Dongeng Koalisi Macan III

Di dalam gua yang berada di bagian timur hutan Tanjung, pulau Halimunda, Macan sedang merenungkan koalisinya yang nyaris bubar. Sanca sudah tidak bersedia lagi diajak berburu bersama, sedangkan Rubah sudah tinggal nama mengisi daftar korban keganasannya. Hanya tinggal Ajak yang masih loyal dalam koalisi dan selalu siap diajak berburu bersama.

Macan mengundang Ajak untuk datang ke guanya. Tingkat keberhasilan berburu mereka berdua sangat rendah belakangan ini. Sepertinya mereka akan berganti strategi. Apalagi Macan memang sudah mulai malas berlari.

"Hei Ajak, sudah ada hewan lain yang mau bergabung dengan koalisi kita?"

"Sementara ini belum ada, tuan."

"Ya sudah, teruslah kau cari hewan-hewan yang bisa diandalkan untuk berburu, bujuk supaya mereka mau bergabung dengan koalisi kita. Terus-terusan begini bisa mati kelaparan aku, berburu denganmu gagal melulu."

"Siap tuan Macan."

"Aku lapar, sepertinya sedap ini kalau kita menyantap otak domba muda. Kau bawalah domba muda masuk ke dalam gua ini, terserah kau punya cara. Pokoknya siang ini aku harus makan otak domba muda yang nikmatnya tiada dua itu."

"Baik tuan Macan, akan saya bawakan domba muda untuk tuan."

Ajak meninggalkan gua dengan batin rusuh, ingin ia meninggalkan koalisi Macan seperti yang dilakukan Sanca, namun Ajak-Ajak gerombolannya belumlah kembali ke hutan Tanjung. Bagaimanapun ia tak mau nasibnya seperti Rubah yang menjadi menu santapan Macan.

Seekor Domba muda baru saja selesai melepas dahaga di pinggir telaga saat Ajak berjalan gontai dengan ekornya terjulur lemas di antara dua kaki belakangnya. Domba muda langsung siaga, diamatinya sekeliling, kalau cuma Ajak seekor Domba muda tidaklah takut menghadapinya. Akan jadi masalah buat Domba muda bila Ajak datang bersama gerombolannya yang selalu main keroyokan. Tak dilihatnya tanda-tanda gerombolan Ajak, cuma seekor saja yang datang. Domba muda kembali tenang.

Raut muka Ajak langsung cerah saat menemukan Domba muda di sekitar telaga, didekatinya Domba muda dengan langkah wajar tanpa memperlihatkan satu ancaman.

"Wah, kebetulan sekali aku menemukan kau di sini Domba muda. Ada hal penting yang akan aku sampaikan."

Domba muda menatap Ajak dengan curiga.

"Hal penting apa yang kamu bawa? Rasanya aku tak punya urusan denganmu. Jangan mencoba macam-macam, tandukku cukup kuat untuk aku adu ke tubuhmu."

"Ah, Domba muda yang perkasa. Mana aku berani macam-macam dengan kau. Bagaimanapun engkau adalah calon penerus penguasa hutan Tanjung ini."

"Hei Ajak, apa maksud perkataanmu itu?“

"Perlu kau ketahui, aku memang tengah mencari engkau karena membawa wasiat dari tuan Macan yang sedang sekarat. Beliau meminta kehadiran kau untuk datang ke gua Macan karena engkau akan diangkat sebagai penerus tuan Macan sebagai penguasa hutan Tanjung ini."

"Jangan main-main kau Ajak, bagaimana mungkin Macan memilihku jadi penguasa hutan Tanjung?"

“Aku tidak main-main Domba muda yang perkasa. Dalam sakitnya tuan Macan mendapatkan bisikan gaib agar memilih engkau jadi penguasa hutan Macan. Ayolah buktikan sendiri, aku temani ke gua Macan. Kalau tidak engkau buktikan sendiri mana pernah engkau tahu kebenarannya."

Domba muda berpikir sejenak. Kemudian ia memutuskan untuk membuktikan perkataan Ajak. Berdua mereka berjalan menuju gua Macan dengan perasaan senang yang berbeda. Domba senang karena akan jadi penguasa hutan Tanjung, dan Ajak yang senang akan mendapatkan mangsa.

Di depan gua Macan, Ajak dan Domba muda berhenti. Ajak berseru mengabarkan kehadiran mereka kepada Macan.

"Lapor tuan macan, Domba muda telah hadir. Mohon ijin untuk menghadap."

Terdengar auman dari dalam gua yang membuat kaki-kaki Ajak dan Domba muda gemetar. Diikuti dengan suara Macan yang memerintahkan Domba muda supaya cepat memasuki gua.

Dengan hati-hati Domba muda memasuki mulut gua, dua kupingnya naik tanda sedang waspada. Dari kegelapan gua terlihat dua mata Macan tampak menyala bergerak cepat ke arahnya. Domba muda langsung balik arah, berlari ke luar gua secepatnya. Sambaran cakar Macan mengenai kuping kanannya, perih terasa namun itu tak menghentikannya untuk terus berlari secepat mungkin meninggalkan gua Macan.

Ajak yang menunggu di luar gua terkejut melihat Domba muda yang melesat cepat berlari meninggalkan gua. Dari dalam gua Macan yang kehilangan mangsanya mengaum murka.

"Bodoh kau Ajak, kenapa kau biarkan Domba muda yang lezat itu lolos ha? Lekas bawa kemari kalau kau tak ingin tubuhmu aku cabik-cabik menjadi menu makan siangku."

Secepat peluru Ajak berlari meninggalkan gua. Terbayang lagi olehnya saat Macan mencabik-cabik tubuh Rubah dengan sadisnya. Ajak mencoba mengendus jejak pelarian Domba muda. Tetesan darah dari kuping Domba muda membikin Ajak lebih mudah menemukan Domba muda.

Di padang rumput bagian utara hutan Tanjung akhirnya Ajak menemukan Domba muda yang terluka kupingnya. Domba muda seketika mengamuk saat melihat kedatangan Ajak. Coba diseruduknya Ajak sekuat tenaga. Namun Ajak gesit mengelak dari serangan Domba muda.

"Woi woi sabar Domba muda yang perkasa, aku ke sini dengan damai, sabar jangan ngamuk."

"Keparat kau Ajak, ternyata kau menjebakku untuk kau jadikan makan siang Macan."

"Wah wah wah, engkau salah paham Domba muda. Sayang engkau terlalu bodoh dan penakut. Padahal tadi tuan Macan akan membisiki kau tiga mantra penakluk hutan, engkau malah lari ketakutan. Kalau cuma ingin memangsa engkau, tak perlulah tuan Macan mengundang kau ke dalam guanya. Kalau tuan Macan memburu kau ke sini, engkau bisa apa coba?“

"Keparat, kau mau membodohiku lagi hah?“

"Terserah kau Domba muda yang perkasa. Kalau kau pintar tentunya kau akan percaya kepadaku dan akan mengikuti aku kembali ke gua Macan. Ketahuilah, tuan Macan memaafkan engkau yang katakutan dan tetap akan menyerahkan kekuasaan hutan Tanjung kepada engkau. Tapi kalau kau tidak percaya padaku ya sudah, tanggung sendiri akibatnya kalau tuan Macan berubah pikiran."

Ajak berlalu meninggalkan Domba muda di padang rumput seolah ia tak memiliki kepentingan apa pun. Domba muda kembali bingung memikirkan perkataan Ajak dan kejadian yang menyebabkan telinga kanannya berdarah. Tak berapa lama Domba muda berlari ke arah Ajak pergi sambil berteriak.

"Aku ikut!"

Kini Ajak dan Domba muda sekali lagi berada di depan gua Macan. Domba muda yang masih dirundung ketakutan meminta Ajak menemaninya masuk ke dalam gua Macan. Berdua mereka melangkah pelan memasuki gua. Macan terlihat duduk bermalas-malasan di atas tumpukan jerami kering. Domba muda tetap waspada namun tak terlihat ancaman di matanya.

"Mendekatlah Domba muda yang perkasa, akan aku bisikkan padamu tiga mantra penakluk hutan. Kemarilah, jangan takut."

Domba muda begitu tersanjung dipanggil Macan sebagai Domba muda yang perkasa. Pelan-pelan ia mendekati Macan. Dalam hatinya ia ingin menjadi penguasa hutan Tanjung menggantikan sang Macan. Tak dilihatnya gerakan mencurigakan dari Macan dan Ajak. Didekatkannya telinganya ke mulut Macan, tak pernah seumur hidupnya begitu dekat dengan Macan. Kemudian semuanya menjadi gelap untuk Domba muda. Tengkuknya remuk bersimbah darah dalam cengkraman mulut Macan. Riwayat Domba muda usai sudah.

"Hahaha benar-benar perburuan yang mudah, mari nikmati daging Domba muda ini Jak."
Kata Macan berbasa-basi.

"Silakan tuan Macan menikmati, saya belakangan saja."

Macan kemudian mencincang bangkai Domba muda menjadi setumpuk daging.

"Aku minum dulu ke telaga Jak, kau tunggu daging ini. Awas jangan sampai hilang."

"Percayakan kepada  saya tuan." jawab Ajak.

Begitu Macan meninggalkan gua, Ajak langsung membongkar kepala Domba dengan hati-hati. Dikeluarkannya otak Domba, dan segera dimakannya bagian terenak dari Domba muda tersebut. Kemudian dirapikannya kembali tumpukan daging Domba muda tersebut seperti sedia kala.

Saat Macan kembali dari telaga diperhatikannya tumpukan daging tersebut. Tak terlihat ada yang kurang. Teringat ia akan keinginannya menyantap otak Domba muda, matanya melotot saat tak menemukan otak dalam kepala Domba muda.

"Hei kau Ajak, berani sekali kau mencuri Otak Domba mudaku?"

"Ampun tuan Macan, mana berani saya melakukannya."

"Kalau bukan kamu yang mencurinya, lantas kenapa kepala Domba muda ini tak ada otaknya?“

"Beribu ampun tuan Macan, sepertinya Domba muda itu memang tak punya otak. Kalau dia memiliki otak tentunya dia tak akan dua kali secara sukarela memasuki gua Macan."

"Hahahaha benar juga katamu Jak, sudah ambil bagianmu dan lekas pergi. Aku mau menikmati daging ini sendiri."

"Terima kasih tuan Macan, kebetulan saya masih kenyang. Daging Domba mudanya untuk tuan Macan saja. Saya mohon diri."

Dengan langkah tenang Ajak meninggalkan gua Macan. Nikmat otak Domba muda segar sudah cukup untuk mengganjal perutnya sampai malam nanti.

Dongeng Koalisi Macan II

Koalisi Macan berkumpul lagi, mereka mengadakan konsolidasi untuk mengadakan perburuan bersama jilid II. Kali ini Sanca tidak hadir dengan alasan menghadiri pernikahan saudara di hutan sebelah. Alasan sebenarnya sih karena Sanca masih kecewa dengan cara pembagian daging buruan yang dilakukan Macan di perburuan pertama.

Rubah bersedia melanjutkan koalisi dengan syarat bahwa nantinya hasil buruan dibagi dengan adil seadil-adilnya. Ajak mengikuti keputusan Rubah, tak ada pilihan lain bagi Ajak selain bergabung dengan koalisi Macan --- ia tak pernah melakukan perburuan sendiri --- sedangkan kawanan Ajak yang lain belum kembali ke hutan Tanjung.

Macan menerima syarat yang diajukan Rubah, dan di sinilah mereka sekarang. Di padang rumput yang terletak tak jauh dari telaga di bagian utara hutan Tanjung Pulau Halimunda. Mereka berpencar di tiga penjuru, mengepung wilayah padang rumput. Mereka mengincar empat ekor Kambing yang sedang merumput menikmati sarapan. Macan, Rubah dan Ajak sabar mengintai, keempat Kambing tersebut masih dalam formasi siaga. Keempatnya merumput dengan posisi saling membelakangi, sehingga gerakan mencurigakan dari empat penjuru dapat segera terdeteksi.

Dari empat ekor Kambing tersebut satu ekor berwarna hitam, sedang tiga lainnya berwarna coklat dengan sedikit aksen putih di perut dan punggungnya. Keributan kecil terjadi di antara mereka saat mereka mulai membicarakan perbedaan warna bulu mereka. Kambing hitam merasa dialah Kambing terbaik di pulau Halimunda. Bulunya hitam mengkilat tanpa noda, dan tubuhnya lebih besar dari tiga kawannya.

Tiga Kambing coklat mulai jengah kepada Kambing hitam. Apalagi Kambing hitam mulai merendahkan tiga Kambing coklat, dengan terus menerus menyinggung warna bulunya yang coklat dekil dan bentuk badan yang pendek. Tiga Kambing coklat memutuskan untuk menyudahi sarapan dan meninggalkan Kambing hitam sendirian di padang rumput. Sebenarnya mereka belumlah cukup kenyang, namun mereka sudah tidak tahan dengan mulut si Kambing hitam. Kini Kambing hitam merumput sendirian di padang rumput, ia tak pedulikan teman-temannya yang beranjak pergi.

Tiga pengintai bersorak riang dalam hati menyaksikan Kambing hitam yang tertinggal sendiri. Setelah tiga Kambing coklat dipastikan menjauh dari padang rumput, tiga hewan pemburu ini serentak merayap diam-diam mendekati Kambing hitam dari tiga penjuru.

Ajak yang lebih dulu mendekati lokasi Kambing hitam, bersiap ia ambil ancang-ancang menyerang sambil menunggu aba-aba penyergapan dari Macan. Terdengar auman keras Macan, Ajak langsung melompat menerjang kaki belakang Kambing hitam, digigitnya erat kaki itu seolah tak akan dilepaskan. Kambing hitam mencoba meronta melepaskan diri dari gigitan Ajak, namun dari arah depan Rubah menerjang menggigit kaki depan Kambing hitam. Robohlah Kambing hitam di rerumputan, belum juga ia berpikir untuk bangkit, taring-taring tajam Macan menancap di tengkuk Kambing hitam. Perburuan selesai sudah, Kambing hitam tak akan lagi pulang.

"Hei Rubah, bagi daging Kambing ini dengan adil seadil-adilnya untuk kita bertiga, seperti maumu," kata Macan kepada Rubah sambil mengelap mulutnya yang berlumur darah.

Rubah segera mencabik-cabik daging Kambing, sedangkan Ajak diam memperhatikan. Oleh Rubah daging Kambing tersebut dibagi menjadi tiga tumpukan yang sama banyak. Tanpa banyak kata Rubah mengambil bagian satu tumpuk daging dan berbalik meninggalkan Macan dan Ajak.

Belum juga sampai dua langkah Rubah meninggalkan lokasi pembagian daging, Macan melompat menerkam menggigit tengkuk Rubah dan langsung mencabik-cabik tubuh Rubah menjadi daging cincang. Ajak diam menahan nafas, hampir copot jantungnya. Tak diduganya akan begitu mengenaskan nasib yang menimpa Rubah.

"Sudahlah jangan cuma bengong. Lekas gabungkan itu daging Rubah dengan daging Kambing. Kemudian bagi dengan adil seadil-adilnya untuk kita berdua," kata Macan kepada Ajak yang masih gemetar terbengong-bengong.

Ajak kemudian mengumpulkan seluruh daging Rubah dan Kambing. Ditumpuknya menjadi satu bagian besar daging tersebut dan didorongnya ke arah Macan, sedangkan untuknya hanya setumpuk tulang dengan sedikit daging.

Macan tersenyum melihat cara Ajak membagi hasil buruan. Kemudian Macan berkata "Apakah pembagian ini sudah adil Jak? Dan apa sebab engkau membagi seperti ini?"

“Ini sudah benar Tuan, yang saya lakukan adalah karena saya belajar dari masa lalu dan juga belajar dari nasib yang menimpa Rubah," jawab Ajak yang segera menyambar bagiannya yang sedikit kemudian berlari sekencangnya menjauhi Macan.



Dongeng Koalisi Macan

Pagi itu berkumpul empat hewan buas di depan gua hutan Tanjung yang ada di pulau Halimunda. Mereka adalah Macan, Rubah, Sanca, dan Ajak. Keempatnya bersepakat untuk membentuk satu koalisi perburuan. Sanca mendesis membisikkan rencananya menyergap Menjangan saat minum di telaga siang nanti.

Matahari sudah mulai tinggi. Masing-masing anggota koalisi sudah menempati lokasi yang direncanakan Sanca untuk menyergap Menjangan. Ajak kebagian tugas untuk menyerang saat Menjangan melepas dahaga di telaga. Dari tempatnya bersembunyi, Ajak diam memantau situasi. Bagaimanapun ini pengalaman pertama Ajak berburu bersama hewan lain, biasanya ia berburu bersama kawanannya sendiri. Ia tak ingin gagal kali ini.

Seekor Menjangan muda melangkah ringan menuju telaga. Telaga begitu sepi, Menjangan menaikkan telinganya memastikan situasi, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Merasa aman, ia bergerak pelan ke pinggir telaga. Sekali lagi menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum bibirnya dijulurkan untuk meminum air telaga. Baru satu tegukan air membasahi kerongkongannya, Menjangan merasakan ada gerakan dari arah kiri, terkesiap ia melihat seekor Ajak yang merangsek menuju ke arahnya. Dengan cepat Menjangan melompat dan berlari diikuti Ajak yang mulai menyalak mengabarkan perburuan telah dimulai.

Kaki-kaki ramping Menjangan membuatnya mampu bergerak lincah di dalam hutan Tanjung. Sesekali Menjangan menoleh ke belakang melihat Ajak yang terus saja menyalak biarpun langkahnya makin tertinggal. Menjangan merasa tenang karena yang mengejarnya cuma seekor Ajak. Beberapa purnama sebelumnya ia berhasil lolos dari sekawanan Ajak yang memburunya. Menjangan yakin setelah satu tikungan di depan, Ajak tersebut akan kehilangan jejaknya.

Sampai di tikungan kejutan menanti Menjangan. Belum sempat ia berbelok seekor Rubah menerkam punggungnya. Menjangan menjatuhkan diri bergulingan hingga cengkeraman Rubah lepas dari punggungnya. Dengan membawa pedih di punggungnya Menjangan berlari diikuti Rubah dan Ajak yang kini tepat di belakangnya. Menjangan mulai panik karena di depan hanya ada padang ilalang. Kalau ia berlari ke sana tak ada tempat sembunyi buatnya.

Menjangan memutuskan untuk berlari menuju lembah, untuk mencapainya ia harus melalui satu celah sempit. Ajak terus mengejar sambil menyalak, Rubah pun terlihat begitu semangat memburu, air liur menetesi taringnya terbayang empuk gurih daging Menjangan. Keduanya tak mau melepaskan buruan mereka yang telah terluka.

Celah sempit menuju lembah sudah terlihat, Menjangan menambah kecepatannya. Tiba-tiba nyeri terasa di pangkal paha kanannya. Sanca menggigit pangkal pahanya dan bersiap untuk membelit tubuhnya. Menjangan menjungkalkan tubuhnya ke depan dengan gerakan yang seperti tidak di sengaja, namun itu sudah cukup untuk membuat Sanca kehilangan momentum untuk membelit tubuh Menjangan. Segera Menjangan bangkit dan dengan kedua kaki depannya ia menginjak tubuh Sanca, hingga Sanca terpaksa melepaskan gigitan di paha kanan kaki belakang Menjangan.

Menjangan kembali berlari mencoba menyelamatkan diri. Di depan celah sempit sudah ada Ajak yang menyalak semakin galak, sedangkan di belakangnya Rubah menggeram siap menerkam, sedangkan Sanca sudah kembali siaga. Ke arah padang ilalang Menjangan itu berlari diikuti tiga pemburunya yang saling tersenyum penuh arti.

Ilalang yang tinggi membuat Menjangan kesulitan melihat. Yang ia lakukan cuma berlari ke depan secepatnya. Menjangan tahu tepat dibelakangnya ada Rubah, Ajak, dan Sanca yang bersiap menyantapnya. Dalam panik pelariannya, Menjangan tak menyangka Macan menerkamnya langsung dari arah depan. Menjangan terjatuh dan mencoba bangkit lagi, namun Macan lebih sigap. Sekali lompatan digigitnya tengkuk buruannya. Menjangan roboh tak lagi merasakan apa-apa.

Empat anggota koalisi perburuan telah berkumpul di depan tubuh Menjangan yang tak lagi bergerak. Bagaimana daging hasil buruan itu akan mereka bagi, itulah yang kini jadi masalah. Sampai kemudian Macan berkata:
"Untukku seperempat bagian saja, bagilah yang adil sama rata."
Rubah kemudian menguliti bangkai Menjangan itu dan membagi dagingnya menjadi empat bagian.

Macan kemudian mendekati keempat gundukan daging tersebut. Matanya nyalang menatap tiga teman berburunya. Sambil menggeram Macan berkata:
"Seperempat bagian untukku karena akulah raja hutan ini. Seperempat bagian lagi untukku karena aku yang mendirikan koalisi perburuan ini. Sedangkan yang seperempat bagian lagi adalah hakku karena aku yang merobohkan Menjangan ini hingga tak berdaya. Untuk yang seperempat bagian terakhir, aku ingin tahu adakah diantara kalian bertiga yang berani mengambilnya?"

Ajak langsung membalikkan badan berjalan dengan langkah lemas diikuti Rubah dan Sanca. Masing-masing mengumpat dalam hati.
"DASAR PENGUASA."



Bapak Tua dan Sepeda Onthelnya

Mungkin anda pernah mendengar kisah yang akan saya ceritakan ini. Bisa jadi kakek, budhe, bulik, emak, bapak atau tetangga anda pernah menceritakannya. Kisah ini terjadi di kampung saya lebih dari 40 tahun yang lalu. Sebuah kisah sedih tentang bapak tua dan sepeda onthelnya.

Segerombolan pemuda tanggung berkumpul di angkruk dekat perempatan, mereka bertaruh kecil-kecilan menebak setiap kendaraan yang melintas perempatan akan belok kiri, kanan atau lurus. Teriakan dan tawa kemenangan datang dari yang berhasil menebak benar, dan pisuhan kecil tak jarang muncul dari yang tebakannya lebih sering salah.

Dari jauh terlihat seorang bapak tua mengayuh sepedanya,berjalan lambat menuju perempatan. Para pemuda sudah bersiap dengan tebakannya masing-masing. Ketika sepeda itu semakin dekat ke perempatan dan tampak jelas siapa yang mengendarainya, para pemuda tersebut tertawa dan sepakat untuk membatalkan taruhannya.

Bapak tua ini adalah pengecualian untuk permainan tebak arah tersebut. Hampir semua orang kampung yang mengenal bapak tua ini tahu belaka jika bapak tua ini mengendarai sepeda pasti akan segera turun dan menuntun sepedanya saat bertemu dengan persimpangan -- entah itu pertigaan atau perempatan. Kemanapun arah yang akan diambil bapak tua ini; ke kiri, ke kanan, atau lurus beliau pasti akan turun dari sepeda dan menuntunnya.

Para pemuda tanggung tersebut lebih memilih sepakat untuk tidak menjadikan bapak tua yang senantiasa berhati-hati tersebut sebagai bahan taruhan. Memangnya apa yang mau dipertaruhkan kalau mereka semua akan serempak dengan jawaban yang sama.
"Turun."
Tak ada yang akan menjawab ke kanan, ke kiri, atau lurus. Setiap bapak tua ini lewat, taruhan akan dianggap seri.

Tentunya kita tidak bisa menganggap kondisi jalanan tahun 70-an sama dengan kondisi jalanan saat ini. Lebar dan kemulusan aspal sudah pasti berbeda. Pun dengan volume lalu lintas sudah pasti sudah jauh berbeda. Saat ini jalan sudah begitu lebar namun malah terasa begitu sesak oleh kendaraan yang melintas di atasnya. Mobil, motor, sepeda dan becak saling serobot mencari celah yang tersisa.

Para pengendaranya pun sudah berubah, di tiap persimpangan yang ada lampu lalu lintasnya dapat dipastikan terdengar ribut suara klakson, tak peduli lampu lalu lintas menyala apa. Anak-anak naik motor tanpa helm dan sesekali beratraksi menaikkan roda depannya di atas aspal jalan raya adalah hal yang semakin sering kita temui belakangan ini. Para pengguna jalan seolah hilang kehati-hatiannya.

Saya tidak sempat mengenal bapak tua yang senantiasa menuntun sepedanya saat bertemu dengan persimpangan. Hanya ceritanya yang saya dengar. Saya belum dilahirkan ke dunia saat bapak tua ini meninggal dunia. Bapak tua ini mati tertabrak motor saat sedang menuntun sepedanya melewati sebuah persimpangan.


Suatu Sore di Persimpangan

Sepeda motor itu melaju tepat di depanku. Kemungkinan penumpangnya adalah satu keluarga. Satu anak duduk di depan, dengan lelaki dewasa memegang setang, di belakangnya ada seorang anak lagi dan paling belakang adalah perempuan dewasa. Keempatnya tak satu pun yang mengenakan helm.

Pandanganku terpaku, tangan kanan perempuan dewasa tersebut memegang makanan dalam bungkus plastik dan tangan kirinya menyuapi mulut lelaki dewasa yang sedang memegang setang dengan satu tangan, dikarenakan tangan kirinya sibuk menahan polah bocah yang duduk di jok paling depan.

Luar biasa, hal semacam ini semakin sering aku temui di jalan raya. Sepertinya manusia semakin tergesa hingga abai pada keselamatan diri dan keluarganya dan juga tak sempat lagi makan dengan nyaman di rumah. Hingga jalan raya pun kini telah menjadi sebuah ruang makan yang teramat panjang.

Aku teringat kepadamu, yang selalu mengingatkanku agar tidak makan minum dengan tangan kiri. Beruntungnya diriku memilikimu.
Duh Gusti, jauhkan keluarga kami dari ketiadaan adab dalam perilaku kami sehari-hari.



Tubruk

Tubruk

Adalah kamu yang selalu sederhana apa adanya. Tak ada polesan kemewahan dan segala macam kepalsuan. Pahit yang teramat jujur adalah pesonamu yang begitu luhur.

Setiap kopi memiliki filosofinya sendiri. Selalu ada pilihan untuk dinikmati. Tubruk selalu mengingatkanku akan rumah, sedangkan kamu adalah alasan untuk segera pulang.