awanbyru.com

April 30, 2016

Kudus Maghrib

Sabtu, April 30, 2016 0
Kudus Maghrib

Harusnya ada puisi di sini.
Sampai Isya berganti tak ada satu pun yang jadi.


Cuma ada sunyi luka, dan gelap yang makin menjadi.

Maret 08, 2016

Gila

Selasa, Maret 08, 2016 0
Gila
Pernah terjadi dalam satu rentang masa dalam perjalanan hidupku, keadaan yang mana orang-orang mengataiku gila.
Namun gila yang aku alami tidak sampai membuatku berkeliaran di jalan tanpa celana.
Aku tidak pernah menyesali kegilaan yang pernah aku alami. Bagaimanapun itu saat yang tepat bagiku untuk menjadi gila. Lebih baik gila sebelum jatuh cinta daripada gila akibat gagal bercinta.

Saat aku gila, seringkali aku bercerita kepada orang-orang yang aku jumpai. Tentunya cerita-ceritaku tidak masuk akal buat mereka. Namun tak satu pun dari mereka menyangkal atau mempertanyakan kebenaran ceritaku. Karena orang-orang tahu aku gila, dan aku akan mengamuk serta menghajar siapa pun yang menyangkal atau mempertanyakan kebenaran peristiwa yang aku ceritakan.

Biasanya aku mengawali cerita tentang pengalamanku mengintip sebuah rumah yang lampunya masih menyala saat tengah malam, pada sebuah kota yang aku singgahi.
Rumah itu milik Frick Fritzgerald, seorang penulis cerita. Cerita-cerita yang ditulis Frick sangat hidup, karena tokoh-tokoh yang diceritakannya benar-benar hidup. Frick menyimpan tokoh-tokohnya dalam sebuah kotak kayu.

Malam itu aku menyaksikan Frick Fritzgerald kerepotan mengejar tokoh-tokoh dalam ceritanya yang berlarian di dalam rumah. Tokoh-tokoh setinggi gelas ini melarikan diri dari kotak kayu penyimpanannya.
Beruntung malam itu Frick dibantu oleh mahluk dengan sepasang sayap dipunggungnya yang mengaku sebagai Gabriel.
Benar, Gabriel itu adalah malaikat Tuhan. Dia yang melihat Frick mampu membuat tokoh-tokoh cerita yang hidup akhirnya mengira Frick adalah Tuhan yang lain.

Semalaman mereka berdua sibuk berkejaran menangkap tokoh-tokoh cerita yang melarikan diri dari kotak kayu. Satu persatu ditangkap dengan tidak mudah dan kembali dimasukkan ke dalam kotak kayu. Di luar rumah aku tertawa cengengesan menyaksikan semua itu. Bagaimana mungkin Sang Pencipta dibuat repot oleh ciptaanNya, dan alangkah lucunya malaikat yang lupa pada perintah Tuhannya karena mengira ada Tuhan yang lain.
Menjelang subuh aku melangkah pergi meninggalkan rumah Frick yang lampunya masih menyala, dan di dalamnya Frick dan Gabriel sama-sama terdiam dan bernafas dengan sangat hati-hati, mereka diam dalam ketakutannya.

Di hari Senin yang kaku, di mana orang-orang terburu-buru, berlari mencoba lebih cepat dari bayangannya sendiri. Aku ada di Shinjuku, stasiun yang memiliki dua ratus pintu. Di Shinjuku aku melihat Sayuri, perempuan yang rambutnya sebahu dan kecantikannya seperti dewi.
Sayuri tidak sedang menjinakkan hari Senin atau pintu-pintu Stasiun Shinjuku, Sayuri sedang berusaha menjinakkan dirinya sendiri. Ya, Sayuri tidak punya alasan untuk bunuh diri, tidak untuk hari ini.

Hari Senin yang resah juga gelisah, Senin yang membuat orang-orang lebih mudah marah. Di Shinjuku sama saja, dua ratus pintunya masih berdiri gagah seperti gigi-gigi gergasi. Siap mengunyah mereka yang lengah.
Di bangku Stasiun Shinjuku, Sayuri terlanjur membaca catatan berita buruk dari masa depan, berita buruk yang dibawa takdir.
Hari Senin yang kaku, Sayuri dimampus takdirnya, mati bunuh diri di Aokigahara.

Aku menangis sembari tertawa, menyaksikan takdir yang mendatangi Sayuri terlalu cepat, bahkan untuk sekedar memikirkan alasan mati bunuh diri.

Selasa itu aku sampai di Kota Cahaya. Sebuah kota yang mana tak satu pun penduduknya memiliki bayangan. Sebuah kota yang begitu terang dan suram sekaligus.
Adalah Dia yang Tembus Pandang, seorang perempuan pemilik Cafe Rouge. Perempuan itu transparan, tubuhnya tembus pandang. Satu-satunya bagian tubuhnya yang tidak tembus pandang adalah jantung. Jantungnya begitu merah dan berdegup kencang.

Kepada Dia yang Masih Punya Bayangan Dia yang Tembus Pandang tertarik hatinya. Di tiap Selasa, Dia yang Masih Punya Bayangan mengunjungi Cafe Rogue, sekali dibawakannya kembang asoka untuk Dia yang Tembus Pandang. Jantungnya yang merah itu berdegup kencang, semakin kencang.

Dia yang Masih Punya Bayangan tidak berasal dari Kota Cahaya. Ia mengaku dari Kota Lama, tapi penduduk Kota Cahaya lebih senang menyebutnya dari sebuah entah. Dia satu-satunya orang yang memiliki bayangan di kota ini, penduduk Kota Cahaya jirih kepadanya, kecuali Dia yang Tembus Pandang, sang pemilik sekaligus pelayan Cafe Rogue yang di tiap Selasanya dikunjungi Dia yang Punya Bayangan.

Selasa itu aku menjadi saksi, di sebuah stasiun Dia yang Tembus Pandang memutuskan pergi bersama Dia yang Punya Bayangan. Seisi Kota Cahaya mengikutinya sampai stasiun. Seiring kereta yang berjalan membawa pergi Dia yang Tembus Pandang, satu persatu penduduk Kota Cahaya tumbang, mati ditinggalkan degup jantungnya.

Malam hari di sebuah taman yang bangku-bangkunya dipenuhi pasangan muda-mudi memadu kasih, aku melihat satu bangku yang berbeda. Bangku itu diisi dua orang lelaki yang baru saling kenal, obrolan mereka begitu hangat dan penuh gelak tawa.

Mereka adalah Amri Tadjudin dan Keliat Wattampone. Amri Tadjudin hampir setiap malam duduk di bangku itu, ia menunggu kunang-kunang. Kepada kunang-kunanglah tiap malam Amri Tadjudin bercakap-cakap. Bercerita tentang dirinya, pikirannya dan mencoba mendengar kunang-kunang dan segala yang dipikirkan mereka.
Sedangkan Keliat Wattampone adalah seseorang yang merasa ada orang lain yang hendak keluar dari tubuhnya. Dan yang menakutkan Keliat Wattampone adalah keinginan orang itu. Orang itu ingin menembus waktu dan melakukan hal-hal yang berbeda dengan yang sudah dilakukan Keliat Wattampone.

Malam itu di taman untuk pertama kalinya aku merasa waras setelah menyaksikan Amri Tadjudin dan Keliat Wattampone duduk sebangku dan saling bercakap diselingi gelak tawa.
Kunang-kunang tak jadi datang, namun Amri Tadjudin menemukan Keliat Wattampone. Sementara Keliat Wattampone menemukan orang yang akan keluar dari tubuhnya adalah Amri Tadjudin.
Mereka saling menemukan, Amri Tadjudin dan Keliat Wattampone tak lagi sendiri, mereka sekarang berdua, sama-sama gila.
Dan tentu saja aku tidaklah segila mereka.

Siang itu lembab dan panas, aku mencoba mencari tempat berteduh untuk melepas lelah. Sampailah aku di samping sebuah gudang yang jendelanya selalu terbuka. Kepalaku melongok ke dalam, memperhatikan keadaan.

Di dalam gudang terdapat laki-laki yang lebih sering melamun. Kalau sedang tidak melamun dia merusak tubuhnya sendiri. Laki-laki itu bertubuh besi, seumur hidupnya hanya ada pilu dan sepi. Dia ingin mati namun tak pernah mampu bunuh diri, bagaimanapun tubuhnya terbuat dari besi.

Alat-alat pertanian milik ayahnya yang ada di dalam gudang dijadikannya alat untuk merusak dirinya sendiri, saat lelah dia melamun lagi.
Lamunannya selalu tentang perempuan yang dulu selalu datang saat dia berhasil merusak tubuhnya sendiri. Perempuan yang selalu datang membawa bagian-bagian tubuh baru pengganti bagian tubuhnya yang berhasil dirusaknya sendiri.
Perempuan yang kedatangannya membuat dirinya senang dan anggota tubuhnya berdentang.
Perempuan yang ternyata mau mendampinginya hidup di dalam gudang namun menolak untuk dinikahi.
Sampai kemudian perempuan itu harus pergi, karena suaminya yang juga bertubuh besi mulai merusak tubuhnya sendiri.

Di sudut gudang yang paling gelap dan paling dingin, samar kulihat laki-laki bertubuh besi melamun sendiri, kemudian merusak anggota tubuhnya lagi.

Hari ini adalah Selasa, aku belumlah gila dan tidak kemana-mana.
Aku tetap di sini, di kamar gelapku yang cuma diterangi lampu baca LED 1Watt. Masih sendiri dalam sepi, membaca "KOTAK HITAM Cerpen Cerpen Cepi."
Dari situlah semua cerita ini bermula.



Februari 18, 2016

Mudahnya Berburuk Sangka

Kamis, Februari 18, 2016 0
Mudahnya Berburuk Sangka
Kawan, dalam pergaulan di dunia internet ini, betapa kita seringkali terjebak untuk bersikap mutlak-mutlakan di tengah perbedaan pendapat. Ini karena kita terlalu mendaku terhadap kepemilikan kita atas pengertian-pengertian kita sendiri.

Semacam jomblo yang tak mau sedikit pun gebetannya dijelek-jelekkan oleh orang lain. Begitu romantiknya sehingga dalam beberapa hal kita menjadi buta. Kita menjadi cepat tersinggung, cepat meleduk, dan naik pitam jika sedikit saja tentang gebetan kita dicolek orang.

Kita yang pada dasarnya begitu cinta dan bahagia dengan agama yang kita anut, seringkali secara rasional menjadi tidak objektif, menjadi tidak dewasa dan tidak rendah hati secara spiritual-psikologis, tatkala keyakinan yang kita pegang teguh dijelek-jelekan orang lain.
Kemudian kita menjadi lupa menyiapkan diri untuk membuka diri dan menerima kemungkinan-kemungkinan kebenaran baru atas diri kita.

Dalam keadaan yang seperti itu tanpa kita sadari kita menjadi begitu cepat berburuk sangka. Cenderung cepat mencari kesalahan-kesalahan orang lain, kemudian terjerumus mengungkapkan perbedaan itu dengan cercaan dan caci maki. Dan lucunya, dalam arena saling cerca tersebut kita senantiasa merasa menjadi yang paling benar.

Kawan, begitu cepatnya kita berburuk sangka, begitu cepatnya kita mengambil keputusan dalam perselisihan paham.
Kalau dia bukan A maka pasti dia B, dan jika B bukanlah dia, tentunya dia A. Seakan C, D, E, F dan seterusnya tak pernah ada. Pun kita menjadi begitu cekatan menggolongkan si anu kelompok ini dan si ini kelompok itu, hanya karena sebuah perbedaan.

Kawan, aku rindu menjumpai komunikasi yang penuh kematangan dan kedewasaan. Sebuah komunikasi yang dilandasi kerendahan hati dan gairah tulus untuk sungguh-sungguh mencari kebenaran. Tanpa sikap defensif yang emosional, tanpa menonjolkan gengsi dan harga diri pada proporsi yang tak wajar.
Apakah kamu tidak merasa eneg menyaksikan komunikasi yang tanpa etos yang hanya mempertahankan pendapat sendiri secara membabi-buta seperti yang menjadi watak dialog-dialog manusia modern belakangan ini?

Kawan, entah mengapa aku menyebutmu kawan, padahal belum tentu juga engkau menganggap aku kawan.
Mohon tidak cepat berburuk sangka padaku yang fakir ini.
Salam.


Facebook, 27 November 2015.


Oktober 30, 2015

Pernah Ganteng

Jumat, Oktober 30, 2015 2
Pernah Ganteng
"Om hapemu yang ini aku banting ya?" Tanya Aliqa padaku pada suatu kesempatan.

"Wee, emang kenapa kok mau kamu banting?" Tanyaku balik.

"Habis jelek sih Om hahahaha" jawab Aliqa cengengesan.

"Ya jangan karena jelek lantas kamu buang, kamu tahu nggak dek jelek-jelek gini hape ini pernah baru artinya dia pernah bagus juga dulunya." Terangku.

"Ohh gitu ya Om." Kata Aliqa dan Aqila berbarengan.

"Sama juga seperti Om kalian ini, biarpun jelek gini dulunya juga pernah ganteng." Sambungku.

"Huuuuu ndak mungkin itu." Teriak mereka berdua protes.




Perang Kembang

Jumat, Oktober 30, 2015 0
Perang Kembang
Syahdan, Raden Vale dalam perjalanannya mengejar Wahyu Makutarama melintas di Rimba Sepang. Tergesa Raden Vale memasuki Rimba Sepang karena dia sadar bahwa pesaingnya yang juga mengejar Wahyu Makutarama yaitu Pangeran Jorge selangkah ada di depan.

Sepertinya keberuntungan tidak berpihak pada Raden Vale, baru beberapa depa memasuki kawasan Rimba Sepang, di tengah lintasan Marc Caquil telah berdiri menghadang.

"Ngiahahahaha manusia tampan mau kemana, mengapa dirimu begitu tergesa. Berhenti sejenak, bermainlah dulu denganku" kata Marc Caquil menantang Raden Vale.

Hampir separuh hidup Raden Vale dijalani dalam pengembaraan, ribuan kali bertemu rimba, ribuan kali berjumpa padang. Menyebrangi sungai, mengarungi laut, memasuki Goa, ke luar lembah. Raden Vale sudah mahfum terhadap gangguan seperti yang dilakukan Marc Caquil. Sudah banyak Cakil yang pernah mengganggunya, semuanya tak ada yang berarti dan berhasil dilewati. Semua tewas tertusuk pusakanya sendiri.

Kali ini Raden Vale sedang tak ingin bermain-main melayani Marc Caquil.

"Menyingkirlah Quil, aku sedang mengejar Wahyu Makutarama, kalau kau tak lagi punya hak memperebutkannya, menyingkirlah! Biarkan aku mendapatkannya sebelum Pangeran Jorge." Jawab Raden Vale yang langsung menghindari Marc Caquil, kemudian merangsek pergi.

"Ngiahahaha tidak semudah itu Kisanak!" Marc Caquil langsung memburu Raden Vale di kedalaman kelok Rimba Sepang.

Marc Caquil yang ini berbeda dengan Cakil-cakil yang biasa dihadapi Raden Vale sebelumnya. Marc Caquil bukan jago kandang, ia sudah melanglang jagad mengasah kemampuan.
Tak butuh waktu lama buat Marc Caquil mengejar Raden Vale. Tanpa basa-basi Marc Caquil menyerang Raden Vale di tikungan.

"Ngiahaha jangan kabur dulu, bertahun-tahun aku mengagumimu dan berlatih supaya bisa sejajar kemampuanku denganmu. Hadapi aku, jangan kabur."

Keduanya langsung terlibat duel seru, kemampuan mereka terlihat setara. Marc Caquil unggul di kekuatan sedangkan Raden Vale menang pengalaman.
Rimba Sepang yang sunyi bergelora menyaksikan sengitnya pertarungan mereka, saling serang dan menghindar berlangsung rapat.

Tak terasa separuh panjang Rimba Sepang telah mereka tempuh.
Raden Vale sadar jaraknya dengan Pangeran Jorge semakin jauh. Tak ada pilihan bagi Raden Vale selain meladeni Marc Caquil dengan sungguh-sungguh agar jelas siapa yang lebih ampuh.
Dalam sebuah kesempatan terlihat kepala Marc Caquil menanduk lutut Raden Vale.

*Dziggh*

Raden Vale sudah siaga terhadap serangan ini, dibiarkannya kepala Marc Caquil menyeruduk lututnya, kemudian dengan halus didorongnya kembali kepala Marc Caquil.

*Sreettt* 
(((GDUBRAKK))) 

Marc Caquil terjerembab jatuh, tewas menimpa keris yang dihunusnya.

Raden Vale meninggalkan Marc Caquil, mencoba mendekatkan jarak dengan Pangeran Jorge.

Keluar dari Rimba Sepang Raden Vale sudah ditunggu para Dewa yang menyaksikan pertarungannya dengan Marc Caquil.

Para Dewa menganggap Raden Vale menyalahi aturan yang berlaku di Rimba Sepang dan harus dihukum dijauhkan jaraknya dengan Pangeran Jorge.

Semakin berat usaha Raden Vale mengejar Pangeran Jorge, semakin susah Raden Vale memperoleh Wahyu Makutarama.




Kudus, 27 Oktober 2015.
Sumber gambar: www.szaktudas.com

Agustus 31, 2015

Salah Pilih

Senin, Agustus 31, 2015 0
Salah Pilih
Sebagai Satpam yang patuh dan taat kepada pimpinan, jujur dan bertanggung jawab tentunya menjalankan tugas yang diperintahkan oleh unsur pimpinan adalah sebuah keharusan yang dilaksanakan dengan penuh kesungguhan.

Selain tugas harian di Pos Penjagaan, terkadang saya juga menerima tugas untuk melakukan latihan penyegaran. Seperti Sabtu kemarin dimana saya harus menjalani penyegaran latihan PBB dan PPM bersama rekan-rekan Satpam lainnya, agar kami sebagai Satpam senantiasa tumbuh dan terjaga sikap jasmani yang tegap dan tangkas, rasa kesatuan, disiplin, sehingga dengan demikian senantiasa dapat mengutamakan kepentingan tugas di atas kepentingan individu dan secara tidak langsung juga menanamkan rasa tanggung jawab.

Dalam latihan baris-berbaris selain bisa melaksanakan gerakan di tempat, langkah terbatas, dan langkah berjalan yang meliputi gerakan dari berhenti ke berjalan, dari berjalan ke berjalan dan dari berjalan ke berhenti, peserta latihan juga dilatih untuk bisa menjadi komandan pleton, bergantian danton yang lama menunjuk satu peserta latihan untuk menggantikan dirinya sebagai danton baru untuk memberikan perintah dan aba-aba ke pasukan.

Sepertinya rekan-rekan sepelatihan sadar untuk tidak menunjuk saya sebagai komandan pleton. Tentunya mereka tidak mau mengambil resiko menjadi korban keisengan saya memberikan aba-aba "JALAN DI TEMPAT"  tanpa pernah tahu kapan akan berhenti.

Pernah dalam suatu DIKLATSAR Satpam beberapa waktu yang lalu, saya ditunjuk oleh Pelatih untuk menjadi Komandan Pleton. Kebetulan saat itu materi yang disampaikan adalah "Pemberian APP (arahan petunjuk pacaran pelaksanaan) dalam barisan." Dan saya diperintahkan oleh pelatih untuk praktik memberikan APP kepada pasukan.

Setelah pasukan saya kumpulkan dalam barisan tiga bersaf dan kemudian saya istirahatkan, APP saya mulai dengan ucapan:
"Selamat pagi."

"Pagi." Jawab mereka serempak.

Sambil berjalan dari ujung kiri ke ujung kanan barisan saya amati rekan-rekan sepelatihan, sekilas saya melirik ke posisi pelatih berdiri, pelatih mengangguk memberikan kode agar saya melanjutkan APP.

"Terimakasih atas kehadiran rekan-rekan dalam apel pagi ini, rekan-rekan tahu apa yang akan saya sampaikan pagi ini?" Tanya saya.

"TIDAK!" Pasukan menjawab kompak.

"Baiklah saya sudahi saja APP pagi ini, buat apa saya berikan APP kalau rekan-rekan tidak tahu apa yang akan saya sampaikan." 

Kemudian saya balik kanan ngeloyor meninggalkan pasukan yang tertawa terpingkal-pingkal. Kemudian saya dan teman-teman sepelatihan dihukum push up 15 kali karena dianggap tidak serius dalam latihan. Oleh pelatih kami diminta untuk mengulang sekali lagi.

"Selamat pagi!" Sapa saya mengawali APP jilid II.

"PAGI!" Jawab pasukan tetap serempak.

"Rekan-rekan sekalian tahu apa yang akan saya sampaikan?" Tanya saya.

"SIAP TAHU!" Jawab pasukan.

"Baiklah, karena kalian semua sudah tahu tak ada gunanya lagi saya memberikan arahan."

Kembali saya ngeloyor balik kanan meninggalkan pasukan yang semakin terpingkal-pingkal tawanya. Lagi-lagi oleh pelatih kami dihukum push up 15 kali, dan sekali lagi kami diperintahkan untuk mengulang.

"Selamat pagi rekan-rekan!" Kembali saya menyapa pasukan.

"PAGI!" Jawab mereka.

"Terimakasih atas kesediaan rekan-rekan melaksanakan apel pagi ini, sesuai instruksi pelatih pagi ini saya diminta untuk memberikan APP kepada rekan-rekan semua. Apakah rekan-rekan tahu apa yang akan saya sampaikan kepada rekan-rekan semua?"

"Tahu." --- "Tidak." Kali ini pasukan agak ragu menjawab.

"Jawab yang tegas, apa rekan-rekan tahu apa yang akan saya sampaikan?" Kembali saya bertanya.

"TIDAK!"
"TAHU!"

Sebagian dari mereka menjawab tahu, sebagian lagi tidak.

"Baiklah sehubungan di antara rekan-rekan ada yang sudah tahu dan ada yang tidak, setelah pasukan saya bubarkan maka bagi yang tidak tahu untuk bertanya kepada yang tahu. Dan bagi yang tahu agar memberitahu kepada yang tidak tahu. Apa 86?"

"SIAP 86!" Jawab mereka kembali serempak.

"PERHATIAN SELESAI."
"BUBAR JALAN!" Perintah saya membubarkan pasukan.

Kali ini tidak ada tawa terpingkal dari kami, aku melihat ke arah pelatih, beliau menggelengkan kepala menatapku prihatin, kemudian tertawa terpingkal-pingkal, lalu push up sebanyak 15 kali.

Entahlah mungkin Bapak Pelatih menyesal telah memilihku menjadi seorang komandan pleton di pagi itu.


*Terinspirasi dari kisah Nasruddin Hodja*




-Ilustrasi gambar peserta latihan DIKLATSAR SATPAM-

Juli 31, 2015

Mengantar Simbah

Jumat, Juli 31, 2015 0
Mengantar Simbah
31 Desember 1931 hingga 30 Juli 2015 bukanlah rentang waktu yang pendek untuk dijalani. Begitu banyak peristiwa yang telah dialami Simbah dalam 84 tahun perjalanannya. Pahit getir perpisahan, manis bahagia pertemuan telah berkali-kali hadir dalam kehidupan Simbah. Dari Simbah aku mendapatkan berbagai macam cerita tentang hidup dan kehidupan.

Semasa Simbah masih tinggal di sebuah Desa di kota Jepara, dua atau tiga bulan sekali Simbah datang berkunjung menengok cucu-cucunya yang tinggal di sini. Kedatangan Simbah senantiasa membahagiakan buat kami cucu-cucunya. Bahkan lagu Kemarin Paman Datang seringkali aku ganti menjadi Kemarin Simbah Datang.

Seperti dalam lagu tersebut, kedatangan Simbah pun selalu dengan buah tangan untuk cucu-cucunya. Mangga, rambutan, nangka bahkan pete dibawa dalam tas keranjangnya. Tak lupa Simbah membawa kepiting atau rajungan sebagai pelengkap hasil kebun yang dibawanya.

Saat malam datang adalah yang paling aku tunggu dari kehadiran Simbah. Dari Simbah aku mengenal berbagai dongeng sebelum tidur. Kancil Nyolong Timun, Ande Ande Lumut, Timun Mas, Roro Jonggrang, Kedono-Kedini, Kancil dan Buaya, Kancil dan Macan, dengan sabar diceritakannya sampai kami tertidur. Diselingi senandung-senandung lagu dolanan anak-anak, Simbah mengajari kami tentang hal-hal baik dan menjauhkan kami dari segala keburukan.

Terkadang Simbah juga bercerita tentang pengalaman-pengalamannya semasa muda. Diawali dengan mengajari berhitung dalam bahasa Jepang, kemudian Simbah menceritakan pengalaman yang dialami di masa penjajahan Jepang.

Peralihan zaman dan pergantian kepemimpinan yang dialami Simbah terjadi begitu cepat. Kebahagiaan yang dikecap berganti kesedihan tanpa permisi. Dari cerita Simbah aku mengenal kekejaman politik, dari cerita Simbah aku mengenal ketidakadilan.

Seiring usia Simbah yang terus bertambah, menetaplah Simbah di Kota ini. Cucu-cucunya beranjak dewasa, tak ada lagi yang tertarik dengan dongengan Kancil Nyolong Timun. Saat Simbah rindu kampung halamannya adalah tugasku mengantar Simbah kembali ke Desa. Dengan angkutan umum aku mengantar Simbah kembali ke Desa, berpindah dari Angkota ke Minibus lalu menaiki Angkudes. Kegiatan mengantar Simbah terhenti semenjak kesehatan Simbah menurun dan tak mampu lagi berjalan jauh.

Dalam 84 tahun perjalanan Simbah, telah banyak perjumpaan dan perpisahan yang dialami Simbah. Semua cucu-cucunya telah menikah, kecuali aku tentunya. Sepuluh tahun terakhir Simbah selalu memintaku agar segera menikah, "Mumpung Simbah masih hidup." begitu katanya. Dan seperti biasa aku selalu mengiyakan dan memohon restu Simbah.

Penghujung tahun lalu aku memperkenalkan seorang perempuan kepada Simbah, sungguh aku melihat kebahagiaan Simbah melebihi kebahagianku setelah mengetahui aku memiliki calon istri.
Dan sungguh aku pun melihat Simbah yang terluka melebihi lukaku saat mengetahui hubunganku yang gagal menuju pelaminan.

Hari ini aku mengantar Simbah seorang diri tanpa istri yang Simbah nanti.
Maafkan aku yang tak mampu memenuhi keinginan Simbah.
Begitu panjang jalan Simbah, begitu banyak peristiwa yang Simbah saksikan namun Simbah tak pernah lagi punya waktu untuk menyaksikan pernikahanku.

Maafkan cucumu Mbah,
Sugeng kondur....
Al-fatihah.