Dongeng yang Belum Diceritakan

         Belakangan ini saya seringkali mengalami mimpi-mimpi yang luar biasa. Mimpi yang bahkan diri saya sama sekali tidak terlibat di dalamnya. Semacam penggambaran sebuah cerita yang tidak pernah saya baca, dengar atau lihat sebelumnya. Jalan ceritanya bervariasi dan lokasi kejadiannya pun selalu berganti.

         Ada cerita tentang pemuda bernama Ali, yang mendapati seorang Ibu pemilik warung gorengan yang tak bisa lepas dari derita kehilangan anak lelaki satu-satunya. Anak lelaki Ibu ini meninggal pada saat berjaga di Poskamling kampungnya. Sampai berbulan kemudian, hingga kedatangan Ali di warung tersebut, Ibu ini selalu merasa anak lelakinya sedang tertidur di rumah, dan sang Ibu akan selalu marah saat ada orang yang lewat di rumahnya karena takut anak lelakinya akan terbangun dari tidurnya. Ali dengan kecerdikannya yang luar biasa, mampu menyembuhkan Ibu pemilik warung dari derita kehilangan yang berkepanjangan.

         Mimpi yang lain bercerita tentang seorang pemburu muda yang terdampar di sebuah perkampungan di tengah hutan. Penduduk kampung ini meyakini adanya Werewolf yang selalu siap menyerang kampung mereka. Mereka memiliki kepercayaan bila tiap malam purnama, sepasang bocah lelaki dan perempuan terpilih dari kampung mereka harus berjalan di sepanjang tepian sungai yang mengelilingi kampung dengan berpakaian pengantin agar Werewolf tidak berani memasuki kampung mereka. Pemuda pemburu berkenalan dengan bocah lelaki yang selalu berkeliling kampung dengan pakaian pengantin di kala purnama. Awalnya pemuda pemburu disangka sebagai jelmaan Werewolf, namun sang pemuda pemburu akhirnya mampu menghapuskan mitos Werewolf yang telah menghantui kampung dalam beberapa generasi.

         Ah, mimpi-mimpi tersebut benar-benar membikin saya enggan bangun di dunia yang sudah sedemikian blangsak ini.


Margaretha Zelle

       Kejadian-kejadian buruk yang menimpanya di usia belia menjadi pendorong utamanya untuk segera meninggalkan tanah kelahirannya, Belanda. Dengan menikahi seorang serdadu yang bertugas di Hindia timur, berangkatlah ia dengan segudang harapan untuk memiliki kehidupan baru di negeri jauh yang dikenal dengan keeksotisan budaya dan alamnya yang serupa surga. Seluruh harapan itu luruh, yang didapatinya kemudian hanyalah penderitaan dan kekecewaan.

       Setelah kembali ke Belanda dengan begitu banyak kesedihan dan penderitaan, ia membuat langkah berani untuk pergi ke Paris, kota yang menawarkan kebebasan dan kegembiraan, sesuatu yang begitu jarang mampir dalam hidupnya. Dengan kemampuannya menari, tak butuh waktu lama baginya untuk menjadi idola baru di Paris sampai hampir ke seluruh daratan Eropa. Pementasannya selalu ditunggu dan segera ia menjadi pusat berita.

       Kehidupan mewah dan pergaulannya dengan kalangan atas telah berhasil direngkuhnya. Hingga kemudian perang dunia meletus, dan segalanya menjadi serba tak menentu. Pemerintah Perancis menangkapnya dengan tuduhan sebagai agen ganda. Vonis hukuman mati dijatuhkan kepadanya meskipun tak pernah ada bukti konkret yang membuktikan bahwa ia adalah seorang mata-mata.

       Hukuman mati harus diterimanya, meskipun dosanya hanya karena ia wanita, dan dosa yang lebih besar lagi adalah karena hidupnya yang merdeka. 


Tak Semua Upil itu Asin

       Belakangan ini saya seringkali dibikin kagum oleh kecepatan warganet dalam mengomentari status atau peristiwa. Rasa-rasanya Supra Ijo yang saya kebut maksimal tak akan mampu mengejar kecepatannya. Baru saja sebuah status atau peristiwa dibagikan, komentar demi komentar dengan cepat bermunculan. Bahkan komentar itu mampu mendahului kecepatan membaca sang komentator dalam membaca sebuah status atau peristiwa yang dibagikan.

       Yang tak kalah mengagumkan dari kecepatan komentar warganet adalah kemampuan mereka dalam mengomentari segala macam hal. Seolah mereka benar-benar menguasai berbagai bidang persoalan. Selain itu, mereka juga begitu kukuh mempertahankan pendapatnya. Pendapat yang berlainan, biarpun dari yang lebih ahli tidak akan mampu menggeser apa yang mereka percayai sebelumnya. Karena bagi mereka, pengetahuan yang mereka miliki adalah yang paling benar, dan apa yang diketahui orang lain adalah salah bila bertentangan dengan apa yang mereka ketahui.

       Terus terang saya merasa ngeri membayangkan status yang saya bagikan mendadak viral dan mendapatkan komentar seperti yang saya sebutkan di atas. Katakanlah, di suatu senja yang indahnya tak begitu lama, saya membagikan status yang menyatakan bahwa tak semua upil itu asin. Sebelum senja yang indahnya tak begitu lama itu berganti menjadi gelap, status yang saya bagikan ternyata dikomentari begitu banyak orang yang kesemuanya menolak pendapat saya. Mereka semua menyatakan tak ada upil yang tak asin. Mungkin memang mereka semua pernah mencoba menjilat upilnya sendiri.

       Saya tetap bertahan dengan pendapat saya dan warganet juga tetap kukuh dengan pendapat mereka. Anehnya, tak ada satu pun dari warganet yang berkomentar di status saya yang mau membuktikan bahwa tak semua upil itu asin. Padahal saya telah bersedia menyiapkan banyak upil sebagai bahan pembuktian untuk mereka jilat.
Ngeri banget kan?

       Ah, andai saja saya mampu membunuh internet.


Dari Hidup Ini Keras Maka Gebuglah ke Hidup Ini Lunak Maka Bentuklah

       Selesai membaca Ipung 4 sampai bab 4 yang menceritakan kembali 4 tokoh sentral dalam novel Ipung, saya memutuskan untuk berhenti sejenak, kemudian mulai membaca ulang dari Ipung 1, Ipung 2, dan Elegi Surtini dan Ayunda. Setelah itu saya melanjutkan membaca Ipung 4 mulai dari awal lagi.

       Kisah Ipung remaja asal Kepatihan, Solo yang sekolah di SMA Budi Luhur Semarang adalah kisah yang telah melewati beberapa generasi. Ipung pertama kali muncul pada medio 90-an dan kembali muncul di tahun 2007 dengan beberapa penyesuaian mengikuti perkembangan zaman. Ipung tetap bersepeda, namun surat, dan telegram telah berganti menjadi telepon dan telepon genggam. Mobil yang dikendarai anak-anak Budi Luhur pun diperbarui sesuai situasi zaman kiwari. Ipung, Paulin, Ayunda dan Surtini bertahan di usia remaja biarpun zaman telah berganti ke era fiber dan digital.

       Rentang waktu kemunculan antara novel satu dengan yang lainnya lumayan lama. Saya rasa inilah yang menjadi penyebab jalinan cerita dari Ipung 1 sampai Ipung 4 sedikit mengalami gangguan lini masa. Dalam Elegi Surtini dan Ayunda, Ipung sudah berada di tahun ketiga duduk di bangku sekolah Budi Luhur, di tahun yang sama Ayunda juga datang sebagai murid baru di Budi Luhur, sedangkan Surtini masih di Kepatihan menunggu tahun ajaran baru untuk memasuki Budi Luhur. Perlu diketahui juga bahwa Ayunda ini awalnya merupakan novel yang berdiri sendiri yang dimasukkan ke Ipung 3 (Elegi Surtini dan Ayunda).

       Saya membaca Ipung 4 dengan kesadaran akan adanya set yang berubah dari 3 novel sebelumnya sebagai bentuk penyesuaian terhadap keadaan terkini. Namun setelah dua kali membaca 4 bab awal Ipung 4, saya merasa mengalami lipatan waktu yang terasa mengganggu. Bagaimana bisa Surtini menjadi satu sekolah dengan Ipung dan Ayunda di Budi Luhur? Padahal di Elegi Surtini dan Ayunda jelas bahwa Ipung sudah di tahun ketiga dan Surtini masih menunggu tahun ajaran baru untuk mendaftar di Budi Luhur. Kemudian saya memutuskan untuk menganggap Budi Luhur yang merupakan sekolah favorit itu membutuhkan empat tahun pembelajaran untuk lulus.

       Kejanggalan lain di Ipung 4 ini adalah Ayunda yang dikisahkan perhatiannya lebih dulu terarah kepada Surtini, alih-alih ke Ipung. Ini tentu berlawanan dengan cerita dalam Elegi Surtini dan Ayunda yang nyaris tidak mempertemukan Ayunda dan Surtini. Kalau saja saya tidak membaca ulang novel Ipung ini berurut dari buku pertama, tentunya kejanggalan-kejanggalan ini tidak akan saya temui.

       Ada beberapa bagian lagi di Ipung 4 yang sedikit membuat kening berkerut, hal ini dikarenakan adanya kesalahan penulisan tokoh. Ayunda tertukar dengan Paulin atau sebaliknya. Tokoh Ipung sendiri tetap tampil dengan begitu sempurna. Jelas sudah kalau Ipung ini adalah sosok remaja ideal menurut sang penulis. Terlalu berlebihan memang, bahkan Pakdhe Prie GS pun mengakuinya dalam sebuah pengantar di halaman depan buku ini:

"Ipung adalah gambaran anak muda yang saya bayangkan, yang begitulah sebaiknya generasi Indonesia menjadi. Terlalu berlebihan, tetapi soal-soal yang ideal memang penting dirindukan, setidaknya untuk menghibur diri. Di dalam kenyataan terlalu banyak soal yang tidak ideal menurut pandangan ego kita, maka hanya di dalam dunia imajinasi, dunia idealisasi dan dunia kerinduan, soal-soal yang memuaskan itu bisa kita dapati." 

       Secara keseluruhan Ipung 4 Hidup Ini Lunak Maka Bentuklah merupakan bacaan ringan yang menghibur. Kelucuan-kelucuan yang ada diselingi dengan petuah-petuah motivasi khas Pakdhe Prie GS mampu membikin saya tertawa dan merenungi kondisi sosial yang sedang terjadi saat ini.

"Kepada siapa cerita ini dituliskan?"
"Kepada siapa yang setia menjaga hati nurani."


Nawang Wulan Pulang

masuk saja ke dalam pikiranku dan temui jalan buntu yang terhalang poster besar bergambar wajahmu

kibar warna-warni bendera partai tak akan pernah menarik hatiku 
pada kibar selendang yang kucuri saat lengah engkau mandi aku teringat

selendang itu rapi kusimpan 
tertawa aku diam-diam melihatmu mencoba terbang dengan selendang yang kaubeli di pasar malam

bejatku setingkat setan budimu setara bidadari 
mungkin selendang petunjuk tuhan agar engkau kumiliki

....
telah kau temukan lagi selendang itu 
kini warna pelangi lengkap sudah 
satu warna yang kucuri telah kembali 
Nawang Wulan melenting pergi

(2013)