Afkir Desember

Desember nyaris habis.
Batas yang dijanjikan tinggal sebentar.
Janji mana janji...?
Lagi-lagi tidak dipenuhi...

Orang-orang dilarang ingkar janji.
Kalau janji harus ditepati.
Aku benci mereka yang dusta.
Karena cuma aku yang boleh ingkar.

Mereka yang tak memenuhi janji harus dihukum.
Untuk hal yang sama padaku cukuplah engkau maklum.
Aku ini manusia hebat, koneksiku dengan malaikat.
Pun dengan Tuhan aku dekat.

Desember biarlah habis.
Janjiku padamu itu cuma pemanis.
Aku tahu kamu tak 'kan mengguggat.
Karena sayangmu yang begitu kuat.

Dan kepadamu aku akan terus berjanji.
Yang selalu akan aku ingkari.
Jangan tanyakan sampai kapan.
Mungkin sampai Desember habis (lagi).

Belajar Baik

Lihatlah mblo...! Para orang tua itu begitu bersemangat ingin anak-anaknya menjadi pintar. Mereka menyekolahkan buah hatinya di sekolah-sekolah unggulan tanpa peduli lagi tentang harga yang harus dibayar mahal.

Di sore seperti ini anak-anak tersebut mengikuti bimbingan belajar yang sudah disiapkan orang tuanya. Segala macam jenis les mereka ikuti. Pokoknya sekolah adalah yang paling utama, menjadi pintar adalah tujuannya. Kebanyakan dari para orang tua tersebut yakin masa depan anaknya ditentukan dari seberapa pintar anak-anak tersebut.

Pokoknya mereka harus pintar mblo supaya nanti kalau sudah dewasa tidak menjadi korban kepintaran anak yang lain. Semakin mereka pintar maka peluang sukses akan semakin terbuka lebar. Kira-kira, ya seperti itu mblo yang mereka pikirkan.

Sekolah dijadikan ajang tempat menentukan masa depan. Semua berlomba ingin masuk di sekolah terbaik yang lulusan-lulusannya memiliki prestasi luar biasa. Dengan harapan anak-anak mereka nantinya lulus dengan prestasi luar biasa pula. Lha ini sekolahan apa pabrik yang mempoduksi anak berprestasi mblo? Jangan-jangan anak-anak itu cuma mengalami copy paste kepintaran saja sewaktu di sekolah. Lha ngeri ah mblo kalau gitu.

Suatu saat nanti kamu pun akan punya anak mblo. Mungkin kamu juga akan berlaku seperti kebanyakan para orang tua tersebut. Mengagungkan sekolah sebagai tempat anak-anak akan menjadi pintar.

Yang perlu kamu ketahui mblo, sekolah itu sama sekali bukan hal yang penting. Anakmu mau sekolah atau tidak terserah anakmu saja, asal dia mau terus belajar ya biarkan saja dia tidak sekolah. Kan kewajiban manusia itu untuk terus belajar mblo, bukan untuk sekolah. Sekolah itu urusan mudah, kalau lulus ya selesai sudah. Lha belajar itu sampai ajal tiba mblo, jangan pernah merasa puas untuk terus menggali hal-hal baru.

Ketika kamu merasa puas dan tak lagi belajar maka sesungguhnya kamu benar-benar telah tertipu. Jangan malas mblo, kemalasanmu itulah yang akan terus menjadi seterumu.
Menjadi orang pintar itu gampang mblo, yang tak mudah itu menjadi orang baik.

Kebanyakan orang tua ingin anaknya menjadi pintar, namun cuma segelintir orang tua yang ingin anaknya jadi orang baik.

Sekolah-sekolah unggulan bermunculan, tempat bimbingan belajar semakin menjamur. Semuanya bertujuan mencetak generasi pintar untuk masa yang akan datang.

Entah di mana anak-anak akan belajar budi pekerti, di mana lagi anak-anak belajar menghargai sesama, menghormati dan menyayangi sekitarnya? Sekedar membiasakan anak mengucapkan terima kasih saat menerima pemberian saja sudah jarang dilakukan para orang tua, apalagi mengajarkan tentang meminta maaf saat mereka melakukan kekeliruan.

Ingat mblo kelak kalau kamu punya anak, jangan sampai sekolah merampas dan memutuskan hubungan antara anak dengan keluarganya. Sekolah itu kan cuma tempat buat anak mengisi waktu berhubungan sosial dengan sesamanya. Masalah belajar ya terserah sang anak mau belajar apa, dan itupun tidak harus melalui institusi bernama sekolah.

Cobalah bertanya kepada dirimu tentang bagaimana cara mencapai cita-cita, kalau kamu menjawab dengan sekolah maka jawaban ini terlalu prosedural, bukankah cita-cita itu dicapai melalui karakter, belajar dan kerja keras. Sukses/cita-cita tidak dicapai hanya dengan selembar ijazah. Yakini itu mblo.

Bangsa ini butuh orang baik mblo, bukan orang pintar.......


Jalan Pulang

Sesak berjejal rasa kehilangan.
Ingatan ke awal dalam perjumpaan.
Kesalahan purba kembali berulang.
Mengapa harus jatuh di dalam cinta dan sayang.

Tidak, diri ini tidak akan pernah sebanding.
Jangan lagi mimpi bisa bersanding.

Yang menggoda sekedar fatamorgana.
Yang di hati terkunci dalam pandora.

Seribu cara yang kucoba.
Untuk menjaga rasa dan asa.

Belum menginjak seribu.
Hancur asa tersepak ngilu.

Kekasih,
Di gelisah, cemburu, dan rindu yang menjadi satu.
Memaksaku kembali memuji nama-Mu.

Kekasih,
Aku pulang, penuhi seruan-Mu.

Mengejar Yamadipati

Wahai Yamadipati di mana engkau berada?
Aku mencarimu di antara roda-roda yang berputar menggilas jalanan sepanjang Pantura.
Aku mengejarmu di sela-sela ruwetnya kereta baja yang memenuhi kota-kota di Jawa.
Wahai Yamadipati di mana engkau sembunyi?

Wahai putra Ibu Kanastren.
Jangan engkau sembunyi dariku.
Terlalu lama aku menunggumu.
Biarlah aku yang menemuimu.
Segera lunaskan urusanku denganmu.

Wahai Yamadipati, jangan engkau berpaling dariku.
Pun aku tahu dengan rasamu.
Saat Mumpuni lebih memilih Nagatamala.

Wahai lelaki yang tersenyum dalam tangis.
Aku memaksamu bertemu.
Tak perlu lagi menunggu tiba waktuku.
Sekarang juga selesaikan urusanku denganmu.
Jangan pernah lari dariku.
Aku tahu Sawitri sudah tiada di Marcapada.

Wahai Yamadipati di mana pun engkau berada.
Datanglah segera.
Atau,
empat puluh hari ke depan.
Aku yang akan menemukanmu.


Salam,
Setiawan.

Sampah

Namaku sampah..
Tempatku di bawah, diinjak, dan diludah..
Apakah aku marah?
Lantas mengucap segenap serapah?
Tidak...
Karena aku tahu diriku sampah.
Sampah tetaplah sampah...

Pernah aku bermimpi indah.
Didaur ulang menjadi sesuatu yang terlihat mewah...
Dan waktu pun mengembalikan aku kembali sebagai sampah.

Sebut aku sampah...
Hidupku berpindah-pindah..
Dari pengki hingga tong sampah.
Naik bak sampah hingga TPA yang jadi penadah..
Sampai tiba saat belatung dan cacing menyatukanku dengan tanah.

Akulah sampah...
Namaku terpampang di papan-papan peringatan.
Sebagai petunjuk buatmu bila kita berjumpa..
Buanglah sampah pada tempatnya!
Harus seperti itu.
Atau aku akan menyusahkanmu....
Dengan bauku yang tak sedap.
Atau selokanmu yang akan tersumbat.
Lalu aku mendatangimu bersama bah...

Namaku sampah....
Dan aku biang masalah...

Nak

Nak, ingatkan aku...
Untuk tidak memenjarakanmu dalam pagar larangan.
Untuk tidak mengikatmu pada rambu perintah yang kaku.

Nak, ingatkan aku...
Untuk membekalimu dengan kesadaran sebab akibat.
Untuk membebaskanmu mengetahui ragam pilihan jalan.

Nak, ingatkan aku...
Bahwa hidupmu bukanlah tentang keinginanku.
Bahwa arah yang sama tidak selalu melalui jalan yang sama pula.

Nak, ingatkan aku...
Bahwa dirimu bukan sekedar anakku.
Tuhan pun punya kehendak atas hidupmu.
Maha Agung nama Tuhanmu,
Yang mempunyai Kebesaran dan Karunia.

Waiting Room

Di tempat ini cuma ada kemarin dan hari ini.
Esok atau lusa tak pernah ada.
Begitu lama aku menanti, tanpa pernah melangkah pergi.
Betapa aku ingin mencoba, tetap di sini aku berada.

Di ruang tunggu ini,
tak ada jendela untuk melihat ke depan.
Langit-langit bising membicarakan kenangan,
dan suram masa lalu adalah lukisan di dindingnya.
Aku bebas melangkah, namun tetap kembali di petak lantai yang sama.

Kekasih...
Malam ini lamat kudengar nama-Mu disebut,
Rindu ini pecah,
berkejaran ingin jumpa meninggalkan ruang penuh carut-marut.

Kekasih...
Engkau menjumpai jiwaku yang karut-marut.
Sungguh tubuh ini di luar kuasaku,
keagunganMu membuatku bersujud,
mengalirkan tetes-tetes sesal di sudut mataku.

Aku bisa apa bila pintu cinta ruang tunggu ini tidak Engkau buka?
Ampuni aku, dan
beri cahaya di sepanjang jalan menuju singgasana kasihMu.
Tanpa pertolonganMu.
Mati rindu di ruang tunggu....

Teliti Sebelum Membagi

Seiring bertambahnya pengguna internet di negeri ini, arus informasi yang beredar di media sosial pun menjadi semakin cepat. Informasi dalam bentuk apa pun itu begitu cepat menyebar di internet, entah melalui portal berita, blog, atau media sosial macam twitter, facebook, path, youtube, dll. Konten berita, gambar dan video begitu mudah diakses siapa saja dan di mana saja.

Kebanyakan pengguna sosial media tidak membaca seluruh informasi yang ditampilkan. Mereka melakukan scanning terlebih dahulu baru kemudian membaca informasi yang ada. Perilaku scanning ini membuat para penyedia informasi berlomba menyajikan sesuatu yang dikemas menarik, agar pengguna sosial media menjadi terjerat untuk membacanya. Kemudian yang terjadi adalah munculnya informasi-informasi yang jauh dari kenyataan yang ada. Judul berita dibuat bombastis dengan isi berita seadanya. Gambar-gambar dieksploitasi supaya menjadi hits di sosial media, tengok saja gambar anak-anak yang menderita sakit atau korban perang yang diumbar agar menjadi trending topic. Sering pula judul-judul video si anu bugil dan semacamnya digunakan para pelaku kejahatan dunia cyber untuk menyebar spam dan melakukan aksi phising.

Sekarang ini mencari informasi di internet perlu ekstra hati-hati, jangan sampai terjerumus pada informasi palsu yang menyesatkan atau fitnahan belaka. Dan parahnya para pengguna internet/media sosial saat menerima sebuah informasi begitu pemurah dan responsif untuk membagikan informasi tersebut ke orang lain. Mereka tak ingin disebut "kudet" kalau tak segera mengabarkan sebuah berita yang ngehits kepada khalayak. Coba tanya pada diri anda sendiri, sesering apa anda membagi sebuah informasi padahal cuma judulnya saja yang anda baca bukan isinya. Taruhlah kalau isi berita itu benar, lha kalau isinya fitnah? Bukankah anda jadi ikut menyebar fitnah?

Saat melihat gambar di internet pun kebanyakan orang langsung percaya dan bersemangat menyebarkannya tanpa berpikir ini asli ataukah sudah dimanipulasi. Apa sih susahnya memanipulasi gambar di zaman sekarang ini? Anda tak perlu mahir Photosop kok kalau cuma untuk mengedit gambar. Saya cuma bermodal device android low end murah meriah sudah bisa bikin dua gambar seperti di bawah ini menjadi berbeda dengan gambar aslinya. Bayangkan kalau orang yang punya perangkat lebih canggih tentu sangat mudah buat mereka untuk memanipulasi sebuah gambar.





Akan semakin banyak informasi dan berita yang kita terima dari berbagai sumber di internet. Semakin banyak kepentingan untuk disebarluaskan, entah itu untuk kebaikan atau keburukan. Nyaris tak ada etika dalam penyebaran informasi yang ada, seakan semuanya benar adanya. Tinggal bagaimana sikap kita dalam menerima informasi/berita yang ada. Sebisa mungkin pastikan sumber berita itu terpercaya, sudah cukup banyak yang jadi korban sumber berita abal-abal, kamu mau ikut jadi korbannya? Pahami isi berita yang ada kalau perlu ketahui juga motif dari pembuat berita, jangan cuma judul dibaca kemudian dibagi-bagikan begitu saja. Berbagilah informasi yang benar di media sosial atau internet, mungkin seratus atau lima ratus tahun lagi informasi yang anda bagi akan menjadi satu prasasti untuk generasi yang akan datang. Jangan sampai anak cucu anda nanti tersesat dalam ketidakpastian sejarah karena kesalahan penulisan informasi hari ini.
Ingat, teliti sebelum membagi!

Orang Bodoh Memilih

Di saat harus memilih salah satu antara tukang batu dan tukang kayu, tentunya harus terlebih dulu ditentukan tujuan apa yang akan dicapai dengan salah seorang di antaranya. Kalau tujuannya akan membuat pintu tentunya tanpa mencela tukang batu, pilihan akan jatuh pada tukang kayu.

Dengan menentukan tujuan apa yang hendak dicapai tentu akan menjadi lebih mudah dalam menentukan sebuah pilihan.

Seorang temanku dihadapkan pada pilihan untuk makan pecel atau sate kambing. Buat dia sate kambing lebih lezat untuk dijadikan konsumsi makan siang. Akan tetapi dia juga sadar resiko sate kambing untuk kondisinya yang menderita darah tinggi. Apa mau dikata, godaan kelezatan sate kambing membuatnya abai dengan kondisi kesehatannya. Sesaat dia merasakan nikmatnya sate kambing untuk makan siang, di sore hari stroke menyerang dan seminggu kemudian ajal menjemputnya.

Hidup dan matinya seseorang memang sudah ketentuan dari Tuhan, namun dalam melakukan sebuah pilihan tentu perlu dipertimbangkan baik buruknya pilihan tersebut untuk diri kita. Kalau nekat memilih yang jelas buruk, ya jangan pernah menyesalinya di kemudian hari.

Sebagai orang bodoh yang diharuskan memilih seorang Presiden bulan depan, aku justru dibuat bingung oleh tingkah orang-orang yang pintar. Mereka begitu pandai mencari kesalahan-kesalahan Capres yang ada. Mereka begitu sibuk menjelek-jelekkan kubu lawan, tanpa sekali pun menanyakan Indonesia seperti apa yang diinginkan oleh rakyatnya.

Kawanku seorang peternak ayam, yang dia inginkan cuma ketersediaan bibit dan pakan ayam yang murah serta harga jual ayam yang menguntungkan. Dia akan dengan senang hati mencoblos Capres yang bisa mewujudkan impiannya itu. Tanpa peduli Capres 1 punya dosa ini atau Capres 2 punya salah itu. Namun temanku tak pernah tahu Capres mana yang bisa merealisasikan keinginannya. Semuanya hanya saling menjatuhkan dan berbicara keburukan lawan. Temanku itu kemudian memilih untuk tidak menentukan pilihan.

Kalau memang Pilpres 9 Juli 2014 jadi terselenggara, Indonesia seperti apa yang kamu inginkan?
Apakah pilihanmu tidak berakibat buruk untuk kehidupanmu di kemudian hari?
Mampukah Capres pilihanmu untuk mewujudkan Indonesia yang kamu impikan?

Ah, aku terlalu bodoh untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Kamulah yang harus menjawabnya untuk kemudian menentukan pilihan di hari yang ditentukan.
Pilihanku, pilihanmu, dan pilihan mereka tak harus sama, karena mungkin tujuan kita berbeda.

Jangan Pandang Sebelah Mata

Sebuah momen tak terduga terjadi dalam acara Pengajian Budaya bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng di halaman Masjid Agung Demak, Rabu 26 Maret 2014. Pengajian yang diadakan dalam peringatan Hari jadi kota Demak ini dihadiri Bupati Demak dan ratusan warga Demak dan sekitarnya.

Di awal acara Cak Nun meminta 3 orang yang hadir untuk naik ke atas panggung untuk membantu mas Imam menjadi vokalis Kiai Kanjeng. Dua orang telah naik kemudian disusul seorang anak dekil bersarung dengan tampang (maaf) mengalami keterbelakangan mental. Cak Nun tetap mempersilakan anak ini naik dan memintanya duduk bersama kru Kiai Kanjeng yang lain, Cak Nun sempat melemparkan kelakarnya "Kalau ada saya disini ndak ada orang gila kok."

Acara mengalir lancar berselingan dari penampilan Kiai Kanjeng yang selalu tampil menenangkan dan materi dari Cak Nun yang khas penuh canda namun memiliki bobot yang luar biasa.

Untuk mendekatkan hubungan rakyat dan Pejabat (Bupati Demak), Cak Nun memberikan kesempatan kepada yang hadir untuk menyampaikan uneg-uneg dan pertanyaan kepada Bupati.
Beberapa pertanyaan telah diajukan dan telah dijawab oleh Bupati Demak dan Cak Nun.

Kembali Cak Nun meminta Kiai Kanjeng untuk memainkan lagu sebagai selingan sesi tanya jawab yang berlangsung. Kali ini Kiai Kanjeng membawakan lagu Keramat dari H.Rhoma Irama. Di pertengahan lagu mas Imam meminta anak dekil tadi untuk berdiri di tengah panggung. Sontak yang hadir di halaman Masjid Agung Demak tertawa menyaksikan tingkah anak ini yang dengan Pedenya berjoget dan ikut menyanyi di atas panggung.

Setelah lagu selesai, Cak Nun berdiri menghampiri anak dekil ini, sembari menyerahkan sepotong sarung, Cak Nun mencoba berdialog dengan anak ini. 

CN: jenengmu sopo le?
EDI: Edi pak.
CN: Bapakmu nang ndi?
EDI: ora ono
CN: lha ibumu?
EDI: ora ono
CN: ooo dadi awakmu yatim piyatu?
EDI: Nggih Pak.
CN: Umurmu piro?
EDI: gak reti...
CN: lha terus kuwe asale soko ndi?
EDI: Dempet pak
CN: nang omah karo sopo?
EDI: karo bapak
CN: lho jare bapakmu raono?
EDI: Bapak kuwalon....
CN: kuwe sekolah?
EDI: Mboten pak
CN: Iso ngaji?
EDI: saget

Kemudian mengalunlah Al-fatihah dari mulut Edi. Setelah selesai Cak Nun merangkul Edi dengan erat sambil melanjutkan dialognya.

CN: Ed..kamu ngerti ora kenapa kamu iso ono nang dunia?
EDI: karena Allah
(sambil terus memeluk Cak Nun)
CN: apapun alasanmu ada di sini siapa pun yang menggerakkan tubuhmu ke sini tidak lain hanya Kehendak Allah, misale Allah takon mbi kuwe Ed, kuwe arep njaluk opo?
EDI: Sepeda motor
CN: Lha sepeda motor arep mbok gawe opo?
EDI: yo dinggo mboncengke cewek pak!
CN: nek njaluk kuwi sing ono manfaate Ed, apa pun itu yo sing manfaat. Awakmu diajari nyambut gawe bapakmu kuwalon po ora?
EDI: ora....
CN: Mulai saiki awakmu kudu ajar nyambut gawe, jenenge nyambut gawe kuwi opo wae sing penting duweni manfaat, contone sholat....
EDI:
*menyela* WAH ABOT PAK!
CN: Lho kok abot?
EDI: Lha sarunge najis kabeh, sholat kuwi abot pak, sandanganku apeg kabeh...
CN: kan yo iso dikumbah..
EDI: nyuwun Allah sarung wae pak....
CN: lha mosok Gusti Allah terus moro mrene ngenei sarung nang kuwe, sesuk nang omah sarunge dikumbahi yo...
EDI: wah abot pak raduwe sabun..
CN: Kanjeng Nabi zaman mbiyen yo ora ono sabun kok. Aku iki yo podo wae umbah-umbah sandangan dewe. Wes matur karo Pak Bupati kono karepmu opo?
EDI: gak sido sepeda motor pak, hape Samsung wae...
CN: wes kono maturo dewe...!

Kemudian Edi didampingi Cak Nun menghampiri Bupati. Apa yang dibicarakan aku kurang tahu karena tidak melalui pengeras suara. Setelah menerima mic tanpa diduga seluruh yang hadir di alun-alun Demak, mendadak Edi nyeletuk, "Pak kula nderek ngedrum angsal?"
"Yo wes nge drum o kono,"
sahut Cak Nun. 

Cak Nun meminta Kiai Kanjeng untuk mengiringi Edi yang akan memainkan drum. Edi menuju drum yang ada di panggung paling belakang, kemudian terdengarlah ketukan dalam tempo lambat yang langsung diiringi oleh Kiai Kanjeng. Jamaah yang awalnya duduk rapi tanpa dikomando berdiri penasaran dengan aksinya Edi. Melantunlah tembang Kemesraan dengan Edi sebagai drumernya diiringi Kiai Kanjeng dan Cak Nun sebagai vokalisnya. Jemaah yang hadir turut bernyanyi, dan aku sampai merinding dibuatnya. Terasa ada kekuatan yang begitu besar, kekuatan yang sangat luar biasa yang memungkinkan semua ini terjadi.

Selesai dengan kemesraan Cak Nun meminta Kiai Kanjeng membawakan Tombo Ati dengan Edi tetap sebagai drumernya. Bahkan Pak Bupati sampai berdiri di samping Edi sembari ikut bernyanyi dan bertepuk tangan menyaksikan Edi memainkan drum mengiringi Kiai Kanjeng.
Gemuruh tepuk tangan terdengar saat lagu Tombo Ati selesai dimainkan.
Dan jemaah yang hadir pun jadi saksi saat Pak Bupati menyerahkan perangkat smartphone kepada Edi.

Sebelum acara ditutup dengan doa, Cak Nun berpesan, "Jangan pernah memuja apa pun yang tak pantas untuk dipuja, dan jangan pernah menganggap remeh sesuatu yang sebenarnya tak bisa dipandang sebelah mata."

Hadirnya seorang Edi di atas panggung adalah sebuah tanda, tinggal bagaimana cara kita membaca pertanda.
Edi meminta sebuah handphone, dan handphone bisa diartikan sebagai simbol silaturahmi. Perbanyak silaturahmi di antara kita dan terus tebarkan cinta di muka bumi.

Selesai doa diadakan acara salam-salaman dan Kiai Kanjeng mengiringi dengan musiknya. Sekilas aku melihat ke atas panggung, raut wajah Edi teramat bahagia. Kali ini dia memainkan perangkat perkusi.......