Tak Semua Upil itu Asin

       Belakangan ini saya seringkali dibikin kagum oleh kecepatan warganet dalam mengomentari status atau peristiwa. Rasa-rasanya Supra Ijo yang saya kebut maksimal tak akan mampu mengejar kecepatannya. Baru saja sebuah status atau peristiwa dibagikan, komentar demi komentar dengan cepat bermunculan. Bahkan komentar itu mampu mendahului kecepatan membaca sang komentator dalam membaca sebuah status atau peristiwa yang dibagikan.

       Yang tak kalah mengagumkan dari kecepatan komentar warganet adalah kemampuan mereka dalam mengomentari segala macam hal. Seolah mereka benar-benar menguasai berbagai bidang persoalan. Selain itu, mereka juga begitu kukuh mempertahankan pendapatnya. Pendapat yang berlainan, biarpun dari yang lebih ahli tidak akan mampu menggeser apa yang mereka percayai sebelumnya. Karena bagi mereka, pengetahuan yang mereka miliki adalah yang paling benar, dan apa yang diketahui orang lain adalah salah bila bertentangan dengan apa yang mereka ketahui.

       Terus terang saya merasa ngeri membayangkan status yang saya bagikan mendadak viral dan mendapatkan komentar seperti yang saya sebutkan di atas. Katakanlah, di suatu senja yang indahnya tak begitu lama, saya membagikan status yang menyatakan bahwa tak semua upil itu asin. Sebelum senja yang indahnya tak begitu lama itu berganti menjadi gelap, status yang saya bagikan ternyata dikomentari begitu banyak orang yang kesemuanya menolak pendapat saya. Mereka semua menyatakan tak ada upil yang tak asin. Mungkin memang mereka semua pernah mencoba menjilat upilnya sendiri.

       Saya tetap bertahan dengan pendapat saya dan warganet juga tetap kukuh dengan pendapat mereka. Anehnya, tak ada satu pun dari warganet yang berkomentar di status saya yang mau membuktikan bahwa tak semua upil itu asin. Padahal saya telah bersedia menyiapkan banyak upil sebagai bahan pembuktian untuk mereka jilat.
Ngeri banget kan?

       Ah, andai saja saya mampu membunuh internet.


2 komentar:

  1. ya begitulah. bahkan orang yang ahli dibidangnya atau bisa dibilang pakar atau praktisi pendapatnya dimentahkan oleh logika sederhana netijen

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya nggak akan membantah ketampananmu, Fiq.

      Hapus