Wagunya Kita

Saya ini seringkali bingung menyaksikan reaksi netizen terhadap sebuah peristiwa. Begitu cepat kita ini berkomentar dan saling berbantah. Apa ya kita ndak bisa diam sejenak tanpa harus berkomentar atau memperkeruh situasi yang ada?

Belakangan, komentar dan bermacam meme bertebaran di beranda Facebook mengangkat peristiwa Guru yang dilaporkan ke Polisi oleh Orangtua murid. Di sini saya bukan membela Guru atau Orangtua murid. Saya cuma melihat dalam peristiwa ini banyak hal yang seharusnya tidak menjadi seperti sekarang ini. Berhubung sudah kebacut yawes, kita jadikan peristiwa ini sebagai pelajaran.

Sebelum kita belajar bersama dari peristiwa ini, ada baiknya kita sepakati beberapa hal supaya tidak menyimpang dari permasalahan yang ada.
Pertama, apakah kita bisa sepakat bahwa kekerasan terhadap anak baik yang dilakukan oleh orangtua, guru, atau orang lain adalah sebuah tindakan yang tidak benar?
Orangtua mana yang senang mendapati anaknya menjadi korban kekerasan?
Misal dulu waktu menjadi murid pernah dilempar penghapus apakah lantas kita tega membiarkan anak kita dilempar penghapus oleh gurunya?
Katakanlah waktu kecil kita nakal lantas kena gebuk oleh orangtua kita lantas setelah jadi orangtua kita boleh menggebuk anak-anak?

Sudah sepakat bahwa kekerasan terhadap anak-anak itu bukan tindakan yang benar apa pun alasannya?
Tidak, saya tidak berniat menyalahkan Pak Guru yang mencubit muridnya itu. Bagaimanapun peristiwa sudah terjadi. Kalaupun bisa menarik waktu kembali, saya kok yakin Pak Guru itu tidak akan mencubit muridnya sampai seperti itu. Ada banyak pilihan buat Pak Guru untuk menghukum muridnya yang indisipliner. Mulai dari memanggil orangtua, sanksi administratif atau kalau memang sudah keterlaluan ya tinggal dikembalikan ke orangtuanya. Satu pelajaran buat Tuan dan Puan Guru; sebelum melakukan kekerasan fisik terhadap murid, ingatlah bahwa sebandel apapun anak itu, masih ada orang-orang yang menyayanginya.

Mengenai Orangtua murid yang anaknya dicubit lantas lapor ke Polisi, bisakah kita sepakati bahwa tindakan ini terlalu berlebihan?
Ada banyak pilihan ketika anak-anak kita mengalami kekerasan di sekolah. Bukankah hal-hal semacam itu bisa dibicarakan di Komite sekolah tanpa harus melapor ke Kepolisian?

Pernah sepupu saya curhat meminta dukungan perihal anaknya yang sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari Gurunya. Beberapa anak lain pun mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan sehingga banyak orangtua murid yang tidak berkenan terhadap guru tersebut dan melaporkannya ke Komite sekolah. Saya tidak mendukung tindakan sepupu saya, tidak juga menyalahkannya. Saya cuma sedikit bertanya, "Lho dulu pas daftarin anakmu ke sekolah situ memangnya ndak tahu gurunya seperti apa? Kalau dulu tanpa mencari tahu terlebih dulu tentang detail sekolahannya ya artinya kita sendiri yang ceroboh kurang teliti dalam mencarikan pendidikan untuk anak. Kalau memang dirasa gurunya tidak cocok untuk anakmu dan akan mengganggu dalam semangat belajarnya yaudah sih pindah ke sekolah yang lebih baik saja ndak usah dibikin ramai."

Alangkah baiknya sebelum kita melepas anak ke sekolah, kita sudah tuntas dalam hal mendidik anak perihal adab yang baik. Pun sebagai orangtua setidaknya kita tahu tentang seluk-beluk sekolah beserta jajaran pengajarnya, agar kita tidak melulu menyalahkah pihak sekolah pada kejadian yang menimpa anak-anak kita.

Saya masih tidak mengerti mengapa banyak di antara kita yang begitu bersemangat menyebarkan keburukan-keburukan Sang Murid yang kena cubit. Kita ini sering kali berteriak "Stop Bullying" tapi pada kenyataannya begitu senang merisak orang yang kita anggap bersalah. Segala keburukannya kita cari dan disebarkan, seakan-akan anak ini adalah seburuk-buruknya orang dan tak mungkin berubah menjadi lebih baik. Kita sepertinya kok lupa bahwa kita pernah seusia anak tersebut, dan pernah bandel.
Kalau saja kita ingat anak ini masih muda, masih panjang masa depannya. Apa iya kita harus merisaknya, memberi vonis bahwa dia tidak pantas hidup bersama kita?
Lha kok wagu sangat tho kita ini?

Lho kok malah panjang? Padahal tadinya cuma mau membagikan tautan dari Mojok berikut ini.
Ternyata saya yang wagu, bukan kalian!
😂



Sumber gambar: Google

0 coretan kamu:

Posting Komentar