Orang Bodoh Memilih

Di saat harus memilih salah satu antara tukang batu dan tukang kayu, tentunya harus terlebih dulu ditentukan tujuan apa yang akan dicapai dengan salah seorang di antaranya. Kalau tujuannya akan membuat pintu tentunya tanpa mencela tukang batu, pilihan akan jatuh pada tukang kayu.

Dengan menentukan tujuan apa yang hendak dicapai tentu akan menjadi lebih mudah dalam menentukan sebuah pilihan.

Seorang temanku dihadapkan pada pilihan untuk makan pecel atau sate kambing. Buat dia sate kambing lebih lezat untuk dijadikan konsumsi makan siang. Akan tetapi dia juga sadar resiko sate kambing untuk kondisinya yang menderita darah tinggi. Apa mau dikata, godaan kelezatan sate kambing membuatnya abai dengan kondisi kesehatannya. Sesaat dia merasakan nikmatnya sate kambing untuk makan siang, di sore hari stroke menyerang dan seminggu kemudian ajal menjemputnya.

Hidup dan matinya seseorang memang sudah ketentuan dari Tuhan, namun dalam melakukan sebuah pilihan tentu perlu dipertimbangkan baik buruknya pilihan tersebut untuk diri kita. Kalau nekat memilih yang jelas buruk, ya jangan pernah menyesalinya di kemudian hari.

Sebagai orang bodoh yang diharuskan memilih seorang Presiden bulan depan, aku justru dibuat bingung oleh tingkah orang-orang yang pintar. Mereka begitu pandai mencari kesalahan-kesalahan Capres yang ada. Mereka begitu sibuk menjelek-jelekkan kubu lawan, tanpa sekali pun menanyakan Indonesia seperti apa yang diinginkan oleh rakyatnya.

Kawanku seorang peternak ayam, yang dia inginkan cuma ketersediaan bibit dan pakan ayam yang murah serta harga jual ayam yang menguntungkan. Dia akan dengan senang hati mencoblos Capres yang bisa mewujudkan impiannya itu. Tanpa peduli Capres 1 punya dosa ini atau Capres 2 punya salah itu. Namun temanku tak pernah tahu Capres mana yang bisa merealisasikan keinginannya. Semuanya hanya saling menjatuhkan dan berbicara keburukan lawan. Temanku itu kemudian memilih untuk tidak menentukan pilihan.

Kalau memang Pilpres 9 Juli 2014 jadi terselenggara, Indonesia seperti apa yang kamu inginkan?
Apakah pilihanmu tidak berakibat buruk untuk kehidupanmu di kemudian hari?
Mampukah Capres pilihanmu untuk mewujudkan Indonesia yang kamu impikan?

Ah, aku terlalu bodoh untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Kamulah yang harus menjawabnya untuk kemudian menentukan pilihan di hari yang ditentukan.
Pilihanku, pilihanmu, dan pilihan mereka tak harus sama, karena mungkin tujuan kita berbeda.

0 coretan kamu:

Posting Komentar