awanbyru.com: Bebas
Tampilkan postingan dengan label Bebas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bebas. Tampilkan semua postingan

Januari 22, 2017

Dongeng Koalisi Macan II

Minggu, Januari 22, 2017 0
Dongeng Koalisi Macan II
Koalisi Macan berkumpul lagi, mereka mengadakan konsolidasi untuk mengadakan perburuan bersama jilid II. Kali ini Sanca tidak hadir dengan alasan menghadiri pernikahan saudara di hutan sebelah. Alasan sebenarnya sih karena Sanca masih kecewa dengan cara pembagian daging buruan yang dilakukan Macan di perburuan pertama.

Rubah bersedia melanjutkan koalisi dengan syarat bahwa nantinya hasil buruan dibagi dengan adil seadil-adilnya. Ajak mengikuti keputusan Rubah, tak ada pilihan lain bagi Ajak selain bergabung dengan koalisi Macan --- ia tak pernah melakukan perburuan sendiri --- sedangkan kawanan Ajak yang lain belum kembali ke hutan Tanjung.

Macan menerima syarat yang diajukan Rubah, dan di sinilah mereka sekarang. Di padang rumput yang terletak tak jauh dari telaga di bagian utara hutan Tanjung Pulau Halimunda. Mereka berpencar di tiga penjuru, mengepung wilayah padang rumput. Mereka mengincar empat ekor Kambing yang sedang merumput menikmati sarapan. Macan, Rubah dan Ajak sabar mengintai, keempat Kambing tersebut masih dalam formasi siaga. Keempatnya merumput dengan posisi saling membelakangi, sehingga gerakan mencurigakan dari empat penjuru dapat segera terdeteksi.

Dari empat ekor Kambing tersebut satu ekor berwarna hitam, sedang tiga lainnya berwarna coklat dengan sedikit aksen putih di perut dan punggungnya. Keributan kecil terjadi di antara mereka saat mereka mulai membicarakan perbedaan warna bulu mereka. Kambing hitam merasa dialah Kambing terbaik di pulau Halimunda. Bulunya hitam mengkilat tanpa noda, dan tubuhnya lebih besar dari tiga kawannya.

Tiga Kambing coklat mulai jengah kepada Kambing hitam. Apalagi Kambing hitam mulai merendahkan tiga Kambing coklat, dengan terus menerus menyinggung warna bulunya yang coklat dekil dan bentuk badan yang pendek. Tiga Kambing coklat memutuskan untuk menyudahi sarapan dan meninggalkan Kambing hitam sendirian di padang rumput. Sebenarnya mereka belumlah cukup kenyang, namun mereka sudah tidak tahan dengan mulut si Kambing hitam. Kini Kambing hitam merumput sendirian di padang rumput, ia tak pedulikan teman-temannya yang beranjak pergi.

Tiga pengintai bersorak riang dalam hati menyaksikan Kambing hitam yang tertinggal sendiri. Setelah tiga Kambing coklat dipastikan menjauh dari padang rumput, tiga hewan pemburu ini serentak merayap diam-diam mendekati Kambing hitam dari tiga penjuru.

Ajak yang lebih dulu mendekati lokasi Kambing hitam, bersiap ia ambil ancang-ancang menyerang sambil menunggu aba-aba penyergapan dari Macan. Terdengar auman keras Macan, Ajak langsung melompat menerjang kaki belakang Kambing hitam, digigitnya erat kaki itu seolah tak akan dilepaskan. Kambing hitam mencoba meronta melepaskan diri dari gigitan Ajak, namun dari arah depan Rubah menerjang menggigit kaki depan Kambing hitam. Robohlah Kambing hitam di rerumputan, belum juga ia berpikir untuk bangkit, taring-taring tajam Macan menancap di tengkuk Kambing hitam. Perburuan selesai sudah, Kambing hitam tak akan lagi pulang.

"Hei Rubah, bagi daging Kambing ini dengan adil seadil-adilnya untuk kita bertiga, seperti maumu," kata Macan kepada Rubah sambil mengelap mulutnya yang berlumur darah.

Rubah segera mencabik-cabik daging Kambing, sedangkan Ajak diam memperhatikan. Oleh Rubah daging Kambing tersebut dibagi menjadi tiga tumpukan yang sama banyak. Tanpa banyak kata Rubah mengambil bagian satu tumpuk daging dan berbalik meninggalkan Macan dan Ajak.

Belum juga sampai dua langkah Rubah meninggalkan lokasi pembagian daging, Macan melompat menerkam menggigit tengkuk Rubah dan langsung mencabik-cabik tubuh Rubah menjadi daging cincang. Ajak diam menahan nafas, hampir copot jantungnya. Tak diduganya akan begitu mengenaskan nasib yang menimpa Rubah.

"Sudahlah jangan cuma bengong. Lekas gabungkan itu daging Rubah dengan daging Kambing. Kemudian bagi dengan adil seadil-adilnya untuk kita berdua," kata Macan kepada Ajak yang masih gemetar terbengong-bengong.

Ajak kemudian mengumpulkan seluruh daging Rubah dan Kambing. Ditumpuknya menjadi satu bagian besar daging tersebut dan didorongnya ke arah Macan, sedangkan untuknya hanya setumpuk tulang dengan sedikit daging.

Macan tersenyum melihat cara Ajak membagi hasil buruan. Kemudian Macan berkata "Apakah pembagian ini sudah adil Jak? Dan apa sebab engkau membagi seperti ini?"

“Ini sudah benar Tuan, yang saya lakukan adalah karena saya belajar dari masa lalu dan juga belajar dari nasib yang menimpa Rubah," jawab Ajak yang segera menyambar bagiannya yang sedikit kemudian berlari sekencangnya menjauhi Macan.



Januari 20, 2017

Dongeng Koalisi Macan

Jumat, Januari 20, 2017 0
Dongeng Koalisi Macan
Pagi itu berkumpul empat hewan buas di depan gua hutan Tanjung yang ada di pulau Halimunda. Mereka adalah Macan, Rubah, Sanca, dan Ajak. Keempatnya bersepakat untuk membentuk satu koalisi perburuan. Sanca mendesis membisikkan rencananya menyergap Menjangan saat minum di telaga siang nanti.

Matahari sudah mulai tinggi. Masing-masing anggota koalisi sudah menempati lokasi yang direncanakan Sanca untuk menyergap Menjangan. Ajak kebagian tugas untuk menyerang saat Menjangan melepas dahaga di telaga. Dari tempatnya bersembunyi, Ajak diam memantau situasi. Bagaimanapun ini pengalaman pertama Ajak berburu bersama hewan lain, biasanya ia berburu bersama kawanannya sendiri. Ia tak ingin gagal kali ini.

Seekor Menjangan muda melangkah ringan menuju telaga. Telaga begitu sepi, Menjangan menaikkan telinganya memastikan situasi, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Merasa aman, ia bergerak pelan ke pinggir telaga. Sekali lagi menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum bibirnya dijulurkan untuk meminum air telaga. Baru satu tegukan air membasahi kerongkongannya, Menjangan merasakan ada gerakan dari arah kiri, terkesiap ia melihat seekor Ajak yang merangsek menuju ke arahnya. Dengan cepat Menjangan melompat dan berlari diikuti Ajak yang mulai menyalak mengabarkan perburuan telah dimulai.

Kaki-kaki ramping Menjangan membuatnya mampu bergerak lincah di dalam hutan Tanjung. Sesekali Menjangan menoleh ke belakang melihat Ajak yang terus saja menyalak biarpun langkahnya makin tertinggal. Menjangan merasa tenang karena yang mengejarnya cuma seekor Ajak. Beberapa purnama sebelumnya ia berhasil lolos dari sekawanan Ajak yang memburunya. Menjangan yakin setelah satu tikungan di depan, Ajak tersebut akan kehilangan jejaknya.

Sampai di tikungan kejutan menanti Menjangan. Belum sempat ia berbelok seekor Rubah menerkam punggungnya. Menjangan menjatuhkan diri bergulingan hingga cengkeraman Rubah lepas dari punggungnya. Dengan membawa pedih di punggungnya Menjangan berlari diikuti Rubah dan Ajak yang kini tepat di belakangnya. Menjangan mulai panik karena di depan hanya ada padang ilalang. Kalau ia berlari ke sana tak ada tempat sembunyi buatnya.

Menjangan memutuskan untuk berlari menuju lembah, untuk mencapainya ia harus melalui satu celah sempit. Ajak terus mengejar sambil menyalak, Rubah pun terlihat begitu semangat memburu, air liur menetesi taringnya terbayang empuk gurih daging Menjangan. Keduanya tak mau melepaskan buruan mereka yang telah terluka.

Celah sempit menuju lembah sudah terlihat, Menjangan menambah kecepatannya. Tiba-tiba nyeri terasa di pangkal paha kanannya. Sanca menggigit pangkal pahanya dan bersiap untuk membelit tubuhnya. Menjangan menjungkalkan tubuhnya ke depan dengan gerakan yang seperti tidak di sengaja, namun itu sudah cukup untuk membuat Sanca kehilangan momentum untuk membelit tubuh Menjangan. Segera Menjangan bangkit dan dengan kedua kaki depannya ia menginjak tubuh Sanca, hingga Sanca terpaksa melepaskan gigitan di paha kanan kaki belakang Menjangan.

Menjangan kembali berlari mencoba menyelamatkan diri. Di depan celah sempit sudah ada Ajak yang menyalak semakin galak, sedangkan di belakangnya Rubah menggeram siap menerkam, sedangkan Sanca sudah kembali siaga. Ke arah padang ilalang Menjangan itu berlari diikuti tiga pemburunya yang saling tersenyum penuh arti.

Ilalang yang tinggi membuat Menjangan kesulitan melihat. Yang ia lakukan cuma berlari ke depan secepatnya. Menjangan tahu tepat dibelakangnya ada Rubah, Ajak, dan Sanca yang bersiap menyantapnya. Dalam panik pelariannya, Menjangan tak menyangka Macan menerkamnya langsung dari arah depan. Menjangan terjatuh dan mencoba bangkit lagi, namun Macan lebih sigap. Sekali lompatan digigitnya tengkuk buruannya. Menjangan roboh tak lagi merasakan apa-apa.

Empat anggota koalisi perburuan telah berkumpul di depan tubuh Menjangan yang tak lagi bergerak. Bagaimana daging hasil buruan itu akan mereka bagi, itulah yang kini jadi masalah. Sampai kemudian Macan berkata:
"Untukku seperempat bagian saja, bagilah yang adil sama rata."
Rubah kemudian menguliti bangkai Menjangan itu dan membagi dagingnya menjadi empat bagian.

Macan kemudian mendekati keempat gundukan daging tersebut. Matanya nyalang menatap tiga teman berburunya. Sambil menggeram Macan berkata:
"Seperempat bagian untukku karena akulah raja hutan ini. Seperempat bagian lagi untukku karena aku yang mendirikan koalisi perburuan ini. Sedangkan yang seperempat bagian lagi adalah hakku karena aku yang merobohkan Menjangan ini hingga tak berdaya. Untuk yang seperempat bagian terakhir, aku ingin tahu adakah diantara kalian bertiga yang berani mengambilnya?"

Ajak langsung membalikkan badan berjalan dengan langkah lemas diikuti Rubah dan Sanca. Masing-masing mengumpat dalam hati.
"DASAR PENGUASA."



Januari 17, 2017

Bapak Tua dan Sepeda Onthelnya

Selasa, Januari 17, 2017 0
Bapak Tua dan Sepeda Onthelnya
Mungkin anda pernah mendengar kisah yang akan saya ceritakan ini. Bisa jadi kakek, budhe, bulik, emak, bapak atau tetangga anda pernah menceritakannya. Kisah ini terjadi di kampung saya lebih dari 40 tahun yang lalu. Sebuah kisah sedih tentang bapak tua dan sepeda onthelnya.

Segerombolan pemuda tanggung berkumpul di angkruk dekat perempatan, mereka bertaruh kecil-kecilan menebak setiap kendaraan yang melintas perempatan akan belok kiri, kanan atau lurus. Teriakan dan tawa kemenangan datang dari yang berhasil menebak benar, dan pisuhan kecil tak jarang muncul dari yang tebakannya lebih sering salah.

Dari jauh terlihat seorang bapak tua mengayuh sepedanya,berjalan lambat menuju perempatan. Para pemuda sudah bersiap dengan tebakannya masing-masing. Ketika sepeda itu semakin dekat ke perempatan dan tampak jelas siapa yang mengendarainya, para pemuda tersebut tertawa dan sepakat untuk membatalkan taruhannya.

Bapak tua ini adalah pengecualian untuk permainan tebak arah tersebut. Hampir semua orang kampung yang mengenal bapak tua ini tahu belaka jika bapak tua ini mengendarai sepeda pasti akan segera turun dan menuntun sepedanya saat bertemu dengan persimpangan -- entah itu pertigaan atau perempatan. Kemanapun arah yang akan diambil bapak tua ini; ke kiri, ke kanan, atau lurus beliau pasti akan turun dari sepeda dan menuntunnya.

Para pemuda tanggung tersebut lebih memilih sepakat untuk tidak menjadikan bapak tua yang senantiasa berhati-hati tersebut sebagai bahan taruhan. Memangnya apa yang mau dipertaruhkan kalau mereka semua akan serempak dengan jawaban yang sama.
"Turun."
Tak ada yang akan menjawab ke kanan, ke kiri, atau lurus. Setiap bapak tua ini lewat, taruhan akan dianggap seri.

Tentunya kita tidak bisa menganggap kondisi jalanan tahun 70-an sama dengan kondisi jalanan saat ini. Lebar dan kemulusan aspal sudah pasti berbeda. Pun dengan volume lalu lintas sudah pasti sudah jauh berbeda. Saat ini jalan sudah begitu lebar namun malah terasa begitu sesak oleh kendaraan yang melintas di atasnya. Mobil, motor, sepeda dan becak saling serobot mencari celah yang tersisa.

Para pengendaranya pun sudah berubah, di tiap persimpangan yang ada lampu lalu lintasnya dapat dipastikan terdengar ribut suara klakson, tak peduli lampu lalu lintas menyala apa. Anak-anak naik motor tanpa helm dan sesekali beratraksi menaikkan roda depannya di atas aspal jalan raya adalah hal yang semakin sering kita temui belakangan ini. Para pengguna jalan seolah hilang kehati-hatiannya.

Saya tidak sempat mengenal bapak tua yang senantiasa menuntun sepedanya saat bertemu dengan persimpangan. Hanya ceritanya yang saya dengar. Saya belum dilahirkan ke dunia saat bapak tua ini meninggal dunia. Bapak tua ini mati tertabrak motor saat sedang menuntun sepedanya melewati sebuah persimpangan.


Januari 06, 2017

Suatu Sore di Persimpangan

Jumat, Januari 06, 2017 0
Suatu Sore di Persimpangan
Sepeda motor itu melaju tepat di depanku. Kemungkinan penumpangnya adalah satu keluarga. Satu anak duduk di depan, dengan lelaki dewasa memegang setang, di belakangnya ada seorang anak lagi dan paling belakang adalah perempuan dewasa. Keempatnya tak satu pun yang mengenakan helm.

Pandanganku terpaku, tangan kanan perempuan dewasa tersebut memegang makanan dalam bungkus plastik dan tangan kirinya menyuapi mulut lelaki dewasa yang sedang memegang setang dengan satu tangan, dikarenakan tangan kirinya sibuk menahan polah bocah yang duduk di jok paling depan.

Luar biasa, hal semacam ini semakin sering aku temui di jalan raya. Sepertinya manusia semakin tergesa hingga abai pada keselamatan diri dan keluarganya dan juga tak sempat lagi makan dengan nyaman di rumah. Hingga jalan raya pun kini telah menjadi sebuah ruang makan yang teramat panjang.

Aku teringat kepadamu, yang selalu mengingatkanku agar tidak makan minum dengan tangan kiri. Beruntungnya diriku memilikimu.
Duh Gusti, jauhkan keluarga kami dari ketiadaan adab dalam perilaku kami sehari-hari.



November 16, 2016

Melawan Hoax

Rabu, November 16, 2016 0
Melawan Hoax
Tak bisa dipungkiri bahwa kebodohan memang cepat menular, apalagi di era yang serba instan dan tergesa seperti sekarang ini. Sebagian orang bahkan memanfaatkan kebodohan yang ada untuk mendapatkan keuntungan dengan menyebar kabar bohong dan fitnah.

Saat ini kabar bohong (hoax) sudah menjadi industri. Setiap hari selalu muncul produk-produk baru untuk disebarluaskan. Kemasannya pun bermacam-macam, yang penting menghasilkan dan mengeruk banyak keuntungan.

Hoax berbingkai kesehatan, agama dan politik laris manis disebarluaskan. Fitnah-fitnah diyakini sebagai kebenaran. Produsen hoax semakin kaya, penyebar hoax tetap dalam kebodohan.

Kalau saja ada yang menulis buku "Tutorial Membuat Hoax yang Baik dan Benar", tentunya buku tersebut akan menjadi best seller. Keuntungan dari industri Hoax sangatlah besar. Karena itulah produsen hoax tak mudah dimusnahkan.

Satu produsen hoax kalian bunuh, akan muncul bedebah-bedebah lain yang menggantikannya. Demikian seterusnya selama kebodohan masih bersimaharajalela.

Lantas apakah kita hanya diam tanpa perlawanan menunggu giliran dimampus kabar bohong dan fitnah yang melanda?

Saya sepenuhnya sadar, hoax tidak akan bisa dilawan dengan hoax. Pun fitnah tidaklah mungkin dikalahkan dengan fitnah. Satu-satunya jalan adalah dengan tidak melakukan hoax dan fitnah serta tidak menjadi bagian dari keduanya.




November 10, 2016

The Power Of Beras

Kamis, November 10, 2016 0
The Power Of Beras
Senin wingi kancaku isuk-isuk matane ketok ngantuk, awake lemes sajak kekeselen. Tak takoni jare ra turu sewengi, goro-goro sirahe ngelu amergo hapene Polytron Zap 6 Power lagi patang wulanan olehe tuku anyar, dicemplungake bojone nang kolah (bak mandi) urip-urip.
Hapene matek total, barange tak cekel isuk kuwi ijeh kroso anyep lan ono hawane teles. Dekne njur takon ngono kuwi iso garansi gak?
Tak jawab wae ora iso, soale nek kecemplung banyu tetenger banyune mesti malih werna.

Tak saranke ora usah didandakke disik, tak kon gowo mulih wae,  trus hapene lebokake nang pedaringan adah beras njuk diurug beras. Jarke telung dina, trus lagi didudah jajal uripke meneh.

Kancaku setengah ora percoyo mbi omonganku. Tapi malem Selasa akhire hapene jajal dikubur nang pedaringan diurugi beras.

Lha sore iki mau dekne ngirimi aku layang cekak, ngabari yen hapene wes didudah trus gelem urip meneh. 😂😂😂


Sumber gambar: Mediaseluler.com

Oktober 27, 2016

Mie Ayam Poligami

Kamis, Oktober 27, 2016 4
Mie Ayam Poligami
Sore itu di sebuah warung mie ayam yang seluruh dindingnya terbuat dari anyaman bambu, yang lebar ruangannya tak lebih dari enam kali enam meter, alasnya tanah dan beratapkan seng, aku duduk menunggu pesananku datang dengan ditemani krupuk yang dibungkus plastik di atas meja panjang.

Di luar gerimis, di dalam hanya ada aku dan dua orang ibu-ibu muda yang juga sedang menunggu pesanan mereka tiba. Keduanya duduk di seberang mejaku, saling berhadapan. 

Ibu muda yang duduk menghadapku mengenakan jilbab model Jodha Akbar berwarna kunyit. Badannya berisi dan tidak begitu tinggi. Wajahnya cantik, kulitnya putih dan berhidung mancung. 

Sedangkan temannya yang duduk membelakangiku bertubuh lebih ramping dan sedikit lebih tinggi. Sekilas aku melihat manis wajahnya saat ia menerima es teh pesanannya. Ia mengenakan jilbab warna merah muda dengan style ala Hana yang diadaptasi dari jilbab seorang tokoh dari sebuah sinetron drama televisi. 

Mulanya aku tidak memperhatikan mereka, dalam kesendirianku aku sibuk memantau sosial media di layar gajetku. Minuman sudah datang namun mie ayam yang kupesan belumlah matang. Aku diam, mendengarkan suara gerimis menimpa atap.

Saat kedua ibu muda tersebut mulai berbincang tentang poligami, seluruh pendengaran aku arahkan ke meja mereka dengan tetap berpura-pura memandangi layar gajet agar tidak ketahuan kalau sedang mencuri dengar. 

Ibu muda berjilbab Jodha Akbar dengan suara tegas mengatakan bahwa dirinya tidak menolak poligami. 

Dengan lembut ibu muda berjilbab Hana mencoba mengkonfirmasi ulang pernyataan ibu muda berjilbab Jodha Akbar, 

"Wah beneran setuju sama poligami ya Jeng?"

“Bener deh, saya sama sekali tidak masalah kalau ada seorang suami yang mau menikah lagi."

"Hebat Jeng ini, benar-benar bijaksana dan patuh pada suami. Yang penting suaminya bisa berbuat adil kan Jeng?“

"BUKAN,  yang paling penting itu BUKAN SUAMIKU yang mau menikah lagi!" Jawab ibu muda berjilbab Jodha Akbar cepat. 

Seketika lepas tawaku tanpa bisa aku tahan. Sambil memandang layar gajetku aku terus tertawa, seolah kelucuan itu berasal dari sana. 

Untunglah semangkuk mie ayam segera datang ke mejaku. 

“Selamat makan!“


Oktober 24, 2016

[draft] Pesan Untuk Genduk

Senin, Oktober 24, 2016 0
[draft]  Pesan Untuk Genduk
Nduk...
Kalau kamu tidak suka dengan lelaki yang mendekatimu baiknya langsung kamu tolak saja.

Jangan meniru Jonggrang, jangan seperti Sumbi yang mensyaratkan ini itu tapi berpaling di saat semua hampir terpenuhi.

Luka oleh penolakan tidak akan sedalam luka penghianatan.
Seperti Tangkuban Perahu atau Prambanan, kepedihan itu akan diceritakan berulang-ulang.

Aku tahu kamu tidak akan seperti itu Nduk.
Karena kamu bukan keturunan kaum yang gemar berpura-pura.

Kudus, 22 Oktober 2015


Ilustrasi : Snezhana Soosh

September 21, 2016

Terlambat

Rabu, September 21, 2016 0
Terlambat
           Lagi-lagi aku menengok arloji di tangan kiriku, waktu menunjukkan pukul tiga belas kurang sepuluh menit. Hari ini aku masuk shift siang, artinya pukul empat belas aku sudah harus berada di lokasi kerja. Telepon genggamku masih diperbaiki Nawawi, tukang servis gajet langgananku. Keputusan harus aku buat sekarang juga, menunggu telepon genggam itu selesai diperbaiki atau aku tinggal saja supaya aku tidak terlambat masuk kerja lagi.


            Nawawi masih sibuk menjumper jalur yang ambrol ketika aku memutuskan untuk menunggu telepon genggam itu sampai selesai diperbaiki. Aku perkirakan tak butuh waktu lama bagi Nawawi untuk memperbaikinya. Dan aku rasa masih ada cukup waktu buatku untuk tidak terlambat masuk kerja, dengan catatan aku tidak mandi dan juga harus melupakan makan siang yang terlalu banyak memakan waktu.

            Butuh lima belas menit bagi Nawawi untuk menjumper jalur yang ambrol, ia mengeluhkan kondisi matanya yang mulai susah untuk melihat detil yang terlalu kecil dan rapat. Dengan bantuan kaca pembesar ia berhasil membuat jalur baru. Kemudian hanya butuh lima menit untuk merakit telepon genggam itu kembali utuh. Sepintas lalu telepon genggam itu terlihat normal saat dinyalakan, aku putuskan mengecek ulangnya nanti saja saat di tempat kerja. Tergesa aku membayar ongkos perbaikan kemudian pamit, aku mulai kehabisan waktu.

            Segera aku starter motor meninggalkan rumah Nawawi, sekeluar dari gang laju sepeda motor aku tingkatkan. Bagaimanapun aku tidak boleh terlambat hari ini. Tahu sendiri kan, upah buruh seperti aku ini tak seberapa. Kalau terlalu sering terlambat terlalu banyak bonus premi yang harus terbuang dipotong manajemen. Sebisa mungkin jangan sampai terlambat agar upah yang diterima tetap utuh. Biarpun besarnya premi tak seberapa namun terlalu sayang untuk terbuang percuma karena terlambat masuk kerja.

            Jarak dari rumah Nawawi menuju pulang tidaklah jauh, sekira menghabiskan sepuluh menit untuk sampai rumah. Arus lalu lintas siang ini sepertinya tidak mendukungku, terlalu padat dan semrawut. Udara lembab menguarkan hawa panas yang membuat para pemakai jalan ingin segera sampai tujuan menyingkirkan gerah yang melanda. Aku pun sama, ikut tergesa dalam kesemrawutan yang ada. Dalam pikiranku aku harus segera sampai rumah, mandi, ibadah Dhuhur, memakai seragam, dan berangkat kerja. Pukul empat belas adalah tenggat waktunya.

            Sepeda motor aku pacu di kecepatan maksimal delapan puluh kilometer per jam. Aku berkendara tepat di tengah marka jalan sambil terus mencari celah untuk dapat melaju secepat mungkin. Rumah sudah dekat, pusat kemacetan juga sudah aku lewati. Di depanku tampak pengendara matic berjalan canggung, melaju pelan tepat di tengah jalan. Aku putuskan melebar ke tengah untuk menyalip matic tersebut dari arah kanan. Dan saat tepat aku ada di belakangnya mendadak matic tersebut menyalakan sein ke kanan dan semakin melebar ke tengah memaksaku menghindar semakin ke kanan. Dari arah depan tanpa aku sadari ada dua buah motor sport berkejaran melaju dengan kecepatan tinggi. Aku tepat berada di tengah marka saat motor sport yang di depan berpapasan denganku. Di sebelah kiriku matic canggung itu terus melebar ke kanan, sedang motor sport yang ada di belakang bergerak melebar menuju ke arahku. Menghindar ke kiri atau ke kanan tidak lagi ada celah buatku, sedang menambah kecepatan sudah tidak lagi memungkinkan. Aku hanya bisa menginjak tuas rem sekerasnya sambil menekan rem tangan. Roda belakangku bergoyang kencang ke kiri dan ke kanan.

            Seketika hening menyelimutiku, tak ada deru suara kendaraan tiada pula suara tumbukan. Aku menoleh ke belakang, matic itu tetap canggung berjalan di tengah dengan pelan, terlihat ragu antara mau menyeberang atau tidak. Dua motor sport yang berkejaran dan berpapasan denganku tidak terlihat sama sekali. Aku berkendara dengan pelan sambil bersyukur kepada Tuhan, meskipun aku sama sekali tidak tahu bagaimana ceritanya aku bisa terhindar dari tabrakan.

            Ayahku tertidur di ruang tamu saat aku memasuki rumah, jam dinding di atasnya menunjukkan pukul tiga belas lebih dua puluh dua menit. Aku segera menuju dapur untuk mengambil minum, menenangkan degup jantungku yang berdetak tidak beraturan. Di kamarnya aku melihat ibu tidur dengan lelap, segera aku menuju kamar mandi, bersih bersih badan secepatnya kemudian bersuci untuk menunaikan Dhuhur yang belum aku tunaikan. Segera setelah mengenakan seragam Satpam dengan segala perlengkapannya, aku meninggalkan rumah dengan tergesa, kedua orang tuaku masih lelap di tempatnya masing-masing.

            Seperti saat pulang dari rumah Nawawi, sepeda motorku langsung aku kendarai dengan kecepatan maksimal menuju tempat kerja. Beruntunglah aku karena aku berhasil sampai tepat waktu, mesin absensi menunjukkan aku hadir lima menit lebih awal dari waktu yang ditentukan. Langsung aku menuju Pos yang menjadi tempat tugasku, berserah terima tugas dengan petugas pagi dan memastikan keadaan aman serta barang inventaris tetaplah lengkap.

            Seperti biasa aku memulai kerja dengan mengatur tugas masing-masing anggotaku, kemudian mengecek tiap-tiap pos yang berada dalam wilayahku, memastikan kehadiran tiap-tiap personel dan kesiapan dalam menghadapi tugas. Mendengar laporan dan keluhan para anggota, tentang tugas yang mereka jalani, tentang banyaknya undangan yang mereka terima, tentang si Makruf rekan mereka yang sering kali terlambat dan kalau istirahat terlalu lama, atau juga tentang angsuran yang mereka bayar tiap minggunya.

            Di tiap pos yang aku datangi selalu ada laporan yang aku terima, ada yang harus aku tampung dan ada pula yang cukup sekedar aku dengar. Beberapa laporan aku teruskan kepada pimpinan, termasuk surat ijin dari para anggota yang berencana tidak masuk kerja. Selain pekerjaan yang sifatnya administratif, aku juga diharuskan terjun langsung ke lapangan. Saat hari beranjak sore aku bergeser ke perempatan untuk melakukan pengaturan lalu lintas di jalan yang dilalui karyawan dan karyawati sepulang kerja.

            Selepas Maghrib aku kembali ke Pos penjagaan, sebentar lagi jam tutup kantor dan seperti biasa harus ada petugas yang memastikan keadaan aman. Di sela kesibukan setelah Isya aku sempatkan mengecek kondisi telepon genggamku yang siang tadi diperbaiki Nawawi. Proses pengisian baterainya yang semula tidak bekerja telah normal kembali. Sempat aku kepikiran untuk menceritakan pengalamanku nyaris celaka tadi siang di status Facebook, namun urung aku lakukan. Waktu bergerak cepat, tak terasa sudah pukul sepuluh malam. Setelah melakukan serah terima tugas dengan petugas malam tiba waktunya untuk aku pulang.

            Kali ini aku pulang tidak dengan tergesa, aku nikmati perjalananku menuju rumah. Bagaimanapun kejadian siang tadi mengingatkanku untuk lebih bersabar dan berhati-hati. Lima belas menit kemudian sampailah aku di rumah, entah mengapa di depan rumahku terang benderang ada tratak dan kursi serta banyak tetangga layaknya ada melekan. Pikiran buruk melandaku, “siapa yang mati?”

            Para tetangga tak mempedulikanku, di dalam rumah tak kutemukan ayah dan ibuku. Meja, kursi, televisi dan perabotan yang biasanya ada di ruang tamu telah dikeluarkan semua. Hanya ada dipan kosong di ruang tamu. Aku mencoba bertanya kepada para tetanggaku tak satupun yang menjawab, mereka seperti sedang menunggu sesuatu. Tak sampai lima menit datanglah sebuah mobil jenazah, serentak tetanggaku berdiri sebagian meminggirkan kursi, sebagian menghampiri ke tempat mobil jenazah berhenti. Ayah dan ibuku keluar dari mobil jenazah, sang sopir mobil jenazah membuka pintu belakang diikuti para tetangga yang membantu menggotong tubuhku.

           

         

Juli 04, 2016

Wagunya Kita

Senin, Juli 04, 2016 0
Wagunya Kita
Saya ini seringkali bingung menyaksikan reaksi netizen terhadap sebuah peristiwa. Begitu cepat kita ini berkomentar dan saling berbantah. Apa ya kita ndak bisa diam sejenak tanpa harus berkomentar atau memperkeruh situasi yang ada?

Belakangan, komentar dan bermacam meme bertebaran di beranda Facebook mengangkat peristiwa Guru yang dilaporkan ke Polisi oleh Orangtua murid. Di sini saya bukan membela Guru atau Orangtua murid. Saya cuma melihat dalam peristiwa ini banyak hal yang seharusnya tidak menjadi seperti sekarang ini. Berhubung sudah kebacut yawes, kita jadikan peristiwa ini sebagai pelajaran.

Sebelum kita belajar bersama dari peristiwa ini, ada baiknya kita sepakati beberapa hal supaya tidak menyimpang dari permasalahan yang ada.
Pertama, apakah kita bisa sepakat bahwa kekerasan terhadap anak baik yang dilakukan oleh orangtua, guru, atau orang lain adalah sebuah tindakan yang tidak benar?
Orangtua mana yang senang mendapati anaknya menjadi korban kekerasan?
Misal dulu waktu menjadi murid pernah dilempar penghapus apakah lantas kita tega membiarkan anak kita dilempar penghapus oleh gurunya?
Katakanlah waktu kecil kita nakal lantas kena gebuk oleh orangtua kita lantas setelah jadi orangtua kita boleh menggebuk anak-anak?

Sudah sepakat bahwa kekerasan terhadap anak-anak itu bukan tindakan yang benar apa pun alasannya?
Tidak, saya tidak berniat menyalahkan Pak Guru yang mencubit muridnya itu. Bagaimanapun peristiwa sudah terjadi. Kalaupun bisa menarik waktu kembali, saya kok yakin Pak Guru itu tidak akan mencubit muridnya sampai seperti itu. Ada banyak pilihan buat Pak Guru untuk menghukum muridnya yang indisipliner. Mulai dari memanggil orangtua, sanksi administratif atau kalau memang sudah keterlaluan ya tinggal dikembalikan ke orangtuanya. Satu pelajaran buat Tuan dan Puan Guru; sebelum melakukan kekerasan fisik terhadap murid, ingatlah bahwa sebandel apapun anak itu, masih ada orang-orang yang menyayanginya.

Mengenai Orangtua murid yang anaknya dicubit lantas lapor ke Polisi, bisakah kita sepakati bahwa tindakan ini terlalu berlebihan?
Ada banyak pilihan ketika anak-anak kita mengalami kekerasan di sekolah. Bukankah hal-hal semacam itu bisa dibicarakan di Komite sekolah tanpa harus melapor ke Kepolisian?

Pernah sepupu saya curhat meminta dukungan perihal anaknya yang sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari Gurunya. Beberapa anak lain pun mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan sehingga banyak orangtua murid yang tidak berkenan terhadap guru tersebut dan melaporkannya ke Komite sekolah. Saya tidak mendukung tindakan sepupu saya, tidak juga menyalahkannya. Saya cuma sedikit bertanya, "Lho dulu pas daftarin anakmu ke sekolah situ memangnya ndak tahu gurunya seperti apa? Kalau dulu tanpa mencari tahu terlebih dulu tentang detail sekolahannya ya artinya kita sendiri yang ceroboh kurang teliti dalam mencarikan pendidikan untuk anak. Kalau memang dirasa gurunya tidak cocok untuk anakmu dan akan mengganggu dalam semangat belajarnya yaudah sih pindah ke sekolah yang lebih baik saja ndak usah dibikin ramai."

Alangkah baiknya sebelum kita melepas anak ke sekolah, kita sudah tuntas dalam hal mendidik anak perihal adab yang baik. Pun sebagai orangtua setidaknya kita tahu tentang seluk-beluk sekolah beserta jajaran pengajarnya, agar kita tidak melulu menyalahkah pihak sekolah pada kejadian yang menimpa anak-anak kita.

Saya masih tidak mengerti mengapa banyak di antara kita yang begitu bersemangat menyebarkan keburukan-keburukan Sang Murid yang kena cubit. Kita ini sering kali berteriak "Stop Bullying" tapi pada kenyataannya begitu senang merisak orang yang kita anggap bersalah. Segala keburukannya kita cari dan disebarkan, seakan-akan anak ini adalah seburuk-buruknya orang dan tak mungkin berubah menjadi lebih baik. Kita sepertinya kok lupa bahwa kita pernah seusia anak tersebut, dan pernah bandel.
Kalau saja kita ingat anak ini masih muda, masih panjang masa depannya. Apa iya kita harus merisaknya, memberi vonis bahwa dia tidak pantas hidup bersama kita?
Lha kok wagu sangat tho kita ini?

Lho kok malah panjang? Padahal tadinya cuma mau membagikan tautan dari Mojok berikut ini.
Ternyata saya yang wagu, bukan kalian!
😂



Sumber gambar: Google

Juni 27, 2016

Bukan Ramalan Apalagi Nubuat

Senin, Juni 27, 2016 0
Bukan Ramalan Apalagi Nubuat
Hari ini Senin Pon bertepatan dengan 27 Juni 2016 memiliki Neptu 11 dan Wuku Sinto. Hari ini biasa disebut dengan Samparwangke, satu hari yang konon tidak bagus untuk melakukan hajat, jadi sebaiknya ditunda dulu kalau ada hajat di hari ini. Namun pertandingan hidup mati antara Italy dan Spanyol tetap harus digelar hari ini untuk menentukan siapa yang akan melangkah ke babak 8 besar Euro 2016. Kira-kira bagaimana peruntungan para pemain kunci kedua kesebelasan di hari Samparwangke ini? Berdasarkan tanggal lahir para pemain, saya mencoba memprediksi pertandingan malam nanti.

Gianluigi Buffon lahir Sabtu Pon, 20 Januari 1978. Wukunya 16 dan Wuku Gumbreg. Perwatakannya yang menonjol berdasar tanggal lahir adalah tenang dalam menghadapi masalah.
Untuk hari ini Buffon lemah di siklus fisik. Vitalitas dan daya tahan tubuhnya sedang tidak stabil, kadang baik kadang buruk.
Sedangkan untuk siklus emosional dan siklus intelektual, Buffon dalam kondisi yang bagus. Kejiwaan maupun moral sangat menunjang, firasat peka, konsentrasi jernih, optimistis, mampu mengendalikan nafsu dan menyenangkan orang di sekitarnya.
Satu lagi, hari ini ingatan Buffon sedang dalam kondisi sangat tajam, dan tingkat kecermatan serta ketelitiannya lebih dari biasanya.

Sedangkan David de Gea di kubu Spanyol lahir Rabu Wage, 7 November 1990. Neptunya 11 dan Wuku Langkir.
Sifatnya yang menonjol adalah pemberani dan tak gentar menghadapi tantangan.
Hari ini De Gea dalam siklus fisik dan siklus emosional yang baik. Kondisi kebugarannya tidak diragukan, kejiwaan bagus, firasat peka, dan konsentrasi tinggi.
Untuk siklus Intelektual De Gea hari ini sedang buruk. Ingatan yang tumpul dan kemampuan untuk memahami sesuatu sedang tidak bagus. Hal ini mengakibatkan tingkat kecermatannya untuk hari ini akan di bawah standarnya.

Lini belakang Italy sangat mengandalkan Leonardo Bonucci  memiliki Neptu 13 dan Wuku Julungwangi. Pemain Juventus ini Lahir Jumat Pon, 1 Mei 1987.
Siklus fisik dan siklus emosional Bonucci sedang dalam kondisi baik. Yang perlu diperhatikan adalah rendahnya siklus intelektual Bonucci untuk hari ini. Apalagi yang akan dihadapi adalah gelandang-gelandang yang memiliki kreatifitas tinggi. Rekan-rekan terdekat Bonucci harus selalu mengingatkannya untuk fokus.

Dari lini belakang Spanyol saya ambil Sergio Ramos yang lahir Minggu Legi, 30 Maret 1986. Wukunya Langkir dan Neptu 10. Sifatnya yang menonjol adalah pemarah dan naik darah.
Siklus fisik Ramos untuk hari ini sedang sangat baik. Dia berada di puncak kebugarannya.
Namun siklus emosional dan intelektual Ramos sedang negatif. Jadi jangan kaget bila malam nanti Ramos lebih sering main kayu. Bras bress!

Lelaki berwibawa yang banyak membuat lawan dan kawan segan ini dilahirkan hari Minggu Legi, 24 Juli 1983. Artinya dia memiliki Neptu 10 dan Wuku Manahil. Dialah Daniele De Rossi.
SIklus fisiknya hari ini biasa-biasa saja, tidak lebih baik juga tidak lebih buruk.
Sedangkan untuk siklus emosional, De Rossi sedang tidak bagus,
Sikap cenderung kasar dan konsentrasi sedang rendah sehingga tak bisa berpikir jernih. Ada baiknya De Rossi berhati-hati dan tidak mudah terprovokasi untuk laga malam nanti bila tak ingin diganjar kartu peringatan oleh wasit.
Buruknya siklus emosional De Rossi akan ditutup oleh siklus intelektualnya yang hari ini sedang bagus. Artinya dia akan lebih mengandalkan akal daripada perasaannya. Kunci untuk De Rossi adalah jangan Baper!

Tak bisa dipungkiri Andreas Iniesta adalah kunci permainan Spanyol. Lahir Jum'at Pon, 11 Mei 1984 dengan jumlah Neptu 13 dan Wuku Kurantil. Dilihat dari hari kelahirannya Iniesta bukanlah orang yang beruntung. Namun dia memiliki tingkat kesabaran yang luar biasa hingga mampu menutupi ketidakberuntungannya.
Untuk hari ini siklus emosional dan siklus fisik Iniesta sedang dalam kondisi yang mengagumkan. Namun tampaknya Spanyol akan kehilangan kreatifitas dari Iniesta. Siklus intelektual Iniesta sedang teramat buruk. Ingatannya tumpul dan tingkat kecermatan serta ketelitiannya sedang tidak baik. Saya memperkirakan pertandingan malam nanti akan menyajikan tontonan Iniesta yang keseringan salah umpan.

Ada baiknya malam nanti Conte tidak menurunkan Graziano Pelle. Pemain yang lahir Senin Pon, 15 Juli 1985 dengan jumlah Neptu 11 dan berwuku Gumbreg ini sedang mengalami peruntungan yang tidak baik untuk hari ini.
Siklus fisik, emosional dan intelektualnya sedang jeblok. Satu-satunya energi positif dari Pelle hari ini adalah kemampuannya menghibur rekan-rekannya yang bersedih. Seandainya saya Conte, malam nanti saya akan menyimpan Pelle. Biar Insigne atau Immobile yang mendampingi Eder meneror lini belakang Spanyol yang tak memiliki kecepatan.

Conte harus mewaspadai Alvaro Morata yang terkenal memiliki kecerdasan bermain dan menempatkan posisi. Dan siklus intelektual Morata untuk hari ini pun tetap tinggi. Penyerang Juventus kelahiran 23 Oktober 1992, yang bertepatan dengan hari Jumat Kliwon, menurut perhitungan memiliki Neptu 14 dan Wuku Bolo.
Morata tentu sangat paham dengan lini belakang Italy, ini menjadikannya tetap berbahaya meskipun siklus fisiknya hari ini tidak istimewa dan siklus emosionalnya sedang dalam kondisi yang sangat tidak baik.
Pemain belakang Italy harus mampu mengisolasi Morata yang sedang dihinggapi pesimisme berlebihan dan ketidakmampuan dalam mengendalikan nafsu.

Untuk malam ini saya memiliki satu keyakinan; tim manapun akan mampu mengalahkan Spanyol. Lihat saja Italy! ⚽



Juni 17, 2016

Sebuah Kisah Tentang Hutang

Jumat, Juni 17, 2016 0
Sebuah Kisah Tentang Hutang
Sore itu selepas kerja Budi Sasongko (bukan nama sebenarnya) leyeh-leyeh di beranda rumahnya. Datanglah si Polan tetangga Budi. Polan sedang kesulitan keuangan. Dia berencana meminjam uang pada Budi.

"Bod, pinjami duit dong. Aku lho ndak masalah misalkan kamu kenakan bunga atas pinjamanku itu."

Budi diam, keadaan tanggung bulan. Dia sebenarnya juga tidak punya uang.

"Maaf ya bro, lha aku juga lagi ndak ada duit ini. Nah gimana kalau kamu mau, aku bisa meminjami bunganya dulu sebanyak yang kau mau."

Polan langsung saja ngeloyor pergi tanpa pamit setelah mendengar jawaban Budi.

Di kemudian hari, Polan kembali mendatangi rumah Budi.

"Bod, turunlah sebentar. Aku perlu bicara penting padamu." Pinta Polan pada Budi yang sedang berada di atap rumah. 

Genteng Budi bocor, dan saat itu Budi sedang berusaha membetulkannya. Budi sebenarnya malas turun, pekerjaannya belumlah kelar. Namun Polan terus saja mendesaknya. Akhirnya Budi pun turun menemui Polan.

"Piye bro, ada apa?"

"Nggg...nganu Bod. Aku ingin meminjam uang. Bisa kan?"

Tanpa menjawab, Budi kembali naik ke atap. Kemudian dari atas genteng Budi berteriak,

"Naiklah kemari! Sebentar saja bro. Ada hal penting yang harus aku sampaikan."

Polan tetangga Budi menurut. Tertatih ia menaiki tangga. Sesampainya di atap, Budi berkata pelan,

"Nggg...nganu bro. Jadi gini, sebenarnya aku juga lagi tak punya uang. Ya maaf bro, aku tak bisa meminjamimu."



 (Diambil dari Kisah Nasruddin Hodja)
Sumber gambar: google.com


Juni 12, 2016

Mastah Ndakik

Minggu, Juni 12, 2016 0
Mastah Ndakik
Perihal ndakik-ndakikan sepertinya tidak ada yang mampu melampaui Dawax. Level ndakiknya Dawax itu sudah sundul mega. Tak terjangkau! Hingga banyak orang memilih untuk menyerah daripada memperpanjang urusan dengan Dawax.

Apatah anda pernah melihat seseorang  yang berbuka puasa memakan kurma beserta bijinya? Dialah Dawax. Dan ketika ditanya kenapa dia makan kurma beserta bijinya, maka Dawax akan dengan taktis menjawab,
"Kurma ini waktu aku beli ditimbang beserta bijinya, masak iya aku begitu bodoh membuang sesuatu yang sudah aku bayar?"

Sejenak coba anda bayangkan mungkinkah hal berikut ini dapat terjadi kalau bukan Dawax yang menjadi tokoh utamanya?

Dawax sedang berada di Solo, dan dia memutuskan untuk jalan-jalan ke Pasar Klewer. Dawax tertarik pada sebuah celana panjang yang menurutnya bagus. Dan dia akhirnya memutuskan untuk membeli celana tersebut. Pemilik kios langsung membungkus celana tersebut dengan cekatan, namun saat akan mengulungkan bungkusan celana, pemilik kios dikejutkan oleh perkataan Dawax.

"Maaf pak ndak jadi, saya tidak jadi membeli celana ini, sepertinya jaket yang itu lebih menarik. Saya tukar celana panjangnya dengan jaket itu saja pak." 

Dawax mengarahkan telunjuknya pada jaket jeans yang diinginkannya. Pemilik kios setuju, kemudian membongkar bungkusan celana panjang dan menggantinya dengan jaket jeans yang dimaui Dawax.

Diterimanya bungkusan jaket dengan senang, kemudian Dawax langsung melenggang dengan santai meninggalkan kios pakaian tersebut.

Pemilik kios mengernyit, kemudian menyeru. "Hei kau kan belum membayar jaket itu?"

Dawax pun berhenti dan berbalik menghadap pemilik kios.
"Lho? Aku kan sudah mengembalikan celana panjang tadi, dan menukarnya dengan jaket ini?"

Pemilik kios semakin nyolot,
"Tapi kau belum membayar celana panjang itu!"

Wajah Dawax merah padam, kali ini ia marah sekali. Tak mau kalah dengan pemilik kios, ia pun berteriak.
"Untuk apa aku membayar celana panjang yang tak jadi kubeli? Kau adalah orang paling aneh sedunia!"

Nah kan, nah kan. Kalau ceritanya menjadi seperti itu kalian masih mau memperpanjang urusan dengan Dawax?
Kalau aku sih, membayangkannya saja aku sudah tak sanggup!




Masih mengambil kisah dari Nasruddin Hodja, dan masih Dawax sebagai tokoh utamanya. 

Sumber gambar: google.com



Juni 09, 2016

Ketika Pakaian Butuh Makan

Kamis, Juni 09, 2016 0
Ketika Pakaian Butuh Makan
Bagi yang sudah lama mengenal Dawax tentu tak akan kaget dengan kebiasaannya yang jarang mandi dan ganti pakaian.
Teman-temannya bisa memaklumi apa yang dilakukan pemuda mbambung yang satu ini.

Biarpun tak memiliki pekerjaan tetap dan hidup berpindah dari satu kota ke kota lain, Dawax cukup terkenal di kalangan tukang oprek hape sejak jaman symbian sampai berganti ke android. Sehingga banyak orang --- kebanyakan abege alay sih --- yang menyebutnya mastah (mungkin kalau dipanjangin jadi masuk angin muntah-muntah).

Konon peristiwa ini terjadi ketika Dawax masih ngekos di Sidoarjo. Menurut sumber yang tidak mungkin saya sebutkan namanya ini, pada suatu malam Dawax menghadiri sebuah pesta yang diadakan oleh tetangganya di Sidoarjo. Tuan rumah merupakan orang kaya di daerah tersebut, seluruh warga kampung diundangnya pesta makan besar di rumahnya yang luas. Dan Dawax termasuk salah satu undangan dalam acara tersebut.

Dawax hadir ke acara tersebut dengan pakaiannya yang sudah tiga hari tidak ganti, dan tentu saja dia belum mandi. Cambang dan kumisnya pun awut-awutan tak tersentuh pisau cukur. Alhasil, di lokasi pesta tak ada satu pun orang yang menyapa Dawax. Bahkan tuan rumah juga mengabaikannya. Clingak-clinguk Dawax memantau situasi, dan memang benar orang-orang disitu menghindar darinya.

Dengan hati mangkel Dawax meninggalkan pesta tersebut. Tak mengapa batal makan malam gratis, perut laparnya masih bisa menunggu. Sesampainya di kos, Dawax langsung mandi keramas dan bercukur. Kemudian dikenakanlah pakaian terbaik yang dimilikinya. (Dawax berubah ganteng? Nggak sih masih tetep jelek kok)

Berbekal pakaian rapi dan aroma wangi yang menguar dari tubuhnya. Dawax kembali mendatangi tempat pesta.
Kali ini tuan rumah langsung menyambut ramah kedatangan Dawax, dan langsung diantarnya ke meja yang dipenuhi berbagai hidangan yang menggugah selera.

"Silakan dinikmati hidangannya Pak, maaf seadannya. Kalau mau nyanyi atau request lagu bisa langsung ke panggung hiburan Pak." Tawar tuan rumah mencoba ramah kepada Dawax.

Dawax cuma mesam-mesem nyengir seperti biasanya, kemudian dilepaskanlah pakaian yang dikenakannya. Para tamu dan yang hadir di pesta tersebut terkejut melihat kelakuan Dawax. Diletakkannya pakaian yang sudah lepas itu diatas meja, kemudian Dawax mulai berbicara kepada pakaiannya.

"Nah, sekarang kamu nikmati hidangan yang ada. Makan yang kenyang ya. Di sini orang-orang cuma memandang pakaian. Aku pulang ke kos dulu, daagh."

Segera Dawax ngeloyor pergi meninggalkan pakaiannya yang wangi di meja makan, meninggalkan para tamu undangan dan juga tuan rumah yang hanya mampu bengong melotot memandangi punggung Dawax meninggalkan rumahnya, sedang jauh di dalam hatinya terdengar teriakan penuh tanya, "Mengapa harus ada Dawax dalam daftar undangannya?"


_______


(Cerita ini bohong belaka, adapun isi cerita dipengaruhi dari Kisah Nasruddin Hodja.)

Sumber gambar: google.com




Juni 08, 2016

Panci yang Beranak dan Panci yang Mati

Rabu, Juni 08, 2016 0
Panci yang Beranak dan Panci yang Mati
Sore itu Dawax mengembalikan panci kepada tetangganya. Sebuah panci besar dan sebuah panci kecil.

Sang tetangga heran karena Dawax hanya meminjam satu panci. "Lho, Wax kamu kan cuma pinjam satu panci, kok kamu kembalikan dua?"

Dawax mesam-mesem menjelaskan bahwa panci tersebut ternyata sedang hamil saat dipinjam olehnya, hingga kemudian melahirkan panci kecil imut di rumahnya. Itulah sebabnya Dawax mengembalikan dua buah panci kepada tetangganya.

Tentu saja sang tetangga hampir tertawa mendengar keterangan Dawax. Dalam hatinya dia berkata mana ada panci beranak. Namun dengan senang gembira diterimanya dua buah panci dari Dawax.

Beberapa minggu berikutnya, Dawax kembali meminjam panci besar ke tetangganya. Sang tetangga dengan senang meminjamkan panci besarnya sambil berharap Dawax akan mengembalikan kepadanya dua buah panci, seperti sebelumnya.

Tapi kali ini apes bagi sang tetangga. Dawax terlupa mengembalikan panci sampai satu bulan lamanya. Datanglah sang tetangga ke rumah Dawax untuk meminta pancinya kembali.

"Wax balikin pancinya dong, udah satu bulan belum juga kamu balikin. Gimana sih?"

Dengan wajah tertunduk sedih Dawax menjawab lirih, "Maafkan aku, seminggu yang lalu pancimu meninggal dunia, dan aku sudah mengebumikannya."

"Edan kamu Wax? Mana ada panci meninggal dunia?" 

Dawax mesam-mesem, kemudian berkata,
"Lho, siapa yang gila? Kapan lalu kamu senang hati mempercayai panci yang beranak, sedangkan untuk panci yang mati mengapa kamu ingkari?"

Sang tetangga cuma bisa melotot tanpa bersuara, kemudian balik kanan pulang ke rumahnya.


Diceritakan kembali dari Kisah Nasruddin Hodja 

Sumber gambar: google.com