Asal Usul Rokok Kretek

Kalo anda melintasi pantura dari Semarang menuju Surabaya tentunya anda akan melintasi sebuah Kabupaten kecil yang luas wilayahnya cuma 42.516 Ha, namun tingkat kesejahteraan penduduknya konon termasuk yang paling tinggi di Jawa Tengah. Disinilah tempatku dilahirkan, Daerah Tingkat II Kudus, yang menurut sejarah berdiri pada tanggal 23 September 1549.
Kota Kretek demikianlah julukan Kota Kudus, dan faktanya memang industri rokoklah yang selama ini menunjang perekonomian kotaku ini. Kenapa disebut Kota Kretek, apakah karena banyaknya industri rokok di Kota ini? Tak lain karena adanya bukti tentang sejarah industri dan penemuan awal kretek yang erat hubungannya dengan Kota ini.

Catatan tentang kapan pastinya penduduk Indonesia mulai merokok belum ada yang tahu pasti. Menurut Thomas Stamford Raffles dan De Condolle kebiasaan merokok dan tembakau sudah ada di pulau Jawa sekitar tahun 1600. Dalam buku yang berjudul Rokok Kretek,Lintasan Sejarah dan Artinya Bagi Pembangunan Bangsa dan Negara (1987) Amen Budiman dan Onghokham menulis bahwa Sultan Agung Raja Mataram tahun 1613-1645 merupakan seorang perokok berat.

Adapun dalam buku Kudus dan Sejarah Rokok Kretek karya Solichin Salam disebutkan bahwasanya "Orang-orang Indonesia pada masa itu mempunyai suatu kebiasaan untuk menggulung rokoknya sendiri, dengan cara yang amat sederhana susunan maupun bentuknya. Oleh sebab itu rokok bagi penduduk asli di Indonesia di zaman itu belum merupakan dagangan yang menarik. Sesudah adanya usaha untuk mencampur tembakau dengan berbagai rempah-rempah seperti cengkeh misalnya, atau damar dan akar-akar wangi, bentuk kesederhanaan rokok itu mulai beralih ke arah barang dagangan yang lebih berarti dan menguntungkan"

Beberapa sumber menyatakan bahwa penemu rokok kretek adalah Haji Djamhari pada kurun 1870-1880. Menurut riwayat pada suatu masa beliau merasa sakit di bagian dada, kemudian beliau mencoba mengoleskan minyak cengkeh pada rokoknya yang menyebabkan rasa sakitnya berkurang. Rokok baru penemuan Haji Djamhari awalnya disebut masyarakat Kudus dengan sebutan "rokok cengkeh" . Namun karena jika di hisap rokok ini berbunyi "kretek-kretek" mirip daun kering terbakar (kumretek:jawa), maka disebutlah rokok ini dengan sebutan "rokok kretek"

Berawal dari upaya pengobatan akhirnya berkembang menjadi dagangan yang melahirkan industri rumah tangga.
Dan rokok kretek temuan Haji Djamhari ternyata sangat digemari masyarakat, sehingga terus berkembang jumlah produksinya. Dari Kudus pembuatan rokok kretek menjalar ke kota-kota lain meliputi Semarang, Surakarta bahkan melintas ke Jawa Timur. Produsennya pun tidak hanya di kalangan pribumi, tapi juga keturunan China. Mungkin Haji Djamhari tak pernah menyangka kalau akhirnya rokok cengkeh rintisannya kini disempurnakan dan berkembang sehingga menjelma menjadi sebuah industri rokok kretek.

Begitulah lembar sejarah yang diyakini sebagai asal muasal munculnya rokok kretek yang ada di Kota Kudus.

(disarikan dari berbagai sumber: harian Kompas, Kudus Kota Kretek, The Culture and Heritage of Indonesian Clove Cigarettes, WKD, dan sumber-sumber lain)