Manusia



بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
"[1] Qul a'uudzu birabbi 'n-naas. Katakanlah,''Aku berlindung kepada Tuhan manusia.''"
-Aku berlindung kepada Tuhan yang menciptakan manusia dari saripati angin, yang darinya tercipta nafas, yang dengannya aku hidup.
-Aku berlindung kepada Tuhan yang menciptakan manusia dari saripati air, yang darinya tercipta tulang-sumsum, yang dengannya aku hidup.
-Aku berlindung kepada Tuhan yang menciptakan manusia dari saripati api, yang darinya tercipta darah, yang dengannya aku hidup.
- Aku berlindung kepada Tuhan yang menciptakan manusia dari saripati tanah, yang darinya tercipta kulit-daging, yang dengannya aku hidup.

"[2] Maliki 'n-naas. Raja Manusia."
-Aku berlindung kepada Allah yang merajai manusia. Aku taklukan yang bergerak atau tidak bergerak atas PerintahNya.
-Kepada hamba-hambaNya yang takluk dan berserah diri, Tuhan memerdekakan mereka dari rasa takut dan sedih.
-Tuhan, yang merajai manusia, lebih tahu tentang hamba-hambaNya daripada diri mereka sendiri. Dia Maha Tahu segala sesuatu.
-Tuhan, yang merajai manusia, memilih hamba-hambaNya sebagai pemimpin bagi diri mereka sendiri dan pemimpin di muka bumi.

"[3] Ilaahi 'n-naas. Sesembahan manusia."
-Aku berlindung kepada Allah; Tuhan manusia, Raja manusia, Sesembahan manusia. Segitiga kesatuan, puncak segala pengetahuan.
-Allah, Dialah Tuhan dan akulah makhluk. Allah, Dialah Raja dan akulah taklukan. Allah, Dialah Sesembahan dan akulah hamba.
-Aku berlindung kepada Allah dari keburukan sifat makhluk yang ingkar, taklukan yang melawan, dan hamba yang memberontak.
-Allah yang mengeluarkan manusia dari mulut rahim ibunya tanpa bisa apa-apa lalu memberi pendengaran, penglihatan, dan akal-budi.
-Bagiku, Dia Tuhan, Raja, Sesembahan. BagiNya, aku makhluk, taklukan, hamba. Untukku, dariNya pendengaran, penglihatan, akal-budi.
-Inilah Segitiga Kesatuan. Tuhan Pencipta, maka aku makhluk. Raja Penguasa, maka aku takluk. Sesembahan Pemimpin, maka aku hamba.
-Aku makhluk, taklukan, dan hamba, berlindung kepada Tuhan, Raja, dan Sesembahan, dari keburukan, kelemahan, dan kelalaianku.

[4] Min syarri 'l-waswaasi 'l-khannaas. [Aku berlindung] dari kejahatan musuh yang nyata namun tersembunyi.
-Musuh itu dari dalam diri. Dari keburukan yang bersembunyi dalam kebaikan. Dari kehinaan yang bersembunyi dalam kemuliaan.
-Musuh itu dari dalam diri. Dari kenistaan yang bersembunyi dalam kehormatan. Dari ketamakan yang bersembunyi dalam kemurahan.
-Musuh itu di dalam diri. Menjadikan tak jelas lagi mana kesejatian mana kepalsuan, mana ketulusan mana keserakahan.
-Musuh itu di dalam diri. Menjadi tidak jelas lagi mana kesungguhan mana kebatilan. Mana kerelaan mana keterpaksaan.

"[5] Alladzii yuwaswisu fii shuduuri 'n-naas. Yaitu yang membisikkan [kejahatan] ke dalam dada manusia."
-Aku berlindung kepada Tuhan segala makhluk, yang mengilhami kefasikan dan ketakwaan kepada jiwa manusia, dari diriku sendiri.
-Kepada Tuhan segala ciptaan, aku berlindung dari saripati angin, air, api, dan tanah dalam diriku yang menjelma nafsu-nafsu.
-Kepada Tuhan segala asal-muasal, aku berlindung dari angan yang berumah di kepala dan ingin yang berumah di dada.
-Kepada Tuhan segala kejadian, aku berlindung dari dosa dan pahala yang menyekutukan Allah dengan upaya dan pamrih manusia.
-Sungguh, yang dibisikkan ke dada manusia adalah prasangka. Darinya muncul benci dan cinta yang dari keduanyalah fasik dan takwa.

"[6] Mina 'l-jinnati wa 'n-naas. Dari golongan jin dan manusia."
-Aku berlindung kepadaMu ya Tuhan, Raja, dan Sesembahan, dari golongan jin dan manusia yang membisikkan tipu daya ke dalam dada.
-Sesungguhnya tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia selain untuk beribadah, maka kami berlindung kepadaNya dari saling goda.
-Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan, yang menjelma bayangan bagi nafsu, sehingga tak mudah membedakan mana dia mana aku.
-Dan, aku berlindung kepada Allah dari malaikat, dari pencatatannya yang membuatku berhitung laba dan pahala dari setiap tindakan.
-Aku berlindung kepada Allah yang meliputi segala sesuatu. Dia tidak di dalam, tidak di luar, tidak di atas, tidak pula di bawah.
-Aku berlindung kepada Allah yang meliputi segala sesuatu. Dia tidak di depan, tidak di belakang, tidak di kiri, tidak di kanan.
-Aku bukan utara, timur, selatan, barat. Aku bukan arah bagi diriku. Aku tepat berada pada diriku sendiri. Akulah penentu segala penjuru.
-Aku berlindung kepada Allah. Dialah Tuhanku, Rajaku, Sesembahanku. Akulah makhlukNya, taklukanNya, hambaNya. Amin.

Ditulis ulang dari tweet @SufiKota yang di admini oleh @CandraMalik .

0 coretan kamu:

Posting Komentar