Sajak Secawan Arak

Bawa kemari sedihmu,
kalaupun aku gagal mengubahnya menjadi keping bahagia,
setidaknya aku bisa membuatmu lupa.

Akulah candu bagi hati yang tersesat,
membuatmu lupa segala bentuk kesedihan,
namun aku bukanlah penyelesaian.

Benar,
damaiku sesat,
damai yang sesaat,
dekap aku jangan lepas lagi.
Tuang saja tak usah ragu,
hirup wangiku lalu telan dalam sekali tegukan.

Aku akan selalu menggodamu,
menawarkan bahagia menghapus lara.
Saat kalian sadar makilah aku,
nyatanya aku telah menjeratmu.


Lurah Tiga Puluh Ribu

Dan hari yang telah dijanjikan akhirnya tiba, kiamat telah berlalu saatnya manusia mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan di dalam hidupnya. Sidang Akbar di hari pembalasan dimulai.

Aku dan lautan manusia di sekelilingku menunggu giliran mempertanggungjawabkan hidup kami di dunia, semua dihitung dengan cermat tanpa ada yang terlewat. Amal dan dosa ditimbang dengan adil tanpa ada rekayasa serta tipu daya.

Sembari menunggu aku tertarik menyaksikan sidang yang tengah berlangsung. Malaikat sedang membacakan dengan rinci apa yang telah dilakukan Mustapa bin Badrun selama hidup di bumi.
Saat ini pembacaan telah sampai di bagian pertanggung jawaban Mustapa saat dia menjabat sebagai Kepala Desa selama dua periode.

"Wahai Mustapa bin Badrun, semasa hidup engkau telah diberi amanah oleh penduduk Desa Medang untuk menjabat sebagai Kepala Desa Medang selama dua periode. Di dalam dua belas tahun kepemimpinanmu engkau telah menghianati amanah yang telah diberikan kepadamu. Kau juga selalu menyalahgunakan jabatan yang engkau miliki. Anggaran Desa telah kaucuri untuk memperkaya diri sendiri, dana bantuan untuk wargamu pun rela kaumakan. Proyek-proyekmu yang berkedok pembangunan Desa penuh dengan rekayasa. Pungli-pungli pun kaulakukan dengan dalih administrasi butuh biaya. Pelayananmu tak jalan tanpa uang makan.
Wahai Mustapa benarkah begitu adanya?"
Bertanya Malaikat dengan artikulasi yang jelas dan tegas.

Mustapa tergagap. Belum sempat mulutnya terbuka, kaki dan tangannya telah bicara.
 
"Demi Tuhan yang menguasai seluruh alam, apa yang telah dipaparkan di depan adalah benar dan tidak ada keraguan di dalamnya, hamba bersaksi bahwa tangan inilah yang menandatangani kontrak-kontrak siluman dan kaki ini yang melangkah ke rapat-rapat persekongkolan."

Karena selama menjabat sebagai Kepala Desa tidak jujur, adil dan tidak amanah terhadap warganya, Tuhan pun memerintahkan Mustapa untuk menjalani hukuman di neraka.

"Wahai Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang, sebelum hamba menjalani hukuman ijinkan hamba melakukan pembelaan... "
Kata Mustapa.

Tuhan pun mempersilakan Mustapa melakukan pembelaan atas kesalahan yang telah dilakukan saat menjabat sebagai Kepala Desa Medang selama dua periode.

" Tuduhan yang ditujukan kepada hamba karena berlaku tidak amanah kepada warga saya kiranya tidak tepat. Hamba mengakui telah menyelewengkan anggaran desa, hamba pun mengakui melakukan hal-hal yang dibacakan Malaikat tadi, namun hamba tidaklah menyelewengkan amanah warga, karena sesungguhnya saat pemilihan Kepala Desa hamba telah membeli amanah warga seharga tiga puluh ribu, hamba bayar tunai."

Kemudian Tuhan memerintahkan kepada Malaikat agar mengumpulkan seluruh penduduk Desa Medang ke persidangan. Semua yang terlibat saat pemilihan Kepala Desa dikumpulkan tanpa terkecuali, bahkan mereka yang sudah menikmati surga dan yang sedang menjalani hukuman di neraka pun dipanggil kembali.
Bertanyalah Tuhan kepada warga Medang.
 
"Wahai penduduk Desa Medang, benarkah saat Pemilihan Kepala Desa Medang kalian memilih Mustapa bin Badrun karena diberi imbalan tiga puluh ribu rupiah?"

Hampir sebagian besar kaki dan tangan pendukung Medang bersaksi bahwa kaki-kaki mereka menuju TPS dan memilih Mustapa, dan tangan mereka menerima uang sebesar tiga puluh ribu rupiah dari Mustapa dan tim suksesnya, serta tangan mereka pula yang mencoblos gambar Mustapa bin Badrun. 

Mereka berdalih bahwa uang itu diterima sebagai uang pengganti kerja dan berbagai alasan lain. Sedangkan sebagian kecil penduduk yang lain mengaku golput dan tidak menerima uang dari Mustapa bin Badrun. Mereka sadar Mustapa bukanlah pemimpin yang baik namun mereka hanya diam dan tidak berbuat apa-apa. 

Seluruh penduduk Desa Medang riuh dalam pembelaannya masing-masing.
Kemudian terdengarlah suara Tuhan lantang menggelegar, hingga seluruh yang hadir terdiam.

"Wahai penduduk Desa Medang, ketahuilah, bahwa Mustapa bin Badrun telah mengakui segala dosa-dosanya. Namun Mustapa tidak mau menanggung tuduhan sebagai pemimpin yang khianat. Karena Mustapa telah membeli amanah dari kalian dengan tunai seharga tiga puluh ribu rupiah.
Wahai penduduk Desa Medang, mengapa kalian begitu bodoh menukar kepercayaan selama enam tahun dengan harga sebegitu murah, kalian cuma diberi lima ribu pertahun sedang Mustapa mengambil dari kalian beratus ratus kali lipat.
Wahai penduduk Desa Medang, kalian tahu Mustapa seorang yang khianat, tapi kalian hanya diam. Apakah tidak ada lagi diantara kalian seseorang pemimpin yang adil, berilmu dan beradab baik sehingga kalian membiarkan Desa kalian dipimpin oleh seorang yang khianat seperti Mustapa?
Wahai penduduk Medang adilkah Aku Tuhanmu bila memerintahkan kalian semua menemani Mustapa menjalani hukuman di neraka, karena kebodohan kalian menukar amanah kepemimpinan dengan harga tiga puluh ribu rupiah, dan karena ketidakpedulian kalian membiarkan seorang khianat memegang tampuk kekuasaan?
Wahai penduduk Desa Medang, tidak adilkah Aku Tuhan kalian bila mengampuni kesalahan Mustapa bin Badrun karena telah membayar tunai amanah dari kalian?"

Suasana menjadi begitu hening, tak ada satu mahluk pun yang bergerak.
Mendadak terdengar suara petir begitu keras, hingga aku melonjak terbangun dengan peluh bercucuran.
Ah, ternyata hanya mimpi. Dan di luar hujan masih turun dengan derasnya.

*sebuah cerita pendek*

Makutarama

Masing-masing dari kita sesungguhnya adalah pemimpin, entah pemimpin dalam sebuah kelompok kecil ataupun kelompok yang lebih besar. Pemimpin dalam keluarga, RT, RW, Kelurahan, pada sebuah organisasi, sampai pemimpin sebuah Negeri. Kalaupun tidak ada yang kita pimpin setidaknya kita menjadi pemimpin diri kita sendiri. Selain menjadi pemimpin dalam kehidupan bermasyarakat kita juga sering dihadapkan pada situasi untuk memilih seorang pemimpin, memilih orang yang bisa kita percaya untuk memimpin diri kita ke arah yang lebih baik tentunya. Namun belakangan ini yang sering kita dapati kita ini seringkali salah dalam hal memilih pemimpin. Kita seringkali termakan oleh janji-janji palsu, yang pada akhirnya membuat kita merasa tertipu.
Terkadang karena begitu jengkelnya terhadap pemimpin, kita lalu menjadi orang yang tidak mau dipimpin. Kalau sudah seperti ini ya hancur.

Seperti apa sih idealnya watak seorang pemimpin?

Menurut cerita dari Dunia Wayang, seorang Raja bernama Ramawijaya yang bertahta di Ayodya pernah menulis sebuah prasasti yang konon berisi tentang kriteria ideal seorang pemimpin. Prasasti ini berisi bait-bait puisi yang mengajarkan bagaimana pemimpin belajar dan mengamati alam sekitar, sehingga memahami watak-watak alam dan kemudian mampu mengejawantahkannya dalam semangat kepemimpinan. Di dunia wayang prasasti ini dikenal dengan sebutan Wahyu Makutarama (Mahkota Rama). Konon prasasti tersebut berisi rangkuman proses pembelajaran saat Sri Rama belum menjadi Raja, ketika masih mengembara dan menelisik alam memaknai tanda-tanda kebesaran Sang Pencipta.

Konon Makutarama berisi tentang wejangan-wejangan agar pemimpin itu bisa menyatu dengan alam, menggenggam dan menjabarkan delapan watak alam.
Adapun delapan watak alam tersebut adalah sebagai berikut;

~Bumi.
Watak bumi yang menampung segala hal di atas dunia ini; baik, buruk, ringan, berat semua diterima apa adanya. Bumi tidak pernah membedakan bahwa dia hanya menerima hal-hal yang baik saja dan melemparkan hal-hal buruk ke angkasa. Bumi tidaklah demikian, semuanya diterima olehnya tanpa pernah membeda-bedakan. Pemimpin yang memiliki watak bumi tidak akan membeda-bedakan orang yang dipimpinnya, menguntungkan atau tidak semua diterima olehnya.

~Matahari.
Watak matahari yang menerangi seluruh bumi memberikan manfaat untuk siapa saja. Panasnya membuat siklus air terjadi secara berkala. Air laut yang menguap ke atas awan kemudian diturunkan kembali menjadi kesegaran berupa hujan. Begitulah seorang pemimpin seharusnya, mampu peka menyerap aspirasi dari bawah dan kemudian di saat yang tepat diturunkan kembali ke bawah berupa kesejukan untuk semua orang yang dipimpinnya.
Matahari selalu tegas dalam melaksanakan tugasnya, meskipun dimaki karena terlalu terik dan menyiksa dia akan terus bersinar karena itu sudah kewajibannya.

~Rembulan.
Memang rembulan tidak menghasilkan cahayanya sendiri, meskipun cuma memantulkan cahaya namun sinar rembulan mampu menerangi kegelapan malam. Pemimpin yang mempunyai sifat Rembulan mampu menggalang kekuatan yang bukan kekuatannya sendiri, dan kemudian digunakan untuk memberi penyelesaian dari setiap masalah yang ada.

~Angin.
Angin tak dapat dilihat dan tak dapat dipegang, namun kekuatannya mampu menghancurkan. Angin mampu menyusup ke mana saja bahkan ke lubang-lubang kecil sekalipun. Pemimpin yang memiliki watak angin mampu melihat dan mendengar ke segala penjuru, sifatnya menyejukkan dan kekuatannya cuma dipergunakan bilamana perlu.

~Samudera.
Sekumpulan air yang terhampar begitu luas, mengisi setiap cekungan yang ada. Baiknya pemimpin juga seperti samudera, dalam artian pemimpin harus memiliki wawasan yang luas, mampu melihat hal-hal yang orang lain belum mengetahui. Dan seperti air dalam samudera, pemimpin juga harus selalu mampu menyesuaikan dengan wadah yang ada.
Bisa menyelami setiap orang yang dipimpinnya dan mampu memahami tiap-tiap orang atau kelompok sehingga tahu apa yang mereka inginkan.

~Api.
Kemampuan api membakar dan menghanguskan benda-benda hingga hancur menjadi abu juga harus dimiliki seorang pemimpin. Pemimpin itu dalam menyelesaikan masalah harus tuntas. Benar-benar mencapai tujuan dan tidak sepotong-sepotong. Semuanya harus sesuai porsinya dan selesai sesuai rencana. Sifat api ini juga melambangkan ketegasan pimpinan dalam menjalankan hukuman tidak pandang bulu kepada yang bersalah, dan memberi reward untuk yang berjasa.

~Bintang.
Bintang itu indah, bahkan para pujangga sering memakai bintang untuk menggambarkan keindahan. Pemimpin pun harus indah,mampu memberikan ketentraman kepada siapa pun yang dipimpinnya. Selain indah, bintang juga seringkali dipakai sebagai petunjuk arah oleh mereka yang sedang berada dalam kegelapan. Pemimpin harus bisa menunjukkan dengan tepat kepada orang-orang yang dipimpin di mana mereka saat ini dan ke mana mereka akan menuju tanpa pernah takut tersesat.

~Awan.
Awan sendiri memiliki dua sifat, yaitu cerah dan mendung. Seperti awan yang cerah, pemimpin itu bisa memberikan harapan kepada orang yang dipimpinnya sehingga tumbuh keinginan dari tiap-tiap orang untuk menjadi lebih baik. Sedangkan mendung diartikan sebagai sebuah kewibawaan. Pemimpin harus berwibawa dan selalu tegas dalam mengambil keputusan agar mereka yang dipimpin menjadi patuh untuk bersama-sama mencapai tujuan.

Bila delapan watak alam ini digunakan pada saat memimpin, kiranya tak ada lagi orang-orang yang tak mau untuk dipimpin. Kalian para pemimpin tak perlu malu belajar kepada alam yang lebih tua dari kalian semua.

Capung Berbisik

Jadi kamu sering menangis sendirian, masih menanti kekasihmu datang menyelamatkan? Entahlah, apa yang harus kukatakan, ksatriamu itu telah lama mati.

Berita itu datang dari utara, kehilanganmu membuat ksatria murka. Istana gelap coba ia bakar, malah cahayanya yang meredup padam.

Kamu yang terkurung di Puri Kesedihan, jangan lagi kau tunggu penyelamatmu. Jalani sisa harimu, terbiasalah dengan perihmu.

Tiap air matamu yang jatuh meninggikan benteng Puri ini, jangan ada lagi tangis. Keteguhan hatimulah kelak yang membebaskanmu dari sini.

Duh, putri yang terperangkap di Puri Kesedihan, semoga saja kau mendengar bisik samar capung liar ini.
.....
Sumber gambar: telpics.ru
~Twitter dan Facebook, 14 Februari 2013~

Menempuh Jalan Darah

Kenapa tak kaulepaskan saja ikatanmu pada peri kecilku? Jelas sudah hatinya tak mau tunduk padamu.
#fiksikepagian

Sekian lama jeratmu erat mengikat, namun hatinya tak pernah kaudapat.
#fiksikepagian

Terlalu lama aku bersabar menanti engkau tersadar, bahwa peri kecil itu milikku dan tak 'kan pernah menjadi milikmu.
#fiksikepagian

Pernah aku meminta peri kecilku kembali demi kebaikan, selalu jalan darah yang kautawarkan.
#fiksikepagian

"Dia harus jadi milikku atau mati, selama ada aku tak 'kan ada yang berhak atas dia," itu yang engkau gemborkan.
#fiksikepagian

Untuk peri kecilku aku menahan amarah dan mencoba terus berserah. Kesadaranmu tak kunjung kembali, peri kecilku makin tersakiti.
#fiksikepagian

Maaf, aku menyerah dan memilih jalan ini. Esok, saat hujan datang bersama pagi, kita lihat entah punya siapa darah yang tertumpah.
#fiksikepagian