Mengantar Simbah

31 Desember 1931 hingga 30 Juli 2015 bukanlah rentang waktu yang pendek untuk dijalani. Begitu banyak peristiwa yang telah dialami Simbah dalam 84 tahun perjalanannya. Pahit getir perpisahan, manis bahagia pertemuan telah berkali-kali hadir dalam kehidupan Simbah. Dari Simbah aku mendapatkan berbagai macam cerita tentang hidup dan kehidupan.

Semasa Simbah masih tinggal di sebuah Desa di kota Jepara, dua atau tiga bulan sekali Simbah datang berkunjung menengok cucu-cucunya yang tinggal di sini. Kedatangan Simbah senantiasa membahagiakan buat kami cucu-cucunya. Bahkan lagu Kemarin Paman Datang seringkali aku ganti menjadi Kemarin Simbah Datang.

Seperti dalam lagu tersebut, kedatangan Simbah pun selalu dengan buah tangan untuk cucu-cucunya. Mangga, rambutan, nangka bahkan pete dibawa dalam tas keranjangnya. Tak lupa Simbah membawa kepiting atau rajungan sebagai pelengkap hasil kebun yang dibawanya.

Saat malam datang adalah yang paling aku tunggu dari kehadiran Simbah. Dari Simbah aku mengenal berbagai dongeng sebelum tidur. Kancil Nyolong Timun, Ande Ande Lumut, Timun Mas, Roro Jonggrang, Kedono-Kedini, Kancil dan Buaya, Kancil dan Macan, dengan sabar diceritakannya sampai kami tertidur. Diselingi senandung-senandung lagu dolanan anak-anak, Simbah mengajari kami tentang hal-hal baik dan menjauhkan kami dari segala keburukan.

Terkadang Simbah juga bercerita tentang pengalaman-pengalamannya semasa muda. Diawali dengan mengajari berhitung dalam bahasa Jepang, kemudian Simbah menceritakan pengalaman yang dialami di masa penjajahan Jepang.

Peralihan zaman dan pergantian kepemimpinan yang dialami Simbah terjadi begitu cepat. Kebahagiaan yang dikecap berganti kesedihan tanpa permisi. Dari cerita Simbah aku mengenal kekejaman politik, dari cerita Simbah aku mengenal ketidakadilan.

Seiring usia Simbah yang terus bertambah, menetaplah Simbah di Kota ini. Cucu-cucunya beranjak dewasa, tak ada lagi yang tertarik dengan dongengan Kancil Nyolong Timun. Saat Simbah rindu kampung halamannya adalah tugasku mengantar Simbah kembali ke Desa. Dengan angkutan umum aku mengantar Simbah kembali ke Desa, berpindah dari Angkota ke Minibus lalu menaiki Angkudes. Kegiatan mengantar Simbah terhenti semenjak kesehatan Simbah menurun dan tak mampu lagi berjalan jauh.

Dalam 84 tahun perjalanan Simbah, telah banyak perjumpaan dan perpisahan yang dialami Simbah. Semua cucu-cucunya telah menikah, kecuali aku tentunya. Sepuluh tahun terakhir Simbah selalu memintaku agar segera menikah, "Mumpung Simbah masih hidup." begitu katanya. Dan seperti biasa aku selalu mengiyakan dan memohon restu Simbah.

Penghujung tahun lalu aku memperkenalkan seorang perempuan kepada Simbah, sungguh aku melihat kebahagiaan Simbah melebihi kebahagianku setelah mengetahui aku memiliki calon istri.
Dan sungguh aku pun melihat Simbah yang terluka melebihi lukaku saat mengetahui hubunganku yang gagal menuju pelaminan.

Hari ini aku mengantar Simbah seorang diri tanpa istri yang Simbah nanti.
Maafkan aku yang tak mampu memenuhi keinginan Simbah.
Begitu panjang jalan Simbah, begitu banyak peristiwa yang Simbah saksikan namun Simbah tak pernah lagi punya waktu untuk menyaksikan pernikahanku.

Maafkan cucumu Mbah,
Sugeng kondur....
Al-fatihah.




0 coretan kamu:

Posting Komentar