Reputasi, Masa Lalu, dan Harapan

Ketika reputasi dilihat dari cara seseorang menghadapi hal-hal besar di hidupnya, maka kegagalan-kegagalan yang saya alami saat menghadapi hal-hal besar dalam hidup saya di masa lalu sudah cukup untuk membuat saya disebut pecundang. Nyaris tak ada hal-hal besar yang mampu saya perbuat di sepanjang perjalanan hidup saya.

Karena selalu gagal dalam menghadapi hal-hal besar itulah, kemudian saya lebih memilih menghindari perkara-perkara besar. Selanjutnya dalam hidup, saya hanya mengerjakan hal-hal kecil. Dan selalu berusaha untuk memperoleh hasil yang terbaik dari hal-hal kecil yang saya hadapi tersebut. Setidaknya saya percaya, jika reputasi bisa dibangun dari cara seseorang menyelesaikan hal-hal kecil di dalam hidupnya.

Kegagalan dan kekalahan terus-menerus yang saya alami di masa lalu membikin saya tidak lagi pernah berani untuk bermimpi. Hidup saya sekedar untuk hari ini. Alih-alih mencoba menggapai impian, berpikir tentang esok hari saja saya tak berani. Seringkali saat ditanya apa rencana saya esok hari, saya selalu menjawab, ”Sesuk kok dipikir saiki, marai gering." Begitulah, saya tetaplah pecundang hingga hari ini.

Keseharian saya hanyalah usaha untuk menebus masa lalu saya yang selalu gagal dalam hal-hal besar. Saya menjadi terlalu sibuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang saya lakukan di masa lalu. Mungkin dengan begitu reputasi saya bisa dilihat lebih baik di masa yang akan datang. Semacam usaha merebut kembali masa lalu yang selalu dipecundangi, untuk kejayaan di masa depan.

Namun hari ini berbeda. Mendadak hari ini saya mempunyai impian, sebuah harapan tentang masa yang akan datang. Maka dari itulah, saya sempatkan menulis catatan ini sebagai penanda agar di kemudian hari saya tidak melupakan mimpi-mimpi hari ini.

Ada yang bilang, "Orang besar adalah mereka yang memiliki mimpi-mimpi besar." Tidak, saya tidak pernah memiliki keinginan menjadi orang besar. Impian saya hanyalah tentang keinginan untuk tinggal di sebuah rumah kayu di tepi danau ---- dengan pohon-pohon Ketapang rindang di tepiannya --- ditemani seorang istri yang berbudi dan anak-anaknya yang tahu akan bakti. Ah, sepertinya mimpi ini terlalu muluk buat saya yang hanya seorang buruh harian.

Namun kemudian saya mengambil simpulan bahwa impian tersebut bukanlah mimpi besar yang harus saya singkirkan. Saya menganggap impian tersebut sebagai mimpi yang membahagiakan, sehingga perlu untuk saya simpan sebagai harapan dan doa, dan juga patut untuk saya usahakan sepenuh hati agar menjadi kenyataan di kemudian hari.

Saya sadar, kebahagiaan hanyalah milik sebagian kecil dari mereka yang beruntung. Dan itu bisa terjadi pada siapa pun. Mungkin kelak, saya akan menjadi yang sebagian kecil itu. Semoga Tuhan mengizinkan.,


0 coretan kamu:

Posting Komentar