Dan Kutemukan Jawaban

Malam mulai berganti dan pagi telah menanti. Dingin dini hari ini akibat hujan yang mengguyur lebat mulai menyusupi tubuh kurus ini. Dan seperti biasa di dalam kegelapan ini aku tetap duduk di bangku tua yang ada di beranda rumah tua itu. Seperti malam-malam sebelumnya hanya duduk terdiam dengan sebatang rokok dalam hisapan yang menemani kesendirian.
Jelang pagi ini teramat sunyi, bahkan suara jangkrik tak ada satu pun yang terdengar walau hujan telah reda, hanya hembusan angin yang menimbulkan suara daun mangga di depan rumah yang saling bergesekan. Dan pikiranku pun semakin gila, mendadak saja muncul pertanyaan-pertanyaan tolol yang memenuhi rongga kepala ini. Mungkin setan telah berbisik di dalam hatiku hingga terbersit pertanyaan-pertanyaan ini.
Aku mulai mempertanyakan keberadaan Tuhan, benarkah Tuhan itu ada?
Mengapa tak ada satu pun yang tahu seperti apa bentuk-NYA?
Belum selesai pertanyaan ini terjawab oleh otakku, muncul lagi pertanyaan yang tak kalah konyolnya, kini kupertanyakan takdir, benarkah takdir itu ada dan tiap manusia memiliki takdirnya masing-masing?
Dalam kegelapan pikirku aku coba usir pertanyaan-pertanyaan edan tersebut, ah ini pasti perbuatan setan yang coba goyahkan keyakinan, ealah dasar setan kini di otakku muncul lagi satu pertanyaan kenapa setan dihukum Tuhan dengan dimasukkan ke dalam neraka?
Bukankah setan terbuat dari api sama halnya dengan neraka, tentu ini tak akan menyakiti setan sama sekali karena terbuat dari unsur yang sama, apakah ini satu kesalahan Tuhan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus mengganguku hingga fajar menjelang, dingin angin malam tak lagi kurasa dan tak terasa nyaris sebungkus rokok telah kuhabiskan. Sekonyong-konyong aku berteriak "SETAAAAAANNNNNNNNNN" dan kutampar pipiku dengan begitu kerasnya. Teramat keras hingga mampu buatku tersadar dan kurasakan begitu sakit pipi ini. Dan kemudian aku pun tertawa terbahak-bahak saat kusadari ternyata jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku terjawab dengan sendirinya.
Kurasakan sakit saat kutampar pipiku ini, aku tahu rasa sakit itu tapi aku tidak pernah bertemu wujudnya sakit, begitu pula Tuhan meskipun aku tak pernah melihat wujud-Nya namun aku bisa merasakan keberadaan-Nya.
Aku tak pernah bermimpi untuk menampar diriku sendiri dan aku pun tak pernah sekali pun merencanakannya, inilah sebagian dari yang dinamakan takdir.
Pipiku terbuat dari kulit begitu pula telapak tangan ini, namun tetap saja menyakitkan rasa tamparan itu. Pastinya neraka akan tetap menjadi tempat yang menyakitkan buat setan biarpun terbuat dari unsur yang sama.
Sayup-sayup adzan subuh berkumandang dan aku pun berdiri dari bangku tua itu sembari bersyukur akhirnya kutemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang hadir malam ini.

Sumber gambar: putriwidia.wordpress.com


Dua Desember

Hari ini,
tak ada lagi puisi yang tercipta,
dan hari ini, 
tak ada lagi rangkaian kata tercipta.
Mati ide, 
lumpuh aksara.

Hari ini, 
malam teramat sempurna,
dan hari ini, 
gugusan bintang terangkai mesra. 
Ucapkan do'amu, 
temukan harapmu.

Hari ini, 
memang lain dengan setahun lalu,
dan hari ini, 
juga beda dengan dua atau tiga tahun yang lalu. 
Dua Desember, 
akan selalu sama buatmu.

Hari ini, 
ucapkanlah do'amu,
dan hari ini.
yakinilah semua asamu. 
Dan segera, 
'kan terwujud keinginanmu.

Happy birthday to you :)

Toko Suami

Sebuah toko yang menjual suami baru saja dibuka di
kota New York dimana wanita dapat memilih suami.
Diantara instruksi-instruksi yang ada di pintu masuk
terdapat instruksi yang menunjukkan bagaimana aturan main untuk masuk toko tersebut. 


Kamu hanya dapat mengunjungi toko ini SATU KALI” 

Toko tersebut terdiri dari 6 lantai di mana
setiap lantai akan menunjukkan sebuah calon kelompok suami.


Semakin tinggi lantainya, semakin tinggi pula nilai lelaki
tersebut. Bagaimanapun, ini adalah semacam jebakan. Kamu dapat memilih lelaki di lantai tertentu atau lebih memilih ke lantai berikutnya tetapi dengan syarat tidak bisa turun ke lantai sebelumnya kecuali untuk keluar dari toko... 


Lalu, seorang wanita pun pergi ke toko “suami” tersebut untuk mencari suami.

Di lantai 1 terdapat tulisan seperti ini: 

Lantai 1: Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan dan taat pada Tuhan
Wanita itu tersenyum, kemudian dia naik ke lantai selanjutnya.

Di lantai 2 terdapat tulisan seperti ini: 

Lantai 2: Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, dan senang anak kecil
Kembali wanita itu naik ke lantai selanjutnya.

Di lantai 3 terdapat tulisan seperti ini : 

Lantai 3: Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil dan
cakep banget.
“Wow”, tetapi pikirannya masih penasaran dan terus naik.

Lalu sampailah wanita itu di lantai 4 dan terdapat tulisan
Lantai 4 : Lelaki di lantai ini yang memiliki pekerjaan, taat pada
Tuhan, senang anak kecil, cakep banget dan suka membantu pekerjaan rumah.
“Ya ampun !” Dia berseru, “Aku hampir tak percaya.”

Dan dia tetap melanjutkan ke lantai 5 dan terdapat tulisan
seperti ini:
Lantai 5: Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil, cakep banget, suka membantu pekerjaan rumah, dan memiliki rasa romantis.

Dia tergoda untuk berhenti tapi kemudian dia melangkah
kembali ke lantai 6 dan terdapat tulisan seperti ini:
Lantai 6 : Anda adalah pengunjung yang ke 4.363.012. Tidak ada lelaki di lantai ini. Lantai ini hanya semata-mata bukti untuk wanita yang tidak pernah puas.
Terima kasih telah berbelanja di toko “Suami”. Hati-hati ketika keluar toko dan semoga hari yang indah buat anda.

=================================================
Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. Yogyakarta: Idea Press. Volume 2. Hal. 288-289. ISBN 978-6028-686-938.

Info buku, silakan klik link (tautan) di bawah ini:
http://www.facebook.com/pages/Mutiara-Kalbu-Sebening-Embun-Pagi/116810518359465
……………………………………………………………………………………………….…

Ada Tetesan Setelah Tetesan Terakhir

Pasar malam dibuka di sebuah kota. Penduduk menyambutnya dengan gembira. Berbagai macam permainan, stand makanan dan pertunjukan diadakan. Salah satu yang paling istimewa adalah atraksi manusia kuat.

Begitu banyak orang setiap malam menyaksikan unjuk kekuatan otot manusia kuat ini. Manusia kuat ini mampu melengkungkan baja tebal hanya dengan tangan telanjang. Tinjunya dapat menghancurkan batu bata tebal hingga berkeping-keping.

Ia mengalahkan semua pria di kota itu dalam lomba panco. Namun setiap kali menutup pertunjukkannya ia hanya memeras sebuah jeruk dengan genggamannya. Ia memeras jeruk tersebut hingga ke tetes terakhir.

'Hingga tetes terakhir', pikirnya.

Manusia kuat lalu menantang para penonton, "Hadiah yang besar kami sediakan kepada barang siapa yang bisa memeras hingga keluar satu tetes saja air jeruk dari buah jeruk ini!"

Kemudian naiklah seorang lelaki, seorang yang atletis, ke atas panggung. Tangannya kekar. Ia memeras dan memeras... dan menekan sisa jeruk... tapi tak setetes pun air jeruk keluar. Sepertinya seluruh isi jeruk itu sudah terperas habis. Ia gagal.
Beberapa pria kuat lainnya turut mencoba, tapi tak ada yang berhasil. Manusia kuat itu tersenyum-senyum sambil berkata, "Aku berikan satu kesempatan terakhir, siapa yang mau mencoba?"

Seorang wanita kurus setengah baya mengacungkan tangan dan meminta agar ia boleh mencoba. "Tentu saja boleh nyonya. Mari naik ke panggung." Walau dibayangi kegelian di hatinya, manusia kuat itu membimbing wanita itu naik ke atas pentas. Beberapa orang tergelak-gelak mengolok-olok wanita itu. Pria kuat lainnya saja gagal meneteskan setetes air dari potongan jeruk itu apalagi ibu kurus tua ini. Itulah yang ada di pikiran penonton.

Wanita itu lalu mengambil jeruk dan menggenggamnya. Semakin banyak penonton yang menertawakannya. Lalu wanita itu mencoba memegang sisa jeruk itu dengan penuh konsentrasi. Ia memegang sebelah pinggirnya, mengarahkan ampas jeruk ke arah tengah, demikian terus ia ulangi dengan sisi jeruk yang lain. Ia terus menekan serta memijit jeruk itu, hingga akhirnya memeras... dan "ting!" setetes air jeruk muncul terperas dan jatuh di atas meja panggung.

Penonton terdiam terperangah. Lalu cemoohan segera berubah menjadi tepuk tangan riuh.

Manusia kuat lalu memeluk wanita kurus itu, katanya, "Nyonya, aku sudah melakukan pertunjukkan semacam ini ratusan kali. Dan, banyak orang pernah mencobanya agar bisa membawa pulang hadiah uang yang aku tawarkan, tapi mereka semua gagal. Hanya Anda satu-satunya yang berhasil memenangkan hadiah itu.

Boleh aku tahu, bagaimana Anda bisa melakukan hal itu?"

"Begini" jawab wanita itu, "Aku adalah seorang janda yang ditinggal mati suamiku. Aku harus bekerja keras untuk mencari nafkah bagi hidup kelima anakku.
Jika engkau memiliki tanggungan beban seperti itu, engkau akan mengetahui bahwa selalu ada tetesan air walau itu di padang gurun sekalipun. Engkau juga akan
mengetahui jalan untuk menemukan tetesan itu. Jika hanya memeras setetes air jeruk dari ampas yang engkau buat, bukanlah hal yang sulit bagiku. Selalu ada tetesan setelah tetesan terakhir. Aku telah ratusan kali mengalami jalan buntu untuk semua masalah serta kebutuhan yang keluargaku perlukan. Namun hingga saat ini aku selalu menerima tetes berkat untuk hidup keluargaku. Aku percaya Tuhanku hidup dan aku percaya tetesan berkat-Nya tidak pernah kering, walau mata jasmaniku melihat semuanya telah kering. Aku punya alasan untuk menerima jalan keluar dari masalahku. Saat aku mencari, aku menerimanya karena ada pribadi yang mengasihiku.”

Bila Anda memiliki alasan yang cukup kuat, Anda akan menemukan jalannya, demikian kata seorang bijak. Seringkali kita tak kuat melakukan sesuatu karena tak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menerima hal tersebut.


===========================================
Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi, Idea Press, Yogyakarta. Hal. 207-209. ISBN 978-6028-686-402.

Info buku, silakan klik link (tautan) di bawah ini:

http://www.facebook.com/pages/Mutiara-Kalbu-Sebening-Embun-Pagi/116810518359465

………………………………………………………………………………………

Suka dan Tidak

Suka atau tidak pagi akan segera datang.
Suka atau tidak bintang itu pun telah hilang.
Suka datang kalau hati disenangkan.
Duka datang kalau hati dikecewakan.

Suka atau tidak waktu terus berjalan.
Suka atau tidak yang hilang harus direlakan.
Mengapa ada suka?
Dan kenapa ada duka?
Kiranya tak perlu dipertanyakan

Suka atau tidak itu cuma pilihan.
Suka atau tidak itu sekedar bayangan.
Sejenak suka berganti duka,
terkadang luka terhapus bahagia,
demikian seterusnya.
Sebagaimana hati menerima realita.

Red Wine in Love

Malam dingin terus beranjak.
Dan aku masih di luaran.
Menikmati hembusan dingin.
Bermain-main dengan angan.

Namun kini ku tak sendiri.
Berandal kecil telah terbangun.
Dan miras berteman denganku.
Menemani hening lewati dingin malam.

Manis harum aroma yang tercipta.
Menggugah rasa untuk setubuhinya.
Pekat saripati anggur merah.
Mulai menyatu dalam aliran darah.

Sejenak melupakan.
Tekanan yang menghimpit keseharian.
Dan beban yang beratkan langkah.

Sejenak kunyanyikan.
Lagu cinta yang tak berbalas.
Dan kuteriakkan.
Puisi kasih suci yang tak kunjung kembali.

Dingin tak lagi kurasa.
Pagi telah menjelang.
Manis harum aroma itu telah sirna.
Kegilaan ini sementara terhenti.
Saat mulai kumasuki dunia mimpi.

Beib, i'm sorry...

Kebosanan Hidup

Bosan....
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bosan berarti sudah tidak suka lagi karena sudah terlalu sering atau banyak. Entah apa makna bosan menurut anda. Namun yang jelas kita semua selalu berusaha untuk menghindari kebosanan melanda di dalam kehidupan kita. Banyak hal yang dilakukan orang untuk mengusir kebosanan yang mereka alami di dalam kehidupannya, terkadang tak peduli berapa banyak harta yang harus dikeluarkan untuk mengusir rasa bosan yang melanda.

Kalau cuma bosan dengan makanan yang dimakan sehari-hari tentu mudah bagi kita untuk mengusir bosan itu, namun pernahkah anda bosan dengan hidup anda? Hingga karena begitu bosannya anda tak ingin hidup lagi? Semoga anda semua jangan sampai pernah merasa untuk bosan hidup, betapa pun beratnya hidup yang anda jalani semoga itu tak membuat anda bosan untuk tetap bertahan hidup. Jujur saya pernah bosan dengan hidup yang saya alami, hingga saya tak punya lagi keinginan untuk hidup (astagfirullah...), namun kini walau terkadang saya pun masih merasakan sedikit kebosanan itu, tapi keinginan untuk terus hidup itu masih ada. Tak ada lagi kata menyerah untuk menjalani hidup yang telah dianugerahkan oleh Yang Maha Kuasa.

Tampaknya kebosanan juga sedang melanda diriku buat nge-blog, terlalu lama rasanya saya tidak update blog ini, yah mungkin bosan sudah terlalu dalam menggerogoti keinginan buat ngeblog, ide-ide tulisan sering kali macet sebelum tertuang dalam kata-kata, untuk sedikit menghindari kebosanan itu menjadi akut maka dengan tekad bulat saya coba untuk mengupdate blog ini.
Dan dikarenakan ide tulisan pun masih macet maka dengan sangat terpaksa saya menggunakan jurus paling ampuh bagi para penulis yang tak diakui di dunia belahan manapun seperti saya ini, yaitu copy-paste demi updatenya blog hehehe....

Tulisan ini saya dapatkan melalui message di inbox Facebook saya melalui sebuah grup Facebook yang bernama Facebooker Generation Kudus (FGK) / Generasi Facebooker Kudus (GFK), dan atas seijin adminnya maka saya pun mere-post isi message tersebut disini.

Kebosanan Hidup



Seorang pria mendatangi Sang Guru, “Guru, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati”.
Sang Guru tersenyum, “Oh, kamu sakit”. “Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan ini. Itulah sebabnya saya ingin mati”. Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya. Sang Master meneruskan, “Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan”.
Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma-norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga, bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, dan yang abadi dalam hidup ini ? Kita tidak menyadari tentang sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita…
“Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjuk-ku”. Demikian Sang Master menyarankan.
“Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh”. Tidak, saya tidak ingin hidup.” pria itu menolak tawaran Sang Guru.
“Jadi kamu tidak ingin sembuh?? “ Kamu betul-betul ingin mati?” tanya Sang Guru
“Ya, memang saya sudah bosan hidup”, pria itu kukuh menjawab.
“Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang.” Perintah Sang Guru. Giliran pria tersebut bingung. Setiap Guru yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut “obat” oleh Sang Guru EDAN itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai !!!
Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah. Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarganya di restoran Jepang. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir ini malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya pun menjadi santai banget !
Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki di kupingnya, “Sayang, aku mencintaimu. “Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis !!”
Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis !!!
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, “Hari ini, Boss kita kok aneh ya ?” Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis !!
Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.
Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, “Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu.” Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Pi, maafkan kami semua. Selama ini, Papi selalu stres karena perilaku kami.” Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya ?

Ia mendatangi Sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya Sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi, “Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh?? Apa bila kau hidup dalam ke-kini-an, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan ini !!!
Leburkan egomu, leburkan keangkuhanmu, leburkan kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air, dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan pernah jenuh, tidak akan pernah bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan”..
Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam ke-kini-an. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP !!!
Hidup bukanlah merupakan suatu beban yang harus dipikul tapi merupakan suatu anugerah untuk dinikmati. “Anda tidak akan pernah menang jika Anda tidak pernah memulai.”

============================================
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi, Idea Press, Yogyakarta. pp. 13-16. ISBN 978-6028-686-402.
…………………………………………………………………………………………
Apabila berminat pesan dan dikirim Buku tersebut hubungi: 081392911111
atau reply Inbox ini.
…………………………………………………………………………………………
Info buku:
http://www.facebook.com/?tid=1142862708718&sk=messages#!/pages/Mutiara-Kalbu-Sebening-Embun-Pagi/116810518359465

============================================

Lelaki Itu Bernama Jafar

Usianya belumlah genap sepuluh tahun. Namun sepak terjangnya tidak seperti bocah seusianya.
Gurat keprihatinan tak mengurangi parasnya yang rupawan.
Ikal merah rambutnya nyalakan semangat perjuangan.
Sorot matanya tegas tajam, tanpa dendam di dalamnya.
Dan di dalam genggamannya terselip batu perjuangan. 
Lelaki kecil itu bernama Jafar.

Terlahir di kawasan sengketa yang tak pernah reda.
Perebutan wilayah yang mungkin akan terjadi hingga akhir masa.
Perang itu terjadi jauh sebelum lelaki itu terlahir ke dunia.
Di dalam kekacauan dia tumbuh.
Di bawah hujan mortir dan desing peluru dia bermain.
Tangis yang ditinggal mati jadi pemandangan sehari-hari.
Semua itu tak membuatnya lemah.
Justru semakin menguatkan apa yang telah diyakininya.
Lelaki itu bernama Jafar.

Setahun yang lalu perang merenggut nyawa ayahnya.
Saat tentara menyerbu masjid tempat ayahnya menjadi imam jum'at.
Penyerbuan berdalih membasmi teroris itu memisahkan Jafar dengan gurunya tercinta.
Keesokan harinya dia menemukan seorang tentara yang terluka parah.
Diangkatnya batu besar tepat di atas kepala tentara yang tergeletak tiada daya.
Saat kedua mata mereka saling bertatap.
Bocah itu melempar batu itu ke samping tubuh tentara itu.
Dia berucap, ''Demi Tuhanku, kalau sampai hari ini aku membunuhmu karena dendamku kepada kalian, maka tak ada beda apa yang aku lakukan dengan apa yang telah kalian lakukan.''
Bocah itu pun berlalu saat dari belakang terdengar langkah para tentara mendatangi tempat itu.
Hari itu seorang bocah telah menjadi lelaki.

Seminggu yang lalu rumah lelaki itu hancur diterpa mortir.
Bangunan itu hancur menyisakan puing dan asap.
Jiwa para penghuni rumah terselamatkan.
Meski luka menyayat tubuh dan hati mereka.
Seorang ibu dan dua anak yatim kembali menjadi korban perebutan wilayah.
Perang telah merenggut apa yang mereka miliki.
Sang ibu meratap pilu di tengah puing bangunan itu.
Sambil menggendong adik kecilnya.
Lelaki belia itu mengusap air mata sang ibu.
Pandang mata dan lembut tuturnya damaikan hati sang ibu.
Lelaki itu bernama Jafar.

Hari ini di sebuah perbatasan antar negara.
Keluarga kecil itu harus kembali terpisah.
Sang ibu dan adik kecil itu hijrah ke negeri jiran.
Melanjutkan hidup bersama family yang masih tersisa.
Sedang lelaki kecil itu memutuskan kembali ke kampung halamannya.
Memperjuangkan hak yang dimiliki bangsa mereka.
Memperjuangkan keyakinan yang ada di hatinya.
Perpisahan itu terjadi dalam diam.
Nyaris tak ada kata yang terucap.
Hanya mata dan hati mereka yang bicara.
Lelaki kecil itu berbalik dan berlari.
Dia berteriak, ''Ibu, didik adik kecilku seperti engkau mengajariku, saat adik seusiaku aku akan menjemputnya untuk berjuang bersamaku.''
Sang ibu cuma mengangguk pelan dan memanggil lelaki kecil itu Jafar.

Tiga tahun telah berlalu sejak perpisahan di perbatasan itu.
Lelaki itu kini berjuang melakukan perlawanan dengan keyakinan dan caranya sendiri.
Tak terikat organisasi dan tanpa ada kaitan dengan politik mana pun.
Gerombolan Jafar begitu ternama di kota itu.
Namun begitu sulit menemukan mereka.
Mereka cuma segerombolan remaja kecil yang dipimpin lelaki bernama Jafar.
Dan sebuah kebanggaan bagi warga kota bila bisa bertemu dengan lelaki itu.
Gerombolan Jafar selalu bergerak cepat dan akurat dalam setiap penghadangan.
Yang mereka lakukan adalah keberanian bukan kenekatan semata.
Di layar kaca kusaksikan, lelaki itu dan gerombolannya beraksi.
Sebaris pasukan bersenjata lengkap mereka hadang.
Tak peduli lemparan batu mereka dibalas dengan desing peluru dari senjata para tentara.
Lelaki itu selalu ada di depan.
Memberi komando serang kemudian secara berbarengan menghilang.
Lelaki kecil itu masih tetap sama.
Sinar matanya pancarkan perjuangan tanpa dendam.
Dan paras eloknya penuh gurat keprihatinan.
Lelaki itu bernama Jafar.

Perjuangan lelaki itu dan gerombolannya mungkin tak berarti banyak.
Namun apa yang mereka lakukan tak akan pernah padam.
Selama negeri mereka tertindas mereka akan terus melawan.
Perlawanan mereka telah menunjukkan pada dunia bahwa negeri itu tetap ada.
Bahwa negeri mereka adalah negeri merdeka.
Bahkan para tentara pun takut dengan semangat perlawanan gerombolan Jafar.
Kini nama Jafar tertera dalam daftar orang paling muda yang dicari hidup atau mati oleh agen rahasia para tentara.
Nama lelaki itu sejajar dengan pejuang-pejuang besar negeri itu yang angkat senjata mempertahankan keyakinan yang mereka miliki.
Lelaki itu bernama Jafar.



--
Kudus, 12 Februari 2009.
Di sebuah warung kopi.


Belajar pada Matahari

Apa yang akan matahari lakukan saat bunga itu layu dan enggan mekar mewangi?
Apa yang akan matahari lakukan saat sinarnya terhalang awan gelap hingga bulan tak lagi benderang?
Apa yang matahari lakukan saat Phoenix itu tersesat dan tak tahu kemana jalan kembali untuk sembuhkan luka?

Matahari...
Tolong jawab pertanyaanku ini!

Matahari...
Aku mengagumi pemberi mu yang tanpa pamrih,
hingga bunga tumbuh berkembang mewangi dikelilingi kupu-kupu dan kumbang,
dan dirimu tetap pancarkan kasihmu dari jauh.

Matahari...
aku mengagumi kerelaanmu dalam pengorbanan,
saat jasamu terlupakan di saat rembulan benderang,
dan semua mahluk mengaggumi indahnya purnama.

Matahari...
aku mengagumi kesetiaanmu menanti dan memaafkan,
saat Phoenix pergi entah kemana tanpa memberitahumu,
engkau tetap membuka pintumu lebar-lebar hanya untuk Phoenix kembali dan mengobati lukanya.

Matahari...
Jawablah pertanyaanku!
Apa yang akan kamu lakukan saat kamu tidak lagi bisa memberi sesuatu yang berarti?


------------------
Terinspirasi dari sebuah catatan berjudul: Mengapa Pria Tetap Ingin Menjadi Matahari.
*kalau anda tahu penulisnya, tolong kabari saya.*