Pernah Ganteng

"Om hapemu yang ini aku banting ya?" Tanya Aliqa padaku pada suatu kesempatan.

"Wee, emang kenapa kok mau kamu banting?" Tanyaku balik.

"Habis jelek sih Om hahahaha" jawab Aliqa cengengesan.

"Ya jangan karena jelek lantas kamu buang, kamu tahu nggak dek jelek-jelek gini hape ini pernah baru artinya dia pernah bagus juga dulunya." Terangku.

"Ohh gitu ya Om." Kata Aliqa dan Aqila berbarengan.

"Sama juga seperti Om kalian ini, biarpun jelek gini dulunya juga pernah ganteng." Sambungku.

"Huuuuu ndak mungkin itu." Teriak mereka berdua protes.




Perang Kembang

Syahdan, Raden Vale dalam perjalanannya mengejar Wahyu Makutarama melintas di Rimba Sepang. Tergesa Raden Vale memasuki Rimba Sepang karena dia sadar bahwa pesaingnya yang juga mengejar Wahyu Makutarama yaitu Pangeran Jorge selangkah ada di depan.

Sepertinya keberuntungan tidak berpihak pada Raden Vale, baru beberapa depa memasuki kawasan Rimba Sepang, di tengah lintasan Marc Caquil telah berdiri menghadang.

"Ngiahahahaha manusia tampan mau kemana, mengapa dirimu begitu tergesa. Berhenti sejenak, bermainlah dulu denganku" kata Marc Caquil menantang Raden Vale.

Hampir separuh hidup Raden Vale dijalani dalam pengembaraan, ribuan kali bertemu rimba, ribuan kali berjumpa padang. Menyebrangi sungai, mengarungi laut, memasuki Goa, ke luar lembah. Raden Vale sudah mahfum terhadap gangguan seperti yang dilakukan Marc Caquil. Sudah banyak Cakil yang pernah mengganggunya, semuanya tak ada yang berarti dan berhasil dilewati. Semua tewas tertusuk pusakanya sendiri.

Kali ini Raden Vale sedang tak ingin bermain-main melayani Marc Caquil.

"Menyingkirlah Quil, aku sedang mengejar Wahyu Makutarama, kalau kau tak lagi punya hak memperebutkannya, menyingkirlah! Biarkan aku mendapatkannya sebelum Pangeran Jorge." Jawab Raden Vale yang langsung menghindari Marc Caquil, kemudian merangsek pergi.

"Ngiahahaha tidak semudah itu Kisanak!" Marc Caquil langsung memburu Raden Vale di kedalaman kelok Rimba Sepang.

Marc Caquil yang ini berbeda dengan Cakil-cakil yang biasa dihadapi Raden Vale sebelumnya. Marc Caquil bukan jago kandang, ia sudah melanglang jagad mengasah kemampuan.
Tak butuh waktu lama buat Marc Caquil mengejar Raden Vale. Tanpa basa-basi Marc Caquil menyerang Raden Vale di tikungan.

"Ngiahaha jangan kabur dulu, bertahun-tahun aku mengagumimu dan berlatih supaya bisa sejajar kemampuanku denganmu. Hadapi aku, jangan kabur."

Keduanya langsung terlibat duel seru, kemampuan mereka terlihat setara. Marc Caquil unggul di kekuatan sedangkan Raden Vale menang pengalaman.
Rimba Sepang yang sunyi bergelora menyaksikan sengitnya pertarungan mereka, saling serang dan menghindar berlangsung rapat.

Tak terasa separuh panjang Rimba Sepang telah mereka tempuh.
Raden Vale sadar jaraknya dengan Pangeran Jorge semakin jauh. Tak ada pilihan bagi Raden Vale selain meladeni Marc Caquil dengan sungguh-sungguh agar jelas siapa yang lebih ampuh.
Dalam sebuah kesempatan terlihat kepala Marc Caquil menanduk lutut Raden Vale.

*Dziggh*

Raden Vale sudah siaga terhadap serangan ini, dibiarkannya kepala Marc Caquil menyeruduk lututnya, kemudian dengan halus didorongnya kembali kepala Marc Caquil.

*Sreettt* 
(((GDUBRAKK))) 

Marc Caquil terjerembab jatuh, tewas menimpa keris yang dihunusnya.

Raden Vale meninggalkan Marc Caquil, mencoba mendekatkan jarak dengan Pangeran Jorge.

Keluar dari Rimba Sepang Raden Vale sudah ditunggu para Dewa yang menyaksikan pertarungannya dengan Marc Caquil.

Para Dewa menganggap Raden Vale menyalahi aturan yang berlaku di Rimba Sepang dan harus dihukum dijauhkan jaraknya dengan Pangeran Jorge.

Semakin berat usaha Raden Vale mengejar Pangeran Jorge, semakin susah Raden Vale memperoleh Wahyu Makutarama.




Kudus, 27 Oktober 2015.
Sumber gambar: www.szaktudas.com

Salah Pilih

Sebagai Satpam yang patuh dan taat kepada pimpinan, jujur dan bertanggung jawab tentunya menjalankan tugas yang diperintahkan oleh unsur pimpinan adalah sebuah keharusan yang dilaksanakan dengan penuh kesungguhan.

Selain tugas harian di Pos Penjagaan, terkadang saya juga menerima tugas untuk melakukan latihan penyegaran. Seperti Sabtu kemarin dimana saya harus menjalani penyegaran latihan PBB dan PPM bersama rekan-rekan Satpam lainnya, agar kami sebagai Satpam senantiasa tumbuh dan terjaga sikap jasmani yang tegap dan tangkas, rasa kesatuan, disiplin, sehingga dengan demikian senantiasa dapat mengutamakan kepentingan tugas di atas kepentingan individu dan secara tidak langsung juga menanamkan rasa tanggung jawab.

Dalam latihan baris-berbaris selain bisa melaksanakan gerakan di tempat, langkah terbatas, dan langkah berjalan yang meliputi gerakan dari berhenti ke berjalan, dari berjalan ke berjalan dan dari berjalan ke berhenti, peserta latihan juga dilatih untuk bisa menjadi komandan pleton, bergantian danton yang lama menunjuk satu peserta latihan untuk menggantikan dirinya sebagai danton baru untuk memberikan perintah dan aba-aba ke pasukan.

Sepertinya rekan-rekan sepelatihan sadar untuk tidak menunjuk saya sebagai komandan pleton. Tentunya mereka tidak mau mengambil resiko menjadi korban keisengan saya memberikan aba-aba "JALAN DI TEMPAT"  tanpa pernah tahu kapan akan berhenti.

Pernah dalam suatu DIKLATSAR Satpam beberapa waktu yang lalu, saya ditunjuk oleh Pelatih untuk menjadi Komandan Pleton. Kebetulan saat itu materi yang disampaikan adalah "Pemberian APP (arahan petunjuk pacaran pelaksanaan) dalam barisan." Dan saya diperintahkan oleh pelatih untuk praktek memberikan APP kepada pasukan.

Setelah pasukan saya kumpulkan dalam barisan tiga bersaf dan kemudian saya istirahatkan, APP saya mulai dengan ucapan:
"Selamat pagi."

"Pagi." Jawab mereka serempak.

Sambil berjalan dari ujung kiri ke ujung kanan barisan saya amati rekan-rekan sepelatihan, sekilas saya melirik ke posisi pelatih berdiri, pelatih mengangguk memberikan kode agar saya melanjutkan APP.

"Terimakasih atas kehadiran rekan-rekan dalam apel pagi ini, rekan-rekan tahu apa yang akan saya sampaikan pagi ini?" Tanya saya.

"TIDAK." Pasukan menjawab kompak.

"Baiklah saya sudahi saja APP pagi ini, buat apa saya berikan APP kalau rekan-rekan tidak tahu apa yang akan saya sampaikan." 

Kemudian saya balik kanan ngeloyor meninggalkan pasukan yang tertawa terpingkal-pingkal. Kemudian saya dan teman-teman sepelatihan dihukum push up 15 kali karena dianggap tidak serius dalam latihan. Oleh pelatih kami diminta untuk mengulang sekali lagi.

"Selamat pagi." Sapa saya mengawali APP jilid II.

"PAGI." Jawab pasukan tetap serempak.

"Rekan-rekan sekalian tahu apa yang akan saya sampaikan?" Tanya saya.

"SIAP TAHU." Jawab pasukan.

"Baiklah, karena kalian semua sudah tahu tak ada gunanya lagi saya memberikan arahan."

Kembali saya ngeloyor balik kanan meninggalkan pasukan yang semakin terpingkal-pingkal tawanya. Lagi-lagi oleh pelatih kami dihukum push up 15 kali, dan sekali lagi kami diperintahkan untuk mengulang.

"Selamat pagi rekan-rekan." Kembali saya menyapa pasukan.

"PAGI." Jawab mereka.

"Terimakasih atas kesediaan rekan-rekan melaksanakan apel pagi ini, sesuai instruksi pelatih pagi ini saya diminta untuk memberikan APP kepada rekan-rekan semua. Apakah rekan-rekan tahu apa yang akan saya sampaikan kepada rekan-rekan semua?"

"Tahu." --- "Tidak." Kali ini pasukan agak ragu menjawab.

"Jawab yang tegas, apa rekan-rekan tahu apa yang akan saya sampaikan?" Kembali saya bertanya.

"TIDAK."
"TAHU."

Sebagian dari mereka menjawab tahu, sebagian lagi tidak.

"Baiklah sehubungan di antara rekan-rekan ada yang sudah tahu dan ada yang tidak, setelah pasukan saya bubarkan maka bagi yang tidak tahu untuk bertanya kepada yang tahu. Dan bagi yang tahu agar memberitahu kepada yang tidak tahu. Apa 86?"

"SIAP 86." Jawab mereka kembali serempak.

"PERHATIAN SELESAI."
"BUBAR JALAN!" Perintah saya membubarkan pasukan.

Kali ini tidak ada tawa terpingkal dari kami, aku melihat ke arah pelatih, beliau menggelengkan kepala menatapku prihatin, kemudian tertawa terpingkal-pingkal, lalu push up sebanyak 15 kali.

Entahlah mungkin Bapak Pelatih menyesal telah memilihku menjadi seorang komandan pleton di pagi itu.


*Terinspirasi dari kisah Nasruddin Hodja*




-Ilustrasi gambar peserta latihan DIKLATSAR SATPAM-

Mengantar Simbah

31 Desember 1931 hingga 30 Juli 2015 bukanlah rentang waktu yang pendek untuk dijalani. Begitu banyak peristiwa yang telah dialami Simbah dalam 84 tahun perjalanannya. Pahit getir perpisahan, manis bahagia pertemuan telah berkali-kali hadir dalam kehidupan Simbah. Dari Simbah aku mendapatkan berbagai macam cerita tentang hidup dan kehidupan.

Semasa Simbah masih tinggal di sebuah Desa di kota Jepara, dua atau tiga bulan sekali Simbah datang berkunjung menengok cucu-cucunya yang tinggal di sini. Kedatangan Simbah senantiasa membahagiakan buat kami cucu-cucunya. Bahkan lagu Kemarin Paman Datang seringkali aku ganti menjadi Kemarin Simbah Datang.

Seperti dalam lagu tersebut, kedatangan Simbah pun selalu dengan buah tangan untuk cucu-cucunya. Mangga, rambutan, nangka bahkan pete dibawa dalam tas keranjangnya. Tak lupa Simbah membawa kepiting atau rajungan sebagai pelengkap hasil kebun yang dibawanya.

Saat malam datang adalah yang paling aku tunggu dari kehadiran Simbah. Dari Simbah aku mengenal berbagai dongeng sebelum tidur. Kancil Nyolong Timun, Ande Ande Lumut, Timun Mas, Roro Jonggrang, Kedono-Kedini, Kancil dan Buaya, Kancil dan Macan, dengan sabar diceritakannya sampai kami tertidur. Diselingi senandung-senandung lagu dolanan anak-anak, Simbah mengajari kami tentang hal-hal baik dan menjauhkan kami dari segala keburukan.

Terkadang Simbah juga bercerita tentang pengalaman-pengalamannya semasa muda. Diawali dengan mengajari berhitung dalam bahasa Jepang, kemudian Simbah menceritakan pengalaman yang dialami di masa penjajahan Jepang.

Peralihan zaman dan pergantian kepemimpinan yang dialami Simbah terjadi begitu cepat. Kebahagiaan yang dikecap berganti kesedihan tanpa permisi. Dari cerita Simbah aku mengenal kekejaman politik, dari cerita Simbah aku mengenal ketidakadilan.

Seiring usia Simbah yang terus bertambah, menetaplah Simbah di Kota ini. Cucu-cucunya beranjak dewasa, tak ada lagi yang tertarik dengan dongengan Kancil Nyolong Timun. Saat Simbah rindu kampung halamannya adalah tugasku mengantar Simbah kembali ke Desa. Dengan angkutan umum aku mengantar Simbah kembali ke Desa, berpindah dari Angkota ke Minibus lalu menaiki Angkudes. Kegiatan mengantar Simbah terhenti semenjak kesehatan Simbah menurun dan tak mampu lagi berjalan jauh.

Dalam 84 tahun perjalanan Simbah, telah banyak perjumpaan dan perpisahan yang dialami Simbah. Semua cucu-cucunya telah menikah, kecuali aku tentunya. Sepuluh tahun terakhir Simbah selalu memintaku agar segera menikah, "Mumpung Simbah masih hidup." begitu katanya. Dan seperti biasa aku selalu mengiyakan dan memohon restu Simbah.

Penghujung tahun lalu aku memperkenalkan seorang perempuan kepada Simbah, sungguh aku melihat kebahagiaan Simbah melebihi kebahagianku setelah mengetahui aku memiliki calon istri.
Dan sungguh aku pun melihat Simbah yang terluka melebihi lukaku saat mengetahui hubunganku yang gagal menuju pelaminan.

Hari ini aku mengantar Simbah seorang diri tanpa istri yang Simbah nanti.
Maafkan aku yang tak mampu memenuhi keinginan Simbah.
Begitu panjang jalan Simbah, begitu banyak peristiwa yang Simbah saksikan namun Simbah tak pernah lagi punya waktu untuk menyaksikan pernikahanku.

Maafkan cucumu Mbah,
Sugeng kondur....
Al-fatihah.




Perihal Ketidaktahuan

Adalah kesedihanmu mblo yang membuat dirimu menjadi lemas tanpa daya.
Tak lain, karena kesedihan hanya memiliki daya yang menghentikan dan bukan menggerakkan.
Tentunya itu tidak menjadi manfaat dalam perjalanan hidupmu.
Keinginan-keinginanmu yang tak juga tercapai bukan alasan untukmu menyerah mblo.
Adapun kegagalanmu bersanding dengan kekasih hati tidak harus membuatmu menjadi patah.
Sesungguhnya kesedihanmu terkait persoalan masa lalu dan segala kecemasan tentang hal-hal yang belum terjadi adalah karena ketidaktahuanmu.


Dan kamu mblo, kamu bersedih karena suatu hal, dan kadar kesedihanmu itu sebanding dengan kadar keinginanmu akan sesuatu itu, yang kemudian tidak tercapai. Ah kamu kecewa, kamu geram, kamu stress dan frustasi, kamu putus asa, kamu naik pitam dan mengamuk. Dan itu semua salah satu sumbernya adalah janji-janji "sunyi" di balik keinginan.
Hih, lemah kamu mblo!
Sekali lagi akibat ketidaktahuanmu mblo.
Barangkali keinginanmu yang menggebu untuk mendapatkan kedondong membuatmu tiada putus berdoa memohon kepada-Nya.
Dan ketidaktahuanmu lah yang kemudian membuat Tuhan menahan limpahan durian, mangga, apel, duku, semangka, melon, pisang, nangka, rambutan, dan juga juwet untukmu.


Ketidaktahuan tidak selalu berakibat buruk mblo, tidaklah mungkin kamu mengetahui segala sesuatu. Dan pastinya ketidaktahuanmu akan selalu lebih besar dibanding apa yang kamu tahu.
Di balik ketidaktahuan sering kali muncul kejutan yang tidak kamu sangkakan mblo. Ada rahasia Tuhan di sana.
Dahulu, Nabi Nuh membuat bahtera tanpa pernah tahu kalau akan ada banjir besar yang akan melanda. Diterimanya dengan lapang dada segala hinaan dan cercaan dari kaumnya yang menganggap membuat bahtera adalah tiada guna.
Pun dengan Nabi Ibrahim yang tidak pernah tahu buah hatinya yang akan disembelih diganti Tuhan dengan domba.
Nabi Musa tak sekali pun pernah tahu bahwa laut akan terbelah saat menerima perintah untuk memukulkan tongkatnya ke pantai.
Yang mereka tahu adalah hanya patuh pada perintah Allah dan tanpa pernah berhenti berharap yang terbaik.


Begitulah mblo, seringkali Tuhan berkehendak di detik-detik terakhir dalam pengharapan dan ketaatan hamba-hambaNya.
Tak perlu berkecil hati saat sepertinya doamu belum terjawab.
Bisa jadi Allah mencintamu dengan cara-cara yang tak terduga dan tidak kamu suka.
Seperti yang sudah kamu ketahui mblo, Tuhan senantiasa memberikan apa yang kamu butuhkan bukan yang kamu inginkan.
Lakukan saja bagianmu mblo, terima ikhlas segala keputusan dan ketetapanNya. Segala kebutuhanmu biarlah Allah yang mengurusnya.


Tetap percaya,
Tetap berdo'a,
Tetap setia,
Memohon RidhoNya.


 

Fenomena "Penak Yo Peeeenaaaakkk"

Bulan maret ini Facebook dan Youtube menjadi satu tempat pembantaian gadget. Mulai dari smartphone, laptop dan sebangsanya dipalu, dibanting dan dihancurkan. Video-video yang diunggah para tuan dan puan TKI membuat miris hati, gerangan fenomena apa ini?

Berawal dari sebuah video yang diunggah dari tanah air, yang menampilkan sedikit provokasi dari seorang yang mengaku ditinggal istrinya jadi TKW.
Pria ini merekam kegiatan para suami di kampung yang ditinggal para istri jadi tenaga kerja di luar negri. Sambil tertawa-tawa mengungkapkan bahwa ditinggal istri itu ya enak, bisa Fesbukan tanpa henti, HPnya bagus, rokoknya enak, minumnya Extrajoss, motor baru. Uang habis tinggal minta kiriman dan tak perlu lagi bekerja atau nyari rumput buat makan sapi.

Secara viral video ini menyebar di kalangan TKI dengan cepat, dan respon yang diberikan para TKI pun sungguh di luar dugaan.
Beberapa video diunggah dari Hongkong, Taiwan, dan Korea.
Yang awalnya adalah video yang menampilkan bahwa para TKW itu hidupnya tidaklah menderita seperti yang disangka para suami di tanah air. Mereka mulai bercerita tentang kehidupan mereka, tentang gaji mereka dan tentunya dengan cara yang centil dan provokatif serta sedikit pamer.

Ada pula sebuah video yang menampilkan perempuan yang sebegitu jengkelnya dengan video suami di kampung tersebut sehingga dalam video tersebut dia menghancurkan tiga buah smartphonenya dengan palu demi terlampiaskannya kejengkelan yang dirasakan.

Dari video-video balasan ini kemudian video yang diunggah di antara para TKI dan TKW semakin banyak bermunculan.
Dari Korea ada TKI yang mengunggah video di akun Facebooknya memamerkan mobilnya, kehidupannya yang serba cukup, gajinya yang lebih banyak dari TKW Hongkong dan Taiwan.

Komentar dan tanggapan semakin ramai, tidak mau kalah dengan yang sebelumnya, seorang TKI mengunggah video memamerkan banyakya gadget yang dimiliki, tak lupa juga memamerkan enaknya menghancurkan beberapa buah laptop dan Ipod yang ada.

Entahlah sampai kapan kegendengan itu berlanjut, mereka begitu menikmati pameran yang mereka buat. Mereka terlihat senang dan tertawa-tawa puas menghancurkan barang-barang tersebut. Mereka begitu bangga dengan apa yang mereka miliki saat ini kemudian saling ejek melempar provokasi antar sesama TKI.
Beberapa akun lain mencoba menengahi dan bersikap bijak. Mereka mengunggah video himbauan agar kegendengan yang temen-temen mereka lakukan segera dihentikan. Entah suara mereka ini didengar atau sekedar numpang lewat.

Bener sih yang dihancurkan itu barang-barang milik mereka sendiri, tapi apa iya harus seperti itu?
Lha sebenerya itu yang jadi masalah itu apa?
Belum tentu juga di antara para pengunggah itu saling kenal satu sama lain, tapi kok bisa-bisanya reaksi yang muncul sampai seperti itu.
Bener sih mbak/kang sakpenake dewe kuwi penak....
Penak yo peeeenaaaakkk tapi mbok ya ojo sak penake dewe.

Bingkisan

Datang siang ini sebuah bingkisan yang dikirimkan kurir jasa paket kilat yang tertuju kepadaku dengan alamat yang jelas beserta RT RW dan kodepos. Terbungkus begitu rapi dan terdapat peringatan di sana-sini.

"Tolong jangan dibanting!"
"Tolong jangan diinjak!"

Dan banyak tolong tolong yang lain.

"Waini jangan-jangan ini bingkisan yang teramat berharga hingga membutuhkan banyak pertolongan" pikirku.

Atau bisa jadi ini bingkisan Tuhan bagiku yang berisi semacam petunjuk ke mana aku menemukan jodohku. Kalau dari segi ukuran aku masih waras untuk tidak berpikir bingkisan ini berisi pacar apalagi mantan.

Hati-hati dan sedikit tergesa aku membuka bingkisan sesuai anjuran yang tertulis di kertas pembungkus.
Setelah melewati tiga lapis kertas yang berbeda ketebalannya ternyata isi bingkisan masih belum sepenuhnya terbuka karena masih ada plastik kresek hitam yang membalutnya rapat.

Tadaa...

Setelah kresek aku sobek-sobek ternyata isinya buku lagi buku lagi.
Dan diantara buku yang ada dalam bungkusan tidak aku temukan yang namanya buku nikah.

Lha ini bisa jadi persoalan, percuma punya banyak koleksi buku tebal kalau ternyata buku nikah yang dimensinya sekecil itu saja aku tak punya.
Hih, apa kata dunia?


Diskon

"Jangan pernah serahkan suatu pekerjaan kepada yang bukan ahlinya". Kutipan ini baiknya kamu ingat jika mau memintaku untuk berbelanja. Untuk pekerjaan yang satu ini aku sadar diri kalau tidak memiliki skill yang mumpuni untuk memilih dan menawar barang dengan harga yang tepat. Dan cerita kemarin sore adalah bukti ketidakmampuanku berbelanja.

Pusat perbelanjaan bukanlah tempat yang nyaman buatku, karena itulah jarang sekali aku mendatanginya kecuali memang benar-benar butuh sesuatu.
Kali ini ada beberapa barang yang memang aku butuhkan, mau tak mau berangkatlah aku ke salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kota ini.
Saat melintasi deretan penjual aksesoris ada beberapa item yang sepertinya menarik. Mbak pramuniaga dengan ramah menyapa mempersilakan aku untuk melihat-lihat. Karena belum menemukan barang yang aku cari maka aku hanya melewati konter aksesoris ini sambil tersenyum sewajarnya kepada mbak-mbak pramuniaga.

Setengah jam berselang barang-barang yang aku butuhkan sudah aku dapatkan. Dan kebetulan aku kembali melintas di konter aksesoris. Kali ini sejenak aku berhenti melihat-lihat. Dan mbak pramuniaga dengan sigap langsung menyapa.
Aku sebut jenis barang yang aku cari dan dengan cepat mbaknya mengeluarkan bermacam jenis dan bentuk barang yang aku sebut.

"Masnya ganteng pakai yang ini pasti cocok" kata mbak pramuniaga membuka obrolan di antara kami.

"Ah bohong ah mbak... aku gak ganteng kok" kataku.

"Beneran deh mas, ngapain juga aku bohong" sambungnya.

"Lha kalau aku ganteng ya sudah laku mbak, nggak jomblo kayak gini" jawabku sambil cengengesan nggak jelas.

"Yee kalau masalah laku itu urusan jodoh mas bukan ganteng atau jelek. Gimana mas pilih yang mana? Tenang aja mas nanti aku kasih potongan harga" kembali obrolan dibawa mbaknya ke urusan jual beli.

Dan aku memutuskan memilih item A, yang langsung didukung mbak pramuniaga dengan memuji pilihanku.
"Wah selera mas bagus deh, emang perempuan yang seperti apa yang jadi kriteria mas? Andai adikku belum nikah udah tak suruh jadian sama kamu mas"

"Haduh mbak nggak usah muji-muji gitu deh, kalau mbak mau nawarin jodoh buatku ya yang cantik sih gak papa mbak asalkan kaya dan penurut pulak. Eengg kalau adiknya udah nikah yaudah mbak jangan dipaksa, gimana kalau mbaknya aja yang ngadopsi aku?" Jawabku datar yang langsung disambut mbak pramuniaga dengan gelak tawa.

"Jadi yang ini kan mas? Yang ini harganya 135 ribu saya kasih potongan harga mas cukup bayar 100 ribu saja" katanya sambil memperlihatkan label harga item A kepadaku.

Sambil melihat-lihat item-item lain aku mengiyakan perkataannya.
"Coba lihat item B itu mbak" pintaku.

Mbak pramuniaga mengambilkan dua jenis item B kepadaku.
"Yang ini aja mas bagus, bahannya bagus yang ini" katanya menjelaskan tentang keunggulan item B1 dibandingkan item B2.

Di label tertera item B1 135 ribu dan item B2 65 ribu, bentuknya hampir mirip dan memang benar apa kata mbaknya, item B1 bahannya memang lebih bagus.
"Yang ini pun ada potongan harganya mas, gimana mau yang mana?" Tanya mbak pramuniaga.

Karena item B secara fungsional akan jarang aku pakai maka aku kesampingkan dulu urusan kualitas, dan diperkuat alasan ekonomis akhirnya aku memilih membeli item B2 saja.
"Yang ini saja mbak" kataku sambil menyerahkan item B2 kepada mbaknya.

"Ok mas, berarti item A  dan item B2 ya mas?" tanya mbak pramuniaga

"Jadi berapa itu mbak semuanya?" balik aku bertanya.

"Dua ratus ribu mas, yang ini 135 ribu aku potong jadi 100 ribu dan satunya pun sama aku potong jadi 100 ribu juga" jawab mbak pramuniaga sambil membungkus barang yang aku beli.

"Eh udah bener itu mbak?" Tanyaku lagi.

"Iya mas, udah banyak itu diskonnya, masing-masing 35 ribu jadi masnya hemat 70 ribu" kata mbak pramuniaga menjelaskan.

"Oh.... Yasudah mbak kalau gitu, kali aja masih mau nambah lagi diskonnya" celetukku sambil kembali cengengesan.

"Ini mas barangnya, makasih banyak ya mas. Tak doakan semoga mas cepet ketemu jodohnya" katanya sambil menyerahkan belanjaanku.

"Eh cepet itu kapan mbak?" Tanyaku sambil menerima belanjaan.

"Enggg.... Bulan depan deh mas. Semoga" kata mbak pramuniaga sambil senyum-senyum.

"Aamiin, makasih ya mbak. Kirain secepatnya itu aku dapet jodohnya entar kalau aku udah di surga." asal saja aku mengucapkannya sambil mengangguk melangkah meninggalkan deretan konter aksesoris.

"Hahahaha ya nggak lah mas, semoga selekasnya.." Kalimat terakhir mbak pramuniaga yang aku dengar.


Bergegas aku meninggalkan konter aksesoris menuju lantai atas untuk menengok pameran buku. Dan saat aku akan meninggalkan pusat perbelanjaan ini sekali lagi aku melewati konter aksesoris. Kali ini mbak pramuniaga tadi tidak sempat melihatku menyelinap turun. Sepertinya dia tengah asik bercerita kepada rekannya tentang pembelinya yang dicurigai sedang terganggu jiwanya. 
Akupun sama sekali tidak menyapanya, secepatnya aku harus pulang karena waktu maghrib hampir datang.

Sesampainya di rumah barang belanjaan aku bongkar, dan saat membuka bungkusan aksesoris tadi aku langsung tersadar ada kesalahan mendasar saat aku melihat label harga yang tertera di masing-masing item.
Lha kok bisa-bisanya aku membayar 200 ribu padahal masing masing item dipotong 35 ribu?
Item A = 135 ribu
Item B2 = 65 ribu
Aku pun terpingkal-pingkal sendiri dibuatnya, ini pasti tadi mbaknya mengira Item B2 adalah B1, makanya dia menghitungnya masing-masing seharga seratus ribu. Bukan salah dia sih barangnya memang mirip, harusnya kan aku yang mengingatkan dia saat dikasih harga yang salah. Yasudah ikhlasin saja dah itu rezeki buat mbaknya yang sudah mendoakanku lepas dari kejombloan.

Di sini kadang aku merasa tenang dengan status kejombloanku. Sungguh tak terbayangkan betapa sewotnya pasanganku kalau mengetahui kesalahan mendasarku dalam hal berbelanja. 


Sebuah Pencarian

Malam semakin gelap, adzan Isya' telah satu jam lewat. Armada bus tujuan Jakarta sudah tak ada lagi saat aku memasuki halaman terminal induk. Kios-kios banyak yang telah tutup, tinggal satu dua yang masih bertahan menanti rejeki. Seperti biasa kiosmu masih tetap buka, dan ketempatmu aku menuju.

"Kopi pahit Bu"
Ucapku saat persis di depan kiosmu.

Seperti kemarin dan beberapa kemarinnya lagi, ekspresi kekagetanmu saat melihat aku belum juga hilang, entahlah kamu itu semacam melihat kembali orang yang telah lama mati.

"Kopinya 2 sachet?"
Tanyamu kaku.

Cukup anggukan dan senyuman yang kuberikan sebagai jawaban, sembari duduk menatap halaman terminal yang tampak lengang.

Setelah meletakkan kopi pesananku di atas meja, seperti yang sudah-sudah kamu mulai menyibukkan dirimu di dalam kios, membereskan barang-barang yang perlu dibereskan dan bahkan membereskan tata letak daganganmu yang sudah beres. Terus terang aku sama sekali tak ada masalah dengan sikapmu itu. Kesibukanku mencari manis dalam secangkir kopi pahit membuatku lupa rasanya diabaikan.

Kesibukanku mencari terang dalam gelapnya halaman terminal membuatku asik selami sunyi.
Entah ini sudah malam keberapa aku kembali ke tempat ini sejak aku dan kamu putus hubungan saat itu.
Aku lupa. Seperti lupanya aku pada obrolan-obrolan kita tentang berita sosial, politik, agama ataupun tentang nikmatnya rasa bakwan yang dijual di warung teman kita. Yang aku ingat hanya hari ini aku harus ke sini melihatmu, iya melihatmu cuma itu.

Sejenak kesendirianku terganggu oleh kedatangan Pak Sai'un petugas kontrol sebuah perusahaan otobus jurusan Semarang-Malang. Sejenak basa-basi kemudian Pak Sai'un undur diri mencari tempat merebahkan badan sembari menanti bus yang dikontrolnya memasuki terminal.

Halaman terminal benar-benar sepi, tak ada satupun bus terparkir disini. Hanya lalu lalang kendaraan dari jalan lingkar seberang terminal yang memecah sunyi.

Kopi yang kamu sajikan tak terasa tinggal ampas yang tersisa, beberapa gorengan pun sudah aku habiskan. Tak ada lagi alasan untuk bertahan. Saatnya aku pulang.
Satu lembar dua puluh ribuan aku ulungkan kepadamu sembari menyebut kopi dan sejumlah gorengan yang telah aku makan. Sekali lagi kamu terkejut melihatku. Kalau biasanya kamu menyerahkan sejumlah uang kembalian lalu aku melangkah pulang, kali ini beda.

"Bang kenapa sih kamu masih saja datang ke sini?
Kan sudah aku bilang kepadamu kalau semenjak kejadian itu aku tidak lagi mampu mencintaimu.
Aku tidak bisa melanjutkan hubungan yang pernah ada.
Kamu masih saja datang datang kemari, kamu ngerti nggak sih bang semuanya sudah selesai, SELESAI!"
Cecarmu berapi-api.

Aku tersenyum mendapati perubahanmu kali ini, tapi aku tidak tahu jawaban apa yang aku berikan kepadamu. Bukankah tidak semua hal harus aku jelaskan kepadamu, termasuk alasanku datang lagi kemari.

Melihatku senyum senyum cengengesan, kamu semakin berapi-api mencecarku dengan penjelasan-penjelasan tentang hubungan di antara kita yang tidak lagi mungkin kamu lanjutkan. Dan kali ini nada suaramu semakin tinggi.

Aku masih tersenyum mendengarmu bicara, dalam hati pertanyaanmu aku jawab lirih.

"Aku pernah kehilangan sesuatu di tempat ini, jadi wajar kalau aku mulai mencarinya dari sini. Aku masih ingat di tempat ini aku kehilangan, entah itu dicuri atau aku yang lupa meletakkannya."

Dan kamu tak pernah tahu sesuatu itu adalah KEWARASANKU.

Di sini aku mulai merasa sedih, mendadak hening kembali mendekapku, dan suaramu semakin lirih tak terdengar.

Gara-Gara PK

Semenjak nonton film PK tiap kali bicara tentang Tuhan, sejenak aku berpikir:
Ini Tuhan yang mana?
Tuhan yang menciptakan aku ataukah Tuhan yang aku ciptakan?
Tuhan yang menciptakan semesta ataukah Tuhan yang dibentuk akal pikiran manusia?
Berbahaya kalau sampai "salah sambung" kepada Tuhan yang bukan sebenarnya.

Dan daftar pertanyaanku semakin panjang,
Jangan-jangan yang aku sembah itu Tuhan yang aku cipta saat aku sedang susah?
Jangan jangan yang aku mintai pertolongan itu Tuhan yang aku buat saat aku ada di bawah?
Atau jangan jangan aku berserah diri kepada Tuhan yang aku munculkan dari keadaanku yang sudah lagi tidak mampu melakukan sesuatu?

Lalu di mana Tuhan yang aku lupakan saat aku dipenuhi segala macam kesenangan?
Di manakah Tuhan yang tak lagi kusebut ketika segala kebutuhanku tercukupi?
Masih adakah Tuhan saat aku berhasil dengan gemilang menaklukkan dunia?
Bukankah Tuhan yang sebenarnya Tuhan akan selalu ada apa pun keadaannya? 

Kuil, Gereja, Kathedral, Masjid, Pura, Wihara, Kelenteng, dan masih banyak lagi manusia memberi nama untuk Rumah-Nya.
Tuhan, Allah, Yesus, Yahweh, Sang Hyang Widhi, Budha, Dewa, Ra dan bermacam macam nama yang diberikan untuk menyebut Asma-Nya. 
Nama-nama tersebut adalah cara manusia mendeskripsikan Tuhan Yang Maha Esa. Berbagai macam agama dan kepercayaan yang ada di dunia bukan berarti ada berbagai macam Tuhan dengan segala aturan-aturan-Nya. Tetap saja Tuhan itu Esa tiada dua, Dialah yang menciptakan Semesta.

Dalam memuja Tuhan manusia membayangkan-Nya menurut kecenderungannya sendiri. 
Seringkali manusia terjebak dalam imajinasinya sendiri dalam usahanya menemukan bentuk Tuhan. 
Padahal setiap usaha  untuk menggambarkan Tuhan pasti akan menemukan kegagalan.
Di tiap-tiap agama dan kepercayaan seringkali menampilkan simbol-simbol Ketuhanan yang terkadang oleh para pemeluknya secara fanatik dianggap sebagai Tuhan.
Mati-matian mereka kelahi membela simbol-simbol ketuhanan tanpa mereka tahu Tuhan mereka Tuhan yang sama, Tuhan yang tak perlu dibela.

Silakan percaya bahwa dirimu memiliki hubungan khusus dengan Tuhan, dalam artian merasa dirimu sangat dekat dengan Tuhan.
Tapi ya janganlah Tuhan itu kamu monopoli, seolah kedekatanmu dengan Tuhan itu membuat dirimu memiliki hak untuk mengasingkan Tuhan dari orang lain.
Bukankah Tuhan itu tidak pernah mengikatkan dirinya hanya pada satu kelompok orang berdasarkan suku,agama, ataupun golongan?
Kedekatanmu dengan Yahweh, dengan Allah, dengan Yesus, atau dengan Sang Hyang Widhi tidak lantas memberimu hak untuk mengatakan bahwa Tuhan orang lain itu palsu.

Dapatkah kamu monopoli api, dalam artian panasnya api kamu monopoli untuk golonganmu saja?
Dapatkah kamu monopoli matahari, dimana terangnya engkau kuasai untuk sukumu saja?
Atau mungkin kamu bisa memonopoli angin, supaya hembusnya cukup kamu yang merasakannya?
Api, matahari dan juga angin hanyalah ciptaan-Nya, lalu siapa yang mampu memaksa Dia untuk memihak pada satu kelompok orang saja?
Please, jangan membuat lelucon yang menyedihkan...!


Dari Galau Menuju Gelisah

Owalah jadi begitu tho mblo ceritanya, pantes aja kamu akhir-akhir ini jadi jarang kelihatan. Kalaupun pas kamu ada ya gitu deh kamu lebih banyak plonga-plongo ndak jelas gitu. Diajak ngobrol pun cuma hmm dan enggg reaksimu. Ternyata lagi banyak masalah tho ceritanya.

Namanya juga hidup mblo, jadi ya wajarlah kalau ada masalah. Yang namanya masalah itu kan bagaimanapun akan datang biarpun ndak diundang. Bagaimana caramu menghadapi masalah itulah yang akan menjadi nilaimu sebagai manusia. Terlepas nanti hasilnya baik atau buruk buatmu.

Itu kopinya diminum dulu mblo keburu dingin lho.  Mbok ya ndak usah galau gitu, lagian udah nggak jaman ah galau-galauan. Galau itu kan berpikir tapi nggak tahu apa yang dipikirkan, jadinya ya plonga-plongo seperti dirimu mblo. Seolah hidup tanpa harapan untuk bahagia, kemudian malas berpikir dan menikmati keterpurukan yang dialami.

Wajar sih kalau dirimu menjadi gelisah karena permasalahan yang sedang kamu alami. Karena kegelisahan itu memang ekspresi dari kecemasan, kekhawatiran dan ketakutan dalam kaitannya dengan keinginan yang tidak tercapai.

Ada pun penyebab kegelisahan adalah karena pada hakekatnya orang takut kehilangan hak-haknya yang disebabkan adanya gangguan atau ancaman baik dari luar maupun dari dalam.
Hak yang aku maksud disini meliputi hak untuk hidup, hak untuk memperoleh perlindungan, hak kemerdekaan hidup, hak memperoleh nama baik dan hak-hak yang lainya. Tapi ndak termasuk hak sepatunya mbokmu lho mblo heuheu.

Gelisah itu sudah menjadi kelengkapan manusia hidup mblo, jadi ya kalau hidup tanpa mengalami kegelisahan-kegelisahan malah patut dipertanyakan kamu itu masih hidup atau sudah meninggal. Kita ngobrol gini pun ndak lengkap juga kalau itu kopi sama gorengannya kamu diemin aja mblo, heuheu disambi mblo, monggo.

Kamu tahu nggak mblo kalau orang-orang semacam Sukarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka merupakan tipe-tipe penggelisah. Benar mblo mereka gelisah dengan keadaan sekitarnya sehingga mereka terus aktif berpikir dan berbuat untuk sekitarnya. Untuk Bangsanya.
Jadi mereka itu ndak sekedar gelisah memikirkan nasibnya sendiri, kegelisahan mereka itu tentang nasib banyak orang, tentang kemaslahatan umat, tentang hal-hal besar bukan tentang hal remeh macam iba diri karena gagal bercinta.

Di zaman sekarang ini begitu banyak permasalahan yang lebih pantas kamu gelisahkan daripada sekedar galau karena kejombloanmu.
Negeri yang konon gemah ripah loh jinawi ini yang katanya tongkat kayu dan batu jadi tanaman ternyata oh, ternyata bikin tempe saja musti impor kedelai dari Brazil. Ini sudah patut jadi kegelisahan kita bersama mblo di mana Bangsa kita sudah benar benar jauh dari yang namanya swasembada pangan.

Kedaulatan pangan negeri ini begitu memprihatinkan, tercatat di akhir 2013 produksi gabah kering giling kita mencapai 70 juta ton dengan jumlah lahan produksi padi 13 juta hektar, jika gabah kering giling tersebut diolah menjadi beras maka akan menghasilkan 35-37 juta ton beras. Dibagi 240 juta penduduk RI, akan keluar angka konsumsi beras per kapita per tahun 140-an kg. Ini adalah konsumsi karbohidrat beras terbesar di dunia. Republik besar ini bisa terjepit bahaya diabetes di masa yang akan datang. Politik beras sungguh telah mencapai titik nadir. Benar mblo ini masalah kita bersama dan layak untuk bahan kegelisahan, heuheu..

Kalau ngobrol gini kan kegelisahanmu pada permasalahan yang sepele itu jadi nggak berarti lagi mblo. Kenyataannya ada begitu banyak hal yang lebih pantas untuk menjadi bahan kegelisahan kita bersama.
Bolehlah kamu gelisah tapi bukan karena ibamu pada diri sendiri.
 
Gelisahmu itu mbok ya untuk permasalahan yang menyangkut hajat hidup orang banyak mblo. Kalau cuma smsmu ndak dibales kemudian menggalau di sosmed itu namanya drama mblo.
Pun misalkan kamu gagal menikah karena ditolak perempuanmu itu artinya masih ada seribu gadis di luar sana yang mau jadi pendampingmu.
Itupun kalau dari seribu itu ada yang khilaf mau sama kamu mblo.... heuheuheu


Kawan Aku Malu

Aku punya seorang teman
Dia mengaku tak percaya Tuhan
Kawanku tak memeluk suatu agama
Namun tak sekali pun dia menghina umat beragama, atau menistakan suatu keyakinan

Kawanku hanya mengenal kebaikan
Kebencian tak pernah sempat dia pikirkan
Begitu ringan tangan membantu yang butuh pertolongan
Atas nama kemanusiaan tanpa mengharap balasan
Seolah hidupnya hanya untuk berbuat kebaikan

Menyakiti sesama bukanlah tabiatnya
Iri dan dengki selalu dihindarinya
Keburukan nyaris tak pernah ia sentuh

Begitulah
Temanku yang tak beragama
Kawanku yang tak kenal Tuhannya

Di sini aku
Yang mengaku umat beragama
Yang mengaku berkeTuhanan Yang Maha Esa

Begitu mudah tersulut benci
Teramat mudah memelihara dendam
Di mana Tuhan Yang Maha Penyayang?

Yang tak sejalan adalah salah
Yang bersebrangan bisa dilenyapkan
Ke mana Tuhan Yang Maha Pemurah?

Bantuanku dibayangi pamrih
Kebaikanku hanya untuk golongan tertentu
Apakah Tuhan tak adil lagi?

Mulutku bilang ikhlas namun hati berhitung sekian pahala
Bahkan terkadang pongah pamer kaplingan di surga
Surganya siapa, Tuhan di mana?

Lantang kukatakan Tuhanku satu
Kenyataannya aku menuhankan uang
Serta tunduk pada harta dan jabatan

Malu aku pada kawanku
Bisanya mengaku beragama dan memiliki Tuhan
Bodohnya aku yang tertipu


Manusia



بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
"[1] Qul a'uudzu birabbi 'n-naas. Katakanlah,''Aku berlindung kepada Tuhan manusia.''"
-Aku berlindung kepada Tuhan yang menciptakan manusia dari saripati angin, yang darinya tercipta nafas, yang dengannya aku hidup.
-Aku berlindung kepada Tuhan yang menciptakan manusia dari saripati air, yang darinya tercipta tulang-sumsum, yang dengannya aku hidup.
-Aku berlindung kepada Tuhan yang menciptakan manusia dari saripati api, yang darinya tercipta darah, yang dengannya aku hidup.
- Aku berlindung kepada Tuhan yang menciptakan manusia dari saripati tanah, yang darinya tercipta kulit-daging, yang dengannya aku hidup.

"[2] Maliki 'n-naas. Raja Manusia."
-Aku berlindung kepada Allah yang merajai manusia. Aku taklukan yang bergerak atau tidak bergerak atas PerintahNya.
-Kepada hamba-hambaNya yang takluk dan berserah diri, Tuhan memerdekakan mereka dari rasa takut dan sedih.
-Tuhan, yang merajai manusia, lebih tahu tentang hamba-hambaNya daripada diri mereka sendiri. Dia Maha Tahu segala sesuatu.
-Tuhan, yang merajai manusia, memilih hamba-hambaNya sebagai pemimpin bagi diri mereka sendiri dan pemimpin di muka bumi.

"[3] Ilaahi 'n-naas. Sesembahan manusia."
-Aku berlindung kepada Allah; Tuhan manusia, Raja manusia, Sesembahan manusia. Segitiga kesatuan, puncak segala pengetahuan.
-Allah, Dialah Tuhan dan akulah makhluk. Allah, Dialah Raja dan akulah taklukan. Allah, Dialah Sesembahan dan akulah hamba.
-Aku berlindung kepada Allah dari keburukan sifat makhluk yang ingkar, taklukan yang melawan, dan hamba yang memberontak.
-Allah yang mengeluarkan manusia dari mulut rahim ibunya tanpa bisa apa-apa lalu memberi pendengaran, penglihatan, dan akal-budi.
-Bagiku, Dia Tuhan, Raja, Sesembahan. BagiNya, aku makhluk, taklukan, hamba. Untukku, dariNya pendengaran, penglihatan, akal-budi.
-Inilah Segitiga Kesatuan. Tuhan Pencipta, maka aku makhluk. Raja Penguasa, maka aku takluk. Sesembahan Pemimpin, maka aku hamba.
-Aku makhluk, taklukan, dan hamba, berlindung kepada Tuhan, Raja, dan Sesembahan, dari keburukan, kelemahan, dan kelalaianku.

[4] Min syarri 'l-waswaasi 'l-khannaas. [Aku berlindung] dari kejahatan musuh yang nyata namun tersembunyi.
-Musuh itu dari dalam diri. Dari keburukan yang bersembunyi dalam kebaikan. Dari kehinaan yang bersembunyi dalam kemuliaan.
-Musuh itu dari dalam diri. Dari kenistaan yang bersembunyi dalam kehormatan. Dari ketamakan yang bersembunyi dalam kemurahan.
-Musuh itu di dalam diri. Menjadikan tak jelas lagi mana kesejatian mana kepalsuan, mana ketulusan mana keserakahan.
-Musuh itu di dalam diri. Menjadi tidak jelas lagi mana kesungguhan mana kebatilan. Mana kerelaan mana keterpaksaan.

"[5] Alladzii yuwaswisu fii shuduuri 'n-naas. Yaitu yang membisikkan [kejahatan] ke dalam dada manusia."
-Aku berlindung kepada Tuhan segala makhluk, yang mengilhami kefasikan dan ketakwaan kepada jiwa manusia, dari diriku sendiri.
-Kepada Tuhan segala ciptaan, aku berlindung dari saripati angin, air, api, dan tanah dalam diriku yang menjelma nafsu-nafsu.
-Kepada Tuhan segala asal-muasal, aku berlindung dari angan yang berumah di kepala dan ingin yang berumah di dada.
-Kepada Tuhan segala kejadian, aku berlindung dari dosa dan pahala yang menyekutukan Allah dengan upaya dan pamrih manusia.
-Sungguh, yang dibisikkan ke dada manusia adalah prasangka. Darinya muncul benci dan cinta yang dari keduanyalah fasik dan takwa.

"[6] Mina 'l-jinnati wa 'n-naas. Dari golongan jin dan manusia."
-Aku berlindung kepadaMu ya Tuhan, Raja, dan Sesembahan, dari golongan jin dan manusia yang membisikkan tipu daya ke dalam dada.
-Sesungguhnya tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia selain untuk beribadah, maka kami berlindung kepadaNya dari saling goda.
-Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan, yang menjelma bayangan bagi nafsu, sehingga tak mudah membedakan mana dia mana aku.
-Dan, aku berlindung kepada Allah dari malaikat, dari pencatatannya yang membuatku berhitung laba dan pahala dari setiap tindakan.
-Aku berlindung kepada Allah yang meliputi segala sesuatu. Dia tidak di dalam, tidak di luar, tidak di atas, tidak pula di bawah.
-Aku berlindung kepada Allah yang meliputi segala sesuatu. Dia tidak di depan, tidak di belakang, tidak di kiri, tidak di kanan.
-Aku bukan utara, timur, selatan, barat. Aku bukan arah bagi diriku. Aku tepat berada pada diriku sendiri. Akulah penentu segala penjuru.
-Aku berlindung kepada Allah. Dialah Tuhanku, Rajaku, Sesembahanku. Akulah makhlukNya, taklukanNya, hambaNya. Amin.

Ditulis ulang dari tweet @SufiKota yang di admini oleh @CandraMalik .