Jangan Pandang Sebelah Mata

Sebuah momen tak terduga terjadi dalam acara Pengajian Budaya bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng di halaman Masjid Agung Demak, Rabu 26 Maret 2014. Pengajian yang diadakan dalam peringatan Hari jadi kota Demak ini dihadiri Bupati Demak dan ratusan warga Demak dan sekitarnya.

Di awal acara Cak Nun meminta 3 orang yang hadir untuk naik ke atas panggung untuk membantu mas Imam menjadi vokalis Kiai Kanjeng. Dua orang telah naik kemudian disusul seorang anak dekil bersarung dengan tampang (maaf) mengalami keterbelakangan mental. Cak Nun tetap mempersilakan anak ini naik dan memintanya duduk bersama kru Kiai Kanjeng yang lain, Cak Nun sempat melemparkan kelakarnya "Kalau ada saya disini ndak ada orang gila kok."

Acara mengalir lancar berselingan dari penampilan Kiai Kanjeng yang selalu tampil menenangkan dan materi dari Cak Nun yang khas penuh canda namun memiliki bobot yang luar biasa.

Untuk mendekatkan hubungan rakyat dan Pejabat (Bupati Demak), Cak Nun memberikan kesempatan kepada yang hadir untuk menyampaikan uneg-uneg dan pertanyaan kepada Bupati.
Beberapa pertanyaan telah diajukan dan telah dijawab oleh Bupati Demak dan Cak Nun.

Kembali Cak Nun meminta Kiai Kanjeng untuk memainkan lagu sebagai selingan sesi tanya jawab yang berlangsung. Kali ini Kiai Kanjeng membawakan lagu Keramat dari H.Rhoma Irama. Di pertengahan lagu mas Imam meminta anak dekil tadi untuk berdiri di tengah panggung. Sontak yang hadir di halaman Masjid Agung Demak tertawa menyaksikan tingkah anak ini yang dengan Pedenya berjoget dan ikut menyanyi di atas panggung.

Setelah lagu selesai, Cak Nun berdiri menghampiri anak dekil ini, sembari menyerahkan sepotong sarung, Cak Nun mencoba berdialog dengan anak ini. 

CN: jenengmu sopo le?
EDI: Edi pak.
CN: Bapakmu nang ndi?
EDI: ora ono
CN: lha ibumu?
EDI: ora ono
CN: ooo dadi awakmu yatim piyatu?
EDI: Nggih Pak.
CN: Umurmu piro?
EDI: gak reti...
CN: lha terus kuwe asale soko ndi?
EDI: Dempet pak
CN: nang omah karo sopo?
EDI: karo bapak
CN: lho jare bapakmu raono?
EDI: Bapak kuwalon....
CN: kuwe sekolah?
EDI: Mboten pak
CN: Iso ngaji?
EDI: saget

Kemudian mengalunlah Al-fatihah dari mulut Edi. Setelah selesai Cak Nun merangkul Edi dengan erat sambil melanjutkan dialognya.

CN: Ed..kamu ngerti ora kenapa kamu iso ono nang dunia?
EDI: karena Allah
(sambil terus memeluk Cak Nun)
CN: apapun alasanmu ada di sini siapa pun yang menggerakkan tubuhmu ke sini tidak lain hanya Kehendak Allah, misale Allah takon mbi kuwe Ed, kuwe arep njaluk opo?
EDI: Sepeda motor
CN: Lha sepeda motor arep mbok gawe opo?
EDI: yo dinggo mboncengke cewek pak!
CN: nek njaluk kuwi sing ono manfaate Ed, apa pun itu yo sing manfaat. Awakmu diajari nyambut gawe bapakmu kuwalon po ora?
EDI: ora....
CN: Mulai saiki awakmu kudu ajar nyambut gawe, jenenge nyambut gawe kuwi opo wae sing penting duweni manfaat, contone sholat....
EDI:
*menyela* WAH ABOT PAK!
CN: Lho kok abot?
EDI: Lha sarunge najis kabeh, sholat kuwi abot pak, sandanganku apeg kabeh...
CN: kan yo iso dikumbah..
EDI: nyuwun Allah sarung wae pak....
CN: lha mosok Gusti Allah terus moro mrene ngenei sarung nang kuwe, sesuk nang omah sarunge dikumbahi yo...
EDI: wah abot pak raduwe sabun..
CN: Kanjeng Nabi zaman mbiyen yo ora ono sabun kok. Aku iki yo podo wae umbah-umbah sandangan dewe. Wes matur karo Pak Bupati kono karepmu opo?
EDI: gak sido sepeda motor pak, hape Samsung wae...
CN: wes kono maturo dewe...!

Kemudian Edi didampingi Cak Nun menghampiri Bupati. Apa yang dibicarakan aku kurang tahu karena tidak melalui pengeras suara. Setelah menerima mic tanpa diduga seluruh yang hadir di alun-alun Demak, mendadak Edi nyeletuk, "Pak kula nderek ngedrum angsal?"
"Yo wes nge drum o kono,"
sahut Cak Nun. 

Cak Nun meminta Kiai Kanjeng untuk mengiringi Edi yang akan memainkan drum. Edi menuju drum yang ada di panggung paling belakang, kemudian terdengarlah ketukan dalam tempo lambat yang langsung diiringi oleh Kiai Kanjeng. Jamaah yang awalnya duduk rapi tanpa dikomando berdiri penasaran dengan aksinya Edi. Melantunlah tembang Kemesraan dengan Edi sebagai drumernya diiringi Kiai Kanjeng dan Cak Nun sebagai vokalisnya. Jemaah yang hadir turut bernyanyi, dan aku sampai merinding dibuatnya. Terasa ada kekuatan yang begitu besar, kekuatan yang sangat luar biasa yang memungkinkan semua ini terjadi.

Selesai dengan kemesraan Cak Nun meminta Kiai Kanjeng membawakan Tombo Ati dengan Edi tetap sebagai drumernya. Bahkan Pak Bupati sampai berdiri di samping Edi sembari ikut bernyanyi dan bertepuk tangan menyaksikan Edi memainkan drum mengiringi Kiai Kanjeng.
Gemuruh tepuk tangan terdengar saat lagu Tombo Ati selesai dimainkan.
Dan jemaah yang hadir pun jadi saksi saat Pak Bupati menyerahkan perangkat smartphone kepada Edi.

Sebelum acara ditutup dengan doa, Cak Nun berpesan, "Jangan pernah memuja apa pun yang tak pantas untuk dipuja, dan jangan pernah menganggap remeh sesuatu yang sebenarnya tak bisa dipandang sebelah mata."

Hadirnya seorang Edi di atas panggung adalah sebuah tanda, tinggal bagaimana cara kita membaca pertanda.
Edi meminta sebuah handphone, dan handphone bisa diartikan sebagai simbol silaturahmi. Perbanyak silaturahmi di antara kita dan terus tebarkan cinta di muka bumi.

Selesai doa diadakan acara salam-salaman dan Kiai Kanjeng mengiringi dengan musiknya. Sekilas aku melihat ke atas panggung, raut wajah Edi teramat bahagia. Kali ini dia memainkan perangkat perkusi.......