Pernah Ganteng

"Om hapemu yang ini aku banting ya?" Tanya Aliqa padaku pada suatu kesempatan.

"Wee, emang kenapa kok mau kamu banting?" Tanyaku balik.

"Habis jelek sih Om hahahaha" jawab Aliqa cengengesan.

"Ya jangan karena jelek lantas kamu buang, kamu tahu nggak dek jelek-jelek gini hape ini pernah baru artinya dia pernah bagus juga dulunya." Terangku.

"Ohh gitu ya Om." Kata Aliqa dan Aqila berbarengan.

"Sama juga seperti Om kalian ini, biarpun jelek gini dulunya juga pernah ganteng." Sambungku.

"Huuuuu ndak mungkin itu." Teriak mereka berdua protes.




Perang Kembang

Syahdan, Raden Vale dalam perjalanannya mengejar Wahyu Makutarama melintas di Rimba Sepang. Tergesa Raden Vale memasuki Rimba Sepang karena dia sadar bahwa pesaingnya yang juga mengejar Wahyu Makutarama yaitu Pangeran Jorge selangkah ada di depan.

Sepertinya keberuntungan tidak berpihak pada Raden Vale, baru beberapa depa memasuki kawasan Rimba Sepang, di tengah lintasan Marc Caquil telah berdiri menghadang.

"Ngiahahahaha manusia tampan mau kemana, mengapa dirimu begitu tergesa. Berhenti sejenak, bermainlah dulu denganku" kata Marc Caquil menantang Raden Vale.

Hampir separuh hidup Raden Vale dijalani dalam pengembaraan, ribuan kali bertemu rimba, ribuan kali berjumpa padang. Menyebrangi sungai, mengarungi laut, memasuki Goa, ke luar lembah. Raden Vale sudah mahfum terhadap gangguan seperti yang dilakukan Marc Caquil. Sudah banyak Cakil yang pernah mengganggunya, semuanya tak ada yang berarti dan berhasil dilewati. Semua tewas tertusuk pusakanya sendiri.

Kali ini Raden Vale sedang tak ingin bermain-main melayani Marc Caquil.

"Menyingkirlah Quil, aku sedang mengejar Wahyu Makutarama, kalau kau tak lagi punya hak memperebutkannya, menyingkirlah! Biarkan aku mendapatkannya sebelum Pangeran Jorge." Jawab Raden Vale yang langsung menghindari Marc Caquil, kemudian merangsek pergi.

"Ngiahahaha tidak semudah itu Kisanak!" Marc Caquil langsung memburu Raden Vale di kedalaman kelok Rimba Sepang.

Marc Caquil yang ini berbeda dengan Cakil-cakil yang biasa dihadapi Raden Vale sebelumnya. Marc Caquil bukan jago kandang, ia sudah melanglang jagad mengasah kemampuan.
Tak butuh waktu lama buat Marc Caquil mengejar Raden Vale. Tanpa basa-basi Marc Caquil menyerang Raden Vale di tikungan.

"Ngiahaha jangan kabur dulu, bertahun-tahun aku mengagumimu dan berlatih supaya bisa sejajar kemampuanku denganmu. Hadapi aku, jangan kabur."

Keduanya langsung terlibat duel seru, kemampuan mereka terlihat setara. Marc Caquil unggul di kekuatan sedangkan Raden Vale menang pengalaman.
Rimba Sepang yang sunyi bergelora menyaksikan sengitnya pertarungan mereka, saling serang dan menghindar berlangsung rapat.

Tak terasa separuh panjang Rimba Sepang telah mereka tempuh.
Raden Vale sadar jaraknya dengan Pangeran Jorge semakin jauh. Tak ada pilihan bagi Raden Vale selain meladeni Marc Caquil dengan sungguh-sungguh agar jelas siapa yang lebih ampuh.
Dalam sebuah kesempatan terlihat kepala Marc Caquil menanduk lutut Raden Vale.

*Dziggh*

Raden Vale sudah siaga terhadap serangan ini, dibiarkannya kepala Marc Caquil menyeruduk lututnya, kemudian dengan halus didorongnya kembali kepala Marc Caquil.

*Sreettt* 
(((GDUBRAKK))) 

Marc Caquil terjerembab jatuh, tewas menimpa keris yang dihunusnya.

Raden Vale meninggalkan Marc Caquil, mencoba mendekatkan jarak dengan Pangeran Jorge.

Keluar dari Rimba Sepang Raden Vale sudah ditunggu para Dewa yang menyaksikan pertarungannya dengan Marc Caquil.

Para Dewa menganggap Raden Vale menyalahi aturan yang berlaku di Rimba Sepang dan harus dihukum dijauhkan jaraknya dengan Pangeran Jorge.

Semakin berat usaha Raden Vale mengejar Pangeran Jorge, semakin susah Raden Vale memperoleh Wahyu Makutarama.




Kudus, 27 Oktober 2015.
Sumber gambar: www.szaktudas.com