awanbyru.com

Juni 09, 2016

Ketika Pakaian Butuh Makan

Kamis, Juni 09, 2016 0
Ketika Pakaian Butuh Makan
Bagi yang sudah lama mengenal Dawax tentu tak akan kaget dengan kebiasaannya yang jarang mandi dan ganti pakaian.
Teman-temannya bisa memaklumi apa yang dilakukan pemuda mbambung yang satu ini.

Biarpun tak memiliki pekerjaan tetap dan hidup berpindah dari satu kota ke kota lain, Dawax cukup terkenal di kalangan tukang oprek hape sejak jaman symbian sampai berganti ke android. Sehingga banyak orang --- kebanyakan abege alay sih --- yang menyebutnya mastah (mungkin kalau dipanjangin jadi masuk angin muntah-muntah).

Konon peristiwa ini terjadi ketika Dawax masih ngekos di Sidoarjo. Menurut sumber yang tidak mungkin saya sebutkan namanya ini, pada suatu malam Dawax menghadiri sebuah pesta yang diadakan oleh tetangganya di Sidoarjo. Tuan rumah merupakan orang kaya di daerah tersebut, seluruh warga kampung diundangnya pesta makan besar di rumahnya yang luas. Dan Dawax termasuk salah satu undangan dalam acara tersebut.

Dawax hadir ke acara tersebut dengan pakaiannya yang sudah tiga hari tidak ganti, dan tentu saja dia belum mandi. Cambang dan kumisnya pun awut-awutan tak tersentuh pisau cukur. Alhasil, di lokasi pesta tak ada satu pun orang yang menyapa Dawax. Bahkan tuan rumah juga mengabaikannya. Clingak-clinguk Dawax memantau situasi, dan memang benar orang-orang disitu menghindar darinya.

Dengan hati mangkel Dawax meninggalkan pesta tersebut. Tak mengapa batal makan malam gratis, perut laparnya masih bisa menunggu. Sesampainya di kos, Dawax langsung mandi keramas dan bercukur. Kemudian dikenakanlah pakaian terbaik yang dimilikinya. (Dawax berubah ganteng? Nggak sih masih tetep jelek kok)

Berbekal pakaian rapi dan aroma wangi yang menguar dari tubuhnya. Dawax kembali mendatangi tempat pesta.
Kali ini tuan rumah langsung menyambut ramah kedatangan Dawax, dan langsung diantarnya ke meja yang dipenuhi berbagai hidangan yang menggugah selera.

"Silakan dinikmati hidangannya Pak, maaf seadannya. Kalau mau nyanyi atau request lagu bisa langsung ke panggung hiburan Pak." Tawar tuan rumah mencoba ramah kepada Dawax.

Dawax cuma mesam-mesem nyengir seperti biasanya, kemudian dilepaskanlah pakaian yang dikenakannya. Para tamu dan yang hadir di pesta tersebut terkejut melihat kelakuan Dawax. Diletakkannya pakaian yang sudah lepas itu diatas meja, kemudian Dawax mulai berbicara kepada pakaiannya.

"Nah, sekarang kamu nikmati hidangan yang ada. Makan yang kenyang ya. Di sini orang-orang cuma memandang pakaian. Aku pulang ke kos dulu, daagh."

Segera Dawax ngeloyor pergi meninggalkan pakaiannya yang wangi di meja makan, meninggalkan para tamu undangan dan juga tuan rumah yang hanya mampu bengong melotot memandangi punggung Dawax meninggalkan rumahnya, sedang jauh di dalam hatinya terdengar teriakan penuh tanya, "Mengapa harus ada Dawax dalam daftar undangannya?"


_______


(Cerita ini bohong belaka, adapun isi cerita dipengaruhi dari Kisah Nasruddin Hodja.)

Sumber gambar: google.com




Juni 08, 2016

Panci yang Beranak dan Panci yang Mati

Rabu, Juni 08, 2016 0
Panci yang Beranak dan Panci yang Mati
Sore itu Dawax mengembalikan panci kepada tetangganya. Sebuah panci besar dan sebuah panci kecil.

Sang tetangga heran karena Dawax hanya meminjam satu panci. "Lho, Wax kamu kan cuma pinjam satu panci, kok kamu kembalikan dua?"

Dawax mesam-mesem menjelaskan bahwa panci tersebut ternyata sedang hamil saat dipinjam olehnya, hingga kemudian melahirkan panci kecil imut di rumahnya. Itulah sebabnya Dawax mengembalikan dua buah panci kepada tetangganya.

Tentu saja sang tetangga hampir tertawa mendengar keterangan Dawax. Dalam hatinya dia berkata mana ada panci beranak. Namun dengan senang gembira diterimanya dua buah panci dari Dawax.

Beberapa minggu berikutnya, Dawax kembali meminjam panci besar ke tetangganya. Sang tetangga dengan senang meminjamkan panci besarnya sambil berharap Dawax akan mengembalikan kepadanya dua buah panci, seperti sebelumnya.

Tapi kali ini apes bagi sang tetangga. Dawax terlupa mengembalikan panci sampai satu bulan lamanya. Datanglah sang tetangga ke rumah Dawax untuk meminta pancinya kembali.

"Wax balikin pancinya dong, udah satu bulan belum juga kamu balikin. Gimana sih?"

Dengan wajah tertunduk sedih Dawax menjawab lirih, "Maafkan aku, seminggu yang lalu pancimu meninggal dunia, dan aku sudah mengebumikannya."

"Edan kamu Wax? Mana ada panci meninggal dunia?" 

Dawax mesam-mesem, kemudian berkata,
"Lho, siapa yang gila? Kapan lalu kamu senang hati mempercayai panci yang beranak, sedangkan untuk panci yang mati mengapa kamu ingkari?"

Sang tetangga cuma bisa melotot tanpa bersuara, kemudian balik kanan pulang ke rumahnya.


Diceritakan kembali dari Kisah Nasruddin Hodja 

Sumber gambar: google.com


Mei 05, 2016

Gelap Layu

Kamis, Mei 05, 2016 0
Gelap Layu
Saat itu banyak bintang.
Malam yang tidak tepat untuk hati yang kacau.

Aku marah.
Aku keluarkan hatiku dari rongga dada, dan kutinggalkan begitu saja di sebuah bangku tunggu terminal antar kota.

Siapa peduli aku melangkah ke sana kemari tanpa hati?
Aku pun tidak, biar saja selanjutnya berjalan tanpa perasaan.

Kini di malam hari.
Gelap wajahku lebih hitam dari malam.
Dan di siang hari.
Aku serupa daun yang kehilangan hijaunya.


Mei 02, 2016

Indorawut; Selera Rasa Jomblo Semrawut

Senin, Mei 02, 2016 0
Indorawut; Selera Rasa Jomblo Semrawut
Hampir tengah malam merupakan situasi jam rawan lapar di mana sedikit banyak akan mengganggu aktifitas begadang ataupun percobaan untuk tidur. Dan oleh sebab itu, maka perut kosong yang meraja haruslah segera diisi agar tidak timbul gejala meriang dan mual-mual akibat kasmaran eh kanginan.

Setelah melakukan investigasi di dapur, diketemukanlah bahan-bahan yang memungkinkan untuk mengenyangkan perut sampai pagi nanti. Adapun bahan yang kebetulan ada adalah; mie instant rasa ayam bawang, telor dadar, nasi, tomat, cabe rawit, bawang merah dan juga bawang putih. Lantas apa yang akan dibikin dengan itu semua?

Teringat dengan nasi rawut yang wujudnya nasi goreng dengan campuran sedikit mie, akhirnya terlintas pikiran untuk bikin mie goreng dengan sedikit nasi. Tahu sendirilah untuk kapasitas perut kuli macam aku ini, seporsi mie instant adalah kurang sedangkan dua kebanyakan.

Tujuh buah cabe rawit, dua siung bawang merah dan satu siung bawang putih diuleg halus. Rebus air hingga mendidih, cemplungkan mie instant, setelah matang tiriskan.

Siapkan penggorengan dengan minyak goreng secukupnya, panaskan dengan api kecil. Sebelum menumis bumbu buka pintu dan jendela yang ada di dapur, agar mereka yang tengah tidur tidak terbangun tersedak bersin akibat tumisan bumbu cabe yang menguar ke kamar.

Tumis bumbu yang sudah diuleg hingga harum. Masukkan suwiran dadar, sedikit nasi (baca: secukupnya), dan mie yang sudah ditiriskan. Aduk dalam penggorengan sampai merata, kemudian masukkan bumbu mie instan, rajangan tomat dan kecap secukupnya. Aduk lagi sampai merata semua bumbu dan panasnya.

Tuang ke piring saji, dan selamat menikmati Indorawut; Selera Rasa Jomblo Semrawut.



April 30, 2016

Kudus Maghrib

Sabtu, April 30, 2016 0
Kudus Maghrib

Harusnya ada puisi di sini.
Sampai Isya berganti tak ada satu pun yang jadi.


Cuma ada sunyi luka, dan gelap yang makin menjadi.

Maret 08, 2016

Gila

Selasa, Maret 08, 2016 0
Gila
Pernah terjadi dalam satu rentang masa dalam perjalanan hidupku, keadaan yang mana orang-orang mengataiku gila.
Namun gila yang aku alami tidak sampai membuatku berkeliaran di jalan tanpa celana.
Aku tidak pernah menyesali kegilaan yang pernah aku alami. Bagaimanapun itu saat yang tepat bagiku untuk menjadi gila. Lebih baik gila sebelum jatuh cinta daripada gila akibat gagal bercinta.

Saat aku gila, seringkali aku bercerita kepada orang-orang yang aku jumpai. Tentunya cerita-ceritaku tidak masuk akal buat mereka. Namun tak satu pun dari mereka menyangkal atau mempertanyakan kebenaran ceritaku. Karena orang-orang tahu aku gila, dan aku akan mengamuk serta menghajar siapa pun yang menyangkal atau mempertanyakan kebenaran peristiwa yang aku ceritakan.

Biasanya aku mengawali cerita tentang pengalamanku mengintip sebuah rumah yang lampunya masih menyala saat tengah malam, pada sebuah kota yang aku singgahi.
Rumah itu milik Frick Fritzgerald, seorang penulis cerita. Cerita-cerita yang ditulis Frick sangat hidup, karena tokoh-tokoh yang diceritakannya benar-benar hidup. Frick menyimpan tokoh-tokohnya dalam sebuah kotak kayu.

Malam itu aku menyaksikan Frick Fritzgerald kerepotan mengejar tokoh-tokoh dalam ceritanya yang berlarian di dalam rumah. Tokoh-tokoh setinggi gelas ini melarikan diri dari kotak kayu penyimpanannya.
Beruntung malam itu Frick dibantu oleh mahluk dengan sepasang sayap dipunggungnya yang mengaku sebagai Gabriel.
Benar, Gabriel itu adalah malaikat Tuhan. Dia yang melihat Frick mampu membuat tokoh-tokoh cerita yang hidup akhirnya mengira Frick adalah Tuhan yang lain.

Semalaman mereka berdua sibuk berkejaran menangkap tokoh-tokoh cerita yang melarikan diri dari kotak kayu. Satu persatu ditangkap dengan tidak mudah dan kembali dimasukkan ke dalam kotak kayu. Di luar rumah aku tertawa cengengesan menyaksikan semua itu. Bagaimana mungkin Sang Pencipta dibuat repot oleh ciptaanNya, dan alangkah lucunya malaikat yang lupa pada perintah Tuhannya karena mengira ada Tuhan yang lain.
Menjelang subuh aku melangkah pergi meninggalkan rumah Frick yang lampunya masih menyala, dan di dalamnya Frick dan Gabriel sama-sama terdiam dan bernafas dengan sangat hati-hati, mereka diam dalam ketakutannya.

Di hari Senin yang kaku, di mana orang-orang terburu-buru, berlari mencoba lebih cepat dari bayangannya sendiri. Aku ada di Shinjuku, stasiun yang memiliki dua ratus pintu. Di Shinjuku aku melihat Sayuri, perempuan yang rambutnya sebahu dan kecantikannya seperti dewi.
Sayuri tidak sedang menjinakkan hari Senin atau pintu-pintu Stasiun Shinjuku, Sayuri sedang berusaha menjinakkan dirinya sendiri. Ya, Sayuri tidak punya alasan untuk bunuh diri, tidak untuk hari ini.

Hari Senin yang resah juga gelisah, Senin yang membuat orang-orang lebih mudah marah. Di Shinjuku sama saja, dua ratus pintunya masih berdiri gagah seperti gigi-gigi gergasi. Siap mengunyah mereka yang lengah.
Di bangku Stasiun Shinjuku, Sayuri terlanjur membaca catatan berita buruk dari masa depan, berita buruk yang dibawa takdir.
Hari Senin yang kaku, Sayuri dimampus takdirnya, mati bunuh diri di Aokigahara.

Aku menangis sembari tertawa, menyaksikan takdir yang mendatangi Sayuri terlalu cepat, bahkan untuk sekedar memikirkan alasan mati bunuh diri.

Selasa itu aku sampai di Kota Cahaya. Sebuah kota yang mana tak satu pun penduduknya memiliki bayangan. Sebuah kota yang begitu terang dan suram sekaligus.
Adalah Dia yang Tembus Pandang, seorang perempuan pemilik Cafe Rouge. Perempuan itu transparan, tubuhnya tembus pandang. Satu-satunya bagian tubuhnya yang tidak tembus pandang adalah jantung. Jantungnya begitu merah dan berdegup kencang.

Kepada Dia yang Masih Punya Bayangan Dia yang Tembus Pandang tertarik hatinya. Di tiap Selasa, Dia yang Masih Punya Bayangan mengunjungi Cafe Rogue, sekali dibawakannya kembang asoka untuk Dia yang Tembus Pandang. Jantungnya yang merah itu berdegup kencang, semakin kencang.

Dia yang Masih Punya Bayangan tidak berasal dari Kota Cahaya. Ia mengaku dari Kota Lama, tapi penduduk Kota Cahaya lebih senang menyebutnya dari sebuah entah. Dia satu-satunya orang yang memiliki bayangan di kota ini, penduduk Kota Cahaya jirih kepadanya, kecuali Dia yang Tembus Pandang, sang pemilik sekaligus pelayan Cafe Rogue yang di tiap Selasanya dikunjungi Dia yang Punya Bayangan.

Selasa itu aku menjadi saksi, di sebuah stasiun Dia yang Tembus Pandang memutuskan pergi bersama Dia yang Punya Bayangan. Seisi Kota Cahaya mengikutinya sampai stasiun. Seiring kereta yang berjalan membawa pergi Dia yang Tembus Pandang, satu persatu penduduk Kota Cahaya tumbang, mati ditinggalkan degup jantungnya.

Malam hari di sebuah taman yang bangku-bangkunya dipenuhi pasangan muda-mudi memadu kasih, aku melihat satu bangku yang berbeda. Bangku itu diisi dua orang lelaki yang baru saling kenal, obrolan mereka begitu hangat dan penuh gelak tawa.

Mereka adalah Amri Tadjudin dan Keliat Wattampone. Amri Tadjudin hampir setiap malam duduk di bangku itu, ia menunggu kunang-kunang. Kepada kunang-kunanglah tiap malam Amri Tadjudin bercakap-cakap. Bercerita tentang dirinya, pikirannya dan mencoba mendengar kunang-kunang dan segala yang dipikirkan mereka.
Sedangkan Keliat Wattampone adalah seseorang yang merasa ada orang lain yang hendak keluar dari tubuhnya. Dan yang menakutkan Keliat Wattampone adalah keinginan orang itu. Orang itu ingin menembus waktu dan melakukan hal-hal yang berbeda dengan yang sudah dilakukan Keliat Wattampone.

Malam itu di taman untuk pertama kalinya aku merasa waras setelah menyaksikan Amri Tadjudin dan Keliat Wattampone duduk sebangku dan saling bercakap diselingi gelak tawa.
Kunang-kunang tak jadi datang, namun Amri Tadjudin menemukan Keliat Wattampone. Sementara Keliat Wattampone menemukan orang yang akan keluar dari tubuhnya adalah Amri Tadjudin.
Mereka saling menemukan, Amri Tadjudin dan Keliat Wattampone tak lagi sendiri, mereka sekarang berdua, sama-sama gila.
Dan tentu saja aku tidaklah segila mereka.

Siang itu lembab dan panas, aku mencoba mencari tempat berteduh untuk melepas lelah. Sampailah aku di samping sebuah gudang yang jendelanya selalu terbuka. Kepalaku melongok ke dalam, memperhatikan keadaan.

Di dalam gudang terdapat laki-laki yang lebih sering melamun. Kalau sedang tidak melamun dia merusak tubuhnya sendiri. Laki-laki itu bertubuh besi, seumur hidupnya hanya ada pilu dan sepi. Dia ingin mati namun tak pernah mampu bunuh diri, bagaimanapun tubuhnya terbuat dari besi.

Alat-alat pertanian milik ayahnya yang ada di dalam gudang dijadikannya alat untuk merusak dirinya sendiri, saat lelah dia melamun lagi.
Lamunannya selalu tentang perempuan yang dulu selalu datang saat dia berhasil merusak tubuhnya sendiri. Perempuan yang selalu datang membawa bagian-bagian tubuh baru pengganti bagian tubuhnya yang berhasil dirusaknya sendiri.
Perempuan yang kedatangannya membuat dirinya senang dan anggota tubuhnya berdentang.
Perempuan yang ternyata mau mendampinginya hidup di dalam gudang namun menolak untuk dinikahi.
Sampai kemudian perempuan itu harus pergi, karena suaminya yang juga bertubuh besi mulai merusak tubuhnya sendiri.

Di sudut gudang yang paling gelap dan paling dingin, samar kulihat laki-laki bertubuh besi melamun sendiri, kemudian merusak anggota tubuhnya lagi.

Hari ini adalah Selasa, aku belumlah gila dan tidak kemana-mana.
Aku tetap di sini, di kamar gelapku yang cuma diterangi lampu baca LED 1Watt. Masih sendiri dalam sepi, membaca "KOTAK HITAM Cerpen Cerpen Cepi."
Dari situlah semua cerita ini bermula.



Februari 18, 2016

Mudahnya Berburuk Sangka

Kamis, Februari 18, 2016 0
Mudahnya Berburuk Sangka
Kawan, dalam pergaulan di dunia internet ini, betapa kita seringkali terjebak untuk bersikap mutlak-mutlakan di tengah perbedaan pendapat. Ini karena kita terlalu mendaku terhadap kepemilikan kita atas pengertian-pengertian kita sendiri.

Semacam jomblo yang tak mau sedikit pun gebetannya dijelek-jelekkan oleh orang lain. Begitu romantiknya sehingga dalam beberapa hal kita menjadi buta. Kita menjadi cepat tersinggung, cepat meleduk, dan naik pitam jika sedikit saja tentang gebetan kita dicolek orang.

Kita yang pada dasarnya begitu cinta dan bahagia dengan agama yang kita anut, seringkali secara rasional menjadi tidak objektif, menjadi tidak dewasa dan tidak rendah hati secara spiritual-psikologis, tatkala keyakinan yang kita pegang teguh dijelek-jelekan orang lain.
Kemudian kita menjadi lupa menyiapkan diri untuk membuka diri dan menerima kemungkinan-kemungkinan kebenaran baru atas diri kita.

Dalam keadaan yang seperti itu tanpa kita sadari kita menjadi begitu cepat berburuk sangka. Cenderung cepat mencari kesalahan-kesalahan orang lain, kemudian terjerumus mengungkapkan perbedaan itu dengan cercaan dan caci maki. Dan lucunya, dalam arena saling cerca tersebut kita senantiasa merasa menjadi yang paling benar.

Kawan, begitu cepatnya kita berburuk sangka, begitu cepatnya kita mengambil keputusan dalam perselisihan paham.
Kalau dia bukan A maka pasti dia B, dan jika B bukanlah dia, tentunya dia A. Seakan C, D, E, F dan seterusnya tak pernah ada. Pun kita menjadi begitu cekatan menggolongkan si anu kelompok ini dan si ini kelompok itu, hanya karena sebuah perbedaan.

Kawan, aku rindu menjumpai komunikasi yang penuh kematangan dan kedewasaan. Sebuah komunikasi yang dilandasi kerendahan hati dan gairah tulus untuk sungguh-sungguh mencari kebenaran. Tanpa sikap defensif yang emosional, tanpa menonjolkan gengsi dan harga diri pada proporsi yang tak wajar.
Apakah kamu tidak merasa eneg menyaksikan komunikasi yang tanpa etos yang hanya mempertahankan pendapat sendiri secara membabi-buta seperti yang menjadi watak dialog-dialog manusia modern belakangan ini?

Kawan, entah mengapa aku menyebutmu kawan, padahal belum tentu juga engkau menganggap aku kawan.
Mohon tidak cepat berburuk sangka padaku yang fakir ini.
Salam.


Facebook, 27 November 2015.