Lurah Tiga Puluh Ribu

Dan hari yang telah dijanjikan akhirnya tiba, kiamat telah berlalu saatnya manusia mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan di dalam hidupnya. Sidang Akbar di hari pembalasan dimulai.

Aku dan lautan manusia di sekelilingku menunggu giliran mempertanggungjawabkan hidup kami di dunia, semua dihitung dengan cermat tanpa ada yang terlewat. Amal dan dosa ditimbang dengan adil tanpa ada rekayasa serta tipu daya.

Sembari menunggu aku tertarik menyaksikan sidang yang tengah berlangsung. Malaikat sedang membacakan dengan rinci apa yang telah dilakukan Mustapa bin Badrun selama hidup di bumi.
Saat ini pembacaan telah sampai di bagian pertanggung jawaban Mustapa saat dia menjabat sebagai Kepala Desa selama dua periode.

"Wahai Mustapa bin Badrun, semasa hidup engkau telah diberi amanah oleh penduduk Desa Medang untuk menjabat sebagai Kepala Desa Medang selama dua periode. Di dalam dua belas tahun kepemimpinanmu engkau telah menghianati amanah yang telah diberikan kepadamu. Kau juga selalu menyalahgunakan jabatan yang engkau miliki. Anggaran Desa telah kaucuri untuk memperkaya diri sendiri, dana bantuan untuk wargamu pun rela kaumakan. Proyek-proyekmu yang berkedok pembangunan Desa penuh dengan rekayasa. Pungli-pungli pun kaulakukan dengan dalih administrasi butuh biaya. Pelayananmu tak jalan tanpa uang makan.
Wahai Mustapa benarkah begitu adanya?"
Bertanya Malaikat dengan artikulasi yang jelas dan tegas.

Mustapa tergagap. Belum sempat mulutnya terbuka, kaki dan tangannya telah bicara.
 
"Demi Tuhan yang menguasai seluruh alam, apa yang telah dipaparkan di depan adalah benar dan tidak ada keraguan di dalamnya, hamba bersaksi bahwa tangan inilah yang menandatangani kontrak-kontrak siluman dan kaki ini yang melangkah ke rapat-rapat persekongkolan."

Karena selama menjabat sebagai Kepala Desa tidak jujur, adil dan tidak amanah terhadap warganya, Tuhan pun memerintahkan Mustapa untuk menjalani hukuman di neraka.

"Wahai Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang, sebelum hamba menjalani hukuman ijinkan hamba melakukan pembelaan... "
Kata Mustapa.

Tuhan pun mempersilakan Mustapa melakukan pembelaan atas kesalahan yang telah dilakukan saat menjabat sebagai Kepala Desa Medang selama dua periode.

" Tuduhan yang ditujukan kepada hamba karena berlaku tidak amanah kepada warga saya kiranya tidak tepat. Hamba mengakui telah menyelewengkan anggaran desa, hamba pun mengakui melakukan hal-hal yang dibacakan Malaikat tadi, namun hamba tidaklah menyelewengkan amanah warga, karena sesungguhnya saat pemilihan Kepala Desa hamba telah membeli amanah warga seharga tiga puluh ribu, hamba bayar tunai."

Kemudian Tuhan memerintahkan kepada Malaikat agar mengumpulkan seluruh penduduk Desa Medang ke persidangan. Semua yang terlibat saat pemilihan Kepala Desa dikumpulkan tanpa terkecuali, bahkan mereka yang sudah menikmati surga dan yang sedang menjalani hukuman di neraka pun dipanggil kembali.
Bertanyalah Tuhan kepada warga Medang.
 
"Wahai penduduk Desa Medang, benarkah saat Pemilihan Kepala Desa Medang kalian memilih Mustapa bin Badrun karena diberi imbalan tiga puluh ribu rupiah?"

Hampir sebagian besar kaki dan tangan pendukung Medang bersaksi bahwa kaki-kaki mereka menuju TPS dan memilih Mustapa, dan tangan mereka menerima uang sebesar tiga puluh ribu rupiah dari Mustapa dan tim suksesnya, serta tangan mereka pula yang mencoblos gambar Mustapa bin Badrun. 

Mereka berdalih bahwa uang itu diterima sebagai uang pengganti kerja dan berbagai alasan lain. Sedangkan sebagian kecil penduduk yang lain mengaku golput dan tidak menerima uang dari Mustapa bin Badrun. Mereka sadar Mustapa bukanlah pemimpin yang baik namun mereka hanya diam dan tidak berbuat apa-apa. 

Seluruh penduduk Desa Medang riuh dalam pembelaannya masing-masing.
Kemudian terdengarlah suara Tuhan lantang menggelegar, hingga seluruh yang hadir terdiam.

"Wahai penduduk Desa Medang, ketahuilah, bahwa Mustapa bin Badrun telah mengakui segala dosa-dosanya. Namun Mustapa tidak mau menanggung tuduhan sebagai pemimpin yang khianat. Karena Mustapa telah membeli amanah dari kalian dengan tunai seharga tiga puluh ribu rupiah.
Wahai penduduk Desa Medang, mengapa kalian begitu bodoh menukar kepercayaan selama enam tahun dengan harga sebegitu murah, kalian cuma diberi lima ribu pertahun sedang Mustapa mengambil dari kalian beratus ratus kali lipat.
Wahai penduduk Desa Medang, kalian tahu Mustapa seorang yang khianat, tapi kalian hanya diam. Apakah tidak ada lagi diantara kalian seseorang pemimpin yang adil, berilmu dan beradab baik sehingga kalian membiarkan Desa kalian dipimpin oleh seorang yang khianat seperti Mustapa?
Wahai penduduk Medang adilkah Aku Tuhanmu bila memerintahkan kalian semua menemani Mustapa menjalani hukuman di neraka, karena kebodohan kalian menukar amanah kepemimpinan dengan harga tiga puluh ribu rupiah, dan karena ketidakpedulian kalian membiarkan seorang khianat memegang tampuk kekuasaan?
Wahai penduduk Desa Medang, tidak adilkah Aku Tuhan kalian bila mengampuni kesalahan Mustapa bin Badrun karena telah membayar tunai amanah dari kalian?"

Suasana menjadi begitu hening, tak ada satu mahluk pun yang bergerak.
Mendadak terdengar suara petir begitu keras, hingga aku melonjak terbangun dengan peluh bercucuran.
Ah, ternyata hanya mimpi. Dan di luar hujan masih turun dengan derasnya.

*sebuah cerita pendek*

0 coretan kamu:

Posting Komentar