Ulid

               Terus terang ingatanku tidaklah panjang. Terlalu mudah lupa, utamanya untuk hal-hal yang aku lakukan di masa lampau. Hidupku memang terlalu biasa, jarang ada kejadian istimewa yang membekas dalam ingatan.

               Membaca Ulid seperti menarik pemicu ingatan di kepalaku. Segala yang gelap berangsur terang. Kejadian yang dialami Ulid kecil membuat aku mengingat apa yang pernah aku lakukan di masa lalu;

               Bermain gunung api dengan cara mengencingi batu gamping. Mogok tidak mau sekolah karena ngambek gara-gara guru sama sekali tidak menyebut namanya saat mengabsen seisi kelas. Pengalaman naik mobil angkutan umum dengan perasaan seolah pepohonan di sepanjang jalan seolah berkejaran mencoba menyusul mobil yang tetap saja tak terkejar. Mengganjal jemari kaki teman yang tertidur di masjid dengan batang korekapi yang sengaja dibawa dari rumah.

               Pengalaman-pengalaman masa kecil yang sempat terlupa itu kembali muncul saat membaca Ulid. Mungkin karena aku dan Ulid tumbuh dalam waktu yang sama, masa di mana sandiwara radio menjadi hiburan utama,  sehingga apa yang dialami dan dirasakan Ulid sempat juga aku alami dan rasakan.

               Kepada Ulid aku terikat, dan tak ingin selesai membacanya cepat-cepat. Aku ingin menikmatinya lebih lama. Membaca satu dua lembar halamannya, kemudian senyum-senyum sendiri teringat kejadian dan perasaan yang pernah terkubur teramat dalam.




                                      Kudus, 23 Agustus 2016


0 coretan kamu:

Posting Komentar