Dongeng Koalisi Macan III

Di dalam gua yang berada di bagian timur hutan Tanjung, pulau Halimunda, Macan sedang merenungkan koalisinya yang nyaris bubar. Sanca sudah tidak bersedia lagi diajak berburu bersama, sedangkan Rubah sudah tinggal nama mengisi daftar korban keganasannya. Hanya tinggal Ajak yang masih loyal dalam koalisi dan selalu siap diajak berburu bersama.

Macan mengundang Ajak untuk datang ke guanya. Tingkat keberhasilan berburu mereka berdua sangat rendah belakangan ini. Sepertinya mereka akan berganti strategi. Apalagi Macan memang sudah mulai malas berlari.

"Hei Ajak, sudah ada hewan lain yang mau bergabung dengan koalisi kita?"

"Sementara ini belum ada, tuan."

"Ya sudah, teruslah kau cari hewan-hewan yang bisa diandalkan untuk berburu, bujuk supaya mereka mau bergabung dengan koalisi kita. Terus-terusan begini bisa mati kelaparan aku, berburu denganmu gagal melulu."

"Siap tuan Macan."

"Aku lapar, sepertinya sedap ini kalau kita menyantap otak domba muda. Kau bawalah domba muda masuk ke dalam gua ini, terserah kau punya cara. Pokoknya siang ini aku harus makan otak domba muda yang nikmatnya tiada dua itu."

"Baik tuan Macan, akan saya bawakan domba muda untuk tuan."

Ajak meninggalkan gua dengan batin rusuh, ingin ia meninggalkan koalisi Macan seperti yang dilakukan Sanca, namun Ajak-Ajak gerombolannya belumlah kembali ke hutan Tanjung. Bagaimanapun ia tak mau nasibnya seperti Rubah yang menjadi menu santapan Macan.

Seekor Domba muda baru saja selesai melepas dahaga di pinggir telaga saat Ajak berjalan gontai dengan ekornya terjulur lemas di antara dua kaki belakangnya. Domba muda langsung siaga, diamatinya sekeliling, kalau cuma Ajak seekor Domba muda tidaklah takut menghadapinya. Akan jadi masalah buat Domba muda bila Ajak datang bersama gerombolannya yang selalu main keroyokan. Tak dilihatnya tanda-tanda gerombolan Ajak, cuma seekor saja yang datang. Domba muda kembali tenang.

Raut muka Ajak langsung cerah saat menemukan Domba muda di sekitar telaga, didekatinya Domba muda dengan langkah wajar tanpa memperlihatkan satu ancaman.

"Wah, kebetulan sekali aku menemukan kau di sini Domba muda. Ada hal penting yang akan aku sampaikan."

Domba muda menatap Ajak dengan curiga.

"Hal penting apa yang kamu bawa? Rasanya aku tak punya urusan denganmu. Jangan mencoba macam-macam, tandukku cukup kuat untuk aku adu ke tubuhmu."

"Ah, Domba muda yang perkasa. Mana aku berani macam-macam dengan kau. Bagaimanapun engkau adalah calon penerus penguasa hutan Tanjung ini."

"Hei Ajak, apa maksud perkataanmu itu?“

"Perlu kau ketahui, aku memang tengah mencari engkau karena membawa wasiat dari tuan Macan yang sedang sekarat. Beliau meminta kehadiran kau untuk datang ke gua Macan karena engkau akan diangkat sebagai penerus tuan Macan sebagai penguasa hutan Tanjung ini."

"Jangan main-main kau Ajak, bagaimana mungkin Macan memilihku jadi penguasa hutan Tanjung?"

“Aku tidak main-main Domba muda yang perkasa. Dalam sakitnya tuan Macan mendapatkan bisikan gaib agar memilih engkau jadi penguasa hutan Macan. Ayolah buktikan sendiri, aku temani ke gua Macan. Kalau tidak engkau buktikan sendiri mana pernah engkau tahu kebenarannya."

Domba muda berpikir sejenak. Kemudian ia memutuskan untuk membuktikan perkataan Ajak. Berdua mereka berjalan menuju gua Macan dengan perasaan senang yang berbeda. Domba senang karena akan jadi penguasa hutan Tanjung, dan Ajak yang senang akan mendapatkan mangsa.

Di depan gua Macan, Ajak dan Domba muda berhenti. Ajak berseru mengabarkan kehadiran mereka kepada Macan.

"Lapor tuan macan, Domba muda telah hadir. Mohon ijin untuk menghadap."

Terdengar auman dari dalam gua yang membuat kaki-kaki Ajak dan Domba muda gemetar. Diikuti dengan suara Macan yang memerintahkan Domba muda supaya cepat memasuki gua.

Dengan hati-hati Domba muda memasuki mulut gua, dua kupingnya naik tanda sedang waspada. Dari kegelapan gua terlihat dua mata Macan tampak menyala bergerak cepat ke arahnya. Domba muda langsung balik arah, berlari ke luar gua secepatnya. Sambaran cakar Macan mengenai kuping kanannya, perih terasa namun itu tak menghentikannya untuk terus berlari secepat mungkin meninggalkan gua Macan.

Ajak yang menunggu di luar gua terkejut melihat Domba muda yang melesat cepat berlari meninggalkan gua. Dari dalam gua Macan yang kehilangan mangsanya mengaum murka.

"Bodoh kau Ajak, kenapa kau biarkan Domba muda yang lezat itu lolos ha? Lekas bawa kemari kalau kau tak ingin tubuhmu aku cabik-cabik menjadi menu makan siangku."

Secepat peluru Ajak berlari meninggalkan gua. Terbayang lagi olehnya saat Macan mencabik-cabik tubuh Rubah dengan sadisnya. Ajak mencoba mengendus jejak pelarian Domba muda. Tetesan darah dari kuping Domba muda membikin Ajak lebih mudah menemukan Domba muda.

Di padang rumput bagian utara hutan Tanjung akhirnya Ajak menemukan Domba muda yang terluka kupingnya. Domba muda seketika mengamuk saat melihat kedatangan Ajak. Coba diseruduknya Ajak sekuat tenaga. Namun Ajak gesit mengelak dari serangan Domba muda.

"Woi woi sabar Domba muda yang perkasa, aku ke sini dengan damai, sabar jangan ngamuk."

"Keparat kau Ajak, ternyata kau menjebakku untuk kau jadikan makan siang Macan."

"Wah wah wah, engkau salah paham Domba muda. Sayang engkau terlalu bodoh dan penakut. Padahal tadi tuan Macan akan membisiki kau tiga mantra penakluk hutan, engkau malah lari ketakutan. Kalau cuma ingin memangsa engkau, tak perlulah tuan Macan mengundang kau ke dalam guanya. Kalau tuan Macan memburu kau ke sini, engkau bisa apa coba?“

"Keparat, kau mau membodohiku lagi hah?“

"Terserah kau Domba muda yang perkasa. Kalau kau pintar tentunya kau akan percaya kepadaku dan akan mengikuti aku kembali ke gua Macan. Ketahuilah, tuan Macan memaafkan engkau yang katakutan dan tetap akan menyerahkan kekuasaan hutan Tanjung kepada engkau. Tapi kalau kau tidak percaya padaku ya sudah, tanggung sendiri akibatnya kalau tuan Macan berubah pikiran."

Ajak berlalu meninggalkan Domba muda di padang rumput seolah ia tak memiliki kepentingan apa pun. Domba muda kembali bingung memikirkan perkataan Ajak dan kejadian yang menyebabkan telinga kanannya berdarah. Tak berapa lama Domba muda berlari ke arah Ajak pergi sambil berteriak.

"Aku ikut!"

Kini Ajak dan Domba muda sekali lagi berada di depan gua Macan. Domba muda yang masih dirundung ketakutan meminta Ajak menemaninya masuk ke dalam gua Macan. Berdua mereka melangkah pelan memasuki gua. Macan terlihat duduk bermalas-malasan di atas tumpukan jerami kering. Domba muda tetap waspada namun tak terlihat ancaman di matanya.

"Mendekatlah Domba muda yang perkasa, akan aku bisikkan padamu tiga mantra penakluk hutan. Kemarilah, jangan takut."

Domba muda begitu tersanjung dipanggil Macan sebagai Domba muda yang perkasa. Pelan-pelan ia mendekati Macan. Dalam hatinya ia ingin menjadi penguasa hutan Tanjung menggantikan sang Macan. Tak dilihatnya gerakan mencurigakan dari Macan dan Ajak. Didekatkannya telinganya ke mulut Macan, tak pernah seumur hidupnya begitu dekat dengan Macan. Kemudian semuanya menjadi gelap untuk Domba muda. Tengkuknya remuk bersimbah darah dalam cengkraman mulut Macan. Riwayat Domba muda usai sudah.

"Hahaha benar-benar perburuan yang mudah, mari nikmati daging Domba muda ini Jak."
Kata Macan berbasa-basi.

"Silakan tuan Macan menikmati, saya belakangan saja."

Macan kemudian mencincang bangkai Domba muda menjadi setumpuk daging.

"Aku minum dulu ke telaga Jak, kau tunggu daging ini. Awas jangan sampai hilang."

"Percayakan kepada  saya tuan." jawab Ajak.

Begitu Macan meninggalkan gua, Ajak langsung membongkar kepala Domba dengan hati-hati. Dikeluarkannya otak Domba, dan segera dimakannya bagian terenak dari Domba muda tersebut. Kemudian dirapikannya kembali tumpukan daging Domba muda tersebut seperti sedia kala.

Saat Macan kembali dari telaga diperhatikannya tumpukan daging tersebut. Tak terlihat ada yang kurang. Teringat ia akan keinginannya menyantap otak Domba muda, matanya melotot saat tak menemukan otak dalam kepala Domba muda.

"Hei kau Ajak, berani sekali kau mencuri Otak Domba mudaku?"

"Ampun tuan Macan, mana berani saya melakukannya."

"Kalau bukan kamu yang mencurinya, lantas kenapa kepala Domba muda ini tak ada otaknya?“

"Beribu ampun tuan Macan, sepertinya Domba muda itu memang tak punya otak. Kalau dia memiliki otak tentunya dia tak akan dua kali secara sukarela memasuki gua Macan."

"Hahahaha benar juga katamu Jak, sudah ambil bagianmu dan lekas pergi. Aku mau menikmati daging ini sendiri."

"Terima kasih tuan Macan, kebetulan saya masih kenyang. Daging Domba mudanya untuk tuan Macan saja. Saya mohon diri."

Dengan langkah tenang Ajak meninggalkan gua Macan. Nikmat otak Domba muda segar sudah cukup untuk mengganjal perutnya sampai malam nanti.

0 coretan kamu:

Posting Komentar