Margaretha Zelle

       Kejadian-kejadian buruk yang menimpanya di usia belia menjadi pendorong utamanya untuk segera meninggalkan tanah kelahirannya, Belanda. Dengan menikahi seorang serdadu yang bertugas di Hindia timur, berangkatlah ia dengan segudang harapan untuk memiliki kehidupan baru di negeri jauh yang dikenal dengan keeksotisan budaya dan alamnya yang serupa surga. Seluruh harapan itu luruh, yang didapatinya kemudian hanyalah penderitaan dan kekecewaan.

       Setelah kembali ke Belanda dengan begitu banyak kesedihan dan penderitaan, ia membuat langkah berani untuk pergi ke Paris, kota yang menawarkan kebebasan dan kegembiraan, sesuatu yang begitu jarang mampir dalam hidupnya. Dengan kemampuannya menari, tak butuh waktu lama baginya untuk menjadi idola baru di Paris sampai hampir ke seluruh daratan Eropa. Pementasannya selalu ditunggu dan segera ia menjadi pusat berita.

       Kehidupan mewah dan pergaulannya dengan kalangan atas telah berhasil direngkuhnya. Hingga kemudian perang dunia meletus, dan segalanya menjadi serba tak menentu. Pemerintah Perancis menangkapnya dengan tuduhan sebagai agen ganda. Vonis hukuman mati dijatuhkan kepadanya meskipun tak pernah ada bukti konkret yang membuktikan bahwa ia adalah seorang mata-mata.

       Hukuman mati harus diterimanya, meskipun dosanya hanya karena ia wanita, dan dosa yang lebih besar lagi adalah karena hidupnya yang merdeka. 


0 coretan kamu:

Posting Komentar