Ikan Kecil dan Motivator

Sudah dua kali saya membeli beberapa ekor ikan jenis ini (lihat gambar) --- di kios penjual ikan hias dekat rumah --- untuk mengisi kolam kecil yang ada di depan rumah. Kolam saya memiliki pancuran air yang mengucur masuk ke dalam kolam, sehingga menimbulkan bunyi gemericik dan riak-riak kecil di permukaan airnya.

Hari pertama masuk kolam, ikan-ikan ini menunjukkan perilaku yang membahayakan keselamatan dirinya. Saat tepat di bawah pancuran air, ikan-ikan ini akan menyelam sampai dasar kolam, kemudian melesat naik melompat melewati permukaan air kolam. Dan kalau lesatannya kuat, tubuh ikan-ikan ini sanggup melenting melewati bibir kolam untuk kemudian mendarat di luar kolam, mengering, lantas digotong serombongan semut bila tidak konangan.

Terus terang saya curiga. Jangan-jangan ikan-ikan kecil ini pada saat masih tinggal di aquarium kios penjual ikan hias, setiap harinya selalu dicekoki ceramah motivasi dari radio yang didengarkan oleh pemilik kios.

"Teruslah semangat, jangan menyerah. Bangkit dan jangan takut untuk keluar dari zona amanmu. Raih impianmu."

Begitulah, ikan-ikan ini memasuki kolam saya dengan optimisme yang tinggi dan bertekad untuk keluar dari zona amannya. Gelembung dan riak air di permukaan yang dibarengi suara gemericik mungkin disangkanya sebagai kebahagiaan yang diimpi-impikan. Melompatlah ikan-ikan ini dari zona aman untuk kemudian mendarat di tempat kering.



Sumber gambar: google.com

Pengantar

Seseorang secara diam-diam memilah dan memilih beberapa tulisan di blog ini dan kemudian mencetaknya menjadi sebentuk buku.

Hari ini buku tersebut saya terima dengan penuh rasa haru, ternyata ada juga yang membaca tulisan-tulisan di blog ini. 

Terbayang oleh saya betapa ribetnya proses terbentuknya buku tersebut, apalagi seluruhnya dikerjakan olehnya seorang diri. 

Kalau saya tentu tak akan pernah sanggup membuatnya seorang diri. Mendesain sampul, membuat layout hingga menjilidnya menjadi sebentuk  buku adalah hal-hal yang tak pernah terlintas dalam benak saya. 

Satu hal yang menjadi catatan saya setelah membaca buku tersebut adalah agar saya segera mengedit ulang beberapa tulisan di blog ini yang banyak mengalami kesalahan bentuk penulisan. 

Isi buku tersebut diambil langsung dari blog ini tanpa mengalami proses penyuntingan ulang. Hanya beberapa font yang diubah tanpa sedikit pun mengubah isi. Jadi segala kesalahan bentuk penulisan adalah murni kesalahan dari saya yang kurang begitu menguasai tata bahasa penulisan yang baik dan benar. 
Mohon untuk dimaklumi dan semoga menjadi pembelajaran yang baik buat saya. 

Untuk segala upaya dan pengorbanan hingga terbentuknya buku yang saya terima hari ini, saya hanya mampu mengucap terima kasih. 


Tuhan Bersama Mereka

Mereka adalah anak-anak luar biasa, di sebuah Sekolah Luar Biasa, dengan guru-guru dan para pembimbing yang tentunya juga luar biasa.

Karena setiap anak dengan kebutuhan khusus, memiliki hak untuk mendapatkan tumbuh kembang yang baik, baik di tengah keluarga, masyarakat dan negara.

Mereka tidak butuh dikasihani, yang mereka butuhkan adalah kesetiaan seorang teman, sedikit lebih banyak perhatian, dukungan perilaku yang positif dan juga pendidikan yang adaptif --- yang memudahkankan mereka menyerap pelajaran --- serta pendidikan yang sifatnya kolaboratif dimana pembelajaran dirancang secara khusus untuk merespon kebutuhan anak-anak dengan melibatkan tenaga pendidik, orang tua, para ahli dan juga masyarakat.

Hari ini mereka belajar mengenal empon-empon, aneka rempah dan bermacam bumbu dapur dengan cara mengenali bentuk, rasa dan juga baunya. Bergantian anak-anak ini mengantri dengan tertib untuk mengenali jahe, kencur, kunyit, kunci, lengkuas, sereh, cengkeh, bawang merah, cabai, daun jeruk, ketumbar, merica dan masih banyak yang lainnya.
Setelahnya anak-anak ini menyiapkan bekas gelas plastik air mineral untuk dihias dengan selotip kemudian mengisinya dengan tanah dan mencoba menanam satu jenis empon-empon yang mereka pilih.

Mungkin saja suatu hari nanti anak-anak ini tidak akan setenar Marlee Matlin ataupun Stevie Wonder, mungkin juga tidak akan menjadi legenda seperti Ludwig Van Beethoven, dan mungkin mereka tak seajaib Jessica Cox dan Helen Keller. Yang pasti, kelak anak-anak ini nantinya akan menjadi "seseorang".
Yah, namanya juga mungkin, siapa tahu kelak salah seorang dari anak-anak ini malah melampaui orang-orang terkenal yang saya sebut sebelumnya.
Bagaimanapun Tuhan bersama mereka.