Kampung Gossip

Di kampung gossip tinggalah seorang perempuan yang sangat eksis dalam bergossip. Setiap peristiwa tak pernah luput dari pengamatannya, dan tentu saja dia selalu update gossip-gossip terbaru di sekitar lingkungannya. Suatu ketika dia menebarkan gossip tentang tetangganya, hingga dalam waktu yang tak begitu lama seisi kampung gossip mengetahui ceritanya. Dan hal ini mengakibatkan tetangganya tersebut sangat terpukul dan sakit hati, karena berita itu sama sekali tidak benar adanya.

Sampai pada akhirnya perempuan penyebar gossip ini menyadari kalau berita yang disebarkannya tidak benar, dan dia pun menyesali perbuatannya yang telah melukai hati tetanganya itu. Dia ingin meminta maaf pada tetangganya namun tetangganya itu telah terlanjur pindah kampung akibat dari pemberitaan yang salah tentang dirinya. Dan perempuan gossip ini tidak tahu ke mana tetangganya sekarang ini.

Dalam penyesalannya perempuan gossip ini pergi ke orang bijak yang tinggal di luar kampung gossip. Perempuan ini ingin mengetahui apa yang harus dilakukannya untuk menebus kesalahan yang pernah dia perbuat.
Orang bijak ini berkata "Pergilah ke pasar, beli seekor ayam dan bunuh ayam tersebut! Dalam perjalanan pulang cabuti bulunya satu persatu kemudian buang di sepanjang perjalanan pulang," lanjut orang bijak tersebut. Meskipun merasa aneh dengan perintah ini perempuan gossip itu tetap melakukan apa yang diperintahkan orang bijak tersebut.

Keesokan harinya dia kembali menemui orang bijak untuk menanyakan apa yang harus dilakukan selanjutnya. "Sekarang pergilah, dan kumpulkan semua bulu yang kemarin kamu sebar dan bawa kembali kepadaku," kata orang bijak.

Seharian penuh perempuan ini menyusuri jalanan yang sama mencari bulu-bulu yang dia buang kemarin, namun angin telah menyebarkan bulu-bulu tersebut ke segala tempat. Sampai akhirnya dia menyerah dan kembali ke tempat orang bijak dengan hanya membawa beberapa helai bulu yang berhasil ditemuinya.

"Lihat kan!" Kata orang bijak, "Sangat mudah menyebarkannya, namun tidak mungkin menariknya kembali. Begitu pula dengan gossip. Tidak sulit menyebarluaskan isu, namun sekali terlempar, anda tidak akan pernah secara penuh memperbaiki kesalahan anda."

Note: Adalah penting untuk menjaga apa yang masuk ke mulut, tetapi lebih penting untuk menjaga apa yang keluar dari mulut.

Aku, Perempuan Itu dan Sepakbola

Setiap habis main bola selalu ada luka di anggota tubuhku, namun tak pernah kumerasa menderita karena ada bahagia di sana.

Entah sudah berapa kali tangan dan kaki mengalami dislokasi sendi, namun setelah sakit berganti selalu saja aku bermain lagi.

Dulu perempuan itu selalu memeriksa keadaanku setiap kali aku selesai bermain, ada khawatir di wajahnya tiap kali melihat luka yang ada.

Namun tak sekalipun perempuan itu melarangku bermain, karena dia tahu semua lukaku sebanding dengan ceriaku.

Tak pernah sekalipun perempuan itu melihatku bertanding, bukan karena tak suka bol, tapi karena tak sanggup melihatku luka.

Saat parah cidera yang menimpa, dia pun menitikkan air mata, sedikit egois dia berkata "Kalau begini terus,apalagi yang tersisa buatku mas?" 

Tak pernah kusesali cidera yang kualami karena bermain bola, dan perempuan itu ikut merasakan sakit karena cintanya.

Betapa ironisnya cinta, perempuan itu begitu mencintaiku namun aku terlanjur cinta pada sepakbola.

Usaha

Malam ini saya mendapat sms dari rekan kerja yang sedang bertugas di pos sebelah. Dia mengeluh kepada saya kalau perutnya lapar. Saya pun membalas smsnya, saya katakan saya punya persediaan mie instant. Kembali rekan saya tersebut mengirimkan sms "Memangnya kamu sudah makan?" Dan saya jawab "Ini baru akan mulai makan." Dia kembali sms "Sepertinya enak ya?" Dan kujawab "Orang kalau mau enak musti usaha." Dan dia pun tertawa dengan sms balasan saya.

Setelah selesai makan saya pun menyadari ternyata untuk mengenyangkan perut yang lapar diperlukan usaha yang rumit. Kenapa saya bilang rumit? Karena untuk makan diperlukan banyak usaha untuk mendapatkan hasil perut yang kenyang. Seperti usaha mendapatkan uang untuk membeli makanan,usaha memasak bahan makanan, dan banyak usaha-usaha yang lainnya.

Cuma mengeluh tak 'kan bisa mengenyangkan perut yang lapar. Untuk mendapatkan hasil perut kenyang diperlukan banyak usaha yang kompleks dan saling berkaitan. Jangan bermimpi mengubah hidup kalau cuma bisa mengeluh dan tak mau berusaha dengan keras. Bahkan orang yang sudah berusaha dengan keras pun terkadang tidak mendapatkan hasil seperti yang diharapkan. Hal-hal seperti ini tentu telah kita ketahui namun seringkali kita terlupa dan tidak kita sadari. Karena kita seringkali meremehkan segala sesuatu yang sudah diketahui.

Menurut saya yang disebut usaha itu meliputi: perencanaan, tindakan/aksi ,dan doa. Dengan tiga elemen tersebut akan didapatkan hasil dari usaha. Kalau salah satu dari tiga hal tersebut tidak dipenuhi maka hasilnya tidak bisa disebut dengan hasil usaha.

Di sini akhirnya saya menyadari ternyata banyak hal dalam hidup ini yang belum saya usahakan untuk mencapai apa yang saya inginkan.
Ternyata saya lebih sering hanya mengeluh tanpa melakukan usaha yang nyata. Semua rencana dan keinginan tak akan berarti tanpa tindakan dan doa yang menyertainya.

Semangkuk Mie

Pada malam itu, Alia bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Alia segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang.

Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tidak mempunyai uang.

Pemilik kedai melihat Alia berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata: "Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?"

"Ya, tetapi, aku tidak membawa uang" jawab Alia dengan malu-malu.

"Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu" jawab si pemilik kedai. "Silakan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu".

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Alia segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.

"Ada apa nona?" tanya si pemilik kedai.

"Tidak apa-apa" aku hanya terharu jawab Alia sambil mengeringkan air matanya.

"Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi ! Tetapi....Ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi. Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri" katanya kepada pemilik kedai.

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Alia, menarik nafas panjang lalu berkata: "Nona, mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya."

Alia terhenyak mendengar hal tersebut. "Mengapa aku tidak berpikir tentang hal itu? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal, aku begitu berterima kasih. Tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya."

Alia segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg harus diucapkan kepada ibunya.

Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya berwajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Alia, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah "Alia, kau sudah pulang. Cepat masuklah, Ibu telah menyiapkan makan malam. Makanlah dahulu sebelum kau tidur. Makanan akan dingin jika kau tidak memakannya sekarang"

Pada saat itu Alia tidak dapat menahan tangisnya. Ia pun menangis di pelukan ibunya.

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kepada orang yang sangat dekat dengan kita, khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.
==========================================
:repost: Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. Yogyakarta: Idea Press. Volume 3. Hal. 561-563. ISBN 978-6028-686-402.

Satu Hati Blogger Award

Setelah sekian lamanya tak pernah update blog, akhirnya hari ini dengan sedikit terpaksa saya menulis lagi. Hehehe makasih buat Anton Sahetapy alias Dawax yang membuat saya kembali menulis lagi. Dalam tulisan di blognya yang berjudul Hadiah Yang Mengejutkan... dia memberikan anugerah kepada says berupa award yang bernama Satu Hati Blogger Award. Yang bertujuan untuk mempererat silaturahmi antar blogger. Dan inilah Awardnya

Terima kasih banyak atas anugrah yang telah diberikan kepada saya, sehingga blog ini meraih award meskipun sudah jarang sekali update.
Semoga setelah adanya award ini semangat saya untuk menulis kembali hadir dan makin banyak sampah yang tertuang di blog ini.

Dan seperti award-award yang lainnya saya pun diberi tugas untuk memberikan award ini kepada blogger lainnya, dan untuk ini saya memilih nick salsabila dengan Tarian Hujan nya yang mempesona untuk menerima award ini.

Aku Ingin Sembuh

Memang benar kawan,
aku sakit,
dan sakitku sudah tergolong akut,
tapi aku masih ingin sembuh kawan...

Aku ingin sembuh dari semua kesia-siaan yang kualami sepanjang hidupku

Aku ingin sembuh dari jerat kemunafikan dan segala pembenaran yang menipu.

Aku ingin sembuh dari kebodohan yang terus menyeretku ke dalam gelap.

Aku ingin sembuh dari amarah yang keluar di waktu tak tepat.

Aku ingin sembuh kawan.

Sembuh dari kotoran-kotoran yang meracuni hati dan gelapkan nurani.

Sembuh dari himpitan tekanan yang hanya timbulkan benci dan dendam.

Sembuh dari ketidakmampuan finansial yang mengganjal langkah ke depan.

Sembuh dari pemikiran-pemikiran sesat yang memerangkap.

Aku cuma ingin sembuh kawan..

Sembuh dari kufur nikmat yang tak pernah terpuaskan.

Sembuh dari keapatisan yang diam-diam membunuh dari dalam.

Sembuh dari kesombongan dan angkuh hati yang membuat lupa diri.

Sembuhkanlah aku,
sembuhkanlah saudara-saudaraku,
sembuhkan negeriku,
sembuhkan duniaku.

Ijinkan aku melihat dunia dengan warna baru,
dengan pijar dan kilau yang tak terlihat sebelumnya.

Sembuhkanlah...

Bahkan Om Jin Pun Tak Mengerti


Sebuah pesan dari salah satu grup di Fesbuk aku terima sore ini. Setelah membacanya aku jadi pengen menulis ulang cerita dalam pesan tersebut buat kawan semua. Hehehe tapi jangan berharap aku akan menulisnya sama persis dengan yang aku terima.Tentunya cerita dariku akan menjadi lebih tidak masuk akal dan semakin membingungkan buat kawan semua,hehe silahkan stop di sini bila kawan tak ingin lanjut membacanya. Dan beginilah ceritanya menurut versiku.

Malam itu tanpa alasan yang jelas aku berhenti di atas jembatan Niti yang terbujur di atas sungai Gelis (Kaligelis). Aku pinggirkan motorku di bantaran Kaligelis lalu duduk diam sambil memperhatikan arus air yang malam ini lumayan deras. Dari arah utara masih terlihat kilatan cahaya petir, mungkin di atas muria sana masih hujan, pantas saja aliran air Kaligelis lumayan deras. Dari posisi dudukku aku bisa jelas melihat kolong jembatan Niti, malam ini tak ada seorang pun yang menginap di sana, biasanya ada beberapa gelandangan dan kelompok spiritual misterius yang memanfaatkan kolong jembatan Niti sebagai tempat melepas lelah.
Air yang lumayan deras tampaknya membuat mereka tidak menginap malam ini.

Sesuatu yang berkilauan di bawah jembatan tampak dalam penglihatanku yang samar-samar. Kucoba menyoroti benda itu dari flashlight kamera hpku tapi masih belum jelas dari atas sini. Penasaran dengan benda mengkilap itu, segera kukunci setang motorku dan nekad kuturuni bantaran sungai yang gelap dan licin. Wow!! Cuma kata itu yang keluar dari bibirku sesampainya aku di bawah jembatan, mungkinkah ini lampu wasiat? Benda berwarna kuning ini terlihat kuno dan sangat mirip dengan lampu ajaib yang sering aku lihat di film-film dan buku-buku cerita. Sekelilingku sepi tak ada seorang pun di sini. Entah dari mana benda ini bisa berada di sini, mungkin ini milik pedagang barang antik yang kalau pagi berjualan di pasar loak di atas bantaran Kaligelis, atau bisa juga ini milik kelompok spiritual misterius yang tertinggal di sini? Entahlah, kuambil benda antik tersebut dan segera kembali ke atas bantaran kali.

Sesampainya di kamarku yang selalu kubiarkan remang-remang, aku pandangi lagi benda antik itu, tampaknya lebih mirip cerek untuk bikin teh daripada disebut lampu. Benar-benar antik, dan rasanya memang belum pernah aku melihat benda seperti ini selain didalam film atau buku dongeng anak-anak.


*Woi kapan digosoknya nih?* hahaha sabar kawan, tentunya kawan semua sudah hapal cerita ini, ok aku lanjutin ceritanya.

Menurut cerita benda ini akan keluar jinnya bila digosok dan akan mengabulkan permintaan manusia yang menggosoknya. Bujug ,merinding aku membayangkan mahluk apa yang akan keluar dari benda tua nan klasik yang ada di depanku bila aku nekat menggosoknya. Aku kuatkan hatiku untuk menghadapi apa pun yang akan segera terjadi bila aku turuti rasa penasaranku untuk menggosok benda antik ini. Mampukah aku menghadapinya dan sanggupkah aku berkomunikasi dengannya bila ternyata benda ini benar-benar ajaib dan berpenghuni? Ah peduli setan, jin, atau Mak Lampir sekalian, kupegang benda itu dengan tangan kiri dan kugosok pelan-pelan dengan tangan kananku.

Huwaaa....! Meskipun sudah persiapan menghadapi apa yang akan aku temui, tetap saja aku menjerit kaget saat di depanku berdiri mahluk tinggi besar. Ternyata tidak seperti di dalam film di mana keluar asap sebelum keluar jinnya. Yang ini ternyata muncul begitu saja di depanku secara mengagetkan sambil menguap lebar. Dan mahluk ini mulai bicara dengan bahasa yang tidak pernah aku dengar sebelumnya namun aku bisa mengerti apa yang dibicarakannya.

''Hoahmm ada apa tuan membangunkanku, sudahkah tuan putuskan apa permintaan ketiga??''
Suaranya begitu berat dan menurutku agak malas-malasan terdengar sedikit marah hingga membuatku tergagap.

''Cepatlah tuan ucapkan permintaan tuan biar segera hamba kabulkan dan biarkan hamba terbebas dari lampu sialan ini.'' waduh ini jin mulai maksa dan tampaknya agak ngigau, kuberanikan diri untuk menjawabnya dengan bahasa keseharianku, bodo dah ini jin ngerti apa kagak.

''Woi!! Om Jin ente ngigau ya? Yang pertama aja belum kok udah nyampe permintaan ketiga, bangun euy'' melotot mata jin menatapku hingga membuatku selangkah mundur.

''Hahaha ternyata aku punya majikan baru, perlu tuan ketahui aku sudah mengabulkan dua permintaan majikan terdahuluku, jadi kewajibanku tinggal mengabulkan satu permintaan siapa pun majikanku, sebelum aku bebas dari lampu sialan ini'' tetap melotot jin itu memberi penjelasan padaku.

''CEPATLAH TUAN!!'' paksanya.

''Okelah Om Jin, dengarkan baik-baik permintaanku,dan segera kabulkan seperti janjimu'' dalam hal ini aku harus hati-hati agar tak salah mengucap permintaan.

''AKU MINTA TIGA PERMINTAAN LAGI!!'' inilah keinginanku sejak kecil bila mempunyai satu permintaan tersisa, dan ternyata iklan produk di televisi juga melakukan hal ini. Jin itu melotot dengan mata besarnya yang menakutkan.

''Tuanku, hamba mohon jangan itu permintaannya, bukankah itu sama artinya tuanku memerangkap hamba lebih lama lagi di dalam lampu ini? Mintalah kaya raya, mintalah wanita cantik, mintalah rumah mewah, niscaya hamba kabulkan'' tampak berkaca-kaca mata besar itu saat memintaku mengganti permintaanku hingga membuatku tak enak hati.

''Baiklah, ini permintaanku yang baru. Sepanjang hidupku aku tak pernah berhasil berhubungan dengan perempuan, setelah aku coba pahami ternyata diriku tidak pernah peka, tidak bisa mengerti apa yang ada di hati para perempuan. Jadi aku ingin Om Jin mengabulkan permintaanku, buatlah aku mengerti isi hati perempuan, sehingga aku bisa tahu kenapa mereka menangis, kenapa mereka tertawa, apa yang membuatnya bahagia, apa yang membuatnya bersedih, buat aku memahami apa keinginan perempuan sehingga aku tahu perasaan mereka ketika tiba-tiba membisu padaku, buat aku tahu apa yang mereka inginkan ketika mereka tidak memberitahuku apa yang sebenarnya mereka inginkan, aku ingin tahu apa yang benar-benar membuat perempuan bahagia'' aku ucapkan permintaanku dengan detail dan jelas biar mahluk ini tidak salah saat mengabulkannya.
Sejenak keheningan menyelimuti kamarku, aku melihat jin itu termenung dan berpikir keras. Sampai akhirnya jin ini kemudian berkata...

''Kamu mau kalau aku beri tiga permintaan lagi dan aku tambah bonus satu permintaan lagi??''


Kawan.....Benarkah perempuan begitu sulit untuk dipahami? Hingga Om Jin pun tak sanggup mengabulkan permintaanku?
Kali ini ceritanya aku cukupkan sekian saja, untuk selanjutnya silakan kawan teruskan saja sendiri bagaimana ending cerita di atas hehehe lumayan lho masih ada empat permintaan buat kawan semua :p

Sang Mercusuar

Langit masih gelap,
angin seakan tak mau berhenti menderu,
bintang-bintang belum juga nampak,
dan entah sampai kapan badai ini akan terhenti.

Sekoci kecil itu terombang-ambing ombak,
tanpa navigasi mengambang tak pasti,
biduk besar telah karam dihajar ombak,
badai datang menerjang para pencari mimpi.

Nyaris tak ada yang tersisa,
asa sekoci terendam buih,
hanya bertahan untuk tak tenggelam,
benamkan mimpi bertemu tepian,
janji nahkoda tinggalah janji,
mimpi wanita dalam sekoci berakhir di sini.

Setitik cahaya bekerjap dalam gelap,
timbulkan hasrat dari asa yang tersisa,
wanita dalam sekoci yang rindu cahaya,
begitu lama tersesat dalam gelap,
tepian kini bukanlah mimpi,
titik cahaya pemandu navigasi,
dan ke sanalah sekoci itu menuju.

Tegak berdiri kaku sendiri,
didera ombak terhantam badai,
tergerus dingin tertampar terik,
meredam bosan tanya di hati,
apa guna tetap berdiri.

Seminggu sudah suarnya tak mati,
amarah badai belum juga terhenti,
malam gulita siang pun gelap,
sangsikan suarnya menembus pekat.

Kegilaan badai mulai berkurang,
daya pandangnya mulai terkembang,
jauh terlihat titik hitam mendekat,
terseret ombak yang tak lagi liat,
tak terkira bahagia saat ini,
kiranya dia masih berguna kali ini,
saat tehnologi mengambil alih peran navigasi.

Nyala suarnya semakin benderang,
seolah menyambut cinta lamanya yang hilang,
tekadnya cuma satu untuk memandu,
doanya pun begitu sederhana,
semoga penumpang sekoci itu mendarat selamat.

Titik cahaya itu kini mulai terang,
wanita dalam sekoci mulai tersenyum tenang,
wujud sumber cahaya tampak dalam bayang,
gagah menjulang ditengah lautan,
bangkitkan semangat untuk segera pulang.

Fajar telah datang,
ombak badai pun telah terbungkam,
sesak pekat dahsyatnya lautan telah sirna,
langit mulai benderang,
mentari muncul saat sekoci tiba di mercusuar.

Wanita dalam sekoci termangu menatap titik cahaya bermula,
air matanya mengalir teringat kerjap titik cahaya di dalam pekat,
begitu wibawa menjulang di dalam bayang gelap,
dan menara itu tidaklah mempesona di dalam terang.

Tubuhnya mulai ringkih terkikis ombak,
dindingnya dingin digerus kesendirian,
catnya pun pudar termakan hukum alam,
guratkan derita yang berkepanjangan,
dan menara itu berbentuk nyaris tanpa estetika.

Sang mercusuar kembali dalam kesendirian,
lautan telah tenang,
langit berhiaskan gemintang,
dia tetap tegak berdiri,
meskipun nyaris tanpa arti.

Wanita dalam sekoci telah pergi,
kembali pulang ke pelukan gedung-gedung menjulang,
kerjap titik cahaya di kegelapan tak lagi bermakna,
sang mercusuar pun perlahan terlupakan.

Saat amuk badai telah berhenti,
hal seperti ini sudah pernah terjadi.


---
Kudus, saat hujan datang kembali.

Ratap Pendosa

Bila kamu sedang berdo'a kepada Tuhan,
tolong sampaikan padaNya,
agar kembali mendekat padaku,
dan memaafkan semua khilafku.

Pastinya dirimu bertanya,
kenapa bukan aku saja yang meminta?
kenapa bukan aku saja yang mendekat?
jelas Tuhan tak butuh aku,
dan sebaliknya akulah yang selalu membutuhkanNya!

Sesungguhnya aku terlalu malu untuk meminta,
sesungguhnya aku terlalu hina untuk dekatiNya,
dan aku pun terlalu takut,
jika ternyata aku sudah kembali dekat nantinya,
kembali aku mengulang kesalahan yang sama.

Begitu banyak janji yang tak mampu aku tepati,
begitu banyak kewajiban yang aku abaikan,
namun Dia tetap menjagaku,
Dia tetap mengasihiku,
hingga aku menjadi begitu malu,
dan teramat muak pada diriku.....

Jika kamu berdoa pada Tuhan,
mohonkan ampunan untukku,
mintakan terang jalanku,
dan sampaikan salam "aku rindu!"

Hancur

Ketika bicara tentang gunung berapi, 
entah berapa jiwa yang ikut bersama letusannya. 
Ketika membahas angin, 
begitu banyak nelayan yang tak bisa ke laut terhalang badai. 
Ketika melihat hutan, 
yang tersisa asap tebal dan sisa kayu yang terbakar. 
Bahkan hujan pun tak lagi menyenangkan. 
Karena genangannya yang selalu tertinggal merendam. 

Binatang diperlakukan sebagai mahluk bodoh tanpa peran, 
dan tumbuhan tak lagi dianggap miliki arti. 
Elemen-elemen alam telah terabaikan, 
dan jiwa-jiwa suci beranjak pergi. 
Yang tersisa cuma bencana, 
diiringi ratap derita anak manusia. 

Tanah berhak marah, 
udara pun mulai berbisa. 
Api tak lagi terkendali, 
air lebih dari mengalir. 
Unsur-unsur semesta mulai murka, 
lantakkan dunia yang penuh durjana. 

Saat kehancuran mendekat, 
masihkah manusia teringat?
Ketika alam tak terkendali
akankah tanda-tanda itu dikenali?
manusia sadarlah!!!!!
Sumber gambar: Google