Dan Kutemukan Jawaban

Malam mulai berganti dan pagi telah menanti. Dingin dini hari ini akibat hujan yang mengguyur lebat mulai menyusupi tubuh kurus ini. Dan seperti biasa di dalam kegelapan ini aku tetap duduk di bangku tua yang ada di beranda rumah tua itu. Seperti malam-malam sebelumnya hanya duduk terdiam dengan sebatang rokok dalam hisapan yang menemani kesendirian.
Jelang pagi ini teramat sunyi, bahkan suara jangkrik tak ada satu pun yang terdengar walau hujan telah reda, hanya hembusan angin yang menimbulkan suara daun mangga di depan rumah yang saling bergesekan. Dan pikiranku pun semakin gila, mendadak saja muncul pertanyaan-pertanyaan tolol yang memenuhi rongga kepala ini. Mungkin setan telah berbisik di dalam hatiku hingga terbersit pertanyaan-pertanyaan ini.
Aku mulai mempertanyakan keberadaan Tuhan, benarkah Tuhan itu ada?
Mengapa tak ada satu pun yang tahu seperti apa bentuk-NYA?
Belum selesai pertanyaan ini terjawab oleh otakku, muncul lagi pertanyaan yang tak kalah konyolnya, kini kupertanyakan takdir, benarkah takdir itu ada dan tiap manusia memiliki takdirnya masing-masing?
Dalam kegelapan pikirku aku coba usir pertanyaan-pertanyaan edan tersebut, ah ini pasti perbuatan setan yang coba goyahkan keyakinan, ealah dasar setan kini di otakku muncul lagi satu pertanyaan kenapa setan dihukum Tuhan dengan dimasukkan ke dalam neraka?
Bukankah setan terbuat dari api sama halnya dengan neraka, tentu ini tak akan menyakiti setan sama sekali karena terbuat dari unsur yang sama, apakah ini satu kesalahan Tuhan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus mengganguku hingga fajar menjelang, dingin angin malam tak lagi kurasa dan tak terasa nyaris sebungkus rokok telah kuhabiskan. Sekonyong-konyong aku berteriak "SETAAAAAANNNNNNNNNN" dan kutampar pipiku dengan begitu kerasnya. Teramat keras hingga mampu buatku tersadar dan kurasakan begitu sakit pipi ini. Dan kemudian aku pun tertawa terbahak-bahak saat kusadari ternyata jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku terjawab dengan sendirinya.
Kurasakan sakit saat kutampar pipiku ini, aku tahu rasa sakit itu tapi aku tidak pernah bertemu wujudnya sakit, begitu pula Tuhan meskipun aku tak pernah melihat wujud-Nya namun aku bisa merasakan keberadaan-Nya.
Aku tak pernah bermimpi untuk menampar diriku sendiri dan aku pun tak pernah sekali pun merencanakannya, inilah sebagian dari yang dinamakan takdir.
Pipiku terbuat dari kulit begitu pula telapak tangan ini, namun tetap saja menyakitkan rasa tamparan itu. Pastinya neraka akan tetap menjadi tempat yang menyakitkan buat setan biarpun terbuat dari unsur yang sama.
Sayup-sayup adzan subuh berkumandang dan aku pun berdiri dari bangku tua itu sembari bersyukur akhirnya kutemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang hadir malam ini.

Sumber gambar: putriwidia.wordpress.com


Dua Desember

Hari ini,
tak ada lagi puisi yang tercipta,
dan hari ini, 
tak ada lagi rangkaian kata tercipta.
Mati ide, 
lumpuh aksara.

Hari ini, 
malam teramat sempurna,
dan hari ini, 
gugusan bintang terangkai mesra. 
Ucapkan do'amu, 
temukan harapmu.

Hari ini, 
memang lain dengan setahun lalu,
dan hari ini, 
juga beda dengan dua atau tiga tahun yang lalu. 
Dua Desember, 
akan selalu sama buatmu.

Hari ini, 
ucapkanlah do'amu,
dan hari ini.
yakinilah semua asamu. 
Dan segera, 
'kan terwujud keinginanmu.

Happy birthday to you :)