Gila

Pernah terjadi dalam satu rentang masa dalam perjalanan hidupku, keadaan yang mana orang-orang mengataiku gila.
Namun gila yang aku alami tidak sampai membuatku berkeliaran di jalan tanpa celana.
Aku tidak pernah menyesali kegilaan yang pernah aku alami. Bagaimanapun itu saat yang tepat bagiku untuk menjadi gila. Lebih baik gila sebelum jatuh cinta daripada gila akibat gagal bercinta.

Saat aku gila, seringkali aku bercerita kepada orang-orang yang aku jumpai. Tentunya cerita-ceritaku tidak masuk akal buat mereka. Namun tak satu pun dari mereka menyangkal atau mempertanyakan kebenaran ceritaku. Karena orang-orang tahu aku gila, dan aku akan mengamuk serta menghajar siapa pun yang menyangkal atau mempertanyakan kebenaran peristiwa yang aku ceritakan.

Biasanya aku mengawali cerita tentang pengalamanku mengintip sebuah rumah yang lampunya masih menyala saat tengah malam, pada sebuah kota yang aku singgahi.
Rumah itu milik Frick Fritzgerald, seorang penulis cerita. Cerita-cerita yang ditulis Frick sangat hidup, karena tokoh-tokoh yang diceritakannya benar-benar hidup. Frick menyimpan tokoh-tokohnya dalam sebuah kotak kayu.

Malam itu aku menyaksikan Frick Fritzgerald kerepotan mengejar tokoh-tokoh dalam ceritanya yang berlarian di dalam rumah. Tokoh-tokoh setinggi gelas ini melarikan diri dari kotak kayu penyimpanannya.
Beruntung malam itu Frick dibantu oleh mahluk dengan sepasang sayap dipunggungnya yang mengaku sebagai Gabriel.
Benar, Gabriel itu adalah malaikat Tuhan. Dia yang melihat Frick mampu membuat tokoh-tokoh cerita yang hidup akhirnya mengira Frick adalah Tuhan yang lain.

Semalaman mereka berdua sibuk berkejaran menangkap tokoh-tokoh cerita yang melarikan diri dari kotak kayu. Satu persatu ditangkap dengan tidak mudah dan kembali dimasukkan ke dalam kotak kayu. Di luar rumah aku tertawa cengengesan menyaksikan semua itu. Bagaimana mungkin Sang Pencipta dibuat repot oleh ciptaanNya, dan alangkah lucunya malaikat yang lupa pada perintah Tuhannya karena mengira ada Tuhan yang lain.
Menjelang subuh aku melangkah pergi meninggalkan rumah Frick yang lampunya masih menyala, dan di dalamnya Frick dan Gabriel sama-sama terdiam dan bernafas dengan sangat hati-hati, mereka diam dalam ketakutannya.

Di hari Senin yang kaku, di mana orang-orang terburu-buru, berlari mencoba lebih cepat dari bayangannya sendiri. Aku ada di Shinjuku, stasiun yang memiliki dua ratus pintu. Di Shinjuku aku melihat Sayuri, perempuan yang rambutnya sebahu dan kecantikannya seperti dewi.
Sayuri tidak sedang menjinakkan hari Senin atau pintu-pintu Stasiun Shinjuku, Sayuri sedang berusaha menjinakkan dirinya sendiri. Ya, Sayuri tidak punya alasan untuk bunuh diri, tidak untuk hari ini.

Hari Senin yang resah juga gelisah, Senin yang membuat orang-orang lebih mudah marah. Di Shinjuku sama saja, dua ratus pintunya masih berdiri gagah seperti gigi-gigi gergasi. Siap mengunyah mereka yang lengah.
Di bangku Stasiun Shinjuku, Sayuri terlanjur membaca catatan berita buruk dari masa depan, berita buruk yang dibawa takdir.
Hari Senin yang kaku, Sayuri dimampus takdirnya, mati bunuh diri di Aokigahara.

Aku menangis sembari tertawa, menyaksikan takdir yang mendatangi Sayuri terlalu cepat, bahkan untuk sekedar memikirkan alasan mati bunuh diri.

Selasa itu aku sampai di Kota Cahaya. Sebuah kota yang mana tak satu pun penduduknya memiliki bayangan. Sebuah kota yang begitu terang dan suram sekaligus.
Adalah Dia yang Tembus Pandang, seorang perempuan pemilik Cafe Rouge. Perempuan itu transparan, tubuhnya tembus pandang. Satu-satunya bagian tubuhnya yang tidak tembus pandang adalah jantung. Jantungnya begitu merah dan berdegup kencang.

Kepada Dia yang Masih Punya Bayangan Dia yang Tembus Pandang tertarik hatinya. Di tiap Selasa, Dia yang Masih Punya Bayangan mengunjungi Cafe Rogue, sekali dibawakannya kembang asoka untuk Dia yang Tembus Pandang. Jantungnya yang merah itu berdegup kencang, semakin kencang.

Dia yang Masih Punya Bayangan tidak berasal dari Kota Cahaya. Ia mengaku dari Kota Lama, tapi penduduk Kota Cahaya lebih senang menyebutnya dari sebuah entah. Dia satu-satunya orang yang memiliki bayangan di kota ini, penduduk Kota Cahaya jirih kepadanya, kecuali Dia yang Tembus Pandang, sang pemilik sekaligus pelayan Cafe Rogue yang di tiap Selasanya dikunjungi Dia yang Punya Bayangan.

Selasa itu aku menjadi saksi, di sebuah stasiun Dia yang Tembus Pandang memutuskan pergi bersama Dia yang Punya Bayangan. Seisi Kota Cahaya mengikutinya sampai stasiun. Seiring kereta yang berjalan membawa pergi Dia yang Tembus Pandang, satu persatu penduduk Kota Cahaya tumbang, mati ditinggalkan degup jantungnya.

Malam hari di sebuah taman yang bangku-bangkunya dipenuhi pasangan muda-mudi memadu kasih, aku melihat satu bangku yang berbeda. Bangku itu diisi dua orang lelaki yang baru saling kenal, obrolan mereka begitu hangat dan penuh gelak tawa.

Mereka adalah Amri Tadjudin dan Keliat Wattampone. Amri Tadjudin hampir setiap malam duduk di bangku itu, ia menunggu kunang-kunang. Kepada kunang-kunanglah tiap malam Amri Tadjudin bercakap-cakap. Bercerita tentang dirinya, pikirannya dan mencoba mendengar kunang-kunang dan segala yang dipikirkan mereka.
Sedangkan Keliat Wattampone adalah seseorang yang merasa ada orang lain yang hendak keluar dari tubuhnya. Dan yang menakutkan Keliat Wattampone adalah keinginan orang itu. Orang itu ingin menembus waktu dan melakukan hal-hal yang berbeda dengan yang sudah dilakukan Keliat Wattampone.

Malam itu di taman untuk pertama kalinya aku merasa waras setelah menyaksikan Amri Tadjudin dan Keliat Wattampone duduk sebangku dan saling bercakap diselingi gelak tawa.
Kunang-kunang tak jadi datang, namun Amri Tadjudin menemukan Keliat Wattampone. Sementara Keliat Wattampone menemukan orang yang akan keluar dari tubuhnya adalah Amri Tadjudin.
Mereka saling menemukan, Amri Tadjudin dan Keliat Wattampone tak lagi sendiri, mereka sekarang berdua, sama-sama gila.
Dan tentu saja aku tidaklah segila mereka.

Siang itu lembab dan panas, aku mencoba mencari tempat berteduh untuk melepas lelah. Sampailah aku di samping sebuah gudang yang jendelanya selalu terbuka. Kepalaku melongok ke dalam, memperhatikan keadaan.

Di dalam gudang terdapat laki-laki yang lebih sering melamun. Kalau sedang tidak melamun dia merusak tubuhnya sendiri. Laki-laki itu bertubuh besi, seumur hidupnya hanya ada pilu dan sepi. Dia ingin mati namun tak pernah mampu bunuh diri, bagaimanapun tubuhnya terbuat dari besi.

Alat-alat pertanian milik ayahnya yang ada di dalam gudang dijadikannya alat untuk merusak dirinya sendiri, saat lelah dia melamun lagi.
Lamunannya selalu tentang perempuan yang dulu selalu datang saat dia berhasil merusak tubuhnya sendiri. Perempuan yang selalu datang membawa bagian-bagian tubuh baru pengganti bagian tubuhnya yang berhasil dirusaknya sendiri.
Perempuan yang kedatangannya membuat dirinya senang dan anggota tubuhnya berdentang.
Perempuan yang ternyata mau mendampinginya hidup di dalam gudang namun menolak untuk dinikahi.
Sampai kemudian perempuan itu harus pergi, karena suaminya yang juga bertubuh besi mulai merusak tubuhnya sendiri.

Di sudut gudang yang paling gelap dan paling dingin, samar kulihat laki-laki bertubuh besi melamun sendiri, kemudian merusak anggota tubuhnya lagi.

Hari ini adalah Selasa, aku belumlah gila dan tidak kemana-mana.
Aku tetap di sini, di kamar gelapku yang cuma diterangi lampu baca LED 1Watt. Masih sendiri dalam sepi, membaca "KOTAK HITAM Cerpen Cerpen Cepi."
Dari situlah semua cerita ini bermula.