibaca di telepon Java dengan format Jar.

Adalah Aquasim, salah seorang wapmaster yang mengunggah buku-buku digital berformat Jar di situs wap-nya. Tetralogi Laskar Pelangi Andrea Hirata dan buku-buku Habiburrahman El Shirazy saya dapatkan dari situs wap tersebut.

Membaca buku digital dengan format Jar lebih nyaman dari pada doc, hal ini membuat saya mencari freeware untuk meng-convert pdf/doc/txt ke Jar. Satu freeware buatan Rusia saya dapatkan ---saya lupa namanya hehe--- dan mulailah saya mengumpulkan buku-buku berformat pdf/doc untuk kemudian saya convert ke Jar. Terkadang ada juga teman yang minta tolong mencarikan dan meng-convert buku dalam format Jar, percayalah saya melakukan semuanya dengan gratis tanpa imbalan.

Seiring dengan kemunculan android, mau tidak mau saya akhirnya mengganti telepon Java saya dengan android. Agak telat memang, karena saya memakai android pertama kali dengan versi Jellybean. Dengan layar yang lebih lebar dibanding K630i dan kemampuan membaca pdf tidak lantas membuat saya melanjutkan membaca buku-buku digital.

Di android yang pernah saya miliki selalu tersedia applikasi Mantano Reader untuk keperluan membaca buku digital. Buku-bukunya pun telah tersedia di ruang penyimpanan, namun minat membaca buku digital saya sudah terlanjur berganti ke membaca buku-buku cetak lagi.

Hari ini saya mencoba kembali menikmati buku-buku digital selama kepergian saya tanpa buku cetak. Mungkin tidak terlihat keren, namun pastinya akan menjaga kewarasan saya tetap berada di tempat yang semestinya.

Selamat membaca...


GANJIL-GENAP SEORANG LAKI-LAKI YANG KELUAR DARI RUMAH

     Semasa SMP saya pernah membaca cerita dari sebuah buku ---saya lupa judulnya--- yang di tiap akhir babnya memberikan pilihan kepada pembaca untuk melanjutkan membaca ke halaman tertentu. Pilihan pembaca berpengaruh pada alur dan akhir cerita dari sang tokoh utama. Seingat saya, dulu saya membacanya berkali-kali karena penasaran ingin tahu berapa banyak akhir cerita buku tersebut.

     Seorang Laki-laki yang Keluar dari Rumah lain lagi. Novel ini bisa dibaca dari bab bernomor ganjil dulu sampai tuntas, baru kemudian melanjutkan membaca bab bernomor genap. Kalau mau membacanya secara urut sebagaimana lumrahnya membaca sebuah novel pun tak mengapa. Entahlah, mungkin saja penulisnya terinspirasi dari peraturan ganjil-genap nomor kendaraan yang berlaku di jalanan ibu kota. Yang jelas, pilihan cara membaca novel ini akan menentukan dari mana sudut dan jarak pandang pembaca terhadap keseluruhan cerita.

      "Aku" di bab bernomor ganjil adalah "dia" di bab bernomor genap, sedangkan "aku" di bab bernomor genap tidak akan pernah ditemukan di bab bernomor ganjil. "Aku" di bab bernomor ganjil dan genap itu selanjutnya disebut Budiman dan Pandu. Bagi pembaca yang sejak lama mengikuti akun Facebooknya Puthut EA ---penulis novel ini--- tentu masih bisa mengingat kalau sebagian cerita yang ada di bab bernomor ganjil dulunya pernah dijadikan status di Facebook. Bisa dibilang sebagian "aku" di bab bernomor ganjil adalah penulis novel itu sendiri.

     Puthut EA memang terkenal piawai membumbui cerita. Sebuah peristiwa biasa saja, mampu diceritakannya kembali menjadi sebuah cerita yang menghibur. Beberapa tokoh dalam cerita ini benar-benar ada di dunia nyata. Dan saya pun percaya, sebagian peristiwa yang ada dalam novel ini sungguh-sungguh pernah terjadi. Beberapa obrolan di dalam novel ini sengaja dibiarkan menggantung, sehingga menjadi semacam pemantik bagi pembacanya untuk merenungkan dan menelaah kembali sebuah peristiwa yang pernah terjadi.

     Novel ini berakhir dengan banyak misteri yang dibiarkan begitu saja tanpa jawaban dan kejelasan. Pembaca tentunya bertanya-tanya siapa sebenarnya "sahabat" baik "aku" di bab bernomor ganjil. Mengapa pula Wasgik dan Paniyah hanya ada di bab bernomor genap? Dan yang paling membikin penasaran adalah tidak adanya jawaban yang jelas tentang alasan tusuk sate kambing yang selalu menempatkan gajih di urutan ketiga dari atas. Begitulah Puthut Ea.

     Tentu anda boleh saja sama sekali tidak membaca novel yang satu ini. Namun percayalah, sesungguhnya itulah golongan orang-orang yang merugi.



Kawan Reporo

               Sebuah paket aku temukan tergeletak di kamar siang tadi sepulang dari kerja. Melihat nama pengirim seketika aku tahu isi paket tersebut. Sebuah nama yang mengingatkanku pada sebuah aplikasi mobile chat berbasis Java yang bernama Reporo. Aku mengenal kawanku ini melalui Reporo sekitar awal tahun 2007. Dan jalinan pertemanan tersebut terus berjalan walaupun aplikasi yang menghubungkan kami sudah tidak lagi berfungsi.

               Meski sudah tahu pasti isi paket tersebut tetap saja keinginan untuk membukanya tak bisa aku tahan.
Jrengg... Tiga bungkus kopi Aceh dengan merek yang berbeda terpapar di depan mata. Udara siang tadi yang begitu panas dan kering mendadak terasa adem bagiku dan berharap hari segera gelap agar bisa kunikmati kopi-kopi ini.

               Baru saja aku tandaskan secangkir kopi darimu kawan. Harum kopinya mengingatkanku bahwa ngopi adalah kenikmatan bersama, ngopi bareng teman-teman dekat adalah sebuah kemewahan yang akhir-akhir ini jarang aku dapat. Ah...aku membayangkan nikmat ngopi bersamamu dan kawan-kawan Reporo Blang Bintang dimana ada Bang Rizal, Fadel, Nurul Fitri, juga Mule. Entahlah kapan bayangan itu akan terwujud. Semoga Tuhan memberikan jalan.

               Terimakasih kawan Mainazarli alias Jirigen untuk kopi yang engkau kirimkan, semoga aku bisa membalasmu dengan mengirimkan kopi yang membuatmu tak tidur semalaman karena memikirkan mantan.



                                      Kudus, 24 Agustus 2015