Oktober 2020 - awanbyru.com

Oktober 11, 2020

Tumirin Edan

Minggu, Oktober 11, 2020 0
Tumirin Edan
       Pos Kamling itu berbentuk panggung, berdiri di timur halaman Masjid Jami'. Tidak besar, namun cukup lapang untuk orang-orang sekedar main karambol dan juga catur. Dari dalam Pos Kamling orang bisa dengan leluasa memandang ke arah halaman dan tempat parkir Masjid Jami'. Setahun yang lalu Pos Kamling ini berdiri, dan sejak itu tiada lagi terdengar berita jamaah yang kehilangan sepeda yang di parkir di halaman Masjid Jami' saat sedang beribadah. Dari jalan orang bisa melihat langsung apa yang ada di dalam Pos Kamling, meja karambol disandarkan di dinding, sementara dua papan catur tersusun rapi di pojokan. Begitulah penampakan Pos Kamling itu di pagi hari saat tak berpenghuni. 

       Matahari mulai tinggi, Tumirin duduk mencangkung di Pos Kamling sambil menghembuskan asap kretek yang sedang dinikmatinya. Dari arah barat Bagas dan Gander berjalan menuju Pos Kamling. Melihat Tumirin di Pos Kamling, Gander menghentikan langkahnya. 
"Waduh, Gas, gimana ini? Malah ada Tumirin jaga Pos," tanya Gander sambil memegangi pundak Bagas. 
"Udah tenang aja, kita lanjut aja permainan semalam. Tumirin nggak bakalan ngamuk kalau nggak diganggu," jawab Bagas sambil terus berjalan ke arah Pos Kamling diiringi langkah ragu Gander. 
Sesampainya di depan Pos Kamling, dengan santai Bagas masuk sambil menyapa Tumirin, "Misi, Kang, kami numpang main catur bentar."
Tumirin hanya sekilas menoleh ke arah dua pemuda tanggung itu tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Tumirin masih tetap asik menikmati kreteknya sambil sesekali bergumam tanpa suara. 

       Kedua pemuda tanggung yang baru saja lulus SMA itu telah saling bersila berhadapan di tengah Pos Kamling. Posisi duduk Bagas berdekatan dengan Tumirin, sedangkan Gander ada di seberang Bagas dengan papan catur sebagai pembatasnya. Mereka mulai menyusun buah catur, kali ini Gander dengan buah putih dan Bagas di sisi hitam. Delapan langkah awal berlalu denan cepat karena mereka telah saling terbiasa dengan gaya lawannya. Gander langsung melakukan inisiatif serangan ke bagian sayap kiri pertahanan Bagas dengan menggunakan mentrinya. Langkah antisipasi dilakukan Bagas dengan membatasi gerak mentri Gander dan membikin seluruh buah caturnya saling melindungi. Pada langkah ke-19, mentri Gander kehabisan langkah sehingga Gander terpaksa menukar mentri miliknya dengan kuda dan gajah milik Bagas. Kini Gander dalam posisi tertekan, pertahanannya terlanjur terbuka. 

       Bagas mulai memikirkan langkah serangan selanjutnya ketika tiba-tiba Tumirin membuka suara, "Lho, kamu nggak ikutan Demo, Gas?"
Bagas dan Gander kaget mendengar pertanyaan yang secara mendadak diajukan oleh Tumirin. 
"Nggak, Kang. Aku nggak pernah baca isi undang-undang yang disahkan itu, kan ya malu kalau dikatain demo kok gak ngerti isi yang didemo," jawab Bagas sambil memindahkan mentrinya ke pusat pertahanan Gander. 
Tumirin diam sejenak sambil manggut-manggut, gondrong rambutnya yang gimbal tak tersentuh air disibaknya pelan dengan telapak tangan kirinya. Diambilnya sebatang kretek yang terselip di daun telinga, "cresss" kretek dinyalakan dan dihisapnya dalam-dalam. 
"Hmm, ya, hmm, nggak bisa gitu juga, Gas. Urusan menolak dan mendukung itu tak melulu soal sudah membaca atau belum. Itu bukan sebuah kesalahan, hmmm." 
Tumirin menghisap kreteknya dalam-dalam dan menghembuskan asapnya dengan perlahan. Kemudian Tumirin kembali berucap, "hmm, ya, hmm kita ini orang kecil, kuncinya ya cuma percaya. Hmm, ya, hmm kalian waktu diajar guru di kelas kan ya percaya dengan apa yang dikatakan biar pun kalian belum atau tidak pernah sama sekali membaca buku yang diajarkan, hmm. Namun tanggung jawab untuk memahami persoalan dasar dan kesadaran untuk berpikir juga harus kalian miliki sebelum menaruh sebuah kepercayaan, hmm. 

       Gander mulai panik, pertahanannya mulai diobrak-abrik perwira-perwira hitam milik Bagas. Konsentrasinya pecah mendengar perkataan Tumirin yang selama ini diketahui sebagai gembel gila yang berkeliaran di kampungnya. 
"Lantas apa yang harus kami lakukan, kang? Apakah kami harus percaya kepada Pemerintah dan DPR yang telah membikin Undang-undang tersebut, atau sebaliknya?" Bagas melempar tanya kepada Tumirin yang sedang menggumam tanpa suara. Sekilas Gander melihat kilatan cahaya di sudut mata Tumirin. 
"Hmm, ya, hmm semua terserah kalian. Mau ke mana kalian menaruh kepercayaan itu. Kalau kalian percaya Undang-undang tersebut bisa membawa kemajuan untuk bangsa ini sebagaimana dibilang orang-orang pemerintah, ya kalian dukung saja. Hmm, ya, hmm kalian tentunya bisa memikirkan ke arah mana Undang-undang ini berpihak, kalau ada keberpihakan tentunya akan ada yang dirugikan. Hmm." Kembali Tumirin manggut-manggut dan meneruskan kalimatnya setelah menghisap kreteknya. 
"Hmm, ya, hmm kalian menolak Undang-undang itu pun boleh-boleh saja, kalau memang kalian percaya Undang-undang tersebut bermasalah, hmm. Ingat, kalian punya hak dan kebebasan menyuarakan pendapat, dan itu dijamin oleh Undang-undang, hmm, ya, hmm. Toh, sebelum Undang-undang tersebut ditetapkan sudah banyak ahli yang membedahnya secara keilmuan dan banyak ahli yang menolaknya, hmm. Hmm, ya, hmm mereka ada yang bilang kalau ini Undang-undang cacat formil, kurang transparan, dan kurang melibatkan masyarakat atau minim aspirasi publik, hmm." Sejenak Tumirin berhenti bicara, ditatapnya Bagas dan Gander bergantian, kemudian dialihkan pandangannya ke ujung jalan sambil menghisap kretek dalam-dalam. 
Di atas papan catur, buah berwarna hitam semakin mengepung buah berwarna putih, jumlahnya semakin tak seimbang. 

       Tumirin kembali berkata dengan pandangannya yang terus saja menatap ke ujung jalan, "hmm, ya, hmm, kalau kalian masih belum bisa menentukan pilihan ke arah mana kalian harus percaya, hmm, tentunya kalian bisa mengembalikan pertanyaan ini ke hati masing-masing, hmm. Siapa saja mereka yang berdiri mendukung Undang-undang tersebut ditetapkan secepatnya, dan siapa saja mereka yang menolak atau meminta revisi sebelum Undang-undang ditetapkan, hmm. Tanyakan, hmm, tanyakan ke hati kalian, siapa yang lebih sering membohongi kalian? Hmm, ya, hmm pasti akan kalian dapatkan ke mana seharusnya hati kalian berpihak, hmm."
"Baiklah, kang. Akan saya pikirkan baik-baik. Skak!" Jawab Bagas sambil menggeser Mentrinya menyudutkan Raja putih. 

       Gander menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pikirannya ruwet memikirkan ucapan Tumirin, sementara di atas papan catur Rajanya benar-benar nyaris kehabisan langkah dan tak terselamatkan. 
"Haduh, matek aku. Nyerah aku, Gas. Mulai awal lagi aja. Ruwet ini, ruwet," kata Gander. 
Bagas langsung menata buah catur warna putih di depannya untuk memulai permainan baru sambil berkata, "hahaha, mimpi kamu, Nder bisa ngalahin aku. Ayo, yang serius mikirnya, hahaha."
Gander mulai menyusun buah catur warna hitam untuk permainan selanjutnya, hatinya sedikit kesal mendengar ledekan Bagas, apalagi dari kemarin memang Gander sama sekali tak mampu mengalahkan Bagas, untuk remis sekali pun. 
Saat seluruh buah catur tersusun sempurna di atas papan, tiba-tiba "brakk!" Tumirin menggebrak papan catur itu hingga buah-buah catur berserakan, sambil berteriak kencang, "MASA DEPAN DI TANGAN KALIAN!"
Tumirin berbalik meninggalkan Pos Kamling, berjalan pelan-pelan sambil menikmati kreteknya dalam-dalam. 
Bagas dan Gander melompat kaget bersamaan, tak mengira Tumirin melakukan itu semua. Masih berdiri di dalam Pos Kamling mereka menatap punggung Tumirin hingga ke ujung jalan. 
"Jangkrik, kaget aku, Gas," maki Gander. 
"Bah, kamu pikir aku nggak kaget, padahal Tumirin udah anteng tadi. Tumirin edan!" ganti Bagas yang memaki. 
"Eh, tapi sebenernya Tumirin itu gila apa nggak, Gas? Omongannya tadi kok bisa gitu ya?" 
"Hasmbuh, Nder, bapakku pernah cerita kalau Tumirin itu dulunya pentolan demonstran tahun 98. Konon, Tumirin pernah kena culik, sepuluh tahun lalu dia datang ke kampung kita ini ya udah gitu keadaannya, dekil, bau, rambut gimbal, sering bergumam tanpa suara dan sesekali ngamuk. Udahlah, nggak usah mikirin Tumirin, ini permainan lanjut apa kamu nyerah aja?" jawab Bagas sambil memunguti buah-buah catur yang berserakan kena gebrak tangan Tumirin.