Diskon

"Jangan pernah serahkan suatu pekerjaan kepada yang bukan ahlinya". Kutipan ini baiknya kamu ingat jika mau memintaku untuk berbelanja. Untuk pekerjaan yang satu ini aku sadar diri kalau tidak memiliki skill yang mumpuni untuk memilih dan menawar barang dengan harga yang tepat. Dan cerita kemarin sore adalah bukti ketidakmampuanku berbelanja.

Pusat perbelanjaan bukanlah tempat yang nyaman buatku, karena itulah jarang sekali aku mendatanginya kecuali memang benar-benar butuh sesuatu.
Kali ini ada beberapa barang yang memang aku butuhkan, mau tak mau berangkatlah aku ke salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kota ini.
Saat melintasi deretan penjual aksesoris ada beberapa item yang sepertinya menarik. Mbak pramuniaga dengan ramah menyapa mempersilakan aku untuk melihat-lihat. Karena belum menemukan barang yang aku cari maka aku hanya melewati konter aksesoris ini sambil tersenyum sewajarnya kepada mbak-mbak pramuniaga.

Setengah jam berselang barang-barang yang aku butuhkan sudah aku dapatkan. Dan kebetulan aku kembali melintas di konter aksesoris. Kali ini sejenak aku berhenti melihat-lihat. Dan mbak pramuniaga dengan sigap langsung menyapa.
Aku sebut jenis barang yang aku cari dan dengan cepat mbaknya mengeluarkan bermacam jenis dan bentuk barang yang aku sebut.

"Masnya ganteng pakai yang ini pasti cocok" kata mbak pramuniaga membuka obrolan di antara kami.

"Ah bohong ah mbak... aku gak ganteng kok" kataku.

"Beneran deh mas, ngapain juga aku bohong" sambungnya.

"Lha kalau aku ganteng ya sudah laku mbak, nggak jomblo kayak gini" jawabku sambil cengengesan nggak jelas.

"Yee kalau masalah laku itu urusan jodoh mas bukan ganteng atau jelek. Gimana mas pilih yang mana? Tenang aja mas nanti aku kasih potongan harga" kembali obrolan dibawa mbaknya ke urusan jual beli.

Dan aku memutuskan memilih item A, yang langsung didukung mbak pramuniaga dengan memuji pilihanku.
"Wah selera mas bagus deh, emang perempuan yang seperti apa yang jadi kriteria mas? Andai adikku belum nikah udah tak suruh jadian sama kamu mas"

"Haduh mbak nggak usah muji-muji gitu deh, kalau mbak mau nawarin jodoh buatku ya yang cantik sih gak papa mbak asalkan kaya dan penurut pulak. Eengg kalau adiknya udah nikah yaudah mbak jangan dipaksa, gimana kalau mbaknya aja yang ngadopsi aku?" Jawabku datar yang langsung disambut mbak pramuniaga dengan gelak tawa.

"Jadi yang ini kan mas? Yang ini harganya 135 ribu saya kasih potongan harga mas cukup bayar 100 ribu saja" katanya sambil memperlihatkan label harga item A kepadaku.

Sambil melihat-lihat item-item lain aku mengiyakan perkataannya.
"Coba lihat item B itu mbak" pintaku.

Mbak pramuniaga mengambilkan dua jenis item B kepadaku.
"Yang ini aja mas bagus, bahannya bagus yang ini" katanya menjelaskan tentang keunggulan item B1 dibandingkan item B2.

Di label tertera item B1 135 ribu dan item B2 65 ribu, bentuknya hampir mirip dan memang benar apa kata mbaknya, item B1 bahannya memang lebih bagus.
"Yang ini pun ada potongan harganya mas, gimana mau yang mana?" Tanya mbak pramuniaga.

Karena item B secara fungsional akan jarang aku pakai maka aku kesampingkan dulu urusan kualitas, dan diperkuat alasan ekonomis akhirnya aku memilih membeli item B2 saja.
"Yang ini saja mbak" kataku sambil menyerahkan item B2 kepada mbaknya.

"Ok mas, berarti item A  dan item B2 ya mas?" tanya mbak pramuniaga

"Jadi berapa itu mbak semuanya?" balik aku bertanya.

"Dua ratus ribu mas, yang ini 135 ribu aku potong jadi 100 ribu dan satunya pun sama aku potong jadi 100 ribu juga" jawab mbak pramuniaga sambil membungkus barang yang aku beli.

"Eh udah bener itu mbak?" Tanyaku lagi.

"Iya mas, udah banyak itu diskonnya, masing-masing 35 ribu jadi masnya hemat 70 ribu" kata mbak pramuniaga menjelaskan.

"Oh.... Yasudah mbak kalau gitu, kali aja masih mau nambah lagi diskonnya" celetukku sambil kembali cengengesan.

"Ini mas barangnya, makasih banyak ya mas. Tak doakan semoga mas cepet ketemu jodohnya" katanya sambil menyerahkan belanjaanku.

"Eh cepet itu kapan mbak?" Tanyaku sambil menerima belanjaan.

"Enggg.... Bulan depan deh mas. Semoga" kata mbak pramuniaga sambil senyum-senyum.

"Aamiin, makasih ya mbak. Kirain secepatnya itu aku dapet jodohnya entar kalau aku udah di surga." asal saja aku mengucapkannya sambil mengangguk melangkah meninggalkan deretan konter aksesoris.

"Hahahaha ya nggak lah mas, semoga selekasnya.." Kalimat terakhir mbak pramuniaga yang aku dengar.


Bergegas aku meninggalkan konter aksesoris menuju lantai atas untuk menengok pameran buku. Dan saat aku akan meninggalkan pusat perbelanjaan ini sekali lagi aku melewati konter aksesoris. Kali ini mbak pramuniaga tadi tidak sempat melihatku menyelinap turun. Sepertinya dia tengah asik bercerita kepada rekannya tentang pembelinya yang dicurigai sedang terganggu jiwanya. 
Akupun sama sekali tidak menyapanya, secepatnya aku harus pulang karena waktu maghrib hampir datang.

Sesampainya di rumah barang belanjaan aku bongkar, dan saat membuka bungkusan aksesoris tadi aku langsung tersadar ada kesalahan mendasar saat aku melihat label harga yang tertera di masing-masing item.
Lha kok bisa-bisanya aku membayar 200 ribu padahal masing masing item dipotong 35 ribu?
Item A = 135 ribu
Item B2 = 65 ribu
Aku pun terpingkal-pingkal sendiri dibuatnya, ini pasti tadi mbaknya mengira Item B2 adalah B1, makanya dia menghitungnya masing-masing seharga seratus ribu. Bukan salah dia sih barangnya memang mirip, harusnya kan aku yang mengingatkan dia saat dikasih harga yang salah. Yasudah ikhlasin saja dah itu rezeki buat mbaknya yang sudah mendoakanku lepas dari kejombloan.

Di sini kadang aku merasa tenang dengan status kejombloanku. Sungguh tak terbayangkan betapa sewotnya pasanganku kalau mengetahui kesalahan mendasarku dalam hal berbelanja. 


Sebuah Pencarian

Malam semakin gelap, adzan Isya' telah satu jam lewat. Armada bus tujuan Jakarta sudah tak ada lagi saat aku memasuki halaman terminal induk. Kios-kios banyak yang telah tutup, tinggal satu dua yang masih bertahan menanti rejeki. Seperti biasa kiosmu masih tetap buka, dan ketempatmu aku menuju.

"Kopi pahit Bu"
Ucapku saat persis di depan kiosmu.

Seperti kemarin dan beberapa kemarinnya lagi, ekspresi kekagetanmu saat melihat aku belum juga hilang, entahlah kamu itu semacam melihat kembali orang yang telah lama mati.

"Kopinya 2 sachet?"
Tanyamu kaku.

Cukup anggukan dan senyuman yang kuberikan sebagai jawaban, sembari duduk menatap halaman terminal yang tampak lengang.

Setelah meletakkan kopi pesananku di atas meja, seperti yang sudah-sudah kamu mulai menyibukkan dirimu di dalam kios, membereskan barang-barang yang perlu dibereskan dan bahkan membereskan tata letak daganganmu yang sudah beres. Terus terang aku sama sekali tak ada masalah dengan sikapmu itu. Kesibukanku mencari manis dalam secangkir kopi pahit membuatku lupa rasanya diabaikan.

Kesibukanku mencari terang dalam gelapnya halaman terminal membuatku asik selami sunyi.
Entah ini sudah malam keberapa aku kembali ke tempat ini sejak aku dan kamu putus hubungan saat itu.
Aku lupa. Seperti lupanya aku pada obrolan-obrolan kita tentang berita sosial, politik, agama ataupun tentang nikmatnya rasa bakwan yang dijual di warung teman kita. Yang aku ingat hanya hari ini aku harus ke sini melihatmu, iya melihatmu cuma itu.

Sejenak kesendirianku terganggu oleh kedatangan Pak Sai'un petugas kontrol sebuah perusahaan otobus jurusan Semarang-Malang. Sejenak basa-basi kemudian Pak Sai'un undur diri mencari tempat merebahkan badan sembari menanti bus yang dikontrolnya memasuki terminal.

Halaman terminal benar-benar sepi, tak ada satupun bus terparkir disini. Hanya lalu lalang kendaraan dari jalan lingkar seberang terminal yang memecah sunyi.

Kopi yang kamu sajikan tak terasa tinggal ampas yang tersisa, beberapa gorengan pun sudah aku habiskan. Tak ada lagi alasan untuk bertahan. Saatnya aku pulang.
Satu lembar dua puluh ribuan aku ulungkan kepadamu sembari menyebut kopi dan sejumlah gorengan yang telah aku makan. Sekali lagi kamu terkejut melihatku. Kalau biasanya kamu menyerahkan sejumlah uang kembalian lalu aku melangkah pulang, kali ini beda.

"Bang kenapa sih kamu masih saja datang ke sini?
Kan sudah aku bilang kepadamu kalau semenjak kejadian itu aku tidak lagi mampu mencintaimu.
Aku tidak bisa melanjutkan hubungan yang pernah ada.
Kamu masih saja datang datang kemari, kamu ngerti nggak sih bang semuanya sudah selesai, SELESAI!"
Cecarmu berapi-api.

Aku tersenyum mendapati perubahanmu kali ini, tapi aku tidak tahu jawaban apa yang aku berikan kepadamu. Bukankah tidak semua hal harus aku jelaskan kepadamu, termasuk alasanku datang lagi kemari.

Melihatku senyum senyum cengengesan, kamu semakin berapi-api mencecarku dengan penjelasan-penjelasan tentang hubungan di antara kita yang tidak lagi mungkin kamu lanjutkan. Dan kali ini nada suaramu semakin tinggi.

Aku masih tersenyum mendengarmu bicara, dalam hati pertanyaanmu aku jawab lirih.

"Aku pernah kehilangan sesuatu di tempat ini, jadi wajar kalau aku mulai mencarinya dari sini. Aku masih ingat di tempat ini aku kehilangan, entah itu dicuri atau aku yang lupa meletakkannya."

Dan kamu tak pernah tahu sesuatu itu adalah KEWARASANKU.

Di sini aku mulai merasa sedih, mendadak hening kembali mendekapku, dan suaramu semakin lirih tak terdengar.

Gara-Gara PK

Semenjak nonton film PK tiap kali bicara tentang Tuhan, sejenak aku berpikir:
Ini Tuhan yang mana?
Tuhan yang menciptakan aku ataukah Tuhan yang aku ciptakan?
Tuhan yang menciptakan semesta ataukah Tuhan yang dibentuk akal pikiran manusia?
Berbahaya kalau sampai "salah sambung" kepada Tuhan yang bukan sebenarnya.

Dan daftar pertanyaanku semakin panjang,
Jangan-jangan yang aku sembah itu Tuhan yang aku cipta saat aku sedang susah?
Jangan jangan yang aku mintai pertolongan itu Tuhan yang aku buat saat aku ada di bawah?
Atau jangan jangan aku berserah diri kepada Tuhan yang aku munculkan dari keadaanku yang sudah lagi tidak mampu melakukan sesuatu?

Lalu di mana Tuhan yang aku lupakan saat aku dipenuhi segala macam kesenangan?
Di manakah Tuhan yang tak lagi kusebut ketika segala kebutuhanku tercukupi?
Masih adakah Tuhan saat aku berhasil dengan gemilang menaklukkan dunia?
Bukankah Tuhan yang sebenarnya Tuhan akan selalu ada apa pun keadaannya? 

Kuil, Gereja, Kathedral, Masjid, Pura, Wihara, Kelenteng, dan masih banyak lagi manusia memberi nama untuk Rumah-Nya.
Tuhan, Allah, Yesus, Yahweh, Sang Hyang Widhi, Budha, Dewa, Ra dan bermacam macam nama yang diberikan untuk menyebut Asma-Nya. 
Nama-nama tersebut adalah cara manusia mendeskripsikan Tuhan Yang Maha Esa. Berbagai macam agama dan kepercayaan yang ada di dunia bukan berarti ada berbagai macam Tuhan dengan segala aturan-aturan-Nya. Tetap saja Tuhan itu Esa tiada dua, Dialah yang menciptakan Semesta.

Dalam memuja Tuhan manusia membayangkan-Nya menurut kecenderungannya sendiri. 
Seringkali manusia terjebak dalam imajinasinya sendiri dalam usahanya menemukan bentuk Tuhan. 
Padahal setiap usaha  untuk menggambarkan Tuhan pasti akan menemukan kegagalan.
Di tiap-tiap agama dan kepercayaan seringkali menampilkan simbol-simbol Ketuhanan yang terkadang oleh para pemeluknya secara fanatik dianggap sebagai Tuhan.
Mati-matian mereka kelahi membela simbol-simbol ketuhanan tanpa mereka tahu Tuhan mereka Tuhan yang sama, Tuhan yang tak perlu dibela.

Silakan percaya bahwa dirimu memiliki hubungan khusus dengan Tuhan, dalam artian merasa dirimu sangat dekat dengan Tuhan.
Tapi ya janganlah Tuhan itu kamu monopoli, seolah kedekatanmu dengan Tuhan itu membuat dirimu memiliki hak untuk mengasingkan Tuhan dari orang lain.
Bukankah Tuhan itu tidak pernah mengikatkan dirinya hanya pada satu kelompok orang berdasarkan suku,agama, ataupun golongan?
Kedekatanmu dengan Yahweh, dengan Allah, dengan Yesus, atau dengan Sang Hyang Widhi tidak lantas memberimu hak untuk mengatakan bahwa Tuhan orang lain itu palsu.

Dapatkah kamu monopoli api, dalam artian panasnya api kamu monopoli untuk golonganmu saja?
Dapatkah kamu monopoli matahari, dimana terangnya engkau kuasai untuk sukumu saja?
Atau mungkin kamu bisa memonopoli angin, supaya hembusnya cukup kamu yang merasakannya?
Api, matahari dan juga angin hanyalah ciptaan-Nya, lalu siapa yang mampu memaksa Dia untuk memihak pada satu kelompok orang saja?
Please, jangan membuat lelucon yang menyedihkan...!