Dari Hidup Ini Keras Maka Gebuglah ke Hidup Ini Lunak Maka Bentuklah

       Selesai membaca Ipung 4 sampai bab 4 yang menceritakan kembali 4 tokoh sentral dalam novel Ipung, saya memutuskan untuk berhenti sejenak, kemudian mulai membaca ulang dari Ipung 1, Ipung 2, dan Elegi Surtini dan Ayunda. Setelah itu saya melanjutkan membaca Ipung 4 mulai dari awal lagi.

       Kisah Ipung remaja asal Kepatihan, Solo yang sekolah di SMA Budi Luhur Semarang adalah kisah yang telah melewati beberapa generasi. Ipung pertama kali muncul pada medio 90-an dan kembali muncul di tahun 2007 dengan beberapa penyesuaian mengikuti perkembangan zaman. Ipung tetap bersepeda, namun surat, dan telegram telah berganti menjadi telepon dan telepon genggam. Mobil yang dikendarai anak-anak Budi Luhur pun diperbarui sesuai situasi zaman kiwari. Ipung, Paulin, Ayunda dan Surtini bertahan di usia remaja biarpun zaman telah berganti ke era fiber dan digital.

       Rentang waktu kemunculan antara novel satu dengan yang lainnya lumayan lama. Saya rasa inilah yang menjadi penyebab jalinan cerita dari Ipung 1 sampai Ipung 4 sedikit mengalami gangguan lini masa. Dalam Elegi Surtini dan Ayunda, Ipung sudah berada di tahun ketiga duduk di bangku sekolah Budi Luhur, di tahun yang sama Ayunda juga datang sebagai murid baru di Budi Luhur, sedangkan Surtini masih di Kepatihan menunggu tahun ajaran baru untuk memasuki Budi Luhur. Perlu diketahui juga bahwa Ayunda ini awalnya merupakan novel yang berdiri sendiri yang dimasukkan ke Ipung 3 (Elegi Surtini dan Ayunda).

       Saya membaca Ipung 4 dengan kesadaran akan adanya set yang berubah dari 3 novel sebelumnya sebagai bentuk penyesuaian terhadap keadaan terkini. Namun setelah dua kali membaca 4 bab awal Ipung 4, saya merasa mengalami lipatan waktu yang terasa mengganggu. Bagaimana bisa Surtini menjadi satu sekolah dengan Ipung dan Ayunda di Budi Luhur? Padahal di Elegi Surtini dan Ayunda jelas bahwa Ipung sudah di tahun ketiga dan Surtini masih menunggu tahun ajaran baru untuk mendaftar di Budi Luhur. Kemudian saya memutuskan untuk menganggap Budi Luhur yang merupakan sekolah favorit itu membutuhkan empat tahun pembelajaran untuk lulus.

       Kejanggalan lain di Ipung 4 ini adalah Ayunda yang dikisahkan perhatiannya lebih dulu terarah kepada Surtini, alih-alih ke Ipung. Ini tentu berlawanan dengan cerita dalam Elegi Surtini dan Ayunda yang nyaris tidak mempertemukan Ayunda dan Surtini. Kalau saja saya tidak membaca ulang novel Ipung ini berurut dari buku pertama, tentunya kejanggalan-kejanggalan ini tidak akan saya temui.

       Ada beberapa bagian lagi di Ipung 4 yang sedikit membuat kening berkerut, hal ini dikarenakan adanya kesalahan penulisan tokoh. Ayunda tertukar dengan Paulin atau sebaliknya. Tokoh Ipung sendiri tetap tampil dengan begitu sempurna. Jelas sudah kalau Ipung ini adalah sosok remaja ideal menurut sang penulis. Terlalu berlebihan memang, bahkan Pakdhe Prie GS pun mengakuinya dalam sebuah pengantar di halaman depan buku ini:

"Ipung adalah gambaran anak muda yang saya bayangkan, yang begitulah sebaiknya generasi Indonesia menjadi. Terlalu berlebihan, tetapi soal-soal yang ideal memang penting dirindukan, setidaknya untuk menghibur diri. Di dalam kenyataan terlalu banyak soal yang tidak ideal menurut pandangan ego kita, maka hanya di dalam dunia imajinasi, dunia idealisasi dan dunia kerinduan, soal-soal yang memuaskan itu bisa kita dapati." 

       Secara keseluruhan Ipung 4 Hidup Ini Lunak Maka Bentuklah merupakan bacaan ringan yang menghibur. Kelucuan-kelucuan yang ada diselingi dengan petuah-petuah motivasi khas Pakdhe Prie GS mampu membikin saya tertawa dan merenungi kondisi sosial yang sedang terjadi saat ini.

"Kepada siapa cerita ini dituliskan?"
"Kepada siapa yang setia menjaga hati nurani."


0 coretan kamu:

Posting Komentar