Dari Galau Menuju Gelisah

Owalah jadi begitu tho mblo ceritanya, pantes aja kamu akhir-akhir ini jadi jarang kelihatan. Kalaupun pas kamu ada ya gitu deh kamu lebih banyak plonga-plongo ndak jelas gitu. Diajak ngobrol pun cuma hmm dan enggg reaksimu. Ternyata lagi banyak masalah tho ceritanya.

Namanya juga hidup mblo, jadi ya wajarlah kalau ada masalah. Yang namanya masalah itu kan bagaimanapun akan datang biarpun ndak diundang. Bagaimana caramu menghadapi masalah itulah yang akan menjadi nilaimu sebagai manusia. Terlepas nanti hasilnya baik atau buruk buatmu.

Itu kopinya diminum dulu mblo keburu dingin lho.  Mbok ya ndak usah galau gitu, lagian udah nggak jaman ah galau-galauan. Galau itu kan berpikir tapi nggak tahu apa yang dipikirkan, jadinya ya plonga-plongo seperti dirimu mblo. Seolah hidup tanpa harapan untuk bahagia, kemudian malas berpikir dan menikmati keterpurukan yang dialami.

Wajar sih kalau dirimu menjadi gelisah karena permasalahan yang sedang kamu alami. Karena kegelisahan itu memang ekspresi dari kecemasan, kekhawatiran dan ketakutan dalam kaitannya dengan keinginan yang tidak tercapai.

Ada pun penyebab kegelisahan adalah karena pada hakekatnya orang takut kehilangan hak-haknya yang disebabkan adanya gangguan atau ancaman baik dari luar maupun dari dalam.
Hak yang aku maksud disini meliputi hak untuk hidup, hak untuk memperoleh perlindungan, hak kemerdekaan hidup, hak memperoleh nama baik dan hak-hak yang lainya. Tapi ndak termasuk hak sepatunya mbokmu lho mblo heuheu.

Gelisah itu sudah menjadi kelengkapan manusia hidup mblo, jadi ya kalau hidup tanpa mengalami kegelisahan-kegelisahan malah patut dipertanyakan kamu itu masih hidup atau sudah meninggal. Kita ngobrol gini pun ndak lengkap juga kalau itu kopi sama gorengannya kamu diemin aja mblo, heuheu disambi mblo, monggo.

Kamu tahu nggak mblo kalau orang-orang semacam Sukarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka merupakan tipe-tipe penggelisah. Benar mblo mereka gelisah dengan keadaan sekitarnya sehingga mereka terus aktif berpikir dan berbuat untuk sekitarnya. Untuk Bangsanya.
Jadi mereka itu ndak sekedar gelisah memikirkan nasibnya sendiri, kegelisahan mereka itu tentang nasib banyak orang, tentang kemaslahatan umat, tentang hal-hal besar bukan tentang hal remeh macam iba diri karena gagal bercinta.

Di zaman sekarang ini begitu banyak permasalahan yang lebih pantas kamu gelisahkan daripada sekedar galau karena kejombloanmu.
Negeri yang konon gemah ripah loh jinawi ini yang katanya tongkat kayu dan batu jadi tanaman ternyata oh, ternyata bikin tempe saja musti impor kedelai dari Brazil. Ini sudah patut jadi kegelisahan kita bersama mblo di mana Bangsa kita sudah benar benar jauh dari yang namanya swasembada pangan.

Kedaulatan pangan negeri ini begitu memprihatinkan, tercatat di akhir 2013 produksi gabah kering giling kita mencapai 70 juta ton dengan jumlah lahan produksi padi 13 juta hektar, jika gabah kering giling tersebut diolah menjadi beras maka akan menghasilkan 35-37 juta ton beras. Dibagi 240 juta penduduk RI, akan keluar angka konsumsi beras per kapita per tahun 140-an kg. Ini adalah konsumsi karbohidrat beras terbesar di dunia. Republik besar ini bisa terjepit bahaya diabetes di masa yang akan datang. Politik beras sungguh telah mencapai titik nadir. Benar mblo ini masalah kita bersama dan layak untuk bahan kegelisahan, heuheu..

Kalau ngobrol gini kan kegelisahanmu pada permasalahan yang sepele itu jadi nggak berarti lagi mblo. Kenyataannya ada begitu banyak hal yang lebih pantas untuk menjadi bahan kegelisahan kita bersama.
Bolehlah kamu gelisah tapi bukan karena ibamu pada diri sendiri.
 
Gelisahmu itu mbok ya untuk permasalahan yang menyangkut hajat hidup orang banyak mblo. Kalau cuma smsmu ndak dibales kemudian menggalau di sosmed itu namanya drama mblo.
Pun misalkan kamu gagal menikah karena ditolak perempuanmu itu artinya masih ada seribu gadis di luar sana yang mau jadi pendampingmu.
Itupun kalau dari seribu itu ada yang khilaf mau sama kamu mblo.... heuheuheu


Kawan Aku Malu

Aku punya seorang teman
Dia mengaku tak percaya Tuhan
Kawanku tak memeluk suatu agama
Namun tak sekali pun dia menghina umat beragama, atau menistakan suatu keyakinan

Kawanku hanya mengenal kebaikan
Kebencian tak pernah sempat dia pikirkan
Begitu ringan tangan membantu yang butuh pertolongan
Atas nama kemanusiaan tanpa mengharap balasan
Seolah hidupnya hanya untuk berbuat kebaikan

Menyakiti sesama bukanlah tabiatnya
Iri dan dengki selalu dihindarinya
Keburukan nyaris tak pernah ia sentuh

Begitulah
Temanku yang tak beragama
Kawanku yang tak kenal Tuhannya

Di sini aku
Yang mengaku umat beragama
Yang mengaku berkeTuhanan Yang Maha Esa

Begitu mudah tersulut benci
Teramat mudah memelihara dendam
Di mana Tuhan Yang Maha Penyayang?

Yang tak sejalan adalah salah
Yang bersebrangan bisa dilenyapkan
Ke mana Tuhan Yang Maha Pemurah?

Bantuanku dibayangi pamrih
Kebaikanku hanya untuk golongan tertentu
Apakah Tuhan tak adil lagi?

Mulutku bilang ikhlas namun hati berhitung sekian pahala
Bahkan terkadang pongah pamer kaplingan di surga
Surganya siapa, Tuhan di mana?

Lantang kukatakan Tuhanku satu
Kenyataannya aku menuhankan uang
Serta tunduk pada harta dan jabatan

Malu aku pada kawanku
Bisanya mengaku beragama dan memiliki Tuhan
Bodohnya aku yang tertipu


Manusia



بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
"[1] Qul a'uudzu birabbi 'n-naas. Katakanlah,''Aku berlindung kepada Tuhan manusia.''"
-Aku berlindung kepada Tuhan yang menciptakan manusia dari saripati angin, yang darinya tercipta nafas, yang dengannya aku hidup.
-Aku berlindung kepada Tuhan yang menciptakan manusia dari saripati air, yang darinya tercipta tulang-sumsum, yang dengannya aku hidup.
-Aku berlindung kepada Tuhan yang menciptakan manusia dari saripati api, yang darinya tercipta darah, yang dengannya aku hidup.
- Aku berlindung kepada Tuhan yang menciptakan manusia dari saripati tanah, yang darinya tercipta kulit-daging, yang dengannya aku hidup.

"[2] Maliki 'n-naas. Raja Manusia."
-Aku berlindung kepada Allah yang merajai manusia. Aku taklukan yang bergerak atau tidak bergerak atas PerintahNya.
-Kepada hamba-hambaNya yang takluk dan berserah diri, Tuhan memerdekakan mereka dari rasa takut dan sedih.
-Tuhan, yang merajai manusia, lebih tahu tentang hamba-hambaNya daripada diri mereka sendiri. Dia Maha Tahu segala sesuatu.
-Tuhan, yang merajai manusia, memilih hamba-hambaNya sebagai pemimpin bagi diri mereka sendiri dan pemimpin di muka bumi.

"[3] Ilaahi 'n-naas. Sesembahan manusia."
-Aku berlindung kepada Allah; Tuhan manusia, Raja manusia, Sesembahan manusia. Segitiga kesatuan, puncak segala pengetahuan.
-Allah, Dialah Tuhan dan akulah makhluk. Allah, Dialah Raja dan akulah taklukan. Allah, Dialah Sesembahan dan akulah hamba.
-Aku berlindung kepada Allah dari keburukan sifat makhluk yang ingkar, taklukan yang melawan, dan hamba yang memberontak.
-Allah yang mengeluarkan manusia dari mulut rahim ibunya tanpa bisa apa-apa lalu memberi pendengaran, penglihatan, dan akal-budi.
-Bagiku, Dia Tuhan, Raja, Sesembahan. BagiNya, aku makhluk, taklukan, hamba. Untukku, dariNya pendengaran, penglihatan, akal-budi.
-Inilah Segitiga Kesatuan. Tuhan Pencipta, maka aku makhluk. Raja Penguasa, maka aku takluk. Sesembahan Pemimpin, maka aku hamba.
-Aku makhluk, taklukan, dan hamba, berlindung kepada Tuhan, Raja, dan Sesembahan, dari keburukan, kelemahan, dan kelalaianku.

[4] Min syarri 'l-waswaasi 'l-khannaas. [Aku berlindung] dari kejahatan musuh yang nyata namun tersembunyi.
-Musuh itu dari dalam diri. Dari keburukan yang bersembunyi dalam kebaikan. Dari kehinaan yang bersembunyi dalam kemuliaan.
-Musuh itu dari dalam diri. Dari kenistaan yang bersembunyi dalam kehormatan. Dari ketamakan yang bersembunyi dalam kemurahan.
-Musuh itu di dalam diri. Menjadikan tak jelas lagi mana kesejatian mana kepalsuan, mana ketulusan mana keserakahan.
-Musuh itu di dalam diri. Menjadi tidak jelas lagi mana kesungguhan mana kebatilan. Mana kerelaan mana keterpaksaan.

"[5] Alladzii yuwaswisu fii shuduuri 'n-naas. Yaitu yang membisikkan [kejahatan] ke dalam dada manusia."
-Aku berlindung kepada Tuhan segala makhluk, yang mengilhami kefasikan dan ketakwaan kepada jiwa manusia, dari diriku sendiri.
-Kepada Tuhan segala ciptaan, aku berlindung dari saripati angin, air, api, dan tanah dalam diriku yang menjelma nafsu-nafsu.
-Kepada Tuhan segala asal-muasal, aku berlindung dari angan yang berumah di kepala dan ingin yang berumah di dada.
-Kepada Tuhan segala kejadian, aku berlindung dari dosa dan pahala yang menyekutukan Allah dengan upaya dan pamrih manusia.
-Sungguh, yang dibisikkan ke dada manusia adalah prasangka. Darinya muncul benci dan cinta yang dari keduanyalah fasik dan takwa.

"[6] Mina 'l-jinnati wa 'n-naas. Dari golongan jin dan manusia."
-Aku berlindung kepadaMu ya Tuhan, Raja, dan Sesembahan, dari golongan jin dan manusia yang membisikkan tipu daya ke dalam dada.
-Sesungguhnya tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia selain untuk beribadah, maka kami berlindung kepadaNya dari saling goda.
-Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan, yang menjelma bayangan bagi nafsu, sehingga tak mudah membedakan mana dia mana aku.
-Dan, aku berlindung kepada Allah dari malaikat, dari pencatatannya yang membuatku berhitung laba dan pahala dari setiap tindakan.
-Aku berlindung kepada Allah yang meliputi segala sesuatu. Dia tidak di dalam, tidak di luar, tidak di atas, tidak pula di bawah.
-Aku berlindung kepada Allah yang meliputi segala sesuatu. Dia tidak di depan, tidak di belakang, tidak di kiri, tidak di kanan.
-Aku bukan utara, timur, selatan, barat. Aku bukan arah bagi diriku. Aku tepat berada pada diriku sendiri. Akulah penentu segala penjuru.
-Aku berlindung kepada Allah. Dialah Tuhanku, Rajaku, Sesembahanku. Akulah makhlukNya, taklukanNya, hambaNya. Amin.

Ditulis ulang dari tweet @SufiKota yang di admini oleh @CandraMalik .