Mudahnya Berburuk Sangka

Kawan, dalam pergaulan di dunia internet ini, betapa kita seringkali terjebak untuk bersikap mutlak-mutlakan di tengah perbedaan pendapat. Ini karena kita terlalu mendaku terhadap kepemilikan kita atas pengertian-pengertian kita sendiri.

Semacam jomblo yang tak mau sedikit pun gebetannya dijelek-jelekkan oleh orang lain. Begitu romantiknya sehingga dalam beberapa hal kita menjadi buta. Kita menjadi cepat tersinggung, cepat meleduk, dan naik pitam jika sedikit saja tentang gebetan kita dicolek orang.

Kita yang pada dasarnya begitu cinta dan bahagia dengan agama yang kita anut, seringkali secara rasional menjadi tidak objektif, menjadi tidak dewasa dan tidak rendah hati secara spiritual-psikologis, tatkala keyakinan yang kita pegang teguh dijelek-jelekan orang lain.
Kemudian kita menjadi lupa menyiapkan diri untuk membuka diri dan menerima kemungkinan-kemungkinan kebenaran baru atas diri kita.

Dalam keadaan yang seperti itu tanpa kita sadari kita menjadi begitu cepat berburuk sangka. Cenderung cepat mencari kesalahan-kesalahan orang lain, kemudian terjerumus mengungkapkan perbedaan itu dengan cercaan dan caci maki. Dan lucunya, dalam arena saling cerca tersebut kita senantiasa merasa menjadi yang paling benar.

Kawan, begitu cepatnya kita berburuk sangka, begitu cepatnya kita mengambil keputusan dalam perselisihan paham.
Kalau dia bukan A maka pasti dia B, dan jika B bukanlah dia, tentunya dia A. Seakan C, D, E, F dan seterusnya tak pernah ada. Pun kita menjadi begitu cekatan menggolongkan si anu kelompok ini dan si ini kelompok itu, hanya karena sebuah perbedaan.

Kawan, aku rindu menjumpai komunikasi yang penuh kematangan dan kedewasaan. Sebuah komunikasi yang dilandasi kerendahan hati dan gairah tulus untuk sungguh-sungguh mencari kebenaran. Tanpa sikap defensif yang emosional, tanpa menonjolkan gengsi dan harga diri pada proporsi yang tak wajar.
Apakah kamu tidak merasa eneg menyaksikan komunikasi yang tanpa etos yang hanya mempertahankan pendapat sendiri secara membabi-buta seperti yang menjadi watak dialog-dialog manusia modern belakangan ini?

Kawan, entah mengapa aku menyebutmu kawan, padahal belum tentu juga engkau menganggap aku kawan.
Mohon tidak cepat berburuk sangka padaku yang fakir ini.
Salam.


Facebook, 27 November 2015.


0 coretan kamu:

Posting Komentar