Kebosanan Hidup

Bosan....
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bosan berarti sudah tidak suka lagi karena sudah terlalu sering atau banyak. Entah apa makna bosan menurut anda. Namun yang jelas kita semua selalu berusaha untuk menghindari kebosanan melanda di dalam kehidupan kita. Banyak hal yang dilakukan orang untuk mengusir kebosanan yang mereka alami di dalam kehidupannya, terkadang tak peduli berapa banyak harta yang harus dikeluarkan untuk mengusir rasa bosan yang melanda.

Kalau cuma bosan dengan makanan yang dimakan sehari-hari tentu mudah bagi kita untuk mengusir bosan itu, namun pernahkah anda bosan dengan hidup anda? Hingga karena begitu bosannya anda tak ingin hidup lagi? Semoga anda semua jangan sampai pernah merasa untuk bosan hidup, betapa pun beratnya hidup yang anda jalani semoga itu tak membuat anda bosan untuk tetap bertahan hidup. Jujur saya pernah bosan dengan hidup yang saya alami, hingga saya tak punya lagi keinginan untuk hidup (astagfirullah...), namun kini walau terkadang saya pun masih merasakan sedikit kebosanan itu, tapi keinginan untuk terus hidup itu masih ada. Tak ada lagi kata menyerah untuk menjalani hidup yang telah dianugerahkan oleh Yang Maha Kuasa.

Tampaknya kebosanan juga sedang melanda diriku buat nge-blog, terlalu lama rasanya saya tidak update blog ini, yah mungkin bosan sudah terlalu dalam menggerogoti keinginan buat ngeblog, ide-ide tulisan sering kali macet sebelum tertuang dalam kata-kata, untuk sedikit menghindari kebosanan itu menjadi akut maka dengan tekad bulat saya coba untuk mengupdate blog ini.
Dan dikarenakan ide tulisan pun masih macet maka dengan sangat terpaksa saya menggunakan jurus paling ampuh bagi para penulis yang tak diakui di dunia belahan manapun seperti saya ini, yaitu copy-paste demi updatenya blog hehehe....

Tulisan ini saya dapatkan melalui message di inbox Facebook saya melalui sebuah grup Facebook yang bernama Facebooker Generation Kudus (FGK) / Generasi Facebooker Kudus (GFK), dan atas seijin adminnya maka saya pun mere-post isi message tersebut disini.

Kebosanan Hidup



Seorang pria mendatangi Sang Guru, “Guru, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati”.
Sang Guru tersenyum, “Oh, kamu sakit”. “Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan ini. Itulah sebabnya saya ingin mati”. Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya. Sang Master meneruskan, “Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan”.
Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma-norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga, bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, dan yang abadi dalam hidup ini ? Kita tidak menyadari tentang sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita…
“Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjuk-ku”. Demikian Sang Master menyarankan.
“Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh”. Tidak, saya tidak ingin hidup.” pria itu menolak tawaran Sang Guru.
“Jadi kamu tidak ingin sembuh?? “ Kamu betul-betul ingin mati?” tanya Sang Guru
“Ya, memang saya sudah bosan hidup”, pria itu kukuh menjawab.
“Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang.” Perintah Sang Guru. Giliran pria tersebut bingung. Setiap Guru yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut “obat” oleh Sang Guru EDAN itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai !!!
Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah. Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarganya di restoran Jepang. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir ini malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya pun menjadi santai banget !
Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki di kupingnya, “Sayang, aku mencintaimu. “Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis !!”
Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis !!!
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, “Hari ini, Boss kita kok aneh ya ?” Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis !!
Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.
Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, “Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu.” Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Pi, maafkan kami semua. Selama ini, Papi selalu stres karena perilaku kami.” Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya ?

Ia mendatangi Sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya Sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi, “Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh?? Apa bila kau hidup dalam ke-kini-an, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan ini !!!
Leburkan egomu, leburkan keangkuhanmu, leburkan kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air, dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan pernah jenuh, tidak akan pernah bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan”..
Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam ke-kini-an. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP !!!
Hidup bukanlah merupakan suatu beban yang harus dipikul tapi merupakan suatu anugerah untuk dinikmati. “Anda tidak akan pernah menang jika Anda tidak pernah memulai.”

============================================
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi, Idea Press, Yogyakarta. pp. 13-16. ISBN 978-6028-686-402.
…………………………………………………………………………………………
Apabila berminat pesan dan dikirim Buku tersebut hubungi: 081392911111
atau reply Inbox ini.
…………………………………………………………………………………………
Info buku:
http://www.facebook.com/?tid=1142862708718&sk=messages#!/pages/Mutiara-Kalbu-Sebening-Embun-Pagi/116810518359465

============================================

3 komentar:

  1. hehehe.. kek mayatidoep donk, hidup segan mati tak mau.. :).. kadang memang ga dipungkiri lagi, sya pribadipun pernah mengalami yang namanya kejenuhan hidup... tapi ga separah yang ada di dalam cerita diatas.. :)
    ==
    Btw.. tetap semangat aja.. itu pertanda iman kita lagi turun... sebagai teman,cuma bisa ngingetin tingkatkan lagi ibadahnya dan lebih mendekatkan diri ke sang pencipta..

    BalasHapus
  2. terima kasih mas nur udah mau ngingetin... begitulah seharusnya seorang temaN, NAMUN KENYATAANYA GAK BANYAK TEMAN YANG SEPERTI ITU.

    BalasHapus