Salah Pilih

Sebagai Satpam yang patuh dan taat kepada pimpinan, jujur dan bertanggung jawab tentunya menjalankan tugas yang diperintahkan oleh unsur pimpinan adalah sebuah keharusan yang dilaksanakan dengan penuh kesungguhan.

Selain tugas harian di Pos Penjagaan, terkadang saya juga menerima tugas untuk melakukan latihan penyegaran. Seperti Sabtu kemarin dimana saya harus menjalani penyegaran latihan PBB dan PPM bersama rekan-rekan Satpam lainnya, agar kami sebagai Satpam senantiasa tumbuh dan terjaga sikap jasmani yang tegap dan tangkas, rasa kesatuan, disiplin, sehingga dengan demikian senantiasa dapat mengutamakan kepentingan tugas di atas kepentingan individu dan secara tidak langsung juga menanamkan rasa tanggung jawab.

Dalam latihan baris-berbaris selain bisa melaksanakan gerakan di tempat, langkah terbatas, dan langkah berjalan yang meliputi gerakan dari berhenti ke berjalan, dari berjalan ke berjalan dan dari berjalan ke berhenti, peserta latihan juga dilatih untuk bisa menjadi komandan pleton, bergantian danton yang lama menunjuk satu peserta latihan untuk menggantikan dirinya sebagai danton baru untuk memberikan perintah dan aba-aba ke pasukan.

Sepertinya rekan-rekan sepelatihan sadar untuk tidak menunjuk saya sebagai komandan pleton. Tentunya mereka tidak mau mengambil resiko menjadi korban keisengan saya memberikan aba-aba "JALAN DI TEMPAT"  tanpa pernah tahu kapan akan berhenti.

Pernah dalam suatu DIKLATSAR Satpam beberapa waktu yang lalu, saya ditunjuk oleh Pelatih untuk menjadi Komandan Pleton. Kebetulan saat itu materi yang disampaikan adalah "Pemberian APP (arahan petunjuk pacaran pelaksanaan) dalam barisan." Dan saya diperintahkan oleh pelatih untuk praktik memberikan APP kepada pasukan.

Setelah pasukan saya kumpulkan dalam barisan tiga bersaf dan kemudian saya istirahatkan, APP saya mulai dengan ucapan:
"Selamat pagi."

"Pagi." Jawab mereka serempak.

Sambil berjalan dari ujung kiri ke ujung kanan barisan saya amati rekan-rekan sepelatihan, sekilas saya melirik ke posisi pelatih berdiri, pelatih mengangguk memberikan kode agar saya melanjutkan APP.

"Terimakasih atas kehadiran rekan-rekan dalam apel pagi ini, rekan-rekan tahu apa yang akan saya sampaikan pagi ini?" Tanya saya.

"TIDAK!" Pasukan menjawab kompak.

"Baiklah saya sudahi saja APP pagi ini, buat apa saya berikan APP kalau rekan-rekan tidak tahu apa yang akan saya sampaikan." 

Kemudian saya balik kanan ngeloyor meninggalkan pasukan yang tertawa terpingkal-pingkal. Kemudian saya dan teman-teman sepelatihan dihukum push up 15 kali karena dianggap tidak serius dalam latihan. Oleh pelatih kami diminta untuk mengulang sekali lagi.

"Selamat pagi!" Sapa saya mengawali APP jilid II.

"PAGI!" Jawab pasukan tetap serempak.

"Rekan-rekan sekalian tahu apa yang akan saya sampaikan?" Tanya saya.

"SIAP TAHU!" Jawab pasukan.

"Baiklah, karena kalian semua sudah tahu tak ada gunanya lagi saya memberikan arahan."

Kembali saya ngeloyor balik kanan meninggalkan pasukan yang semakin terpingkal-pingkal tawanya. Lagi-lagi oleh pelatih kami dihukum push up 15 kali, dan sekali lagi kami diperintahkan untuk mengulang.

"Selamat pagi rekan-rekan!" Kembali saya menyapa pasukan.

"PAGI!" Jawab mereka.

"Terimakasih atas kesediaan rekan-rekan melaksanakan apel pagi ini, sesuai instruksi pelatih pagi ini saya diminta untuk memberikan APP kepada rekan-rekan semua. Apakah rekan-rekan tahu apa yang akan saya sampaikan kepada rekan-rekan semua?"

"Tahu." --- "Tidak." Kali ini pasukan agak ragu menjawab.

"Jawab yang tegas, apa rekan-rekan tahu apa yang akan saya sampaikan?" Kembali saya bertanya.

"TIDAK!"
"TAHU!"

Sebagian dari mereka menjawab tahu, sebagian lagi tidak.

"Baiklah sehubungan di antara rekan-rekan ada yang sudah tahu dan ada yang tidak, setelah pasukan saya bubarkan maka bagi yang tidak tahu untuk bertanya kepada yang tahu. Dan bagi yang tahu agar memberitahu kepada yang tidak tahu. Apa 86?"

"SIAP 86!" Jawab mereka kembali serempak.

"PERHATIAN SELESAI."
"BUBAR JALAN!" Perintah saya membubarkan pasukan.

Kali ini tidak ada tawa terpingkal dari kami, aku melihat ke arah pelatih, beliau menggelengkan kepala menatapku prihatin, kemudian tertawa terpingkal-pingkal, lalu push up sebanyak 15 kali.

Entahlah mungkin Bapak Pelatih menyesal telah memilihku menjadi seorang komandan pleton di pagi itu.


*Terinspirasi dari kisah Nasruddin Hodja*




-Ilustrasi gambar peserta latihan DIKLATSAR SATPAM-