Margaretha Zelle

       Kejadian-kejadian buruk yang menimpanya di usia belia menjadi pendorong utamanya untuk segera meninggalkan tanah kelahirannya, Belanda. Dengan menikahi seorang serdadu yang bertugas di Hindia timur, berangkatlah ia dengan segudang harapan untuk memiliki kehidupan baru di negeri jauh yang dikenal dengan keeksotisan budaya dan alamnya yang serupa surga. Seluruh harapan itu luruh, yang didapatinya kemudian hanyalah penderitaan dan kekecewaan.

       Setelah kembali ke Belanda dengan begitu banyak kesedihan dan penderitaan, ia membuat langkah berani untuk pergi ke Paris, kota yang menawarkan kebebasan dan kegembiraan, sesuatu yang begitu jarang mampir dalam hidupnya. Dengan kemampuannya menari, tak butuh waktu lama baginya untuk menjadi idola baru di Paris sampai hampir ke seluruh daratan Eropa. Pementasannya selalu ditunggu dan segera ia menjadi pusat berita.

       Kehidupan mewah dan pergaulannya dengan kalangan atas telah berhasil direngkuhnya. Hingga kemudian perang dunia meletus, dan segalanya menjadi serba tak menentu. Pemerintah Perancis menangkapnya dengan tuduhan sebagai agen ganda. Vonis hukuman mati dijatuhkan kepadanya meskipun tak pernah ada bukti konkret yang membuktikan bahwa ia adalah seorang mata-mata.

       Hukuman mati harus diterimanya, meskipun dosanya hanya karena ia wanita, dan dosa yang lebih besar lagi adalah karena hidupnya yang merdeka. 


Tak Semua Upil itu Asin

       Belakangan ini saya seringkali dibikin kagum oleh kecepatan warganet dalam mengomentari status atau peristiwa. Rasa-rasanya Supra Ijo yang saya kebut maksimal tak akan mampu mengejar kecepatannya. Baru saja sebuah status atau peristiwa dibagikan, komentar demi komentar dengan cepat bermunculan. Bahkan komentar itu mampu mendahului kecepatan membaca sang komentator dalam membaca sebuah status atau peristiwa yang dibagikan.

       Yang tak kalah mengagumkan dari kecepatan komentar warganet adalah kemampuan mereka dalam mengomentari segala macam hal. Seolah mereka benar-benar menguasai berbagai bidang persoalan. Selain itu, mereka juga begitu kukuh mempertahankan pendapatnya. Pendapat yang berlainan, biarpun dari yang lebih ahli tidak akan mampu menggeser apa yang mereka percayai sebelumnya. Karena bagi mereka, pengetahuan yang mereka miliki adalah yang paling benar, dan apa yang diketahui orang lain adalah salah bila bertentangan dengan apa yang mereka ketahui.

       Terus terang saya merasa ngeri membayangkan status yang saya bagikan mendadak viral dan mendapatkan komentar seperti yang saya sebutkan di atas. Katakanlah, di suatu senja yang indahnya tak begitu lama, saya membagikan status yang menyatakan bahwa tak semua upil itu asin. Sebelum senja yang indahnya tak begitu lama itu berganti menjadi gelap, status yang saya bagikan ternyata dikomentari begitu banyak orang yang kesemuanya menolak pendapat saya. Mereka semua menyatakan tak ada upil yang tak asin. Mungkin memang mereka semua pernah mencoba menjilat upilnya sendiri.

       Saya tetap bertahan dengan pendapat saya dan warganet juga tetap kukuh dengan pendapat mereka. Anehnya, tak ada satu pun dari warganet yang berkomentar di status saya yang mau membuktikan bahwa tak semua upil itu asin. Padahal saya telah bersedia menyiapkan banyak upil sebagai bahan pembuktian untuk mereka jilat.
Ngeri banget kan?

       Ah, andai saja saya mampu membunuh internet.


Dari Hidup Ini Keras Maka Gebuglah ke Hidup Ini Lunak Maka Bentuklah

       Selesai membaca Ipung 4 sampai bab 4 yang menceritakan kembali 4 tokoh sentral dalam novel Ipung, saya memutuskan untuk berhenti sejenak, kemudian mulai membaca ulang dari Ipung 1, Ipung 2, dan Elegi Surtini dan Ayunda. Setelah itu saya melanjutkan membaca Ipung 4 mulai dari awal lagi.

       Kisah Ipung remaja asal Kepatihan, Solo yang sekolah di SMA Budi Luhur Semarang adalah kisah yang telah melewati beberapa generasi. Ipung pertama kali muncul pada medio 90-an dan kembali muncul di tahun 2007 dengan beberapa penyesuaian mengikuti perkembangan zaman. Ipung tetap bersepeda, namun surat, dan telegram telah berganti menjadi telepon dan telepon genggam. Mobil yang dikendarai anak-anak Budi Luhur pun diperbarui sesuai situasi zaman kiwari. Ipung, Paulin, Ayunda dan Surtini bertahan di usia remaja biarpun zaman telah berganti ke era fiber dan digital.

       Rentang waktu kemunculan antara novel satu dengan yang lainnya lumayan lama. Saya rasa inilah yang menjadi penyebab jalinan cerita dari Ipung 1 sampai Ipung 4 sedikit mengalami gangguan lini masa. Dalam Elegi Surtini dan Ayunda, Ipung sudah berada di tahun ketiga duduk di bangku sekolah Budi Luhur, di tahun yang sama Ayunda juga datang sebagai murid baru di Budi Luhur, sedangkan Surtini masih di Kepatihan menunggu tahun ajaran baru untuk memasuki Budi Luhur. Perlu diketahui juga bahwa Ayunda ini awalnya merupakan novel yang berdiri sendiri yang dimasukkan ke Ipung 3 (Elegi Surtini dan Ayunda).

       Saya membaca Ipung 4 dengan kesadaran akan adanya set yang berubah dari 3 novel sebelumnya sebagai bentuk penyesuaian terhadap keadaan terkini. Namun setelah dua kali membaca 4 bab awal Ipung 4, saya merasa mengalami lipatan waktu yang terasa mengganggu. Bagaimana bisa Surtini menjadi satu sekolah dengan Ipung dan Ayunda di Budi Luhur? Padahal di Elegi Surtini dan Ayunda jelas bahwa Ipung sudah di tahun ketiga dan Surtini masih menunggu tahun ajaran baru untuk mendaftar di Budi Luhur. Kemudian saya memutuskan untuk menganggap Budi Luhur yang merupakan sekolah favorit itu membutuhkan empat tahun pembelajaran untuk lulus.

       Kejanggalan lain di Ipung 4 ini adalah Ayunda yang dikisahkan perhatiannya lebih dulu terarah kepada Surtini, alih-alih ke Ipung. Ini tentu berlawanan dengan cerita dalam Elegi Surtini dan Ayunda yang nyaris tidak mempertemukan Ayunda dan Surtini. Kalau saja saya tidak membaca ulang novel Ipung ini berurut dari buku pertama, tentunya kejanggalan-kejanggalan ini tidak akan saya temui.

       Ada beberapa bagian lagi di Ipung 4 yang sedikit membuat kening berkerut, hal ini dikarenakan adanya kesalahan penulisan tokoh. Ayunda tertukar dengan Paulin atau sebaliknya. Tokoh Ipung sendiri tetap tampil dengan begitu sempurna. Jelas sudah kalau Ipung ini adalah sosok remaja ideal menurut sang penulis. Terlalu berlebihan memang, bahkan Pakdhe Prie GS pun mengakuinya dalam sebuah pengantar di halaman depan buku ini:

"Ipung adalah gambaran anak muda yang saya bayangkan, yang begitulah sebaiknya generasi Indonesia menjadi. Terlalu berlebihan, tetapi soal-soal yang ideal memang penting dirindukan, setidaknya untuk menghibur diri. Di dalam kenyataan terlalu banyak soal yang tidak ideal menurut pandangan ego kita, maka hanya di dalam dunia imajinasi, dunia idealisasi dan dunia kerinduan, soal-soal yang memuaskan itu bisa kita dapati." 

       Secara keseluruhan Ipung 4 Hidup Ini Lunak Maka Bentuklah merupakan bacaan ringan yang menghibur. Kelucuan-kelucuan yang ada diselingi dengan petuah-petuah motivasi khas Pakdhe Prie GS mampu membikin saya tertawa dan merenungi kondisi sosial yang sedang terjadi saat ini.

"Kepada siapa cerita ini dituliskan?"
"Kepada siapa yang setia menjaga hati nurani."


Nawang Wulan Pulang

masuk saja ke dalam pikiranku dan temui jalan buntu yang terhalang poster besar bergambar wajahmu

kibar warna-warni bendera partai tak akan pernah menarik hatiku 
pada kibar selendang yang kucuri saat lengah engkau mandi aku teringat

selendang itu rapi kusimpan 
tertawa aku diam-diam melihatmu mencoba terbang dengan selendang yang kaubeli di pasar malam

bejatku setingkat setan budimu setara bidadari 
mungkin selendang petunjuk tuhan agar engkau kumiliki

....
telah kau temukan lagi selendang itu 
kini warna pelangi lengkap sudah 
satu warna yang kucuri telah kembali 
Nawang Wulan melenting pergi

(2013)


Petuah Akhir Tahun

       Jumat ini adalah Jumat terakhir di 2017, karena itu izinkan saya menuliskan sesuatu selagi kadar kegantengan saya yang naik selepas Jumatan tadi belum kembali anjlok ke titik pas. Jadi, tolong diingat, saya menuliskan ini saat sedang ganteng-gantengnya. Kalau anda tidak sependapat akan lebih baik kalau anda sudahi membaca tulisan saya sampai di sini.

       Peristiwa pergantian tahun, baik itu masehi, hijriyah, lunar, saka, atau yang lainnya, sebenarnya hanyalah pengingat bahwa waktu terus berjalan. Rasanya malas setiap pergantian tahun selalu dijadikan ajang perdebatan tentang patut tidaknya pergantian tahun untuk dirayakan. Bagi sebagian orang mungkin perdebatan itu adalah sesuatu yang menarik, namun bagi orang yang sedang menanjak kadar kegantengannya perdebatan hanyalah kesia-siaan. Toh, dirayakan atau tidak dirayakan tahun akan tetap berganti.

       Rasanya juga akan teramat membosankan jika tiap pergantian tahun menuliskan tentang pencapaian-pencapaian selama setahun dan harapan-harapan untuk setahun yang akan datang. Terutama bagi anda yang selama bertahun-tahun tidak mampu mencapai sesuatu di dalam hidup, padahal di tiap pergantian tahun anda selalu berharap tahun depan akan lebih baik dari tahun sekarang, dan ternyata yang anda temui bukanlah apa-apa. Terlebih jika anda melihat orang-orang di sekitar anda memiliki kemajuan yang pesat di tiap tahunnya. Ya, saya tahu anda akan muak membaca tentang resolusi tahun baru dan segala tetek bengek petuah basinya.

       Sebagai orang yang sedang berada di titik tertinggi kegantengan, saya turut prihatin atas ketidakmampuan anda dalam mewujudkan segala harapan anda di tahun ini. Kalau anda masih percaya dengan kegantengan saya, baiknya anda simak sedikit nasihat dari saya di penghujung tahun ini.

       Pertama yang harus anda lakukan adalah jangan pernah khawatir tentang apa yang terjadi pada diri anda di masa mendatang, bahkan kalau anda mampu tak perlu juga khawatir akan surga dan neraka. Satu-satunya hal yang harus anda khawatirkan adalah bila tiba masa di mana anda tidak lagi mampu berbuat baik.

       Yang kedua yang perlu anda lakukan di penghujung tahun ini adalah untuk kembali mengingat seberapa banyak basmallah yang telah anda lafalkan dan seberapa banyak hamdallah yang anda ucapkan. Jika anda mengucap hamdallah lebih sering daripada basmallah, maka yakinlah anda adalah manusia yang berbahagia. Tak ada lagi kekhawatiran untuk menjalani tahun yang baru karena anda tahu yang sebenarnya anda butuhkan adalah memperbanyak hamdallah di dalam hidup.



Aku Belum Mati

       Seorang rekan memberi tahu bahwa ada orang yang sesumbar akan mengirimiku guna-guna di hari Jumat untuk membunuhku. Aku bahkan tidak mengenal orang itu. Namun yang aku tahu, dulu kelakuan konyolku pernah mematahkan mantra pemikat yang dikirimkannya pada seorang perempuan yang aku kenal. Kabar yang aku dengar mengatakan bahwa orang itu dan dukunnya marah besar karena kelakuanku.

       Aku kok yakin ya, kalau Tuhan tidak akan mematikanku dengan cara seperti itu. Mungkin saja aku akan tumbang di hari Jumat terkena guna-guna yang dikirimkan orang itu, tapi tidak mati. Aku percaya teman-teman dan orang-orang terdekatku tak akan tinggal diam mengetahui apa yang menimpaku.

       Sampai jumpa di hari Jumat.

*****

       Ancaman mereka untuk mencelakaiku bukan gertak sambal belaka. Semalam adalah waktu mereka melakukan serangan itu kepadaku. Sebelum tengah malam hujan turun dengan lebat diiringi angin kencang dan kilat yang menerangi gelap malam. Memasuki tengah malam hujan belum juga berhenti, kepalaku mulai berat, sakitnya hingga berdenging. Dadaku terasa sesak, seperti terinjak, dan bernafas pun terasa susah.

       Aku bahkan tak peduli dengan apa yang sedang terjadi. Aku masih yakin bisa melewati Jumat ini, belum saatnya aku mati. Sepanjang malam aku biarkan gangguan-gangguan itu menderaku. Dulu, pernah guru mengajiku mengajarkan doa-doa pelindung diri dari serangan guna-guna dan semacamnya. Tapi itu sudah terlalu lama, dan tentu saja aku telah lupa.

       Seperempat jam sebelum adzan Subuh tubuhku tumbang. Lantai tempat tubuhku terbaring berubah menjadi lubang hitam dan menghisap tubuhku jauh ke dalam pusarannya. Cukup lama tubuhku berputar-putar jatuh ke dalam lubang yang seperti tak berdasar ini, hingga kemudian sungai berair hitam menghanyutkan tubuhku. Aku mencoba berenang di arus yang deras meskipun aku sadar kalau aku tidak pernah bisa berenang di air tenang. Usahaku berenang membikin tubuhku semakin timbul dan tenggelam hanyut dalam derasnya air hitam. Hingga kemudian aku melihat sebilah bambu kuning terjulur ke arahku saat tubuhku timbul ke permukaan. Kukerahkan tenaga terakhirku untuk menggapai bambu kuning itu, aku pegang erat-erat sebelum semuanya menjadi gelap.

       Aku membuka mata di tepi telaga berwarna hijau dikelilingi teman-teman dan orang-orang terdekatku. Salah seorang di antara mereka memberiku minum air dari telaga, beberapa saat kemudian tenagaku pulih dan mampu duduk dengan sempurna. Lalu kami mulai makan bersama. Ada banyak menu yang dihidangkan; sambal ontong, pindang serani, pecel lele, sambal terasi, dan tak ketinggalan kopi Colo yang harumnya membangkitkan energi. Setelah makan dan berterima kasih kepada para penolongku, kami kembali ke tempat masing-masing. Aku pun terbangun dan segera mengerjakan Subuhku yang agak kepagian.

       Di siang harinya, setelah mandi aku berangkat menuju masjid untuk Jumatan. Seekor perkutut dengan kalung leher melingkar penuh menghadang jalanku di gang sempit depan rumah. Setelah aku mulai dekat, perkutut itu terbang ke dahan srikaya yang tak begitu tinggi. Mata perkutut itu terus tajam mengawasiku. Aku pun berhenti dan balas menatap mata perkutut itu. Beberapa saat kami diam saling mengawasi, kemudian aku tersenyum dan berkata pelan kepada perkutut itu, "Ya, aku belum mati." Perkutut dengan kalung leher melingkar penuh itu pun kemudian terbang menuju selatan, dan aku pun kembali melangkah untuk Jumatan.


Menikmati Sajian Rumah Kopi Singa Tertawa

       Buku ini merupakan edisi kedua dari buku yang pertama terbit tahun 2011. Ada tambahan dua cerpen baru di edisi ini. Total ada dua puluh cerita pendek yang ditulis dari tahun 1989-2014 yang sebagian besar pernah dimuat di media massa dalam bentuk yang sama atau sedikit berbeda.

       Cerita-cerita yang dikisahkan sangat beragam. Kalau anda pernah membaca kisah Sungu Lembu dari buku Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi yang terkenal itu, anda akan diajak mengingat kembali petualangan tersebut. Selain itu anda juga akan menemukan obrolan dari meja ke meja di Rumah Kopi Singa Tertawa yang ternyata sangat menarik untuk dicermati hingga oleh penulis dibikin lagi versi 2.0-nya.

       Berbagai khazanah kebudayaan dunia disajikan di buku ini dengan sangat menarik, anda bisa merasakan kegalauan Togog yang nyaris putus asa karena mendapat tugas untuk menjadi Punakawan untuk para raksasa yang tak tahu aturan. Anda juga diajak untuk sedikit mengerti tentang sialnya kehidupan Durna yang sepanjang usianya selalu disalahpahami.  Bahkan anda akan mendapatkan cerita betapa menderitanya Kalagemet atau yang lebih dikenal  sebagai Jayanegara ketika dipantatnya tumbuh bisul yang membawanya kepada maut.

       Beberapa kisah akan membuat anda tertawa lepas, beberapa lagi akan membikin perasaan teriris pedih. Sesekali anda akan dibikin mentertawakan kesedihan, di halaman lain anda akan menangis gembira. Kematian, kemelaratan, kesialan, dan kegilaan mampu dikopyok menjadi kisah-kisah yang terlalu sayang untuk dilewatkan.