Terlambat

           Lagi-lagi aku menengok arloji di tangan kiriku, waktu menunjukkan pukul tiga belas kurang sepuluh menit. Hari ini aku masuk shift siang, artinya pukul empat belas aku sudah harus berada di lokasi kerja. Telepon genggamku masih diperbaiki Nawawi, tukang servis gajet langgananku. Keputusan harus aku buat sekarang juga, menunggu telepon genggam itu selesai diperbaiki atau aku tinggal saja supaya aku tidak terlambat masuk kerja lagi.


            Nawawi masih sibuk menjumper jalur yang ambrol ketika aku memutuskan untuk menunggu telepon genggam itu sampai selesai diperbaiki. Aku perkirakan tak butuh waktu lama bagi Nawawi untuk memperbaikinya. Dan aku rasa masih ada cukup waktu buatku untuk tidak terlambat masuk kerja, dengan catatan aku tidak mandi dan juga harus melupakan makan siang yang terlalu banyak memakan waktu.

            Butuh lima belas menit bagi Nawawi untuk menjumper jalur yang ambrol, ia mengeluhkan kondisi matanya yang mulai susah untuk melihat detil yang terlalu kecil dan rapat. Dengan bantuan kaca pembesar ia berhasil membuat jalur baru. Kemudian hanya butuh lima menit untuk merakit telepon genggam itu kembali utuh. Sepintas lalu telepon genggam itu terlihat normal saat dinyalakan, aku putuskan mengecek ulangnya nanti saja saat di tempat kerja. Tergesa aku membayar ongkos perbaikan kemudian pamit, aku mulai kehabisan waktu.

            Segera aku starter motor meninggalkan rumah Nawawi, sekeluar dari gang laju sepeda motor aku tingkatkan. Bagaimanapun aku tidak boleh terlambat hari ini. Tahu sendiri kan, upah buruh seperti aku ini tak seberapa. Kalau terlalu sering terlambat terlalu banyak bonus premi yang harus terbuang dipotong manajemen. Sebisa mungkin jangan sampai terlambat agar upah yang diterima tetap utuh. Biarpun besarnya premi tak seberapa namun terlalu sayang untuk terbuang percuma karena terlambat masuk kerja.

            Jarak dari rumah Nawawi menuju pulang tidaklah jauh, sekira menghabiskan sepuluh menit untuk sampai rumah. Arus lalu lintas siang ini sepertinya tidak mendukungku, terlalu padat dan semrawut. Udara lembab menguarkan hawa panas yang membuat para pemakai jalan ingin segera sampai tujuan menyingkirkan gerah yang melanda. Aku pun sama, ikut tergesa dalam kesemrawutan yang ada. Dalam pikiranku aku harus segera sampai rumah, mandi, ibadah Dhuhur, memakai seragam, dan berangkat kerja. Pukul empat belas adalah tenggat waktunya.

            Sepeda motor aku pacu di kecepatan maksimal delapan puluh kilometer per jam. Aku berkendara tepat di tengah marka jalan sambil terus mencari celah untuk dapat melaju secepat mungkin. Rumah sudah dekat, pusat kemacetan juga sudah aku lewati. Di depanku tampak pengendara matic berjalan canggung, melaju pelan tepat di tengah jalan. Aku putuskan melebar ke tengah untuk menyalip matic tersebut dari arah kanan. Dan saat tepat aku ada di belakangnya mendadak matic tersebut menyalakan sein ke kanan dan semakin melebar ke tengah memaksaku menghindar semakin ke kanan. Dari arah depan tanpa aku sadari ada dua buah motor sport berkejaran melaju dengan kecepatan tinggi. Aku tepat berada di tengah marka saat motor sport yang di depan berpapasan denganku. Di sebelah kiriku matic canggung itu terus melebar ke kanan, sedang motor sport yang ada di belakang bergerak melebar menuju ke arahku. Menghindar ke kiri atau ke kanan tidak lagi ada celah buatku, sedang menambah kecepatan sudah tidak lagi memungkinkan. Aku hanya bisa menginjak tuas rem sekerasnya sambil menekan rem tangan. Roda belakangku bergoyang kencang ke kiri dan ke kanan.

            Seketika hening menyelimutiku, tak ada deru suara kendaraan tiada pula suara tumbukan. Aku menoleh ke belakang, matic itu tetap canggung berjalan di tengah dengan pelan, terlihat ragu antara mau menyeberang atau tidak. Dua motor sport yang berkejaran dan berpapasan denganku tidak terlihat sama sekali. Aku berkendara dengan pelan sambil bersyukur kepada Tuhan, meskipun aku sama sekali tidak tahu bagaimana ceritanya aku bisa terhindar dari tabrakan.

            Ayahku tertidur di ruang tamu saat aku memasuki rumah, jam dinding di atasnya menunjukkan pukul tiga belas lebih dua puluh dua menit. Aku segera menuju dapur untuk mengambil minum, menenangkan degup jantungku yang berdetak tidak beraturan. Di kamarnya aku melihat ibu tidur dengan lelap, segera aku menuju kamar mandi, bersih bersih badan secepatnya kemudian bersuci untuk menunaikan Dhuhur yang belum aku tunaikan. Segera setelah mengenakan seragam Satpam dengan segala perlengkapannya, aku meninggalkan rumah dengan tergesa, kedua orang tuaku masih lelap di tempatnya masing-masing.

            Seperti saat pulang dari rumah Nawawi, sepeda motorku langsung aku kendarai dengan kecepatan maksimal menuju tempat kerja. Beruntunglah aku karena aku berhasil sampai tepat waktu, mesin absensi menunjukkan aku hadir lima menit lebih awal dari waktu yang ditentukan. Langsung aku menuju Pos yang menjadi tempat tugasku, berserah terima tugas dengan petugas pagi dan memastikan keadaan aman serta barang inventaris tetaplah lengkap.

            Seperti biasa aku memulai kerja dengan mengatur tugas masing-masing anggotaku, kemudian mengecek tiap-tiap pos yang berada dalam wilayahku, memastikan kehadiran tiap-tiap personel dan kesiapan dalam menghadapi tugas. Mendengar laporan dan keluhan para anggota, tentang tugas yang mereka jalani, tentang banyaknya undangan yang mereka terima, tentang si Makruf rekan mereka yang sering kali terlambat dan kalau istirahat terlalu lama, atau juga tentang angsuran yang mereka bayar tiap minggunya.

            Di tiap pos yang aku datangi selalu ada laporan yang aku terima, ada yang harus aku tampung dan ada pula yang cukup sekedar aku dengar. Beberapa laporan aku teruskan kepada pimpinan, termasuk surat ijin dari para anggota yang berencana tidak masuk kerja. Selain pekerjaan yang sifatnya administratif, aku juga diharuskan terjun langsung ke lapangan. Saat hari beranjak sore aku bergeser ke perempatan untuk melakukan pengaturan lalu lintas di jalan yang dilalui karyawan dan karyawati sepulang kerja.

            Selepas Maghrib aku kembali ke Pos penjagaan, sebentar lagi jam tutup kantor dan seperti biasa harus ada petugas yang memastikan keadaan aman. Di sela kesibukan setelah Isya aku sempatkan mengecek kondisi telepon genggamku yang siang tadi diperbaiki Nawawi. Proses pengisian baterainya yang semula tidak bekerja telah normal kembali. Sempat aku kepikiran untuk menceritakan pengalamanku nyaris celaka tadi siang di status Facebook, namun urung aku lakukan. Waktu bergerak cepat, tak terasa sudah pukul sepuluh malam. Setelah melakukan serah terima tugas dengan petugas malam tiba waktunya untuk aku pulang.

            Kali ini aku pulang tidak dengan tergesa, aku nikmati perjalananku menuju rumah. Bagaimanapun kejadian siang tadi mengingatkanku untuk lebih bersabar dan berhati-hati. Lima belas menit kemudian sampailah aku di rumah, entah mengapa di depan rumahku terang benderang ada tratak dan kursi serta banyak tetangga layaknya ada melekan. Pikiran buruk melandaku, “siapa yang mati?”

            Para tetangga tak mempedulikanku, di dalam rumah tak kutemukan ayah dan ibuku. Meja, kursi, televisi dan perabotan yang biasanya ada di ruang tamu telah dikeluarkan semua. Hanya ada dipan kosong di ruang tamu. Aku mencoba bertanya kepada para tetanggaku tak satupun yang menjawab, mereka seperti sedang menunggu sesuatu. Tak sampai lima menit datanglah sebuah mobil jenazah, serentak tetanggaku berdiri sebagian meminggirkan kursi, sebagian menghampiri ke tempat mobil jenazah berhenti. Ayah dan ibuku keluar dari mobil jenazah, sang sopir mobil jenazah membuka pintu belakang diikuti para tetangga yang membantu menggotong tubuhku.

           

         

0 coretan kamu:

Posting Komentar