Senja Tak Pernah Tahu

Pernahkah aku bercerita kepadamu tentang perempuan muda yang selalu aku temukan berkeliaran di dermaga pantai Kartini pada sore hari? Sepertinya belum, jadi biarlah aku ceritakan kisah ini kepadamu kali ini.

Perempuan itu masih muda, aku yakin usianya belumlah menginjak dua puluh lima. Wajahnya mirip denganmu, juga tinggi badan dan bentuk tubuhnya. Dia selalu mengenakan kemeja lebar berwarna pastel dipadu dengan rok panjang berwarna gelap dan kerudung berwarna hitam.

Setiap sore pukul lima dia selalu berjalan mondar-mandir​ sepanjang dermaga sambil tersenyum kepada setiap orang yang ditemuinya. Didekapnya erat sebuah buku gambar ukuran A2 dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menggenggam sekotak pensil warna.

Saat senja datang, dia langsung duduk mencangkung di pinggiran dermaga sambil memandang ke arah matahari tenggelam. Dibukanya lembar kosong halaman buku gambarnya. Dan garis demi garis pensil warna mulai dia goreskan ke lembar kertas gambar yang ada di pangkuannya.

Aku selalu senang mengintip perempuan muda itu menggambar, pertama-tama selalu dia menggambar horison. Batas antara permukaan laut dan langit dibikinnya dengan garis-garis yang tegas. Tak butuh waktu lama untuk menyaksikan dia menyelesaikan gambar tersebut menjadi sebuah gambar senja yang indah.

Tapi perempuan muda itu tidak berhenti di situ. Seiring senja yang mulai tenggelam dalam gelap, perempuan muda itu mulai menggoreskan pensil warnanya yang sewarna malam. Gambar senja yang awalnya begitu indah, kini menjadi gelap menghitam. Langit dan laut sama-sama pekat tanpa cahaya, semacam terselubungi asap hitam yang menghalangi pandangan.

Perempuan muda itu menutup lembar buku gambarnya, membereskan pensil warnanya ke dalam kotak, kemudian melangkah pulang dengan wajah tertunduk menahan kesedihan. Tak ada lagi senyum untuk setiap orang yang ditemuinya seperti saat hari masih terang.

Beberapa kali aku mencoba mengajak perempuan muda itu berbincang. Dari mulutnya langsung, aku tahu dia bernama Senja. Dan tiap kali kutanya, mengapa dia tiap sore pergi ke dermaga, selalu saja aku mendapatkan jawaban yang sama. ”Menunggu Lintang pulang." katanya.

Dari penduduk sekitar dermaga aku mendapatkan keterangan. Sudah dua tahun Senja selalu datang ke dermaga saat sore pukul lima. Hanya hujan yang menghalangi Senja datang ke dermaga.

Dua tahun lalu, Lintang ---kekasih Senja--- meninggalkan dermaga pantai Kartini untuk pulang ke Karimunjawa, memohon restu ayah-ibunya untuk melamar Senja. Sayang di tengah perjalanan, kapal motor yang ditumpangi Lintang terbakar. Lima orang meninggal dunia, dan Lintang tak pernah ditemukan.

Sejak saat itulah Senja selalu datang setiap sore pukul lima dan menggambar di dermaga. Menunggu Lintang pulang. Sayang Senja tak pernah tahu, ada satu bintang yang menyala terang saat senja mulai hilang. Ah, betapa kehilangan selamanya tak pernah mudah.




0 coretan kamu:

Posting Komentar