Makutarama

Masing-masing dari kita sesungguhnya adalah pemimpin, entah pemimpin dalam sebuah kelompok kecil ataupun kelompok yang lebih besar. Pemimpin dalam keluarga, RT, RW, Kelurahan, pada sebuah organisasi, sampai pemimpin sebuah Negeri. Kalaupun tidak ada yang kita pimpin setidaknya kita menjadi pemimpin diri kita sendiri. Selain menjadi pemimpin dalam kehidupan bermasyarakat kita juga sering dihadapkan pada situasi untuk memilih seorang pemimpin, memilih orang yang bisa kita percaya untuk memimpin diri kita ke arah yang lebih baik tentunya. Namun belakangan ini yang sering kita dapati kita ini seringkali salah dalam hal memilih pemimpin. Kita seringkali termakan oleh janji-janji palsu, yang pada akhirnya membuat kita merasa tertipu.
Terkadang karena begitu jengkelnya terhadap pemimpin, kita lalu menjadi orang yang tidak mau dipimpin. Kalau sudah seperti ini ya hancur.

Seperti apa sih idealnya watak seorang pemimpin?

Menurut cerita dari Dunia Wayang, seorang Raja bernama Ramawijaya yang bertahta di Ayodya pernah menulis sebuah prasasti yang konon berisi tentang kriteria ideal seorang pemimpin. Prasasti ini berisi bait-bait puisi yang mengajarkan bagaimana pemimpin belajar dan mengamati alam sekitar, sehingga memahami watak-watak alam dan kemudian mampu mengejawantahkannya dalam semangat kepemimpinan. Di dunia wayang prasasti ini dikenal dengan sebutan Wahyu Makutarama (Mahkota Rama). Konon prasasti tersebut berisi rangkuman proses pembelajaran saat Sri Rama belum menjadi Raja, ketika masih mengembara dan menelisik alam memaknai tanda-tanda kebesaran Sang Pencipta.

Konon Makutarama berisi tentang wejangan-wejangan agar pemimpin itu bisa menyatu dengan alam, menggenggam dan menjabarkan delapan watak alam.
Adapun delapan watak alam tersebut adalah sebagai berikut;

~Bumi.
Watak bumi yang menampung segala hal di atas dunia ini; baik, buruk, ringan, berat semua diterima apa adanya. Bumi tidak pernah membedakan bahwa dia hanya menerima hal-hal yang baik saja dan melemparkan hal-hal buruk ke angkasa. Bumi tidaklah demikian, semuanya diterima olehnya tanpa pernah membeda-bedakan. Pemimpin yang memiliki watak bumi tidak akan membeda-bedakan orang yang dipimpinnya, menguntungkan atau tidak semua diterima olehnya.

~Matahari.
Watak matahari yang menerangi seluruh bumi memberikan manfaat untuk siapa saja. Panasnya membuat siklus air terjadi secara berkala. Air laut yang menguap ke atas awan kemudian diturunkan kembali menjadi kesegaran berupa hujan. Begitulah seorang pemimpin seharusnya, mampu peka menyerap aspirasi dari bawah dan kemudian di saat yang tepat diturunkan kembali ke bawah berupa kesejukan untuk semua orang yang dipimpinnya.
Matahari selalu tegas dalam melaksanakan tugasnya, meskipun dimaki karena terlalu terik dan menyiksa dia akan terus bersinar karena itu sudah kewajibannya.

~Rembulan.
Memang rembulan tidak menghasilkan cahayanya sendiri, meskipun cuma memantulkan cahaya namun sinar rembulan mampu menerangi kegelapan malam. Pemimpin yang mempunyai sifat Rembulan mampu menggalang kekuatan yang bukan kekuatannya sendiri, dan kemudian digunakan untuk memberi penyelesaian dari setiap masalah yang ada.

~Angin.
Angin tak dapat dilihat dan tak dapat dipegang, namun kekuatannya mampu menghancurkan. Angin mampu menyusup ke mana saja bahkan ke lubang-lubang kecil sekalipun. Pemimpin yang memiliki watak angin mampu melihat dan mendengar ke segala penjuru, sifatnya menyejukkan dan kekuatannya cuma dipergunakan bilamana perlu.

~Samudera.
Sekumpulan air yang terhampar begitu luas, mengisi setiap cekungan yang ada. Baiknya pemimpin juga seperti samudera, dalam artian pemimpin harus memiliki wawasan yang luas, mampu melihat hal-hal yang orang lain belum mengetahui. Dan seperti air dalam samudera, pemimpin juga harus selalu mampu menyesuaikan dengan wadah yang ada.
Bisa menyelami setiap orang yang dipimpinnya dan mampu memahami tiap-tiap orang atau kelompok sehingga tahu apa yang mereka inginkan.

~Api.
Kemampuan api membakar dan menghanguskan benda-benda hingga hancur menjadi abu juga harus dimiliki seorang pemimpin. Pemimpin itu dalam menyelesaikan masalah harus tuntas. Benar-benar mencapai tujuan dan tidak sepotong-sepotong. Semuanya harus sesuai porsinya dan selesai sesuai rencana. Sifat api ini juga melambangkan ketegasan pimpinan dalam menjalankan hukuman tidak pandang bulu kepada yang bersalah, dan memberi reward untuk yang berjasa.

~Bintang.
Bintang itu indah, bahkan para pujangga sering memakai bintang untuk menggambarkan keindahan. Pemimpin pun harus indah,mampu memberikan ketentraman kepada siapa pun yang dipimpinnya. Selain indah, bintang juga seringkali dipakai sebagai petunjuk arah oleh mereka yang sedang berada dalam kegelapan. Pemimpin harus bisa menunjukkan dengan tepat kepada orang-orang yang dipimpin di mana mereka saat ini dan ke mana mereka akan menuju tanpa pernah takut tersesat.

~Awan.
Awan sendiri memiliki dua sifat, yaitu cerah dan mendung. Seperti awan yang cerah, pemimpin itu bisa memberikan harapan kepada orang yang dipimpinnya sehingga tumbuh keinginan dari tiap-tiap orang untuk menjadi lebih baik. Sedangkan mendung diartikan sebagai sebuah kewibawaan. Pemimpin harus berwibawa dan selalu tegas dalam mengambil keputusan agar mereka yang dipimpin menjadi patuh untuk bersama-sama mencapai tujuan.

Bila delapan watak alam ini digunakan pada saat memimpin, kiranya tak ada lagi orang-orang yang tak mau untuk dipimpin. Kalian para pemimpin tak perlu malu belajar kepada alam yang lebih tua dari kalian semua.

0 coretan kamu:

Posting Komentar