Lelaki Itu Bernama Jafar

Usianya belumlah genap sepuluh tahun. Namun sepak terjangnya tidak seperti bocah seusianya.
Gurat keprihatinan tak mengurangi parasnya yang rupawan.
Ikal merah rambutnya nyalakan semangat perjuangan.
Sorot matanya tegas tajam, tanpa dendam di dalamnya.
Dan di dalam genggamannya terselip batu perjuangan. 
Lelaki kecil itu bernama Jafar.

Terlahir di kawasan sengketa yang tak pernah reda.
Perebutan wilayah yang mungkin akan terjadi hingga akhir masa.
Perang itu terjadi jauh sebelum lelaki itu terlahir ke dunia.
Di dalam kekacauan dia tumbuh.
Di bawah hujan mortir dan desing peluru dia bermain.
Tangis yang ditinggal mati jadi pemandangan sehari-hari.
Semua itu tak membuatnya lemah.
Justru semakin menguatkan apa yang telah diyakininya.
Lelaki itu bernama Jafar.

Setahun yang lalu perang merenggut nyawa ayahnya.
Saat tentara menyerbu masjid tempat ayahnya menjadi imam jum'at.
Penyerbuan berdalih membasmi teroris itu memisahkan Jafar dengan gurunya tercinta.
Keesokan harinya dia menemukan seorang tentara yang terluka parah.
Diangkatnya batu besar tepat di atas kepala tentara yang tergeletak tiada daya.
Saat kedua mata mereka saling bertatap.
Bocah itu melempar batu itu ke samping tubuh tentara itu.
Dia berucap, ''Demi Tuhanku, kalau sampai hari ini aku membunuhmu karena dendamku kepada kalian, maka tak ada beda apa yang aku lakukan dengan apa yang telah kalian lakukan.''
Bocah itu pun berlalu saat dari belakang terdengar langkah para tentara mendatangi tempat itu.
Hari itu seorang bocah telah menjadi lelaki.

Seminggu yang lalu rumah lelaki itu hancur diterpa mortir.
Bangunan itu hancur menyisakan puing dan asap.
Jiwa para penghuni rumah terselamatkan.
Meski luka menyayat tubuh dan hati mereka.
Seorang ibu dan dua anak yatim kembali menjadi korban perebutan wilayah.
Perang telah merenggut apa yang mereka miliki.
Sang ibu meratap pilu di tengah puing bangunan itu.
Sambil menggendong adik kecilnya.
Lelaki belia itu mengusap air mata sang ibu.
Pandang mata dan lembut tuturnya damaikan hati sang ibu.
Lelaki itu bernama Jafar.

Hari ini di sebuah perbatasan antar negara.
Keluarga kecil itu harus kembali terpisah.
Sang ibu dan adik kecil itu hijrah ke negeri jiran.
Melanjutkan hidup bersama family yang masih tersisa.
Sedang lelaki kecil itu memutuskan kembali ke kampung halamannya.
Memperjuangkan hak yang dimiliki bangsa mereka.
Memperjuangkan keyakinan yang ada di hatinya.
Perpisahan itu terjadi dalam diam.
Nyaris tak ada kata yang terucap.
Hanya mata dan hati mereka yang bicara.
Lelaki kecil itu berbalik dan berlari.
Dia berteriak, ''Ibu, didik adik kecilku seperti engkau mengajariku, saat adik seusiaku aku akan menjemputnya untuk berjuang bersamaku.''
Sang ibu cuma mengangguk pelan dan memanggil lelaki kecil itu Jafar.

Tiga tahun telah berlalu sejak perpisahan di perbatasan itu.
Lelaki itu kini berjuang melakukan perlawanan dengan keyakinan dan caranya sendiri.
Tak terikat organisasi dan tanpa ada kaitan dengan politik mana pun.
Gerombolan Jafar begitu ternama di kota itu.
Namun begitu sulit menemukan mereka.
Mereka cuma segerombolan remaja kecil yang dipimpin lelaki bernama Jafar.
Dan sebuah kebanggaan bagi warga kota bila bisa bertemu dengan lelaki itu.
Gerombolan Jafar selalu bergerak cepat dan akurat dalam setiap penghadangan.
Yang mereka lakukan adalah keberanian bukan kenekatan semata.
Di layar kaca kusaksikan, lelaki itu dan gerombolannya beraksi.
Sebaris pasukan bersenjata lengkap mereka hadang.
Tak peduli lemparan batu mereka dibalas dengan desing peluru dari senjata para tentara.
Lelaki itu selalu ada di depan.
Memberi komando serang kemudian secara berbarengan menghilang.
Lelaki kecil itu masih tetap sama.
Sinar matanya pancarkan perjuangan tanpa dendam.
Dan paras eloknya penuh gurat keprihatinan.
Lelaki itu bernama Jafar.

Perjuangan lelaki itu dan gerombolannya mungkin tak berarti banyak.
Namun apa yang mereka lakukan tak akan pernah padam.
Selama negeri mereka tertindas mereka akan terus melawan.
Perlawanan mereka telah menunjukkan pada dunia bahwa negeri itu tetap ada.
Bahwa negeri mereka adalah negeri merdeka.
Bahkan para tentara pun takut dengan semangat perlawanan gerombolan Jafar.
Kini nama Jafar tertera dalam daftar orang paling muda yang dicari hidup atau mati oleh agen rahasia para tentara.
Nama lelaki itu sejajar dengan pejuang-pejuang besar negeri itu yang angkat senjata mempertahankan keyakinan yang mereka miliki.
Lelaki itu bernama Jafar.



--
Kudus, 12 Februari 2009.
Di sebuah warung kopi.


0 coretan kamu:

Posting Komentar