Gara-Gara PK

Semenjak nonton film PK tiap kali bicara tentang Tuhan, sejenak aku berpikir:
Ini Tuhan yang mana?
Tuhan yang menciptakan aku ataukah Tuhan yang aku ciptakan?
Tuhan yang menciptakan semesta ataukah Tuhan yang dibentuk akal pikiran manusia?
Berbahaya kalau sampai "salah sambung" kepada Tuhan yang bukan sebenarnya.

Dan daftar pertanyaanku semakin panjang,
Jangan-jangan yang aku sembah itu Tuhan yang aku cipta saat aku sedang susah?
Jangan jangan yang aku mintai pertolongan itu Tuhan yang aku buat saat aku ada di bawah?
Atau jangan jangan aku berserah diri kepada Tuhan yang aku munculkan dari keadaanku yang sudah lagi tidak mampu melakukan sesuatu?

Lalu di mana Tuhan yang aku lupakan saat aku dipenuhi segala macam kesenangan?
Di manakah Tuhan yang tak lagi kusebut ketika segala kebutuhanku tercukupi?
Masih adakah Tuhan saat aku berhasil dengan gemilang menaklukkan dunia?
Bukankah Tuhan yang sebenarnya Tuhan akan selalu ada apa pun keadaannya? 

Kuil, Gereja, Kathedral, Masjid, Pura, Wihara, Kelenteng, dan masih banyak lagi manusia memberi nama untuk Rumah-Nya.
Tuhan, Allah, Yesus, Yahweh, Sang Hyang Widhi, Budha, Dewa, Ra dan bermacam macam nama yang diberikan untuk menyebut Asma-Nya. 
Nama-nama tersebut adalah cara manusia mendeskripsikan Tuhan Yang Maha Esa. Berbagai macam agama dan kepercayaan yang ada di dunia bukan berarti ada berbagai macam Tuhan dengan segala aturan-aturan-Nya. Tetap saja Tuhan itu Esa tiada dua, Dialah yang menciptakan Semesta.

Dalam memuja Tuhan manusia membayangkan-Nya menurut kecenderungannya sendiri. 
Seringkali manusia terjebak dalam imajinasinya sendiri dalam usahanya menemukan bentuk Tuhan. 
Padahal setiap usaha  untuk menggambarkan Tuhan pasti akan menemukan kegagalan.
Di tiap-tiap agama dan kepercayaan seringkali menampilkan simbol-simbol Ketuhanan yang terkadang oleh para pemeluknya secara fanatik dianggap sebagai Tuhan.
Mati-matian mereka kelahi membela simbol-simbol ketuhanan tanpa mereka tahu Tuhan mereka Tuhan yang sama, Tuhan yang tak perlu dibela.

Silakan percaya bahwa dirimu memiliki hubungan khusus dengan Tuhan, dalam artian merasa dirimu sangat dekat dengan Tuhan.
Tapi ya janganlah Tuhan itu kamu monopoli, seolah kedekatanmu dengan Tuhan itu membuat dirimu memiliki hak untuk mengasingkan Tuhan dari orang lain.
Bukankah Tuhan itu tidak pernah mengikatkan dirinya hanya pada satu kelompok orang berdasarkan suku,agama, ataupun golongan?
Kedekatanmu dengan Yahweh, dengan Allah, dengan Yesus, atau dengan Sang Hyang Widhi tidak lantas memberimu hak untuk mengatakan bahwa Tuhan orang lain itu palsu.

Dapatkah kamu monopoli api, dalam artian panasnya api kamu monopoli untuk golonganmu saja?
Dapatkah kamu monopoli matahari, dimana terangnya engkau kuasai untuk sukumu saja?
Atau mungkin kamu bisa memonopoli angin, supaya hembusnya cukup kamu yang merasakannya?
Api, matahari dan juga angin hanyalah ciptaan-Nya, lalu siapa yang mampu memaksa Dia untuk memihak pada satu kelompok orang saja?
Please, jangan membuat lelucon yang menyedihkan...!


3 komentar: