Kawan Reporo

               Sebuah paket aku temukan tergeletak di kamar siang tadi sepulang dari kerja. Melihat nama pengirim seketika aku tahu isi paket tersebut. Sebuah nama yang mengingatkanku pada sebuah aplikasi mobile chat berbasis Java yang bernama Reporo. Aku mengenal kawanku ini melalui Reporo sekitar awal tahun 2007. Dan jalinan pertemanan tersebut terus berjalan walaupun aplikasi yang menghubungkan kami sudah tidak lagi berfungsi.

               Meski sudah tahu pasti isi paket tersebut tetap saja keinginan untuk membukanya tak bisa aku tahan.
Jrengg... Tiga bungkus kopi Aceh dengan merek yang berbeda terpapar di depan mata. Udara siang tadi yang begitu panas dan kering mendadak terasa adem bagiku dan berharap hari segera gelap agar bisa kunikmati kopi-kopi ini.

               Baru saja aku tandaskan secangkir kopi darimu kawan. Harum kopinya mengingatkanku bahwa ngopi adalah kenikmatan bersama, ngopi bareng teman-teman dekat adalah sebuah kemewahan yang akhir-akhir ini jarang aku dapat. Ah...aku membayangkan nikmat ngopi bersamamu dan kawan-kawan Reporo Blang Bintang dimana ada Bang Rizal, Fadel, Nurul Fitri, juga Mule. Entahlah kapan bayangan itu akan terwujud. Semoga Tuhan memberikan jalan.

               Terimakasih kawan Mainazarli alias Jirigen untuk kopi yang engkau kirimkan, semoga aku bisa membalasmu dengan mengirimkan kopi yang membuatmu tak tidur semalaman karena memikirkan mantan.



                                      Kudus, 24 Agustus 2015


Ulid

               Terus terang ingatanku tidaklah panjang. Terlalu mudah lupa, utamanya untuk hal-hal yang aku lakukan di masa lampau. Hidupku memang terlalu biasa, jarang ada kejadian istimewa yang membekas dalam ingatan.

               Membaca Ulid seperti menarik pemicu ingatan di kepalaku. Segala yang gelap berangsur terang. Kejadian yang dialami Ulid kecil membuat aku mengingat apa yang pernah aku lakukan di masa lalu;

               Bermain gunung api dengan cara mengencingi batu gamping. Mogok tidak mau sekolah karena ngambek gara-gara guru sama sekali tidak menyebut namanya saat mengabsen seisi kelas. Pengalaman naik mobil angkutan umum dengan perasaan seolah pepohonan di sepanjang jalan seolah berkejaran mencoba menyusul mobil yang tetap saja tak terkejar. Mengganjal jemari kaki teman yang tertidur di masjid dengan batang korekapi yang sengaja dibawa dari rumah.

               Pengalaman-pengalaman masa kecil yang sempat terlupa itu kembali muncul saat membaca Ulid. Mungkin karena aku dan Ulid tumbuh dalam waktu yang sama, masa di mana sandiwara radio menjadi hiburan utama,  sehingga apa yang dialami dan dirasakan Ulid sempat juga aku alami dan rasakan.

               Kepada Ulid aku terikat, dan tak ingin selesai membacanya cepat-cepat. Aku ingin menikmatinya lebih lama. Membaca satu dua lembar halamannya, kemudian senyum-senyum sendiri teringat kejadian dan perasaan yang pernah terkubur teramat dalam.




                                      Kudus, 23 Agustus 2016


Syahbandar

               Masih ingat dengan syahbandar Tuban yang menjadi tokoh antagonis dalam novel ”Arus Balik”? Sebenarnya apa sih syahbandar dan sejak kapan profesi ini ada di Nusantara?

               G.J Resink dalam kajiannya yang berjudul "Abad-Abad Hukum Internasional di Indonesia" ("Euwen Volkenrecht in Indonesi√©") sedikit mengulas tentang profesi ini.

               Berikut ini penjelasan singkat G.J Resink tentang syahbandar yang bisa anda temukan di buku "Bukan 350 Tahun Dijajah" halaman 195-196:

"Sejauh yang sudah diketahui, syahbandar bertugas sebagai perantara antara para penguasa dengan orang-orang asing di Kepulauan Indonesia selama lebih dari tiga abad. Mereka ditugaskan untuk mewakili kepentingan orang-orang asing di hadapan penguasa lokal. Pada banyak kasus, mereka diberikan kewenangan hukum khusus terhadap para orang asing dan dapat membuat kontrak dengan mereka. Di Sumatera, orang-orang yang bertindak dalam kapasitas pertama ini sudah ada sejak masa Ibnu Batuta. Syahbandar yang bertindak sebagai hakim dengan yuridiksi terhadap orang-orang asing sudah disebutkan dalam abad ke-7 untuk Banten, Palembang, dan Kota Waringin. Mereka juga ditemukan sebagai perunding kontrak, baik pada masa lalu maupun beberapa tahun yang lalu. Pada abad ke-17, 'sabannara' di Makasar membuat kesepakatan dengan para pedagang Melayu. Pada 1876, seorang syahbandar di Langkat bersedia menandatangani kontrak dengan seorang Eropa yang berkaitan dengan pemberian konsesi hutan atas nama pangeran.
Sering kali, syahbandar sendiri adalah orang asing. Pada abad ke-17, seorang Gujarat menjadi syahbandar di Banjarmasin sementara orang-orang Cina menjadi syahbandar di distrik-distrik pesisir Jawa. Hingga 1850, terdapat syahbandar Bugis dari Bone di Teluk Kendari dan di sebelah utara Sulawesi. Duta besar ---syahbandar---- dari Aceh yang disebutkan sebelumnya adalah orang India."

               G.J Resink juga mengutip Schrieke yang menulis:

"...orang akan terkejut melihat fakta bahwa orang-orang asing sering kali memiliki posisi penting yang kurang lebih resmi---dengan berbagai gelar, sepertinya tergantung pada pengetahuan bahasa mereka, dan sebagainya---sebagai perantara antara pihak berwenang pelabuhan dengan para pedagang asing. Di Banten, sudah lama posisi tersebut diisi oleh seorang keling atau Gujarat dan nantinya seirang Cina; di Tuban adalah orang Portugis yang memeluk agama Islam; di Banjarmasin adalah seorang Gujarat; di Malaka Melayu adalah seorang Jawa dan seorang keling, di samping seorang syahbandar Gujarat."


Telembuk Sebuah Kisah yang Tak Pernah Selesai

Pertama kali saya menemukan nama Tumaritis sekitar tahun '90an dari komik Petruk bikinan Tatang S yang bercerita tentang pengalaman Petruk, Gareng, dan Bagong dengan segala jenis hantu yang menjadi teror di Tumaritis. Setelah sekian lama tak terdengar, Tumaritis kembali muncul dalam sebuah Novel karya Kedung Darma Romansha yang berjudul "TELEMBUK dangdut dan kisah cinta yang keparat".

Berbeda dengan komik Petruk, Telembuk tidak lagi bercerita mengenai hantu-hantu penasaran yang bergentayangan di Tumaritis. Adalah Diva Fiesta ---nama panggung dari Safitri--- bintang dangdut Organ Tunggal Langlang Buana yang tinggal di Tumaritis, dan memiliki profesi sampingan sebagai telembuk mencoba melanjutkan kisahnya yang tak selesai di novel "Kelir Slindet" ke dalam novel "Telembuk" ini.

Pembaca akan disuguhi cerita kehidupan masyarakat sekitaran Indramayu yang meliputi; Cikedung, Tumaritis, Terisi, Jenggleng dan juga hutan Sinang yang misterius itu. Sepanjang cerita alunan musik dangdut tarling terus terdengar, diselingi desah manja biduan dangdut yang menggoda. Udara yang pengap bercampur dengan wangi parfum murahan, keringat yang menyengat, dan bau alkohol akan menjadi latarnya. Dan tentunya lika-liku dan luka kehidupan telembuk akan menjadi sajian utama dalam novel ini. Semuanya terasa begitu nyata tanpa ada kesan mengada-ada.

Hal yang menarik dari novel ini adalah cara penyajiannya yang memberikan kebebasan cara pandang, sudut pandang, dan juga jarak pandang kepada pembacanya. Selain menghadirkan cerita dari seorang narator, pembaca juga bisa menikmati novel ini dari kacamata tokoh-tokohnya; Aan, Safitri, Govar, dan Mukimin.

Melalui narator ---di sini lebih senang disebut sebagai Mang Pencerita--- kisah ini disajikan dalam posisi netral. Tak ada penilaian moral apa pun, tidak menghakimi, membela, atau pun merayakan perilaku para tokoh dalam novel ini. Sedang melalui Aan yang tak lain adalah Mang Pencerita itu sendiri, pembaca akan dibawa lebih masuk ke dalam cerita dan pergulatan batin yang dialami oleh Aan selama menceritakan kisah ini. Pembaca diberi keleluasaan untuk memilih dari sisi mana mereka membaca novel ini. Mau menghakimi, menikmati, mengambil hikmah, atau sekedar mengamati, itu terserah pembaca.

Bagaimanapun, cerita tentang mereka yang terus bertahan meski kalah oleh takdir akan selalu ada, dan tak akan pernah selesai untuk diceritakan.