Menikmati Sajian Rumah Kopi Singa Tertawa

       Buku ini merupakan edisi kedua dari buku yang pertama terbit tahun 2011. Ada tambahan dua cerpen baru di edisi ini. Total ada dua puluh cerita pendek yang ditulis dari tahun 1989-2014 yang sebagian besar pernah dimuat di media massa dalam bentuk yang sama atau sedikit berbeda.

       Cerita-cerita yang dikisahkan sangat beragam. Kalau anda pernah membaca kisah Sungu Lembu dari buku Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi yang terkenal itu, anda akan diajak mengingat kembali petualangan tersebut. Selain itu anda juga akan menemukan obrolan dari meja ke meja di Rumah Kopi Singa Tertawa yang ternyata sangat menarik untuk dicermati hingga oleh penulis dibikin lagi versi 2.0-nya.

       Berbagai khazanah kebudayaan dunia disajikan di buku ini dengan sangat menarik, anda bisa merasakan kegalauan Togog yang nyaris putus asa karena mendapat tugas untuk menjadi Punakawan untuk para raksasa yang tak tahu aturan. Anda juga diajak untuk sedikit mengerti tentang sialnya kehidupan Durna yang sepanjang usianya selalu disalahpahami.  Bahkan anda akan mendapatkan cerita betapa menderitanya Kalagemet atau yang lebih dikenal  sebagai Jayanegara ketika dipantatnya tumbuh bisul yang membawanya kepada maut.

       Beberapa kisah akan membuat anda tertawa lepas, beberapa lagi akan membikin perasaan teriris pedih. Sesekali anda akan dibikin mentertawakan kesedihan, di halaman lain anda akan menangis gembira. Kematian, kemelaratan, kesialan, dan kegilaan mampu dikopyok menjadi kisah-kisah yang terlalu sayang untuk dilewatkan.


Kebahagiaan Warto Kemplung

       Hanya butuh dua kali waktu minum kopi untuk menyimak habis cerita Mat Dawuk yang dibawakan Warto Kemplung dengan begitu runut, seolah dia ikut terlibat dalam setiap adegan yang berlangsung.

       Warto Kemplung memang juara dalam bercerita. Semua orang mengenalnya sebagai pembual nomor wahid, setiap kali ia merasa malu untuk berhutang kopi dan rokok pada Yu Siti, maka bualannya akan menjadi senjata pamungkas untuk memperoleh kopi dan rokok secara cuma-cuma.

       Meskipun Iqbal Aji Daryono mengungkapkan bahwa Mahfud Ikhwan di masa lalu pernah dengan sinis mengatakan, “Juri kan punya subjektivitas masing-masing,” saya tetap yakin kemenangan Dawuk dalam Kusala Sastra Khatulistiwa ke-17 untuk kategori prosa merupakan bukti nyata kesaktian Warto Kemplung dalam mengolah bualan.

       Cerita ini saya lahap dengan begitu cepat, namun kata-kata Warto Kemplung akan saya ingat dalam rentang waktu yang panjang.
"Kebahagiaan itu seperti secangkir kopi. Semakin nikmat, ia semakin cepat habis."



Apa pun Bukunya, Mari Membaca

Ke mana pun saya pergi selalu ada buku yang menemani. Ke gunung, ke pantai, ke pos Satpam, juga ke warung kopi, minimal ada satu buku yang menemani. Kebiasaan yang kemudian selalu mendatangkan pertanyaan dari orang-orang, kenapa saya selalu membawa buku?
Saya sendiri tidak pernah menjawab serius pertanyaan tersebut, biasanya saya cuma menjawab, biar terlihat keren hehehe.

Hari ini saya memutuskan pergi tanpa membawa buku, berat memang meninggalkan buku-buku yang belum terbaca menumpuk di dinding kamar, apalagi saya selalu punya anggapan membiarkan buku tanpa dibaca adalah perbuatan kejam.

Pergi tanpa satu buku pun bukan berarti membuat saya berhenti membaca. Kebetulan di ruang penyimpanan gajet saya masih banyak e-book yang belum selesai saya baca. Ada perasaan ingin kembali bernostalgia membaca buku-buku digital.

Sekitar tahun 2009-2012 saya membaca buku-buku digital melalui telepon genggam Sony Ericsson K630i kesayangan. Telepon dengan OS Java dengan ukuran layar dua Inch tersebut saya pakai untuk membaca e-book berformat doc dengan menggunakan applikasi Operamini MOD. Serial Kho Ping Ho dalam format doc menjadi bacaan saya sehari-hari hingga kemudian saya menemukan jenis buku digital lain yang bisa dibaca di telepon Java dengan format Jar.

Adalah Aquasim, salah seorang wapmaster yang mengunggah buku-buku digital berformat Jar di situs wap-nya. Tetralogi Laskar Pelangi Andrea Hirata dan buku-buku Habiburrahman El Shirazy saya dapatkan dari situs wap tersebut.

Membaca buku digital dengan format Jar lebih nyaman dari pada doc, hal ini membuat saya mencari freeware untuk meng-convert pdf/doc/txt ke Jar. Satu freeware buatan Rusia saya dapatkan ---saya lupa namanya hehe--- dan mulailah saya mengumpulkan buku-buku berformat pdf/doc untuk kemudian saya convert ke Jar. Terkadang ada juga teman yang minta tolong mencarikan dan meng-convert buku dalam format Jar, percayalah saya melakukan semuanya dengan gratis tanpa imbalan.

Seiring dengan kemunculan android, mau tidak mau saya akhirnya mengganti telepon Java saya dengan android. Agak telat memang, karena saya memakai android pertama kali dengan versi Jellybean. Dengan layar yang lebih lebar dibanding K630i dan kemampuan membaca pdf tidak lantas membuat saya melanjutkan membaca buku-buku digital.

Di android yang pernah saya miliki selalu tersedia applikasi Mantano Reader untuk keperluan membaca buku digital. Buku-bukunya pun telah tersedia di ruang penyimpanan, namun minat membaca buku digital saya sudah terlanjur berganti ke membaca buku-buku cetak lagi.

Hari ini saya mencoba kembali menikmati buku-buku digital selama kepergian saya tanpa buku cetak. Mungkin tidak terlihat keren, namun pastinya akan menjaga kewarasan saya tetap berada di tempat yang semestinya.

Selamat membaca...


GANJIL-GENAP SEORANG LAKI-LAKI YANG KELUAR DARI RUMAH

     Semasa SMP saya pernah membaca cerita dari sebuah buku ---saya lupa judulnya--- yang di tiap akhir babnya memberikan pilihan kepada pembaca untuk melanjutkan membaca ke halaman tertentu. Pilihan pembaca berpengaruh pada alur dan akhir cerita dari sang tokoh utama. Seingat saya, dulu saya membacanya berkali-kali karena penasaran ingin tahu berapa banyak akhir cerita buku tersebut.

     Seorang Laki-laki yang Keluar dari Rumah lain lagi. Novel ini bisa dibaca dari bab bernomor ganjil dulu sampai tuntas, baru kemudian melanjutkan membaca bab bernomor genap. Kalau mau membacanya secara urut sebagaimana lumrahnya membaca sebuah novel pun tak mengapa. Entahlah, mungkin saja penulisnya terinspirasi dari peraturan ganjil-genap nomor kendaraan yang berlaku di jalanan ibu kota. Yang jelas, pilihan cara membaca novel ini akan menentukan dari mana sudut dan jarak pandang pembaca terhadap keseluruhan cerita.

      "Aku" di bab bernomor ganjil adalah "dia" di bab bernomor genap, sedangkan "aku" di bab bernomor genap tidak akan pernah ditemukan di bab bernomor ganjil. "Aku" di bab bernomor ganjil dan genap itu selanjutnya disebut Budiman dan Pandu. Bagi pembaca yang sejak lama mengikuti akun Facebooknya Puthut EA ---penulis novel ini--- tentu masih bisa mengingat kalau sebagian cerita yang ada di bab bernomor ganjil dulunya pernah dijadikan status di Facebook. Bisa dibilang sebagian "aku" di bab bernomor ganjil adalah penulis novel itu sendiri.

     Puthut EA memang terkenal piawai membumbui cerita. Sebuah peristiwa biasa saja, mampu diceritakannya kembali menjadi sebuah cerita yang menghibur. Beberapa tokoh dalam cerita ini benar-benar ada di dunia nyata. Dan saya pun percaya, sebagian peristiwa yang ada dalam novel ini sungguh-sungguh pernah terjadi. Beberapa obrolan di dalam novel ini sengaja dibiarkan menggantung, sehingga menjadi semacam pemantik bagi pembacanya untuk merenungkan dan menelaah kembali sebuah peristiwa yang pernah terjadi.

     Novel ini berakhir dengan banyak misteri yang dibiarkan begitu saja tanpa jawaban dan kejelasan. Pembaca tentunya bertanya-tanya siapa sebenarnya "sahabat" baik "aku" di bab bernomor ganjil. Mengapa pula Wasgik dan Paniyah hanya ada di bab bernomor genap? Dan yang paling membikin penasaran adalah tidak adanya jawaban yang jelas tentang alasan tusuk sate kambing yang selalu menempatkan gajih di urutan ketiga dari atas. Begitulah Puthut Ea.

     Tentu anda boleh saja sama sekali tidak membaca novel yang satu ini. Namun percayalah, sesungguhnya itulah golongan orang-orang yang merugi.



Kawan Reporo

               Sebuah paket aku temukan tergeletak di kamar siang tadi sepulang dari kerja. Melihat nama pengirim seketika aku tahu isi paket tersebut. Sebuah nama yang mengingatkanku pada sebuah aplikasi mobile chat berbasis Java yang bernama Reporo. Aku mengenal kawanku ini melalui Reporo sekitar awal tahun 2007. Dan jalinan pertemanan tersebut terus berjalan walaupun aplikasi yang menghubungkan kami sudah tidak lagi berfungsi.

               Meski sudah tahu pasti isi paket tersebut tetap saja keinginan untuk membukanya tak bisa aku tahan.
Jrengg... Tiga bungkus kopi Aceh dengan merek yang berbeda terpapar di depan mata. Udara siang tadi yang begitu panas dan kering mendadak terasa adem bagiku dan berharap hari segera gelap agar bisa kunikmati kopi-kopi ini.

               Baru saja aku tandaskan secangkir kopi darimu kawan. Harum kopinya mengingatkanku bahwa ngopi adalah kenikmatan bersama, ngopi bareng teman-teman dekat adalah sebuah kemewahan yang akhir-akhir ini jarang aku dapat. Ah...aku membayangkan nikmat ngopi bersamamu dan kawan-kawan Reporo Blang Bintang dimana ada Bang Rizal, Fadel, Nurul Fitri, juga Mule. Entahlah kapan bayangan itu akan terwujud. Semoga Tuhan memberikan jalan.

               Terimakasih kawan Mainazarli alias Jirigen untuk kopi yang engkau kirimkan, semoga aku bisa membalasmu dengan mengirimkan kopi yang membuatmu tak tidur semalaman karena memikirkan mantan.



                                      Kudus, 24 Agustus 2015


Ulid

               Terus terang ingatanku tidaklah panjang. Terlalu mudah lupa, utamanya untuk hal-hal yang aku lakukan di masa lampau. Hidupku memang terlalu biasa, jarang ada kejadian istimewa yang membekas dalam ingatan.

               Membaca Ulid seperti menarik pemicu ingatan di kepalaku. Segala yang gelap berangsur terang. Kejadian yang dialami Ulid kecil membuat aku mengingat apa yang pernah aku lakukan di masa lalu;

               Bermain gunung api dengan cara mengencingi batu gamping. Mogok tidak mau sekolah karena ngambek gara-gara guru sama sekali tidak menyebut namanya saat mengabsen seisi kelas. Pengalaman naik mobil angkutan umum dengan perasaan seolah pepohonan di sepanjang jalan seolah berkejaran mencoba menyusul mobil yang tetap saja tak terkejar. Mengganjal jemari kaki teman yang tertidur di masjid dengan batang korekapi yang sengaja dibawa dari rumah.

               Pengalaman-pengalaman masa kecil yang sempat terlupa itu kembali muncul saat membaca Ulid. Mungkin karena aku dan Ulid tumbuh dalam waktu yang sama, masa di mana sandiwara radio menjadi hiburan utama,  sehingga apa yang dialami dan dirasakan Ulid sempat juga aku alami dan rasakan.

               Kepada Ulid aku terikat, dan tak ingin selesai membacanya cepat-cepat. Aku ingin menikmatinya lebih lama. Membaca satu dua lembar halamannya, kemudian senyum-senyum sendiri teringat kejadian dan perasaan yang pernah terkubur teramat dalam.




                                      Kudus, 23 Agustus 2016


Syahbandar

               Masih ingat dengan syahbandar Tuban yang menjadi tokoh antagonis dalam novel ”Arus Balik”? Sebenarnya apa sih syahbandar dan sejak kapan profesi ini ada di Nusantara?

               G.J Resink dalam kajiannya yang berjudul "Abad-Abad Hukum Internasional di Indonesia" ("Euwen Volkenrecht in Indonesi√©") sedikit mengulas tentang profesi ini.

               Berikut ini penjelasan singkat G.J Resink tentang syahbandar yang bisa anda temukan di buku "Bukan 350 Tahun Dijajah" halaman 195-196:

"Sejauh yang sudah diketahui, syahbandar bertugas sebagai perantara antara para penguasa dengan orang-orang asing di Kepulauan Indonesia selama lebih dari tiga abad. Mereka ditugaskan untuk mewakili kepentingan orang-orang asing di hadapan penguasa lokal. Pada banyak kasus, mereka diberikan kewenangan hukum khusus terhadap para orang asing dan dapat membuat kontrak dengan mereka. Di Sumatera, orang-orang yang bertindak dalam kapasitas pertama ini sudah ada sejak masa Ibnu Batuta. Syahbandar yang bertindak sebagai hakim dengan yuridiksi terhadap orang-orang asing sudah disebutkan dalam abad ke-7 untuk Banten, Palembang, dan Kota Waringin. Mereka juga ditemukan sebagai perunding kontrak, baik pada masa lalu maupun beberapa tahun yang lalu. Pada abad ke-17, 'sabannara' di Makasar membuat kesepakatan dengan para pedagang Melayu. Pada 1876, seorang syahbandar di Langkat bersedia menandatangani kontrak dengan seorang Eropa yang berkaitan dengan pemberian konsesi hutan atas nama pangeran.
Sering kali, syahbandar sendiri adalah orang asing. Pada abad ke-17, seorang Gujarat menjadi syahbandar di Banjarmasin sementara orang-orang Cina menjadi syahbandar di distrik-distrik pesisir Jawa. Hingga 1850, terdapat syahbandar Bugis dari Bone di Teluk Kendari dan di sebelah utara Sulawesi. Duta besar ---syahbandar---- dari Aceh yang disebutkan sebelumnya adalah orang India."

               G.J Resink juga mengutip Schrieke yang menulis:

"...orang akan terkejut melihat fakta bahwa orang-orang asing sering kali memiliki posisi penting yang kurang lebih resmi---dengan berbagai gelar, sepertinya tergantung pada pengetahuan bahasa mereka, dan sebagainya---sebagai perantara antara pihak berwenang pelabuhan dengan para pedagang asing. Di Banten, sudah lama posisi tersebut diisi oleh seorang keling atau Gujarat dan nantinya seirang Cina; di Tuban adalah orang Portugis yang memeluk agama Islam; di Banjarmasin adalah seorang Gujarat; di Malaka Melayu adalah seorang Jawa dan seorang keling, di samping seorang syahbandar Gujarat."


Telembuk Sebuah Kisah yang Tak Pernah Selesai

Pertama kali saya menemukan nama Tumaritis sekitar tahun '90an dari komik Petruk bikinan Tatang S yang bercerita tentang pengalaman Petruk, Gareng, dan Bagong dengan segala jenis hantu yang menjadi teror di Tumaritis. Setelah sekian lama tak terdengar, Tumaritis kembali muncul dalam sebuah Novel karya Kedung Darma Romansha yang berjudul "TELEMBUK dangdut dan kisah cinta yang keparat".

Berbeda dengan komik Petruk, Telembuk tidak lagi bercerita mengenai hantu-hantu penasaran yang bergentayangan di Tumaritis. Adalah Diva Fiesta ---nama panggung dari Safitri--- bintang dangdut Organ Tunggal Langlang Buana yang tinggal di Tumaritis, dan memiliki profesi sampingan sebagai telembuk mencoba melanjutkan kisahnya yang tak selesai di novel "Kelir Slindet" ke dalam novel "Telembuk" ini.

Pembaca akan disuguhi cerita kehidupan masyarakat sekitaran Indramayu yang meliputi; Cikedung, Tumaritis, Terisi, Jenggleng dan juga hutan Sinang yang misterius itu. Sepanjang cerita alunan musik dangdut tarling terus terdengar, diselingi desah manja biduan dangdut yang menggoda. Udara yang pengap bercampur dengan wangi parfum murahan, keringat yang menyengat, dan bau alkohol akan menjadi latarnya. Dan tentunya lika-liku dan luka kehidupan telembuk akan menjadi sajian utama dalam novel ini. Semuanya terasa begitu nyata tanpa ada kesan mengada-ada.

Hal yang menarik dari novel ini adalah cara penyajiannya yang memberikan kebebasan cara pandang, sudut pandang, dan juga jarak pandang kepada pembacanya. Selain menghadirkan cerita dari seorang narator, pembaca juga bisa menikmati novel ini dari kacamata tokoh-tokohnya; Aan, Safitri, Govar, dan Mukimin.

Melalui narator ---di sini lebih senang disebut sebagai Mang Pencerita--- kisah ini disajikan dalam posisi netral. Tak ada penilaian moral apa pun, tidak menghakimi, membela, atau pun merayakan perilaku para tokoh dalam novel ini. Sedang melalui Aan yang tak lain adalah Mang Pencerita itu sendiri, pembaca akan dibawa lebih masuk ke dalam cerita dan pergulatan batin yang dialami oleh Aan selama menceritakan kisah ini. Pembaca diberi keleluasaan untuk memilih dari sisi mana mereka membaca novel ini. Mau menghakimi, menikmati, mengambil hikmah, atau sekedar mengamati, itu terserah pembaca.

Bagaimanapun, cerita tentang mereka yang terus bertahan meski kalah oleh takdir akan selalu ada, dan tak akan pernah selesai untuk diceritakan.


Reputasi, Masa Lalu, dan Harapan

Ketika reputasi dilihat dari cara seseorang menghadapi hal-hal besar di hidupnya, maka kegagalan-kegagalan yang saya alami saat menghadapi hal-hal besar dalam hidup saya di masa lalu sudah cukup untuk membuat saya disebut pecundang. Nyaris tak ada hal-hal besar yang mampu saya perbuat di sepanjang perjalanan hidup saya.

Karena selalu gagal dalam menghadapi hal-hal besar itulah, kemudian saya lebih memilih menghindari perkara-perkara besar. Selanjutnya dalam hidup, saya hanya mengerjakan hal-hal kecil. Dan selalu berusaha untuk memperoleh hasil yang terbaik dari hal-hal kecil yang saya hadapi tersebut. Setidaknya saya percaya, jika reputasi bisa dibangun dari cara seseorang menyelesaikan hal-hal kecil di dalam hidupnya.

Kegagalan dan kekalahan terus-menerus yang saya alami di masa lalu membikin saya tidak lagi pernah berani untuk bermimpi. Hidup saya sekedar untuk hari ini. Alih-alih mencoba menggapai impian, berpikir tentang esok hari saja saya tak berani. Seringkali saat ditanya apa rencana saya esok hari, saya selalu menjawab, ”Sesuk kok dipikir saiki, marai gering." Begitulah, saya tetaplah pecundang hingga hari ini.

Keseharian saya hanyalah usaha untuk menebus masa lalu saya yang selalu gagal dalam hal-hal besar. Saya menjadi terlalu sibuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang saya lakukan di masa lalu. Mungkin dengan begitu reputasi saya bisa dilihat lebih baik di masa yang akan datang. Semacam usaha merebut kembali masa lalu yang selalu dipecundangi, untuk kejayaan di masa depan.

Namun hari ini berbeda. Mendadak hari ini saya mempunyai impian, sebuah harapan tentang masa yang akan datang. Maka dari itulah, saya sempatkan menulis catatan ini sebagai penanda agar di kemudian hari saya tidak melupakan mimpi-mimpi hari ini.

Ada yang bilang, "Orang besar adalah mereka yang memiliki mimpi-mimpi besar." Tidak, saya tidak pernah memiliki keinginan menjadi orang besar. Impian saya hanyalah tentang keinginan untuk tinggal di sebuah rumah kayu di tepi danau ---- dengan pohon-pohon Ketapang rindang di tepiannya --- ditemani seorang istri yang berbudi dan anak-anaknya yang tahu akan bakti. Ah, sepertinya mimpi ini terlalu muluk buat saya yang hanya seorang buruh harian.

Namun kemudian saya mengambil simpulan bahwa impian tersebut bukanlah mimpi besar yang harus saya singkirkan. Saya menganggap impian tersebut sebagai mimpi yang membahagiakan, sehingga perlu untuk saya simpan sebagai harapan dan doa, dan juga patut untuk saya usahakan sepenuh hati agar menjadi kenyataan di kemudian hari.

Saya sadar, kebahagiaan hanyalah milik sebagian kecil dari mereka yang beruntung. Dan itu bisa terjadi pada siapa pun. Mungkin kelak, saya akan menjadi yang sebagian kecil itu. Semoga Tuhan mengizinkan.,


Kata Istana Tarif Listrik Tidak Naik

JAKARTA, KOMPAS.com - Istana membantah isu di masyarakat soal kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL).

"Tidak benar ada kenaikan tarif dasar listrik. Yang terjadi bukan seperti itu," ujar Kepala Kantor Staf Presiden Teten Masduki di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Senin (12/6/017).

Teten menjelaskan bahwa pemerintah mensubsidi dua kategori konsumen. Pertama, subsidi sebesar Rp 23,94 triliun kepada konsumen 450 VA.

Kedua, subsidi sebesar Rp 5,78 triliun kepada konsumen 900 VA.

Per 1 Januari 2017, PLN kemudian memindahkan sebagian besar konsumen 900 VA ke tarif non-subsidi.

Alasannya, banyak konsumen kategori itu yang ternyata berasal dari ekonomi menengah ke atas.

"Setelah TNP2K bersama PLN memeriksa di lapangan 'by name by address' memang sebagian besar dikategorikan sebagai keluarga yang mampu dan tidak layak mendapatkan subsidi. Subsidi itu bukan untuk orang mampu," lanjut Teten.

Teten memberikan contoh, konsumen 900 VA yang dialihkan ke tarif non-subsidi, misalnya mereka yang memiliki usaha dan memiliki kost-kostan, rumah mewah dan memiliki lebih dari satu kendaraan pribadi.

Oleh sebab itu, konsumen yang kini merasa membayar listrik lebih mahal dari biasanya, berarti mereka dikategorikan sebagai keluarga mampu.

"Berdasarkan laporan yang saya terima, pihak PLN kan sudah mensosialisasikan kebijakan itu ke konsumen yang dialihkan ke tarif non-subsidi. Jadi seharusnya itu sudah tersosialisasi dengan baik," ujar Teten.

Di sisi lain, jumlah konsumen listrik 450 VA yang tetap mendapatkan subsidi mengalami kenaikan signifikan.

Data per Juni 2017, jumlah konsumen di kategori itu adalah 23,1 juta konsumen. Kenaikan jumlah konsumen itu karena program pemerintah yang menyasar daerah-daerah yang selama ini tak dialiri listrik.

"Intinya, di satu sisi kalangan ekonomi mampu dipindahkan ke tarif listrik non-subsidi, tapi penerima subsidi listrik di Indonesia semakin banyak," kata Teten

sumber: http://nasional.kompas.com/read/2017/06/12/11471891/istana.tidak.benar.ada.kenaikan.tarif.dasar.listrik
_________________
Alhamdulillah ya, listrik nggak naik, cuma subsidinya saja yang dicabut. Bukan naik tarifnya, catat ya, kalau pengeluaran buat bayar listrik per bulan menjadi dua kali lipat itu bukan karena tarif listrik naik. Pengeluarannya saja itu yang naik. Ya, yang sebelumnya ada jatah buat nyenengin anak jajan eskrim sama coklat ya bisa diganti dengan "horog-orog" atau "gendar". Atau yang biasanya setahun bisa piknik dua kali bisa dijadwal ulang menjadi dua tahun sekali. Ya, buat tambah-tambah kebutuhan bayar listrik yang katanya nggak naik itu.

Alhamdulillah pemerintah "apikan", kami dianggap keluarga menengah ke atas jadi berhak dicabut subsidi listriknya. Rumah mewah kami yang seukuran empat kali dua belas meter di dalamnya terdapat dua buah kendaraan pribadi: satu Supra X keluaran 2004 --- yang mesinnya mengeluarkan bunyi "kemrasak" minta jatah turun mesin dan belum juga kesampaian --- dan satu motor Cina berjudul Minerva. Karena parameter itulah kami dapet anugerah dari pemerintah untuk bayar listrik dua kali lipat dari biasanya dan bebas dari menerima subsidi.

Di rumah memang nggak ada anak-anak yang harus dibelikan "horog-orog" atau "gendar". Pun sudah berpuluh tahun tak pernah terjadi yang namanya piknik bersama di keluarga kami. Alhamdulillah, sekarang ini bapak-ibu yang sama-sama sudah tidak bekerja tetap bisa menikmati nasi yang dari hari ke hari semakin tidak putih dan wangi lagi. Dan kalau lagi beruntung malah bisa menemukan kerikil di antaranya. Alhamdulillah, beliau-beliau di sisa usianya masih sanggup makan lauk yang semakin keras dan menghitam karena lebih sering digoreng dengan jelantah, yang seringnya bikin serak tenggorokan "sepuh" mereka.

Kami harus bersyukur dan berterima kasih pada pemerintah yang dengan segala kebaikannya menaikkan golongan kami menjadi golongan menengah ke atas. Kami harus bersuka bersama merayakan kebebasan kami dari menerima subsidi listrik yang seharusnya diterima oleh mereka-mereka golongan miskin.

Dan bila membayar tagihan listrik non-subsidi ini pada akhirnya memberatkan kami, semoga saja PLN datang mengulurkan bantuan dengan memberikan paket penghematan bagi kami. Semoga PLN lebih sering mati, agar kami para pengguna listrik lebih bisa menghemat pengeluaran kami. Kira-kira tiap pukul 18.00-06.00 PLN mengalami listrik padam dalam satu minggu empat kali kan ya lumayan buat menghemat pengeluaran.

Jadi rakyat itu yang "manut" sama pemerintah, nggak usah kebanyakan protes. Pokoknya maha benar pemerintah dengan segala keputusannya gitu lho!
Saat ini mungkin memang belum saatnya Negara memakmurkan seluruh warga negaranya, setidaknya rakyat masih bisa mensejahterakan pemerintahnya.
"Dak ngono a"?


Activity Log

Tahukah anda kalau segala tindakan yang anda perbuat di Facebook selalu tercatat di activity log? Anda menekan tombol like, memberi komentar, membagikan status, membagi tautan, membagi kenangan, menyunting profil, dan segala macam aktifitas lainnya akan direkam oleh mesin data dan disimpan oleh Facebook. Bahkan Facebook juga menghitung jumlah like yang diterima oleh sebuah akun.

Kalau Facebook saja mampu mencatat segala macam kegiatan yang anda lakukan di Facebook, bagaimana mungkin anda tidak mengimani dua Malaikat yang senantiasa mencatat amal baik dan buruk yang anda lakukan?

Kemampuan Facebook merekam data itu tentu bukanlah apa-apa bila dibandingkan dengan kuasa Tuhan. Facebook sekedar merekam data yang ada, mesin data tersebut tak akan pernah tahu apakah like yang anda berikan sekedar basa-basi atau benar-benar karena menyukai sebuah status. Bisa jadi like yang anda berikan itu karena ketidaksengajaan jempol anda menyentuh tombol like.

Facebook tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya ada di dalam hati dan pikiran anda. Anda bebas saja membuat status berbahagia meskipun pedalaman anda sedang merana. Atau anda juga bisa pura-pura move on padahal anda sebenar-benarnya anggota laskar sayang mantan.

Bagaimana anda berani mengaku mengimani dua malaikat yang menyertai anda, sedangkan perbuatan yang anda lakukan setiap hari sekehendak hati seperti tak ada yang mengawasi?

Apakah anda lupa bahwa Tuhan mengetahui apa yang tersembunyi di hati anda?

Status dan kiriman anda bisa menuai banyak like dan berbagai macam reaksi lainnya, tanpa pernah Facebook bertanya dari mana anda mendapatkannya. Tapi Tuhan tahu, status anda itu jiplakan belaka.



Agen Rahasia

Malam itu saya memberikan gambaran kepada Aqila dan Aliqa perihal kegiatan Yuk Main yang akan mereka ikuti untuk pertama kalinya. Saya jelaskan kalau mereka cuma perlu datang, bermain, dan bergembira bersama teman-teman yang lain. Harapan saya mereka bisa segera membaur dengan yang lain, bagaimanapun saya tidak bisa terus bersama mereka karena saya juga diminta buat bantu foto-foto dokumentasi kegiatan Yuk Main.

Aliqa lanjut ngobrol dengan saya, sedangkan Aqila tertidur sambil membawa pertanyaan apakah benar Dinosaurus adalah nenek moyang ayam?

Pertanyaan Aliqa terus berlanjut, hingga dia kembali bertanya tentang pekerjaan saya.

"Berarti pekerjaan Om banyak ya, yang pertama Satpam, kedua tukang foto, ketiga...."

"Eh, eh, bukan begitu Dek." Segera aku memotong pernyataan Aliqa.

"Kok bukan? Yang bener gimana sih Om?"

"Gini lho Dek, pekerjaan Om yang sebenarnya itu rahasia. Kalau Om jadi Satpam, tukang foto, tukang listrik, penjual vcd bajakan, dan yang lainnya itu cuma penyamaran Om saja."

"Halah, jangan main rahasia Om!"

"Hahaha, kamu tak kasih tahu pekerjaanku yang sebenarnya tapi rahasia lho, tidak boleh bilang siapa-siapa?"

"Janji Om, Liqa tidak akan bilang siapa-siapa." Jawab Aliqa dengan wajah berseri.

"Jadi pekerjaan Om yang sebenarnya itu menjadi agen rahasia Dek, makanya Om sering nyamar dan punya banyak pekerjaan. Tugasnya agen rahasia itu menjaga kedamaian di muka bumi."

"Ooo, capek dong Om?"

"Yaa capek Dek, yang paling capek itu ya harus merahasiakan siapa sebenarnya Om ini. Orang lain tidak boleh tahu apa pekerjaan Om."

"Oooo...." Aliqa menjawab pelan dengan mata tertutup, tak lama kemudian dia tertidur menyusul Aqila yang tengah bermimpi makan Dinosaurus crispy.

Untunglah Aliqa percaya kalau saya ini seorang agen rahasia. Kalau sampai Aliqa tahu saya ini Renjer biru, bisa repot saya karena pasti mereka berdua akan minta untuk menunggang Megazord.


Senja Tak Pernah Tahu

Pernahkah aku bercerita kepadamu tentang perempuan muda yang selalu aku temukan berkeliaran di dermaga pantai Kartini pada sore hari? Sepertinya belum, jadi biarlah aku ceritakan kisah ini kepadamu kali ini.

Perempuan itu masih muda, aku yakin usianya belumlah menginjak dua puluh lima. Wajahnya mirip denganmu, juga tinggi badan dan bentuk tubuhnya. Dia selalu mengenakan kemeja lebar berwarna pastel dipadu dengan rok panjang berwarna gelap dan kerudung berwarna hitam.

Setiap sore pukul lima dia selalu berjalan mondar-mandir​ sepanjang dermaga sambil tersenyum kepada setiap orang yang ditemuinya. Didekapnya erat sebuah buku gambar ukuran A2 dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menggenggam sekotak pensil warna.

Saat senja datang, dia langsung duduk mencangkung di pinggiran dermaga sambil memandang ke arah matahari tenggelam. Dibukanya lembar kosong halaman buku gambarnya. Dan garis demi garis pensil warna mulai dia goreskan ke lembar kertas gambar yang ada di pangkuannya.

Aku selalu senang mengintip perempuan muda itu menggambar, pertama-tama selalu dia menggambar horison. Batas antara permukaan laut dan langit dibikinnya dengan garis-garis yang tegas. Tak butuh waktu lama untuk menyaksikan dia menyelesaikan gambar tersebut menjadi sebuah gambar senja yang indah.

Tapi perempuan muda itu tidak berhenti di situ. Seiring senja yang mulai tenggelam dalam gelap, perempuan muda itu mulai menggoreskan pensil warnanya yang sewarna malam. Gambar senja yang awalnya begitu indah, kini menjadi gelap menghitam. Langit dan laut sama-sama pekat tanpa cahaya, semacam terselubungi asap hitam yang menghalangi pandangan.

Perempuan muda itu menutup lembar buku gambarnya, membereskan pensil warnanya ke dalam kotak, kemudian melangkah pulang dengan wajah tertunduk menahan kesedihan. Tak ada lagi senyum untuk setiap orang yang ditemuinya seperti saat hari masih terang.

Beberapa kali aku mencoba mengajak perempuan muda itu berbincang. Dari mulutnya langsung, aku tahu dia bernama Senja. Dan tiap kali kutanya, mengapa dia tiap sore pergi ke dermaga, selalu saja aku mendapatkan jawaban yang sama. ”Menunggu Lintang pulang." katanya.

Dari penduduk sekitar dermaga aku mendapatkan keterangan. Sudah dua tahun Senja selalu datang ke dermaga saat sore pukul lima. Hanya hujan yang menghalangi Senja datang ke dermaga.

Dua tahun lalu, Lintang ---kekasih Senja--- meninggalkan dermaga pantai Kartini untuk pulang ke Karimunjawa, memohon restu ayah-ibunya untuk melamar Senja. Sayang di tengah perjalanan, kapal motor yang ditumpangi Lintang terbakar. Lima orang meninggal dunia, dan Lintang tak pernah ditemukan.

Sejak saat itulah Senja selalu datang setiap sore pukul lima dan menggambar di dermaga. Menunggu Lintang pulang. Sayang Senja tak pernah tahu, ada satu bintang yang menyala terang saat senja mulai hilang. Ah, betapa kehilangan selamanya tak pernah mudah.




Prison Break Season 5

Setelah seremoni pemakaman Michael Scofield yang menjadi akhir dari Prison Break season 4 (2008), tidak pernah terlintas dalam benak saya untuk menyaksikan kelanjutan serial Prison Break berikutnya. Namun kejutan itu muncul di bulan April 2017, ketika Fox merilis Prison Break Season 5.

Untuk satu season film seri, season 5 ini tergolong pendek. Hanya ada 9 episode --- biasanya  22 episode --- dan season 5 berakhir sudah. Tak ada harapan berlebih dari saya untuk menyaksikan season 5 ini menjadi sesuatu tayangan yang luar biasa. Sepenuhnya dari awal episode saya menyadari kalau season 5 ini sekedar sesi reuni bagi para pemeran Prison Break di season sebelumnya.

Usaha menghidupkan lagi Michael Scofield yang telah mati di season sebelumnya bukanlah sesuatu yang mengejutkan dan sangat biasa terjadi dalam sebuah serial. Tak ada kejutan-kejutan berarti yang terjadi dalam 9 episode season 5 ini. Bangunan dan alur cerita terasa dangkal, sangat jauh bila dibandingkan dengan Prison Break Season 1 (2005) yang penuh ketegangan dan intrik yang memikat. Satu hal yang menarik dari cerita di season 5 ini adalah ternyata T-Bag memiliki seorang anak.

Kaniel Outis (Scofield) lebih sering terlihat gugup saat mengatasi masalah. Jauh berbeda dari karakter Scofield sebelumnya yang selalu mempunyai rencana dan begitu menguasai situasi. Scofield selalu terselamatkan hanya karena dia seorang  lakon, bukan karena kemampuan intelegensinya yang luar biasa. T-Bag juga kurang mendapatkan tempat di season ini, kekejamannya nyaris tidak terlihat. Kellerman agen federal yang njelehi itu cuma kebagian beberapa episode sebelum mati. C-Note dan Sucre juga sekedar tampil di beberapa episode.

Selain muka-muka lawas muncul kembali, kehadiran Whip dan Poseidon sebagai tokoh anyar cukup memberikan warna baru di season 5. Lokasi cerita yang berpindah-pindah dari USA, Yaman, Yunani dan Perancis juga menjadi warna tersendiri. Sebagai serial reuni saya cukup menikmati season 5 ini, namun untuk sebuah season dari Prison Break terus terang gregetnya masih kurang.

Sementara ini saya belum mendapatkan informasi apakah Fox akan melanjutkan serial ini, atau cukup berhenti sampai di sini.


Sumber gambar: FP Prison Break

Jangan Jadi Pahlawan

Sama saja. Menjadi orang baik atau pahlawan itu tidak pernah lama bergembira. Sepanjang hidup hanya ada derita dan perjuangan yang teramat melelahkan. Masa bahagia cuma sebentar dalam adegan sebelum mati, atau beberapa menit sebelum kemunculan credits

Lihat saja Charles, atau yang lebih dikenal sebagai Profesor X yang sedari muda dengan kecerdasaannya selalu berusaha berbuat kebaikan untuk umat manusia. Masa akhir hidupnya dilalui dengan penuh penderitaan dan kesedihan. Padahal keinginan pribadinya itu begitu sederhana, sekedar tidur nyaman di rumah bersama anggota keluarga. Sepintar apa pun dirinya, tak kan pernah ia sanggup mengubah dunia sendirian.

Logan juga sama. Pahlawan yang begitu dipuja banyak orang itu nyatanya sepanjang usianya hanya berisi luka, amarah dan rasa takut kehilangan orang-orang yang ada di sekitarnya. Melihat orang-orang yang dicintai pergi dan mati memang tak pernah mengenakkan. Jadi tidaklah mengherankan kalau menyaksikan Logan yang begitu berbahagia saat ia mati meninggalkan orang-orang yang dibelanya. Selesai sudah amarah, rasa takut dan kesendirian yang membayangi seumur hidupnya.

Satu-satunya pahlawan yang enak hidupnya cuma pahlawan kesiangan. Pahlawan yang lain sudah berpeluh perjuangan, dia masih enak-enakan tidur. Giliran bangun semuanya telah berakhir. Kalau anda hanya mau hidup enak, jangan pernah berkeinginan menjadi pahlawan. Jadi politisi saja atau bila perlu jadilah pahlawan kesiangan.


Gigiku Sehat

Minggu, 16 April 2017, komunitas Yuk Main mengadakan playdate batch 11 dengan tema Gigiku Sehat. Acara yang dimulai pukul 08.00 WIB di Taman Ganesha Purwosari Kudus ini diikuti oleh 20 anak dengan rentang usia 3-6 tahun.

Cuaca pagi yang cerah semakin menghangat saat playdate batch 11 ini dibuka dengan kegiatan senam, tepuk-tepuk, dan nyanyi-nyanyi bersama.

Setelahnya giliran drg. Akmalia Rosyada memberikan penjelasan kepada para peserta tentang perlunya menjaga kesehatan gigi. Dengan menggunakan alat peraga dijelaskan juga mengenai makanan yang baik untuk pertumbuhan gigi anak, juga makanan yang buruk buat gigi.

Anak-anak tidak cuma diberikan penjelasan tentang cara menyikat gigi yang baik dan benar. Mereka diberikan kesempatan untuk praktek menyikat gigi dengan menggunakan alat peraga sekaligus diperkenalkan dengan struktur gigi anak-anak.

Acara dilanjutkan dengan permainan untuk anak-anak, dan untuk orangtua peserta melanjutkan berkonsultasi dengan drg. Akmalia tentang kesehatan gigi anak-anak mereka.

Anak-anak dikumpulkan dalam empat kelompok untuk kemudian satu persatu diminta memilih gambar makanan yang disukai. Setelah berlari mengelilingi sisi luar salah satu plaza di taman Ganesha, anak-anak memasuki plaza untuk menempelkan gambar yang dipilih sebelumnya ke gambar gigi besar yang sedang tersenyum atau gigi besar yang sedang sedih.

Untuk gambar makanan yang sehat bagi pertumbuhan gigi anak ditempelkan pada gambar gigi yang sedang tersenyum. Sedangkan untuk gambar makanan yang tidak baik untuk gigi ditempelkan pada gambar gigi yang sedang sedih.

Setelah segar berkeringat bermain bersama, anak-anak berkumpul kembali dengan orangtua mereka untuk bersama-sama melakukan kegiatan selanjutnya. Orangtua dan anak-anak saling bekerjasama membikin sate buah dengan dibantu para pegiat Yuk Main beserta relawannya.

Sesi selanjutnya adalah foto-foto bersama anak-anak di photobooth yang telah disiapkan oleh pegiat Yuk Main. Di lokasi juga tersedia bazar "Kurma" yang menjual berbagai boneka jari dan gantungan kunci yang hasil penjualannya didonasikan untuk kegiatan santunan bulan Ramadhan yang akan datang.

Kegiatan terakhir adalah pertunjukan sulap yang meskipun agak sedikit molor dari jadwal yang telah ditentukan, namun tetap mampu menghadirkan kegembiraan untuk para peserta playdate Yuk Main.

Di mana lagi anda bisa mendapatkan paket; belajar, bermain dan bergembira bersama keluarga beserta orang-orang tercinta kalau bukan di Yuk Main?

Supaya tidak ketinggalan playdate-playdate Yuk Main berikutnya, silakan saja dipantengin itu FPnya Yuk Main atau akun Instagramnya @yukmainkudus.


Ikan Kecil dan Motivator

Sudah dua kali saya membeli beberapa ekor ikan jenis ini (lihat gambar) --- di kios penjual ikan hias dekat rumah --- untuk mengisi kolam kecil yang ada di depan rumah. Kolam saya memiliki pancuran air yang mengucur masuk ke dalam kolam, sehingga menimbulkan bunyi gemericik dan riak-riak kecil di permukaan airnya.

Hari pertama masuk kolam, ikan-ikan ini menunjukkan perilaku yang membahayakan keselamatan dirinya. Saat tepat di bawah pancuran air, ikan-ikan ini akan menyelam sampai dasar kolam, kemudian melesat naik melompat melewati permukaan air kolam. Dan kalau lesatannya kuat, tubuh ikan-ikan ini sanggup melenting melewati bibir kolam untuk kemudian mendarat di luar kolam, mengering, lantas digotong serombongan semut bila tidak konangan.

Terus terang saya curiga. Jangan-jangan ikan-ikan kecil ini pada saat masih tinggal di aquarium kios penjual ikan hias, setiap harinya selalu dicekoki ceramah motivasi dari radio yang didengarkan oleh pemilik kios.

"Teruslah semangat, jangan menyerah. Bangkit dan jangan takut untuk keluar dari zona amanmu. Raih impianmu."

Begitulah, ikan-ikan ini memasuki kolam saya dengan optimisme yang tinggi dan bertekad untuk keluar dari zona amannya. Gelembung dan riak air di permukaan yang dibarengi suara gemericik mungkin disangkanya sebagai kebahagiaan yang diimpi-impikan. Melompatlah ikan-ikan ini dari zona aman untuk kemudian mendarat di tempat kering.



Sumber gambar: google.com

Pengantar

Seseorang secara diam-diam memilah dan memilih beberapa tulisan di blog ini dan kemudian mencetaknya menjadi sebentuk buku.

Hari ini buku tersebut saya terima dengan penuh rasa haru, ternyata ada juga yang membaca tulisan-tulisan di blog ini. 

Terbayang oleh saya betapa ribetnya proses terbentuknya buku tersebut, apalagi seluruhnya dikerjakan olehnya seorang diri. 

Kalau saya tentu tak akan pernah sanggup membuatnya seorang diri. Mendesain sampul, membuat layout hingga menjilidnya menjadi sebentuk  buku adalah hal-hal yang tak pernah terlintas dalam benak saya. 

Satu hal yang menjadi catatan saya setelah membaca buku tersebut adalah agar saya segera mengedit ulang beberapa tulisan di blog ini yang banyak mengalami kesalahan bentuk penulisan. 

Isi buku tersebut diambil langsung dari blog ini tanpa mengalami proses penyuntingan ulang. Hanya beberapa font yang diubah tanpa sedikit pun mengubah isi. Jadi segala kesalahan bentuk penulisan adalah murni kesalahan dari saya yang kurang begitu menguasai tata bahasa penulisan yang baik dan benar. 
Mohon untuk dimaklumi dan semoga menjadi pembelajaran yang baik buat saya. 

Untuk segala upaya dan pengorbanan hingga terbentuknya buku yang saya terima hari ini, saya hanya mampu mengucap terima kasih. 


Tuhan Bersama Mereka

Mereka adalah anak-anak luar biasa, di sebuah Sekolah Luar Biasa, dengan guru-guru dan para pembimbing yang tentunya juga luar biasa.

Karena setiap anak dengan kebutuhan khusus, memiliki hak untuk mendapatkan tumbuh kembang yang baik, baik di tengah keluarga, masyarakat dan negara.

Mereka tidak butuh dikasihani, yang mereka butuhkan adalah kesetiaan seorang teman, sedikit lebih banyak perhatian, dukungan perilaku yang positif dan juga pendidikan yang adaptif --- yang memudahkankan mereka menyerap pelajaran --- serta pendidikan yang sifatnya kolaboratif dimana pembelajaran dirancang secara khusus untuk merespon kebutuhan anak-anak dengan melibatkan tenaga pendidik, orang tua, para ahli dan juga masyarakat.

Hari ini mereka belajar mengenal empon-empon, aneka rempah dan bermacam bumbu dapur dengan cara mengenali bentuk, rasa dan juga baunya. Bergantian anak-anak ini mengantri dengan tertib untuk mengenali jahe, kencur, kunyit, kunci, lengkuas, sereh, cengkeh, bawang merah, cabai, daun jeruk, ketumbar, merica dan masih banyak yang lainnya.
Setelahnya anak-anak ini menyiapkan bekas gelas plastik air mineral untuk dihias dengan selotip kemudian mengisinya dengan tanah dan mencoba menanam satu jenis empon-empon yang mereka pilih.

Mungkin saja suatu hari nanti anak-anak ini tidak akan setenar Marlee Matlin ataupun Stevie Wonder, mungkin juga tidak akan menjadi legenda seperti Ludwig Van Beethoven, dan mungkin mereka tak seajaib Jessica Cox dan Helen Keller. Yang pasti, kelak anak-anak ini nantinya akan menjadi "seseorang".
Yah, namanya juga mungkin, siapa tahu kelak salah seorang dari anak-anak ini malah melampaui orang-orang terkenal yang saya sebut sebelumnya.
Bagaimanapun Tuhan bersama mereka.




[draft] Pesan Untuk Kenang

Nang,
Kalau kamu jatuh cinta, jangan pernah menyerah berusaha.
Seberat apapun halangannya, yakinlah kamu akan mendapatkannya.

Bergurulah pada Bandung Bondowoso, ikutilah jejak Sangkuriang yang tak pernah berhenti sebelum janjinya terpenuhi.

Teruslah setia menepati janji, meskipun kesetiaanmu pada cinta dikhianati.
Sungguh, kehormatan lelaki lebih abadi daripada luka dan pedih yang akan punah dimampus waktu.

Aku tahu Nang, kamu akan selalu menjaga kehormatan lelaki.
Karena kamu keturunan kaum yang selalu menepati janji.

Kudus, 19 Februari 2017 


Ilustrasi : Pinterest

Main Yuk Bersama Yuk Main

Siang itu cuaca lumayan cerah, sesekali mendung menggayut namun tiupan angin cukup kencang untuk menyisihkan awan hitam menyingkir dari kawasan Jati, Kudus.

Bersama rombongan relawan Yuk Main saya mendatangi posko banjir yang bertempat di Balai Desa Jati Wetan Kudus. Hari itu Rabu 15 Februari 2017, komunitas Yuk Main Kudus akan mengadakan kegiatan trauma healing untuk anak-anak pengungsian korban banjir.

Informasi awal yang saya dapatkan bahwa bakti sosial tersebut merupakan kerja bareng dari beberapa komunitas yang ada di Kudus. Adapun Yuk Main mendapat tugas untuk menghibur anak-anak di pengungsian, rencananya mereka akan membuat prakarya topeng-topeng binatang dari art foam.

Saya sendiri bukanlah anggota dari salah satu komunitas-komunitas tersebut. Saya berada di sana karena disambat salah seorang founder Yuk Main untuk membantu angkat angkut barang serta mendokumentasikan kegiatan Yuk Main.

Sebenarnya agak wagu juga kalau saya mendapat tugas jadi tukang dokumentasi, mungkin dalam bayangan anda saya menenteng kamera DSLR atau semacamnya. Boro-boro DSLR kamera saku saja saya tak punya. Gacoan buat poto-potonya cuma gajet bikinan Tiongkok dengan resolusi kamera cuma 8MP. Hahaha lantas gambar macam apa yang bisa anda harapkan dari perangkat yang saya miliki, kalau bukan dokumentasi yang seadanya saja.

Pukul 14.00 saya dan rombongan relawan Yuk Main tiba di lokasi. Kebetulan kedatangan kami berbarengan dengan rombongan Komunitas JCI Kudus yang juga hadir memberikan donasi untuk korban banjir. Di dalam lokasi ternyata anak-anak sudah duduk rapi, salah satu relawan Yuk Main hadir lebih awal, dan sudah menyempatkan diri menyapa anak-anak korban banjir. Acara dilanjutkan dengan menyanyi dan senam bersama.

Sesi menyanyi dan senam segera diambil alih oleh para relawan Kudus Mengajar, sementara relawan Yuk Main mempersiapkan tempat untuk bermain craft membuat topeng dari art foam. Saya sendiri bergerak mengamati sekeliling sambil sesekali mengambil gambar dengan perasaan was-was akan hasil tangkapan kamera saya, karena lokasi yang berada di dalam ruangan dengan pencahayaan yang tidak rata.

Tempat dan perlengkapan untuk sesi Yuk Main sudah siap, anak-anak dibentuk dalam beberapa kelompok duduk melingkar 6-8 anak menghadapi alat dan bahan kerajinan tangan dengan dibantu minimal 2 relawan untuk tiap kelompoknya. Teman-teman dari Kudus Mengajar dan juga beberapa Polwan dari Polres Kudus yang berjaga di posko juga turut membantu kegiatan ini.

Untuk mendokumentasikan kegiatan ini mau tak mau saya harus ikut membaur bersama anak-anak tersebut. Saya sepenuhnya sadar dengan keterbatasan perangkat yang saya pakai. Sesekali memberi semangat kepada anak yang kesulitan mencetak pola, atau menggunting pola yang sudah jadi, sambil memotret diam-diam anak-anak yang sedang tekun mengerjakan kerajinannya.

Interaksi dengan anak-anak pun segera tersambung dengan obrolan-obrolan ringan.

"Rumahmu mana dek?“

"Gendok."

"Kamu kelas berapa?"

"Kelas dua kak."

“Di sini sama siapa?"

"Bapak, ibuk dan Adik kak."

"Di rumah biasanya ngapain dek?"

“Nonton TV."

"Pernah main kayak gini nggak?"

"Nggak pernah kak."

"Kamu seneng nggak main bikin topeng gini?"

"Seneng Kak, besok ke sini lagi ya main sama-sama lagi."

"Wah kalau besok nggak janji deh hehehe."

"Halah kak, pokoknya besok ke sini lagi ya. Ini topengku nanti mau tak kasihkan adekku kak."

"Wah pinter kamu sama adek, udah itu dibikin yang bagus topengnya, hati-hati guntingnya."

Tak terasa hari mulai sore, sesi untuk Yuk Main telah selesai. Bantuan-bantuan berdatangan dari komunitas-komunitas yang ada di Kudus. Saya mengenali beberapa diantaranya ada dari Berbagi NasiOmah Aksi, juga ada bantuan dari alumni sebuah sekolah menengah pertama di Kudus, dan dari beberapa organisasi dan komunitas lain yang belum saya ketahui.

Hasil gambar yang saya bikin untuk dokumentasi kegiatan Yuk Main di posko banjir Balai Desa Jati Wetan Kudus telah saya unggah di sini. Beberapa diunggah di FP Yuk Main, dan juga di Instagram @yukmainkudus.

Mungkin di sana ada gambar anda, gebetan anda, atau bahkan mantan anda yang tak terlupakan. Saya bebaskan untuk diunduh asal jangan untuk maksud-maksud yang tidak baik. Kalau cuma sekedar untuk memandang gambar mantan, its oke wae lah.

Wedang Kobokan

Seiris jeruk nipis. 

Mengapung bersama air hangat di dalam baskom, 
di dalam gelas, 
atau mengapung bersama hangat seduhan air teh di dalam cangkir. 

Kobokan, 
wedang jeruk, 
lemon tea, 
apa pun sebutannya. 

Karena wadah nama dapat berubah.

Menjadi kobokan tidak membuat seiris jeruk nipis menjadi nista. 

Ia tetap bekerja,
mencuci tangan-tangan kotor berbau amis, 
melarutkan segala minyak, lemak, dan juga daki. 

Menjadi wedang atau kobokan, 
cuma tentang ke wadah mana ia kecemplung. 


Dongeng Koalisi Macan III

Di dalam gua yang berada di bagian timur hutan Tanjung, pulau Halimunda, Macan sedang merenungkan koalisinya yang nyaris bubar. Sanca sudah tidak bersedia lagi diajak berburu bersama, sedangkan Rubah sudah tinggal nama mengisi daftar korban keganasannya. Hanya tinggal Ajak yang masih loyal dalam koalisi dan selalu siap diajak berburu bersama.

Macan mengundang Ajak untuk datang ke guanya. Tingkat keberhasilan berburu mereka berdua sangat rendah belakangan ini. Sepertinya mereka akan berganti strategi. Apalagi Macan memang sudah mulai malas berlari.

"Hei Ajak, sudah ada hewan lain yang mau bergabung dengan koalisi kita?"

"Sementara ini belum ada, tuan."

"Ya sudah, teruslah kau cari hewan-hewan yang bisa diandalkan untuk berburu, bujuk supaya mereka mau bergabung dengan koalisi kita. Terus-terusan begini bisa mati kelaparan aku, berburu denganmu gagal melulu."

"Siap tuan Macan."

"Aku lapar, sepertinya sedap ini kalau kita menyantap otak domba muda. Kau bawalah domba muda masuk ke dalam gua ini, terserah kau punya cara. Pokoknya siang ini aku harus makan otak domba muda yang nikmatnya tiada dua itu."

"Baik tuan Macan, akan saya bawakan domba muda untuk tuan."

Ajak meninggalkan gua dengan batin rusuh, ingin ia meninggalkan koalisi Macan seperti yang dilakukan Sanca, namun Ajak-Ajak gerombolannya belumlah kembali ke hutan Tanjung. Bagaimanapun ia tak mau nasibnya seperti Rubah yang menjadi menu santapan Macan.

Seekor Domba muda baru saja selesai melepas dahaga di pinggir telaga saat Ajak berjalan gontai dengan ekornya terjulur lemas di antara dua kaki belakangnya. Domba muda langsung siaga, diamatinya sekeliling, kalau cuma Ajak seekor Domba muda tidaklah takut menghadapinya. Akan jadi masalah buat Domba muda bila Ajak datang bersama gerombolannya yang selalu main keroyokan. Tak dilihatnya tanda-tanda gerombolan Ajak, cuma seekor saja yang datang. Domba muda kembali tenang.

Raut muka Ajak langsung cerah saat menemukan Domba muda di sekitar telaga, didekatinya Domba muda dengan langkah wajar tanpa memperlihatkan satu ancaman.

"Wah, kebetulan sekali aku menemukan kau di sini Domba muda. Ada hal penting yang akan aku sampaikan."

Domba muda menatap Ajak dengan curiga.

"Hal penting apa yang kamu bawa? Rasanya aku tak punya urusan denganmu. Jangan mencoba macam-macam, tandukku cukup kuat untuk aku adu ke tubuhmu."

"Ah, Domba muda yang perkasa. Mana aku berani macam-macam dengan kau. Bagaimanapun engkau adalah calon penerus penguasa hutan Tanjung ini."

"Hei Ajak, apa maksud perkataanmu itu?“

"Perlu kau ketahui, aku memang tengah mencari engkau karena membawa wasiat dari tuan Macan yang sedang sekarat. Beliau meminta kehadiran kau untuk datang ke gua Macan karena engkau akan diangkat sebagai penerus tuan Macan sebagai penguasa hutan Tanjung ini."

"Jangan main-main kau Ajak, bagaimana mungkin Macan memilihku jadi penguasa hutan Tanjung?"

“Aku tidak main-main Domba muda yang perkasa. Dalam sakitnya tuan Macan mendapatkan bisikan gaib agar memilih engkau jadi penguasa hutan Macan. Ayolah buktikan sendiri, aku temani ke gua Macan. Kalau tidak engkau buktikan sendiri mana pernah engkau tahu kebenarannya."

Domba muda berpikir sejenak. Kemudian ia memutuskan untuk membuktikan perkataan Ajak. Berdua mereka berjalan menuju gua Macan dengan perasaan senang yang berbeda. Domba senang karena akan jadi penguasa hutan Tanjung, dan Ajak yang senang akan mendapatkan mangsa.

Di depan gua Macan, Ajak dan Domba muda berhenti. Ajak berseru mengabarkan kehadiran mereka kepada Macan.

"Lapor tuan macan, Domba muda telah hadir. Mohon ijin untuk menghadap."

Terdengar auman dari dalam gua yang membuat kaki-kaki Ajak dan Domba muda gemetar. Diikuti dengan suara Macan yang memerintahkan Domba muda supaya cepat memasuki gua.

Dengan hati-hati Domba muda memasuki mulut gua, dua kupingnya naik tanda sedang waspada. Dari kegelapan gua terlihat dua mata Macan tampak menyala bergerak cepat ke arahnya. Domba muda langsung balik arah, berlari ke luar gua secepatnya. Sambaran cakar Macan mengenai kuping kanannya, perih terasa namun itu tak menghentikannya untuk terus berlari secepat mungkin meninggalkan gua Macan.

Ajak yang menunggu di luar gua terkejut melihat Domba muda yang melesat cepat berlari meninggalkan gua. Dari dalam gua Macan yang kehilangan mangsanya mengaum murka.

"Bodoh kau Ajak, kenapa kau biarkan Domba muda yang lezat itu lolos ha? Lekas bawa kemari kalau kau tak ingin tubuhmu aku cabik-cabik menjadi menu makan siangku."

Secepat peluru Ajak berlari meninggalkan gua. Terbayang lagi olehnya saat Macan mencabik-cabik tubuh Rubah dengan sadisnya. Ajak mencoba mengendus jejak pelarian Domba muda. Tetesan darah dari kuping Domba muda membikin Ajak lebih mudah menemukan Domba muda.

Di padang rumput bagian utara hutan Tanjung akhirnya Ajak menemukan Domba muda yang terluka kupingnya. Domba muda seketika mengamuk saat melihat kedatangan Ajak. Coba diseruduknya Ajak sekuat tenaga. Namun Ajak gesit mengelak dari serangan Domba muda.

"Woi woi sabar Domba muda yang perkasa, aku ke sini dengan damai, sabar jangan ngamuk."

"Keparat kau Ajak, ternyata kau menjebakku untuk kau jadikan makan siang Macan."

"Wah wah wah, engkau salah paham Domba muda. Sayang engkau terlalu bodoh dan penakut. Padahal tadi tuan Macan akan membisiki kau tiga mantra penakluk hutan, engkau malah lari ketakutan. Kalau cuma ingin memangsa engkau, tak perlulah tuan Macan mengundang kau ke dalam guanya. Kalau tuan Macan memburu kau ke sini, engkau bisa apa coba?“

"Keparat, kau mau membodohiku lagi hah?“

"Terserah kau Domba muda yang perkasa. Kalau kau pintar tentunya kau akan percaya kepadaku dan akan mengikuti aku kembali ke gua Macan. Ketahuilah, tuan Macan memaafkan engkau yang katakutan dan tetap akan menyerahkan kekuasaan hutan Tanjung kepada engkau. Tapi kalau kau tidak percaya padaku ya sudah, tanggung sendiri akibatnya kalau tuan Macan berubah pikiran."

Ajak berlalu meninggalkan Domba muda di padang rumput seolah ia tak memiliki kepentingan apa pun. Domba muda kembali bingung memikirkan perkataan Ajak dan kejadian yang menyebabkan telinga kanannya berdarah. Tak berapa lama Domba muda berlari ke arah Ajak pergi sambil berteriak.

"Aku ikut!"

Kini Ajak dan Domba muda sekali lagi berada di depan gua Macan. Domba muda yang masih dirundung ketakutan meminta Ajak menemaninya masuk ke dalam gua Macan. Berdua mereka melangkah pelan memasuki gua. Macan terlihat duduk bermalas-malasan di atas tumpukan jerami kering. Domba muda tetap waspada namun tak terlihat ancaman di matanya.

"Mendekatlah Domba muda yang perkasa, akan aku bisikkan padamu tiga mantra penakluk hutan. Kemarilah, jangan takut."

Domba muda begitu tersanjung dipanggil Macan sebagai Domba muda yang perkasa. Pelan-pelan ia mendekati Macan. Dalam hatinya ia ingin menjadi penguasa hutan Tanjung menggantikan sang Macan. Tak dilihatnya gerakan mencurigakan dari Macan dan Ajak. Didekatkannya telinganya ke mulut Macan, tak pernah seumur hidupnya begitu dekat dengan Macan. Kemudian semuanya menjadi gelap untuk Domba muda. Tengkuknya remuk bersimbah darah dalam cengkraman mulut Macan. Riwayat Domba muda usai sudah.

"Hahaha benar-benar perburuan yang mudah, mari nikmati daging Domba muda ini Jak."
Kata Macan berbasa-basi.

"Silakan tuan Macan menikmati, saya belakangan saja."

Macan kemudian mencincang bangkai Domba muda menjadi setumpuk daging.

"Aku minum dulu ke telaga Jak, kau tunggu daging ini. Awas jangan sampai hilang."

"Percayakan kepada  saya tuan." jawab Ajak.

Begitu Macan meninggalkan gua, Ajak langsung membongkar kepala Domba dengan hati-hati. Dikeluarkannya otak Domba, dan segera dimakannya bagian terenak dari Domba muda tersebut. Kemudian dirapikannya kembali tumpukan daging Domba muda tersebut seperti sedia kala.

Saat Macan kembali dari telaga diperhatikannya tumpukan daging tersebut. Tak terlihat ada yang kurang. Teringat ia akan keinginannya menyantap otak Domba muda, matanya melotot saat tak menemukan otak dalam kepala Domba muda.

"Hei kau Ajak, berani sekali kau mencuri Otak Domba mudaku?"

"Ampun tuan Macan, mana berani saya melakukannya."

"Kalau bukan kamu yang mencurinya, lantas kenapa kepala Domba muda ini tak ada otaknya?“

"Beribu ampun tuan Macan, sepertinya Domba muda itu memang tak punya otak. Kalau dia memiliki otak tentunya dia tak akan dua kali secara sukarela memasuki gua Macan."

"Hahahaha benar juga katamu Jak, sudah ambil bagianmu dan lekas pergi. Aku mau menikmati daging ini sendiri."

"Terima kasih tuan Macan, kebetulan saya masih kenyang. Daging Domba mudanya untuk tuan Macan saja. Saya mohon diri."

Dengan langkah tenang Ajak meninggalkan gua Macan. Nikmat otak Domba muda segar sudah cukup untuk mengganjal perutnya sampai malam nanti.

Dongeng Koalisi Macan II

Koalisi Macan berkumpul lagi, mereka mengadakan konsolidasi untuk mengadakan perburuan bersama jilid II. Kali ini Sanca tidak hadir dengan alasan menghadiri pernikahan saudara di hutan sebelah. Alasan sebenarnya sih karena Sanca masih kecewa dengan cara pembagian daging buruan yang dilakukan Macan di perburuan pertama.

Rubah bersedia melanjutkan koalisi dengan syarat bahwa nantinya hasil buruan dibagi dengan adil seadil-adilnya. Ajak mengikuti keputusan Rubah, tak ada pilihan lain bagi Ajak selain bergabung dengan koalisi Macan --- ia tak pernah melakukan perburuan sendiri --- sedangkan kawanan Ajak yang lain belum kembali ke hutan Tanjung.

Macan menerima syarat yang diajukan Rubah, dan di sinilah mereka sekarang. Di padang rumput yang terletak tak jauh dari telaga di bagian utara hutan Tanjung Pulau Halimunda. Mereka berpencar di tiga penjuru, mengepung wilayah padang rumput. Mereka mengincar empat ekor Kambing yang sedang merumput menikmati sarapan. Macan, Rubah dan Ajak sabar mengintai, keempat Kambing tersebut masih dalam formasi siaga. Keempatnya merumput dengan posisi saling membelakangi, sehingga gerakan mencurigakan dari empat penjuru dapat segera terdeteksi.

Dari empat ekor Kambing tersebut satu ekor berwarna hitam, sedang tiga lainnya berwarna coklat dengan sedikit aksen putih di perut dan punggungnya. Keributan kecil terjadi di antara mereka saat mereka mulai membicarakan perbedaan warna bulu mereka. Kambing hitam merasa dialah Kambing terbaik di pulau Halimunda. Bulunya hitam mengkilat tanpa noda, dan tubuhnya lebih besar dari tiga kawannya.

Tiga Kambing coklat mulai jengah kepada Kambing hitam. Apalagi Kambing hitam mulai merendahkan tiga Kambing coklat, dengan terus menerus menyinggung warna bulunya yang coklat dekil dan bentuk badan yang pendek. Tiga Kambing coklat memutuskan untuk menyudahi sarapan dan meninggalkan Kambing hitam sendirian di padang rumput. Sebenarnya mereka belumlah cukup kenyang, namun mereka sudah tidak tahan dengan mulut si Kambing hitam. Kini Kambing hitam merumput sendirian di padang rumput, ia tak pedulikan teman-temannya yang beranjak pergi.

Tiga pengintai bersorak riang dalam hati menyaksikan Kambing hitam yang tertinggal sendiri. Setelah tiga Kambing coklat dipastikan menjauh dari padang rumput, tiga hewan pemburu ini serentak merayap diam-diam mendekati Kambing hitam dari tiga penjuru.

Ajak yang lebih dulu mendekati lokasi Kambing hitam, bersiap ia ambil ancang-ancang menyerang sambil menunggu aba-aba penyergapan dari Macan. Terdengar auman keras Macan, Ajak langsung melompat menerjang kaki belakang Kambing hitam, digigitnya erat kaki itu seolah tak akan dilepaskan. Kambing hitam mencoba meronta melepaskan diri dari gigitan Ajak, namun dari arah depan Rubah menerjang menggigit kaki depan Kambing hitam. Robohlah Kambing hitam di rerumputan, belum juga ia berpikir untuk bangkit, taring-taring tajam Macan menancap di tengkuk Kambing hitam. Perburuan selesai sudah, Kambing hitam tak akan lagi pulang.

"Hei Rubah, bagi daging Kambing ini dengan adil seadil-adilnya untuk kita bertiga, seperti maumu," kata Macan kepada Rubah sambil mengelap mulutnya yang berlumur darah.

Rubah segera mencabik-cabik daging Kambing, sedangkan Ajak diam memperhatikan. Oleh Rubah daging Kambing tersebut dibagi menjadi tiga tumpukan yang sama banyak. Tanpa banyak kata Rubah mengambil bagian satu tumpuk daging dan berbalik meninggalkan Macan dan Ajak.

Belum juga sampai dua langkah Rubah meninggalkan lokasi pembagian daging, Macan melompat menerkam menggigit tengkuk Rubah dan langsung mencabik-cabik tubuh Rubah menjadi daging cincang. Ajak diam menahan nafas, hampir copot jantungnya. Tak diduganya akan begitu mengenaskan nasib yang menimpa Rubah.

"Sudahlah jangan cuma bengong. Lekas gabungkan itu daging Rubah dengan daging Kambing. Kemudian bagi dengan adil seadil-adilnya untuk kita berdua," kata Macan kepada Ajak yang masih gemetar terbengong-bengong.

Ajak kemudian mengumpulkan seluruh daging Rubah dan Kambing. Ditumpuknya menjadi satu bagian besar daging tersebut dan didorongnya ke arah Macan, sedangkan untuknya hanya setumpuk tulang dengan sedikit daging.

Macan tersenyum melihat cara Ajak membagi hasil buruan. Kemudian Macan berkata "Apakah pembagian ini sudah adil Jak? Dan apa sebab engkau membagi seperti ini?"

“Ini sudah benar Tuan, yang saya lakukan adalah karena saya belajar dari masa lalu dan juga belajar dari nasib yang menimpa Rubah," jawab Ajak yang segera menyambar bagiannya yang sedikit kemudian berlari sekencangnya menjauhi Macan.



Dongeng Koalisi Macan

Pagi itu berkumpul empat hewan buas di depan gua hutan Tanjung yang ada di pulau Halimunda. Mereka adalah Macan, Rubah, Sanca, dan Ajak. Keempatnya bersepakat untuk membentuk satu koalisi perburuan. Sanca mendesis membisikkan rencananya menyergap Menjangan saat minum di telaga siang nanti.

Matahari sudah mulai tinggi. Masing-masing anggota koalisi sudah menempati lokasi yang direncanakan Sanca untuk menyergap Menjangan. Ajak kebagian tugas untuk menyerang saat Menjangan melepas dahaga di telaga. Dari tempatnya bersembunyi, Ajak diam memantau situasi. Bagaimanapun ini pengalaman pertama Ajak berburu bersama hewan lain, biasanya ia berburu bersama kawanannya sendiri. Ia tak ingin gagal kali ini.

Seekor Menjangan muda melangkah ringan menuju telaga. Telaga begitu sepi, Menjangan menaikkan telinganya memastikan situasi, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Merasa aman, ia bergerak pelan ke pinggir telaga. Sekali lagi menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum bibirnya dijulurkan untuk meminum air telaga. Baru satu tegukan air membasahi kerongkongannya, Menjangan merasakan ada gerakan dari arah kiri, terkesiap ia melihat seekor Ajak yang merangsek menuju ke arahnya. Dengan cepat Menjangan melompat dan berlari diikuti Ajak yang mulai menyalak mengabarkan perburuan telah dimulai.

Kaki-kaki ramping Menjangan membuatnya mampu bergerak lincah di dalam hutan Tanjung. Sesekali Menjangan menoleh ke belakang melihat Ajak yang terus saja menyalak biarpun langkahnya makin tertinggal. Menjangan merasa tenang karena yang mengejarnya cuma seekor Ajak. Beberapa purnama sebelumnya ia berhasil lolos dari sekawanan Ajak yang memburunya. Menjangan yakin setelah satu tikungan di depan, Ajak tersebut akan kehilangan jejaknya.

Sampai di tikungan kejutan menanti Menjangan. Belum sempat ia berbelok seekor Rubah menerkam punggungnya. Menjangan menjatuhkan diri bergulingan hingga cengkeraman Rubah lepas dari punggungnya. Dengan membawa pedih di punggungnya Menjangan berlari diikuti Rubah dan Ajak yang kini tepat di belakangnya. Menjangan mulai panik karena di depan hanya ada padang ilalang. Kalau ia berlari ke sana tak ada tempat sembunyi buatnya.

Menjangan memutuskan untuk berlari menuju lembah, untuk mencapainya ia harus melalui satu celah sempit. Ajak terus mengejar sambil menyalak, Rubah pun terlihat begitu semangat memburu, air liur menetesi taringnya terbayang empuk gurih daging Menjangan. Keduanya tak mau melepaskan buruan mereka yang telah terluka.

Celah sempit menuju lembah sudah terlihat, Menjangan menambah kecepatannya. Tiba-tiba nyeri terasa di pangkal paha kanannya. Sanca menggigit pangkal pahanya dan bersiap untuk membelit tubuhnya. Menjangan menjungkalkan tubuhnya ke depan dengan gerakan yang seperti tidak di sengaja, namun itu sudah cukup untuk membuat Sanca kehilangan momentum untuk membelit tubuh Menjangan. Segera Menjangan bangkit dan dengan kedua kaki depannya ia menginjak tubuh Sanca, hingga Sanca terpaksa melepaskan gigitan di paha kanan kaki belakang Menjangan.

Menjangan kembali berlari mencoba menyelamatkan diri. Di depan celah sempit sudah ada Ajak yang menyalak semakin galak, sedangkan di belakangnya Rubah menggeram siap menerkam, sedangkan Sanca sudah kembali siaga. Ke arah padang ilalang Menjangan itu berlari diikuti tiga pemburunya yang saling tersenyum penuh arti.

Ilalang yang tinggi membuat Menjangan kesulitan melihat. Yang ia lakukan cuma berlari ke depan secepatnya. Menjangan tahu tepat dibelakangnya ada Rubah, Ajak, dan Sanca yang bersiap menyantapnya. Dalam panik pelariannya, Menjangan tak menyangka Macan menerkamnya langsung dari arah depan. Menjangan terjatuh dan mencoba bangkit lagi, namun Macan lebih sigap. Sekali lompatan digigitnya tengkuk buruannya. Menjangan roboh tak lagi merasakan apa-apa.

Empat anggota koalisi perburuan telah berkumpul di depan tubuh Menjangan yang tak lagi bergerak. Bagaimana daging hasil buruan itu akan mereka bagi, itulah yang kini jadi masalah. Sampai kemudian Macan berkata:
"Untukku seperempat bagian saja, bagilah yang adil sama rata."
Rubah kemudian menguliti bangkai Menjangan itu dan membagi dagingnya menjadi empat bagian.

Macan kemudian mendekati keempat gundukan daging tersebut. Matanya nyalang menatap tiga teman berburunya. Sambil menggeram Macan berkata:
"Seperempat bagian untukku karena akulah raja hutan ini. Seperempat bagian lagi untukku karena aku yang mendirikan koalisi perburuan ini. Sedangkan yang seperempat bagian lagi adalah hakku karena aku yang merobohkan Menjangan ini hingga tak berdaya. Untuk yang seperempat bagian terakhir, aku ingin tahu adakah diantara kalian bertiga yang berani mengambilnya?"

Ajak langsung membalikkan badan berjalan dengan langkah lemas diikuti Rubah dan Sanca. Masing-masing mengumpat dalam hati.
"DASAR PENGUASA."



Bapak Tua dan Sepeda Onthelnya

Mungkin anda pernah mendengar kisah yang akan saya ceritakan ini. Bisa jadi kakek, budhe, bulik, emak, bapak atau tetangga anda pernah menceritakannya. Kisah ini terjadi di kampung saya lebih dari 40 tahun yang lalu. Sebuah kisah sedih tentang bapak tua dan sepeda onthelnya.

Segerombolan pemuda tanggung berkumpul di angkruk dekat perempatan, mereka bertaruh kecil-kecilan menebak setiap kendaraan yang melintas perempatan akan belok kiri, kanan atau lurus. Teriakan dan tawa kemenangan datang dari yang berhasil menebak benar, dan pisuhan kecil tak jarang muncul dari yang tebakannya lebih sering salah.

Dari jauh terlihat seorang bapak tua mengayuh sepedanya,berjalan lambat menuju perempatan. Para pemuda sudah bersiap dengan tebakannya masing-masing. Ketika sepeda itu semakin dekat ke perempatan dan tampak jelas siapa yang mengendarainya, para pemuda tersebut tertawa dan sepakat untuk membatalkan taruhannya.

Bapak tua ini adalah pengecualian untuk permainan tebak arah tersebut. Hampir semua orang kampung yang mengenal bapak tua ini tahu belaka jika bapak tua ini mengendarai sepeda pasti akan segera turun dan menuntun sepedanya saat bertemu dengan persimpangan -- entah itu pertigaan atau perempatan. Kemanapun arah yang akan diambil bapak tua ini; ke kiri, ke kanan, atau lurus beliau pasti akan turun dari sepeda dan menuntunnya.

Para pemuda tanggung tersebut lebih memilih sepakat untuk tidak menjadikan bapak tua yang senantiasa berhati-hati tersebut sebagai bahan taruhan. Memangnya apa yang mau dipertaruhkan kalau mereka semua akan serempak dengan jawaban yang sama.
"Turun."
Tak ada yang akan menjawab ke kanan, ke kiri, atau lurus. Setiap bapak tua ini lewat, taruhan akan dianggap seri.

Tentunya kita tidak bisa menganggap kondisi jalanan tahun 70-an sama dengan kondisi jalanan saat ini. Lebar dan kemulusan aspal sudah pasti berbeda. Pun dengan volume lalu lintas sudah pasti sudah jauh berbeda. Saat ini jalan sudah begitu lebar namun malah terasa begitu sesak oleh kendaraan yang melintas di atasnya. Mobil, motor, sepeda dan becak saling serobot mencari celah yang tersisa.

Para pengendaranya pun sudah berubah, di tiap persimpangan yang ada lampu lalu lintasnya dapat dipastikan terdengar ribut suara klakson, tak peduli lampu lalu lintas menyala apa. Anak-anak naik motor tanpa helm dan sesekali beratraksi menaikkan roda depannya di atas aspal jalan raya adalah hal yang semakin sering kita temui belakangan ini. Para pengguna jalan seolah hilang kehati-hatiannya.

Saya tidak sempat mengenal bapak tua yang senantiasa menuntun sepedanya saat bertemu dengan persimpangan. Hanya ceritanya yang saya dengar. Saya belum dilahirkan ke dunia saat bapak tua ini meninggal dunia. Bapak tua ini mati tertabrak motor saat sedang menuntun sepedanya melewati sebuah persimpangan.


Suatu Sore di Persimpangan

Sepeda motor itu melaju tepat di depanku. Kemungkinan penumpangnya adalah satu keluarga. Satu anak duduk di depan, dengan lelaki dewasa memegang setang, di belakangnya ada seorang anak lagi dan paling belakang adalah perempuan dewasa. Keempatnya tak satu pun yang mengenakan helm.

Pandanganku terpaku, tangan kanan perempuan dewasa tersebut memegang makanan dalam bungkus plastik dan tangan kirinya menyuapi mulut lelaki dewasa yang sedang memegang setang dengan satu tangan, dikarenakan tangan kirinya sibuk menahan polah bocah yang duduk di jok paling depan.

Luar biasa, hal semacam ini semakin sering aku temui di jalan raya. Sepertinya manusia semakin tergesa hingga abai pada keselamatan diri dan keluarganya dan juga tak sempat lagi makan dengan nyaman di rumah. Hingga jalan raya pun kini telah menjadi sebuah ruang makan yang teramat panjang.

Aku teringat kepadamu, yang selalu mengingatkanku agar tidak makan minum dengan tangan kiri. Beruntungnya diriku memilikimu.
Duh Gusti, jauhkan keluarga kami dari ketiadaan adab dalam perilaku kami sehari-hari.



Tubruk

Tubruk

Adalah kamu yang selalu sederhana apa adanya. Tak ada polesan kemewahan dan segala macam kepalsuan. Pahit yang teramat jujur adalah pesonamu yang begitu luhur.

Setiap kopi memiliki filosofinya sendiri. Selalu ada pilihan untuk dinikmati. Tubruk selalu mengingatkanku akan rumah, sedangkan kamu adalah alasan untuk segera pulang.