Sang Mercusuar

Langit masih gelap,
angin seakan tak mau berhenti menderu,
bintang-bintang belum juga nampak,
dan entah sampai kapan badai ini akan terhenti.

Sekoci kecil itu terombang-ambing ombak,
tanpa navigasi mengambang tak pasti,
biduk besar telah karam dihajar ombak,
badai datang menerjang para pencari mimpi.

Nyaris tak ada yang tersisa,
asa sekoci terendam buih,
hanya bertahan untuk tak tenggelam,
benamkan mimpi bertemu tepian,
janji nahkoda tinggalah janji,
mimpi wanita dalam sekoci berakhir di sini.

Setitik cahaya bekerjap dalam gelap,
timbulkan hasrat dari asa yang tersisa,
wanita dalam sekoci yang rindu cahaya,
begitu lama tersesat dalam gelap,
tepian kini bukanlah mimpi,
titik cahaya pemandu navigasi,
dan ke sanalah sekoci itu menuju.

Tegak berdiri kaku sendiri,
didera ombak terhantam badai,
tergerus dingin tertampar terik,
meredam bosan tanya di hati,
apa guna tetap berdiri.

Seminggu sudah suarnya tak mati,
amarah badai belum juga terhenti,
malam gulita siang pun gelap,
sangsikan suarnya menembus pekat.

Kegilaan badai mulai berkurang,
daya pandangnya mulai terkembang,
jauh terlihat titik hitam mendekat,
terseret ombak yang tak lagi liat,
tak terkira bahagia saat ini,
kiranya dia masih berguna kali ini,
saat tehnologi mengambil alih peran navigasi.

Nyala suarnya semakin benderang,
seolah menyambut cinta lamanya yang hilang,
tekadnya cuma satu untuk memandu,
doanya pun begitu sederhana,
semoga penumpang sekoci itu mendarat selamat.

Titik cahaya itu kini mulai terang,
wanita dalam sekoci mulai tersenyum tenang,
wujud sumber cahaya tampak dalam bayang,
gagah menjulang ditengah lautan,
bangkitkan semangat untuk segera pulang.

Fajar telah datang,
ombak badai pun telah terbungkam,
sesak pekat dahsyatnya lautan telah sirna,
langit mulai benderang,
mentari muncul saat sekoci tiba di mercusuar.

Wanita dalam sekoci termangu menatap titik cahaya bermula,
air matanya mengalir teringat kerjap titik cahaya di dalam pekat,
begitu wibawa menjulang di dalam bayang gelap,
dan menara itu tidaklah mempesona di dalam terang.

Tubuhnya mulai ringkih terkikis ombak,
dindingnya dingin digerus kesendirian,
catnya pun pudar termakan hukum alam,
guratkan derita yang berkepanjangan,
dan menara itu berbentuk nyaris tanpa estetika.

Sang mercusuar kembali dalam kesendirian,
lautan telah tenang,
langit berhiaskan gemintang,
dia tetap tegak berdiri,
meskipun nyaris tanpa arti.

Wanita dalam sekoci telah pergi,
kembali pulang ke pelukan gedung-gedung menjulang,
kerjap titik cahaya di kegelapan tak lagi bermakna,
sang mercusuar pun perlahan terlupakan.

Saat amuk badai telah berhenti,
hal seperti ini sudah pernah terjadi.


---
Kudus, saat hujan datang kembali.

Ratap Pendosa

Bila kamu sedang berdo'a kepada Tuhan,
tolong sampaikan padaNya,
agar kembali mendekat padaku,
dan memaafkan semua khilafku.

Pastinya dirimu bertanya,
kenapa bukan aku saja yang meminta?
kenapa bukan aku saja yang mendekat?
jelas Tuhan tak butuh aku,
dan sebaliknya akulah yang selalu membutuhkanNya!

Sesungguhnya aku terlalu malu untuk meminta,
sesungguhnya aku terlalu hina untuk dekatiNya,
dan aku pun terlalu takut,
jika ternyata aku sudah kembali dekat nantinya,
kembali aku mengulang kesalahan yang sama.

Begitu banyak janji yang tak mampu aku tepati,
begitu banyak kewajiban yang aku abaikan,
namun Dia tetap menjagaku,
Dia tetap mengasihiku,
hingga aku menjadi begitu malu,
dan teramat muak pada diriku.....

Jika kamu berdoa pada Tuhan,
mohonkan ampunan untukku,
mintakan terang jalanku,
dan sampaikan salam "aku rindu!"

Hancur

Ketika bicara tentang gunung berapi, 
entah berapa jiwa yang ikut bersama letusannya. 
Ketika membahas angin, 
begitu banyak nelayan yang tak bisa ke laut terhalang badai. 
Ketika melihat hutan, 
yang tersisa asap tebal dan sisa kayu yang terbakar. 
Bahkan hujan pun tak lagi menyenangkan. 
Karena genangannya yang selalu tertinggal merendam. 

Binatang diperlakukan sebagai mahluk bodoh tanpa peran, 
dan tumbuhan tak lagi dianggap miliki arti. 
Elemen-elemen alam telah terabaikan, 
dan jiwa-jiwa suci beranjak pergi. 
Yang tersisa cuma bencana, 
diiringi ratap derita anak manusia. 

Tanah berhak marah, 
udara pun mulai berbisa. 
Api tak lagi terkendali, 
air lebih dari mengalir. 
Unsur-unsur semesta mulai murka, 
lantakkan dunia yang penuh durjana. 

Saat kehancuran mendekat, 
masihkah manusia teringat?
Ketika alam tak terkendali
akankah tanda-tanda itu dikenali?
manusia sadarlah!!!!!
Sumber gambar: Google