[draft] Pesan Untuk Kenang

Nang,
Kalau kamu jatuh cinta, jangan pernah menyerah berusaha.
Seberat apapun halangannya, yakinlah kamu akan mendapatkannya.

Bergurulah pada Bandung Bondowoso, ikutilah jejak Sangkuriang yang tak pernah berhenti sebelum janjinya terpenuhi.

Teruslah setia menepati janji, meskipun kesetiaanmu pada cinta dikhianati.
Sungguh, kehormatan lelaki lebih abadi daripada luka dan pedih yang akan punah dimampus waktu.

Aku tahu Nang, kamu akan selalu menjaga kehormatan lelaki.
Karena kamu keturunan kaum yang selalu menepati janji.

Kudus, 19 Februari 2017 


Ilustrasi : Pinterest

Main Yuk Bersama Yuk Main

Siang itu cuaca lumayan cerah, sesekali mendung menggayut namun tiupan angin cukup kencang untuk menyisihkan awan hitam menyingkir dari kawasan Jati, Kudus.

Bersama rombongan relawan Yuk Main saya mendatangi posko banjir yang bertempat di Balai Desa Jati Wetan Kudus. Hari itu Rabu 15 Februari 2017, komunitas Yuk Main Kudus akan mengadakan kegiatan trauma healing untuk anak-anak pengungsian korban banjir.

Informasi awal yang saya dapatkan bahwa bakti sosial tersebut merupakan kerja bareng dari beberapa komunitas yang ada di Kudus. Adapun Yuk Main mendapat tugas untuk menghibur anak-anak di pengungsian, rencananya mereka akan membuat prakarya topeng-topeng binatang dari art foam.

Saya sendiri bukanlah anggota dari salah satu komunitas-komunitas tersebut. Saya berada di sana karena disambat salah seorang founder Yuk Main untuk membantu angkat angkut barang serta mendokumentasikan kegiatan Yuk Main.

Sebenarnya agak wagu juga kalau saya mendapat tugas jadi tukang dokumentasi, mungkin dalam bayangan anda saya menenteng kamera DSLR atau semacamnya. Boro-boro DSLR kamera saku saja saya tak punya. Gacoan buat poto-potonya cuma gajet bikinan Tiongkok dengan resolusi kamera cuma 8MP. Hahaha lantas gambar macam apa yang bisa anda harapkan dari perangkat yang saya miliki, kalau bukan dokumentasi yang seadanya saja.

Pukul 14.00 saya dan rombongan relawan Yuk Main tiba di lokasi. Kebetulan kedatangan kami berbarengan dengan rombongan Komunitas JCI Kudus yang juga hadir memberikan donasi untuk korban banjir. Di dalam lokasi ternyata anak-anak sudah duduk rapi, salah satu relawan Yuk Main hadir lebih awal, dan sudah menyempatkan diri menyapa anak-anak korban banjir. Acara dilanjutkan dengan menyanyi dan senam bersama.

Sesi menyanyi dan senam segera diambil alih oleh para relawan Kudus Mengajar, sementara relawan Yuk Main mempersiapkan tempat untuk bermain craft membuat topeng dari art foam. Saya sendiri bergerak mengamati sekeliling sambil sesekali mengambil gambar dengan perasaan was-was akan hasil tangkapan kamera saya, karena lokasi yang berada di dalam ruangan dengan pencahayaan yang tidak rata.

Tempat dan perlengkapan untuk sesi Yuk Main sudah siap, anak-anak dibentuk dalam beberapa kelompok duduk melingkar 6-8 anak menghadapi alat dan bahan kerajinan tangan dengan dibantu minimal 2 relawan untuk tiap kelompoknya. Teman-teman dari Kudus Mengajar dan juga beberapa Polwan dari Polres Kudus yang berjaga di posko juga turut membantu kegiatan ini.

Untuk mendokumentasikan kegiatan ini mau tak mau saya harus ikut membaur bersama anak-anak tersebut. Saya sepenuhnya sadar dengan keterbatasan perangkat yang saya pakai. Sesekali memberi semangat kepada anak yang kesulitan mencetak pola, atau menggunting pola yang sudah jadi, sambil memotret diam-diam anak-anak yang sedang tekun mengerjakan kerajinannya.

Interaksi dengan anak-anak pun segera tersambung dengan obrolan-obrolan ringan.

"Rumahmu mana dek?“

"Gendok."

"Kamu kelas berapa?"

"Kelas dua kak."

“Di sini sama siapa?"

"Bapak, ibuk dan Adik kak."

"Di rumah biasanya ngapain dek?"

“Nonton TV."

"Pernah main kayak gini nggak?"

"Nggak pernah kak."

"Kamu seneng nggak main bikin topeng gini?"

"Seneng Kak, besok ke sini lagi ya main sama-sama lagi."

"Wah kalau besok nggak janji deh hehehe."

"Halah kak, pokoknya besok ke sini lagi ya. Ini topengku nanti mau tak kasihkan adekku kak."

"Wah pinter kamu sama adek, udah itu dibikin yang bagus topengnya, hati-hati guntingnya."

Tak terasa hari mulai sore, sesi untuk Yuk Main telah selesai. Bantuan-bantuan berdatangan dari komunitas-komunitas yang ada di Kudus. Saya mengenali beberapa diantaranya ada dari Berbagi NasiOmah Aksi, juga ada bantuan dari alumni sebuah sekolah menengah pertama di Kudus, dan dari beberapa organisasi dan komunitas lain yang belum saya ketahui.

Hasil gambar yang saya bikin untuk dokumentasi kegiatan Yuk Main di posko banjir Balai Desa Jati Wetan Kudus telah saya unggah di sini. Beberapa diunggah di FP Yuk Main, dan juga di Instagram @yukmainkudus.

Mungkin di sana ada gambar anda, gebetan anda, atau bahkan mantan anda yang tak terlupakan. Saya bebaskan untuk diunduh asal jangan untuk maksud-maksud yang tidak baik. Kalau cuma sekedar untuk memandang gambar mantan, its oke wae lah.

Wedang Kobokan

Seiris jeruk nipis. 

Mengapung bersama air hangat di dalam baskom, 
di dalam gelas, 
atau mengapung bersama hangat seduhan air teh di dalam cangkir. 

Kobokan, 
wedang jeruk, 
lemon tea, 
apa pun sebutannya. 

Karena wadah nama dapat berubah.

Menjadi kobokan tidak membuat seiris jeruk nipis menjadi nista. 

Ia tetap bekerja,
mencuci tangan-tangan kotor berbau amis, 
melarutkan segala minyak, lemak, dan juga daki. 

Menjadi wedang atau kobokan, 
cuma tentang ke wadah mana ia kecemplung.