Apa pun Bukunya, Mari Membaca

Ke mana pun saya pergi selalu ada buku yang menemani. Ke gunung, ke pantai, ke pos Satpam, juga ke warung kopi, minimal ada satu buku yang menemani. Kebiasaan yang kemudian selalu mendatangkan pertanyaan dari orang-orang, kenapa saya selalu membawa buku?
Saya sendiri tidak pernah menjawab serius pertanyaan tersebut, biasanya saya cuma menjawab, biar terlihat keren hehehe.

Hari ini saya memutuskan pergi tanpa membawa buku, berat memang meninggalkan buku-buku yang belum terbaca menumpuk di dinding kamar, apalagi saya selalu punya anggapan membiarkan buku tanpa dibaca adalah perbuatan kejam.

Pergi tanpa satu buku pun bukan berarti membuat saya berhenti membaca. Kebetulan di ruang penyimpanan gajet saya masih banyak e-book yang belum selesai saya baca. Ada perasaan ingin kembali bernostalgia membaca buku-buku digital.

Sekitar tahun 2009-2012 saya membaca buku-buku digital melalui telepon genggam Sony Ericsson K630i kesayangan. Telepon dengan OS Java dengan ukuran layar dua Inch tersebut saya pakai untuk membaca e-book berformat doc dengan menggunakan applikasi Operamini MOD. Serial Kho Ping Ho dalam format doc menjadi bacaan saya sehari-hari hingga kemudian saya menemukan jenis buku digital lain yang bisa dibaca di telepon Java dengan format Jar.

Adalah Aquasim, salah seorang wapmaster yang mengunggah buku-buku digital berformat Jar di situs wap-nya. Tetralogi Laskar Pelangi Andrea Hirata dan buku-buku Habiburrahman El Shirazy saya dapatkan dari situs wap tersebut.

Membaca buku digital dengan format Jar lebih nyaman dari pada doc, hal ini membuat saya mencari freeware untuk meng-convert pdf/doc/txt ke Jar. Satu freeware buatan Rusia saya dapatkan ---saya lupa namanya hehe--- dan mulailah saya mengumpulkan buku-buku berformat pdf/doc untuk kemudian saya convert ke Jar. Terkadang ada juga teman yang minta tolong mencarikan dan meng-convert buku dalam format Jar, percayalah saya melakukan semuanya dengan gratis tanpa imbalan.

Seiring dengan kemunculan android, mau tidak mau saya akhirnya mengganti telepon Java saya dengan android. Agak telat memang, karena saya memakai android pertama kali dengan versi Jellybean. Dengan layar yang lebih lebar dibanding K630i dan kemampuan membaca pdf tidak lantas membuat saya melanjutkan membaca buku-buku digital.

Di android yang pernah saya miliki selalu tersedia applikasi Mantano Reader untuk keperluan membaca buku digital. Buku-bukunya pun telah tersedia di ruang penyimpanan, namun minat membaca buku digital saya sudah terlanjur berganti ke membaca buku-buku cetak lagi.

Hari ini saya mencoba kembali menikmati buku-buku digital selama kepergian saya tanpa buku cetak. Mungkin tidak terlihat keren, namun pastinya akan menjaga kewarasan saya tetap berada di tempat yang semestinya.

Selamat membaca...


GANJIL-GENAP SEORANG LAKI-LAKI YANG KELUAR DARI RUMAH

     Semasa SMP saya pernah membaca cerita dari sebuah buku ---saya lupa judulnya--- yang di tiap akhir babnya memberikan pilihan kepada pembaca untuk melanjutkan membaca ke halaman tertentu. Pilihan pembaca berpengaruh pada alur dan akhir cerita dari sang tokoh utama. Seingat saya, dulu saya membacanya berkali-kali karena penasaran ingin tahu berapa banyak akhir cerita buku tersebut.

     Seorang Laki-laki yang Keluar dari Rumah lain lagi. Novel ini bisa dibaca dari bab bernomor ganjil dulu sampai tuntas, baru kemudian melanjutkan membaca bab bernomor genap. Kalau mau membacanya secara urut sebagaimana lumrahnya membaca sebuah novel pun tak mengapa. Entahlah, mungkin saja penulisnya terinspirasi dari peraturan ganjil-genap nomor kendaraan yang berlaku di jalanan ibu kota. Yang jelas, pilihan cara membaca novel ini akan menentukan dari mana sudut dan jarak pandang pembaca terhadap keseluruhan cerita.

      "Aku" di bab bernomor ganjil adalah "dia" di bab bernomor genap, sedangkan "aku" di bab bernomor genap tidak akan pernah ditemukan di bab bernomor ganjil. "Aku" di bab bernomor ganjil dan genap itu selanjutnya disebut Budiman dan Pandu. Bagi pembaca yang sejak lama mengikuti akun Facebooknya Puthut EA ---penulis novel ini--- tentu masih bisa mengingat kalau sebagian cerita yang ada di bab bernomor ganjil dulunya pernah dijadikan status di Facebook. Bisa dibilang sebagian "aku" di bab bernomor ganjil adalah penulis novel itu sendiri.

     Puthut EA memang terkenal piawai membumbui cerita. Sebuah peristiwa biasa saja, mampu diceritakannya kembali menjadi sebuah cerita yang menghibur. Beberapa tokoh dalam cerita ini benar-benar ada di dunia nyata. Dan saya pun percaya, sebagian peristiwa yang ada dalam novel ini sungguh-sungguh pernah terjadi. Beberapa obrolan di dalam novel ini sengaja dibiarkan menggantung, sehingga menjadi semacam pemantik bagi pembacanya untuk merenungkan dan menelaah kembali sebuah peristiwa yang pernah terjadi.

     Novel ini berakhir dengan banyak misteri yang dibiarkan begitu saja tanpa jawaban dan kejelasan. Pembaca tentunya bertanya-tanya siapa sebenarnya "sahabat" baik "aku" di bab bernomor ganjil. Mengapa pula Wasgik dan Paniyah hanya ada di bab bernomor genap? Dan yang paling membikin penasaran adalah tidak adanya jawaban yang jelas tentang alasan tusuk sate kambing yang selalu menempatkan gajih di urutan ketiga dari atas. Begitulah Puthut Ea.

     Tentu anda boleh saja sama sekali tidak membaca novel yang satu ini. Namun percayalah, sesungguhnya itulah golongan orang-orang yang merugi.



Kawan Reporo

               Sebuah paket aku temukan tergeletak di kamar siang tadi sepulang dari kerja. Melihat nama pengirim seketika aku tahu isi paket tersebut. Sebuah nama yang mengingatkanku pada sebuah aplikasi mobile chat berbasis Java yang bernama Reporo. Aku mengenal kawanku ini melalui Reporo sekitar awal tahun 2007. Dan jalinan pertemanan tersebut terus berjalan walaupun aplikasi yang menghubungkan kami sudah tidak lagi berfungsi.

               Meski sudah tahu pasti isi paket tersebut tetap saja keinginan untuk membukanya tak bisa aku tahan.
Jrengg... Tiga bungkus kopi Aceh dengan merek yang berbeda terpapar di depan mata. Udara siang tadi yang begitu panas dan kering mendadak terasa adem bagiku dan berharap hari segera gelap agar bisa kunikmati kopi-kopi ini.

               Baru saja aku tandaskan secangkir kopi darimu kawan. Harum kopinya mengingatkanku bahwa ngopi adalah kenikmatan bersama, ngopi bareng teman-teman dekat adalah sebuah kemewahan yang akhir-akhir ini jarang aku dapat. Ah...aku membayangkan nikmat ngopi bersamamu dan kawan-kawan Reporo Blang Bintang dimana ada Bang Rizal, Fadel, Nurul Fitri, juga Mule. Entahlah kapan bayangan itu akan terwujud. Semoga Tuhan memberikan jalan.

               Terimakasih kawan Mainazarli alias Jirigen untuk kopi yang engkau kirimkan, semoga aku bisa membalasmu dengan mengirimkan kopi yang membuatmu tak tidur semalaman karena memikirkan mantan.



                                      Kudus, 24 Agustus 2015


Ulid

               Terus terang ingatanku tidaklah panjang. Terlalu mudah lupa, utamanya untuk hal-hal yang aku lakukan di masa lampau. Hidupku memang terlalu biasa, jarang ada kejadian istimewa yang membekas dalam ingatan.

               Membaca Ulid seperti menarik pemicu ingatan di kepalaku. Segala yang gelap berangsur terang. Kejadian yang dialami Ulid kecil membuat aku mengingat apa yang pernah aku lakukan di masa lalu;

               Bermain gunung api dengan cara mengencingi batu gamping. Mogok tidak mau sekolah karena ngambek gara-gara guru sama sekali tidak menyebut namanya saat mengabsen seisi kelas. Pengalaman naik mobil angkutan umum dengan perasaan seolah pepohonan di sepanjang jalan seolah berkejaran mencoba menyusul mobil yang tetap saja tak terkejar. Mengganjal jemari kaki teman yang tertidur di masjid dengan batang korekapi yang sengaja dibawa dari rumah.

               Pengalaman-pengalaman masa kecil yang sempat terlupa itu kembali muncul saat membaca Ulid. Mungkin karena aku dan Ulid tumbuh dalam waktu yang sama, masa di mana sandiwara radio menjadi hiburan utama,  sehingga apa yang dialami dan dirasakan Ulid sempat juga aku alami dan rasakan.

               Kepada Ulid aku terikat, dan tak ingin selesai membacanya cepat-cepat. Aku ingin menikmatinya lebih lama. Membaca satu dua lembar halamannya, kemudian senyum-senyum sendiri teringat kejadian dan perasaan yang pernah terkubur teramat dalam.




                                      Kudus, 23 Agustus 2016


Syahbandar

               Masih ingat dengan syahbandar Tuban yang menjadi tokoh antagonis dalam novel ”Arus Balik”? Sebenarnya apa sih syahbandar dan sejak kapan profesi ini ada di Nusantara?

               G.J Resink dalam kajiannya yang berjudul "Abad-Abad Hukum Internasional di Indonesia" ("Euwen Volkenrecht in Indonesi√©") sedikit mengulas tentang profesi ini.

               Berikut ini penjelasan singkat G.J Resink tentang syahbandar yang bisa anda temukan di buku "Bukan 350 Tahun Dijajah" halaman 195-196:

"Sejauh yang sudah diketahui, syahbandar bertugas sebagai perantara antara para penguasa dengan orang-orang asing di Kepulauan Indonesia selama lebih dari tiga abad. Mereka ditugaskan untuk mewakili kepentingan orang-orang asing di hadapan penguasa lokal. Pada banyak kasus, mereka diberikan kewenangan hukum khusus terhadap para orang asing dan dapat membuat kontrak dengan mereka. Di Sumatera, orang-orang yang bertindak dalam kapasitas pertama ini sudah ada sejak masa Ibnu Batuta. Syahbandar yang bertindak sebagai hakim dengan yuridiksi terhadap orang-orang asing sudah disebutkan dalam abad ke-7 untuk Banten, Palembang, dan Kota Waringin. Mereka juga ditemukan sebagai perunding kontrak, baik pada masa lalu maupun beberapa tahun yang lalu. Pada abad ke-17, 'sabannara' di Makasar membuat kesepakatan dengan para pedagang Melayu. Pada 1876, seorang syahbandar di Langkat bersedia menandatangani kontrak dengan seorang Eropa yang berkaitan dengan pemberian konsesi hutan atas nama pangeran.
Sering kali, syahbandar sendiri adalah orang asing. Pada abad ke-17, seorang Gujarat menjadi syahbandar di Banjarmasin sementara orang-orang Cina menjadi syahbandar di distrik-distrik pesisir Jawa. Hingga 1850, terdapat syahbandar Bugis dari Bone di Teluk Kendari dan di sebelah utara Sulawesi. Duta besar ---syahbandar---- dari Aceh yang disebutkan sebelumnya adalah orang India."

               G.J Resink juga mengutip Schrieke yang menulis:

"...orang akan terkejut melihat fakta bahwa orang-orang asing sering kali memiliki posisi penting yang kurang lebih resmi---dengan berbagai gelar, sepertinya tergantung pada pengetahuan bahasa mereka, dan sebagainya---sebagai perantara antara pihak berwenang pelabuhan dengan para pedagang asing. Di Banten, sudah lama posisi tersebut diisi oleh seorang keling atau Gujarat dan nantinya seirang Cina; di Tuban adalah orang Portugis yang memeluk agama Islam; di Banjarmasin adalah seorang Gujarat; di Malaka Melayu adalah seorang Jawa dan seorang keling, di samping seorang syahbandar Gujarat."


Telembuk Sebuah Kisah yang Tak Pernah Selesai

Pertama kali saya menemukan nama Tumaritis sekitar tahun '90an dari komik Petruk bikinan Tatang S yang bercerita tentang pengalaman Petruk, Gareng, dan Bagong dengan segala jenis hantu yang menjadi teror di Tumaritis. Setelah sekian lama tak terdengar, Tumaritis kembali muncul dalam sebuah Novel karya Kedung Darma Romansha yang berjudul "TELEMBUK dangdut dan kisah cinta yang keparat".

Berbeda dengan komik Petruk, Telembuk tidak lagi bercerita mengenai hantu-hantu penasaran yang bergentayangan di Tumaritis. Adalah Diva Fiesta ---nama panggung dari Safitri--- bintang dangdut Organ Tunggal Langlang Buana yang tinggal di Tumaritis, dan memiliki profesi sampingan sebagai telembuk mencoba melanjutkan kisahnya yang tak selesai di novel "Kelir Slindet" ke dalam novel "Telembuk" ini.

Pembaca akan disuguhi cerita kehidupan masyarakat sekitaran Indramayu yang meliputi; Cikedung, Tumaritis, Terisi, Jenggleng dan juga hutan Sinang yang misterius itu. Sepanjang cerita alunan musik dangdut tarling terus terdengar, diselingi desah manja biduan dangdut yang menggoda. Udara yang pengap bercampur dengan wangi parfum murahan, keringat yang menyengat, dan bau alkohol akan menjadi latarnya. Dan tentunya lika-liku dan luka kehidupan telembuk akan menjadi sajian utama dalam novel ini. Semuanya terasa begitu nyata tanpa ada kesan mengada-ada.

Hal yang menarik dari novel ini adalah cara penyajiannya yang memberikan kebebasan cara pandang, sudut pandang, dan juga jarak pandang kepada pembacanya. Selain menghadirkan cerita dari seorang narator, pembaca juga bisa menikmati novel ini dari kacamata tokoh-tokohnya; Aan, Safitri, Govar, dan Mukimin.

Melalui narator ---di sini lebih senang disebut sebagai Mang Pencerita--- kisah ini disajikan dalam posisi netral. Tak ada penilaian moral apa pun, tidak menghakimi, membela, atau pun merayakan perilaku para tokoh dalam novel ini. Sedang melalui Aan yang tak lain adalah Mang Pencerita itu sendiri, pembaca akan dibawa lebih masuk ke dalam cerita dan pergulatan batin yang dialami oleh Aan selama menceritakan kisah ini. Pembaca diberi keleluasaan untuk memilih dari sisi mana mereka membaca novel ini. Mau menghakimi, menikmati, mengambil hikmah, atau sekedar mengamati, itu terserah pembaca.

Bagaimanapun, cerita tentang mereka yang terus bertahan meski kalah oleh takdir akan selalu ada, dan tak akan pernah selesai untuk diceritakan.


Reputasi, Masa Lalu, dan Harapan

Ketika reputasi dilihat dari cara seseorang menghadapi hal-hal besar di hidupnya, maka kegagalan-kegagalan yang saya alami saat menghadapi hal-hal besar dalam hidup saya di masa lalu sudah cukup untuk membuat saya disebut pecundang. Nyaris tak ada hal-hal besar yang mampu saya perbuat di sepanjang perjalanan hidup saya.

Karena selalu gagal dalam menghadapi hal-hal besar itulah, kemudian saya lebih memilih menghindari perkara-perkara besar. Selanjutnya dalam hidup, saya hanya mengerjakan hal-hal kecil. Dan selalu berusaha untuk memperoleh hasil yang terbaik dari hal-hal kecil yang saya hadapi tersebut. Setidaknya saya percaya, jika reputasi bisa dibangun dari cara seseorang menyelesaikan hal-hal kecil di dalam hidupnya.

Kegagalan dan kekalahan terus-menerus yang saya alami di masa lalu membikin saya tidak lagi pernah berani untuk bermimpi. Hidup saya sekedar untuk hari ini. Alih-alih mencoba menggapai impian, berpikir tentang esok hari saja saya tak berani. Seringkali saat ditanya apa rencana saya esok hari, saya selalu menjawab, ”Sesuk kok dipikir saiki, marai gering." Begitulah, saya tetaplah pecundang hingga hari ini.

Keseharian saya hanyalah usaha untuk menebus masa lalu saya yang selalu gagal dalam hal-hal besar. Saya menjadi terlalu sibuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang saya lakukan di masa lalu. Mungkin dengan begitu reputasi saya bisa dilihat lebih baik di masa yang akan datang. Semacam usaha merebut kembali masa lalu yang selalu dipecundangi, untuk kejayaan di masa depan.

Namun hari ini berbeda. Mendadak hari ini saya mempunyai impian, sebuah harapan tentang masa yang akan datang. Maka dari itulah, saya sempatkan menulis catatan ini sebagai penanda agar di kemudian hari saya tidak melupakan mimpi-mimpi hari ini.

Ada yang bilang, "Orang besar adalah mereka yang memiliki mimpi-mimpi besar." Tidak, saya tidak pernah memiliki keinginan menjadi orang besar. Impian saya hanyalah tentang keinginan untuk tinggal di sebuah rumah kayu di tepi danau ---- dengan pohon-pohon Ketapang rindang di tepiannya --- ditemani seorang istri yang berbudi dan anak-anaknya yang tahu akan bakti. Ah, sepertinya mimpi ini terlalu muluk buat saya yang hanya seorang buruh harian.

Namun kemudian saya mengambil simpulan bahwa impian tersebut bukanlah mimpi besar yang harus saya singkirkan. Saya menganggap impian tersebut sebagai mimpi yang membahagiakan, sehingga perlu untuk saya simpan sebagai harapan dan doa, dan juga patut untuk saya usahakan sepenuh hati agar menjadi kenyataan di kemudian hari.

Saya sadar, kebahagiaan hanyalah milik sebagian kecil dari mereka yang beruntung. Dan itu bisa terjadi pada siapa pun. Mungkin kelak, saya akan menjadi yang sebagian kecil itu. Semoga Tuhan mengizinkan.,