Sebuah Pencarian

Malam semakin gelap, adzan Isya' telah satu jam lewat. Armada bus tujuan Jakarta sudah tak ada lagi saat aku memasuki halaman terminal induk. Kios-kios banyak yang telah tutup, tinggal satu dua yang masih bertahan menanti rejeki. Seperti biasa kiosmu masih tetap buka, dan ketempatmu aku menuju.

"Kopi pahit Bu"
Ucapku saat persis di depan kiosmu.

Seperti kemarin dan beberapa kemarinnya lagi, ekspresi kekagetanmu saat melihat aku belum juga hilang, entahlah kamu itu semacam melihat kembali orang yang telah lama mati.

"Kopinya 2 sachet?"
Tanyamu kaku.

Cukup anggukan dan senyuman yang kuberikan sebagai jawaban, sembari duduk menatap halaman terminal yang tampak lengang.

Setelah meletakkan kopi pesananku di atas meja, seperti yang sudah-sudah kamu mulai menyibukkan dirimu di dalam kios, membereskan barang-barang yang perlu dibereskan dan bahkan membereskan tata letak daganganmu yang sudah beres. Terus terang aku sama sekali tak ada masalah dengan sikapmu itu. Kesibukanku mencari manis dalam secangkir kopi pahit membuatku lupa rasanya diabaikan.

Kesibukanku mencari terang dalam gelapnya halaman terminal membuatku asik selami sunyi.
Entah ini sudah malam keberapa aku kembali ke tempat ini sejak aku dan kamu putus hubungan saat itu.
Aku lupa. Seperti lupanya aku pada obrolan-obrolan kita tentang berita sosial, politik, agama ataupun tentang nikmatnya rasa bakwan yang dijual di warung teman kita. Yang aku ingat hanya hari ini aku harus ke sini melihatmu, iya melihatmu cuma itu.

Sejenak kesendirianku terganggu oleh kedatangan Pak Sai'un petugas kontrol sebuah perusahaan otobus jurusan Semarang-Malang. Sejenak basa-basi kemudian Pak Sai'un undur diri mencari tempat merebahkan badan sembari menanti bus yang dikontrolnya memasuki terminal.

Halaman terminal benar-benar sepi, tak ada satupun bus terparkir disini. Hanya lalu lalang kendaraan dari jalan lingkar seberang terminal yang memecah sunyi.

Kopi yang kamu sajikan tak terasa tinggal ampas yang tersisa, beberapa gorengan pun sudah aku habiskan. Tak ada lagi alasan untuk bertahan. Saatnya aku pulang.
Satu lembar dua puluh ribuan aku ulungkan kepadamu sembari menyebut kopi dan sejumlah gorengan yang telah aku makan. Sekali lagi kamu terkejut melihatku. Kalau biasanya kamu menyerahkan sejumlah uang kembalian lalu aku melangkah pulang, kali ini beda.

"Bang kenapa sih kamu masih saja datang ke sini?
Kan sudah aku bilang kepadamu kalau semenjak kejadian itu aku tidak lagi mampu mencintaimu.
Aku tidak bisa melanjutkan hubungan yang pernah ada.
Kamu masih saja datang datang kemari, kamu ngerti nggak sih bang semuanya sudah selesai, SELESAI!"
Cecarmu berapi-api.

Aku tersenyum mendapati perubahanmu kali ini, tapi aku tidak tahu jawaban apa yang aku berikan kepadamu. Bukankah tidak semua hal harus aku jelaskan kepadamu, termasuk alasanku datang lagi kemari.

Melihatku senyum senyum cengengesan, kamu semakin berapi-api mencecarku dengan penjelasan-penjelasan tentang hubungan di antara kita yang tidak lagi mungkin kamu lanjutkan. Dan kali ini nada suaramu semakin tinggi.

Aku masih tersenyum mendengarmu bicara, dalam hati pertanyaanmu aku jawab lirih.

"Aku pernah kehilangan sesuatu di tempat ini, jadi wajar kalau aku mulai mencarinya dari sini. Aku masih ingat di tempat ini aku kehilangan, entah itu dicuri atau aku yang lupa meletakkannya."

Dan kamu tak pernah tahu sesuatu itu adalah KEWARASANKU.

Di sini aku mulai merasa sedih, mendadak hening kembali mendekapku, dan suaramu semakin lirih tak terdengar.

0 coretan kamu:

Posting Komentar