Petuah Akhir Tahun

       Jumat ini adalah Jumat terakhir di 2017, karena itu izinkan saya menuliskan sesuatu selagi kadar kegantengan saya yang naik selepas Jumatan tadi belum kembali anjlok ke titik pas. Jadi, tolong diingat, saya menuliskan ini saat sedang ganteng-gantengnya. Kalau anda tidak sependapat akan lebih baik kalau anda sudahi membaca tulisan saya sampai di sini.

       Peristiwa pergantian tahun, baik itu masehi, hijriyah, lunar, saka, atau yang lainnya, sebenarnya hanyalah pengingat bahwa waktu terus berjalan. Rasanya malas setiap pergantian tahun selalu dijadikan ajang perdebatan tentang patut tidaknya pergantian tahun untuk dirayakan. Bagi sebagian orang mungkin perdebatan itu adalah sesuatu yang menarik, namun bagi orang yang sedang menanjak kadar kegantengannya perdebatan hanyalah kesia-siaan. Toh, dirayakan atau tidak dirayakan tahun akan tetap berganti.

       Rasanya juga akan teramat membosankan jika tiap pergantian tahun menuliskan tentang pencapaian-pencapaian selama setahun dan harapan-harapan untuk setahun yang akan datang. Terutama bagi anda yang selama bertahun-tahun tidak mampu mencapai sesuatu di dalam hidup, padahal di tiap pergantian tahun anda selalu berharap tahun depan akan lebih baik dari tahun sekarang, dan ternyata yang anda temui bukanlah apa-apa. Terlebih jika anda melihat orang-orang di sekitar anda memiliki kemajuan yang pesat di tiap tahunnya. Ya, saya tahu anda akan muak membaca tentang resolusi tahun baru dan segala tetek bengek petuah basinya.

       Sebagai orang yang sedang berada di titik tertinggi kegantengan, saya turut prihatin atas ketidakmampuan anda dalam mewujudkan segala harapan anda di tahun ini. Kalau anda masih percaya dengan kegantengan saya, baiknya anda simak sedikit nasihat dari saya di penghujung tahun ini.

       Pertama yang harus anda lakukan adalah jangan pernah khawatir tentang apa yang terjadi pada diri anda di masa mendatang, bahkan kalau anda mampu tak perlu juga khawatir akan surga dan neraka. Satu-satunya hal yang harus anda khawatirkan adalah bila tiba masa di mana anda tidak lagi mampu berbuat baik.

       Yang kedua yang perlu anda lakukan di penghujung tahun ini adalah untuk kembali mengingat seberapa banyak basmallah yang telah anda lafalkan dan seberapa banyak hamdallah yang anda ucapkan. Jika anda mengucap hamdallah lebih sering daripada basmallah, maka yakinlah anda adalah manusia yang berbahagia. Tak ada lagi kekhawatiran untuk menjalani tahun yang baru karena anda tahu yang sebenarnya anda butuhkan adalah memperbanyak hamdallah di dalam hidup.



Aku Belum Mati

       Seorang rekan memberi tahu bahwa ada orang yang sesumbar akan mengirimiku guna-guna di hari Jumat untuk membunuhku. Aku bahkan tidak mengenal orang itu. Namun yang aku tahu, dulu kelakuan konyolku pernah mematahkan mantra pemikat yang dikirimkannya pada seorang perempuan yang aku kenal. Kabar yang aku dengar mengatakan bahwa orang itu dan dukunnya marah besar karena kelakuanku.

       Aku kok yakin ya, kalau Tuhan tidak akan mematikanku dengan cara seperti itu. Mungkin saja aku akan tumbang di hari Jumat terkena guna-guna yang dikirimkan orang itu, tapi tidak mati. Aku percaya teman-teman dan orang-orang terdekatku tak akan tinggal diam mengetahui apa yang menimpaku.

       Sampai jumpa di hari Jumat.

*****

       Ancaman mereka untuk mencelakaiku bukan gertak sambal belaka. Semalam adalah waktu mereka melakukan serangan itu kepadaku. Sebelum tengah malam hujan turun dengan lebat diiringi angin kencang dan kilat yang menerangi gelap malam. Memasuki tengah malam hujan belum juga berhenti, kepalaku mulai berat, sakitnya hingga berdenging. Dadaku terasa sesak, seperti terinjak, dan bernafas pun terasa susah.

       Aku bahkan tak peduli dengan apa yang sedang terjadi. Aku masih yakin bisa melewati Jumat ini, belum saatnya aku mati. Sepanjang malam aku biarkan gangguan-gangguan itu menderaku. Dulu, pernah guru mengajiku mengajarkan doa-doa pelindung diri dari serangan guna-guna dan semacamnya. Tapi itu sudah terlalu lama, dan tentu saja aku telah lupa.

       Seperempat jam sebelum adzan Subuh tubuhku tumbang. Lantai tempat tubuhku terbaring berubah menjadi lubang hitam dan menghisap tubuhku jauh ke dalam pusarannya. Cukup lama tubuhku berputar-putar jatuh ke dalam lubang yang seperti tak berdasar ini, hingga kemudian sungai berair hitam menghanyutkan tubuhku. Aku mencoba berenang di arus yang deras meskipun aku sadar kalau aku tidak pernah bisa berenang di air tenang. Usahaku berenang membikin tubuhku semakin timbul dan tenggelam hanyut dalam derasnya air hitam. Hingga kemudian aku melihat sebilah bambu kuning terjulur ke arahku saat tubuhku timbul ke permukaan. Kukerahkan tenaga terakhirku untuk menggapai bambu kuning itu, aku pegang erat-erat sebelum semuanya menjadi gelap.

       Aku membuka mata di tepi telaga berwarna hijau dikelilingi teman-teman dan orang-orang terdekatku. Salah seorang di antara mereka memberiku minum air dari telaga, beberapa saat kemudian tenagaku pulih dan mampu duduk dengan sempurna. Lalu kami mulai makan bersama. Ada banyak menu yang dihidangkan; sambal ontong, pindang serani, pecel lele, sambal terasi, dan tak ketinggalan kopi Colo yang harumnya membangkitkan energi. Setelah makan dan berterima kasih kepada para penolongku, kami kembali ke tempat masing-masing. Aku pun terbangun dan segera mengerjakan Subuhku yang agak kepagian.

       Di siang harinya, setelah mandi aku berangkat menuju masjid untuk Jumatan. Seekor perkutut dengan kalung leher melingkar penuh menghadang jalanku di gang sempit depan rumah. Setelah aku mulai dekat, perkutut itu terbang ke dahan srikaya yang tak begitu tinggi. Mata perkutut itu terus tajam mengawasiku. Aku pun berhenti dan balas menatap mata perkutut itu. Beberapa saat kami diam saling mengawasi, kemudian aku tersenyum dan berkata pelan kepada perkutut itu, "Ya, aku belum mati." Perkutut dengan kalung leher melingkar penuh itu pun kemudian terbang menuju selatan, dan aku pun kembali melangkah untuk Jumatan.