Hening yang Hilang

Laju ninja RR yang aku geber sudah mencapai 135 km/jam, tak sedikit pun ada niatku untuk melambat, rambut panjangku melambai dihempas deru angin yang kulawan. Arus lalu lintas di jalur antar kota ini tidak begitu padat sehingga laju sepeda motorku semakin tak terkontrol. Hal seperti ini selalu aku lakukan kala pikiranku sedang suntuk menghadapi hidup yang begitu rumit. Setidaknya ngebut di jalanan menjadi pelarianku untuk melupakan segala masalah, tak pernah sedikit pun aku berpikir tentang bahaya yang ada, toh tak ada yang sedih kalau aku mati.
Aku merasa bebas. Semua beban yang aku rasakan hilang tatkala aku mulai melaju menantang angin.

***

Kejadian tadi pagi benar-benar merusak konsentrasiku, pikiranku tak bisa fokus ke jalanan, teriakan-teriakan mereka terus terngiang jelas di kepalaku, bukaan gas semakin aku perbesar, ingin kutinggalkan teriakan-teriakan itu menjauh.
Semakin cepat laju ninja hijauku, semakin kencang pula suara-suara itu mengejarku. Kali ini mereka benar-benar tak dapat kutinggalkan di belakang, mereka terus memburuku dan berdenging ribut di dalam kepalaku.

Lubang yang mendadak muncul di depan membuatku terhenyak, reflek aku menghindarinya ke kanan dan sekilas kulihat dari arah depan sebuah minibus merah metalic cepat melaju ke arahku.
''Brakkk.''
Semua berubah menjadi gelap dan teriakan-teriakan itu pun tak lagi kudengar.

***

Entah di mana kini kuberdiri, tak nampak seorang pun di sini, dan tak ada apa pun yang kutemui. Semuanya kosong dan begitu hening. Anehnya aku tak pernah merasa sepi, hening ini begitu damaikanku. Tak lagi kuingat masalah dalam hidupku. Teriakan-teriakan mereka pun tak lagi kudengar. Terkadang kulihat kilatan-kilatan putih kebiruan yang begitu memukau menghiburku.

Entah sudah berapa lama aku ada di sini. Aku merasa betah di sini, tak ada lagi pikira-pikiran buruk di kepalaku, entah ke mana pula hilangnya semua iri dan dendam di hatiku.
Hening ini begitu damai, sepi ini begitu indah, tak ingin lagi aku meninggalkan keadaan ini.

***

Sebuah cahaya terang menyilaukan mataku, kukerjap-kerjapkan kelopak mataku untuk mengurangi kadar silau di mataku. Kupandang sekeliling dengan mata yang sedikit nanar, ahh, kucoba bangkit namun tak mampu. Badanku terbaring lemah di tempat tidur dalam ruang serba putih.
Sayup-sayup kudengar langkah mendekat, suster itu cepat mendekatiku dan memeriksaku dengan cepat, kemudian dia cepat berlalu dan kembali lagi bersama seorang dokter.
"Awan bangun Wan"
dokter itu coba memanggilku. Aku cuma mengangguk lemah, tenggorokanku terasa perih dan kering,
"Alhamdulillah, akhirnya mas Awan sadar juga"
dan aku pun kembali tidur.

Ternyata sudah enam bulan lebih aku koma di rumah sakit ini, entah siapa yang membawaku kemari dan siapa pula yang telah mengabari keluargaku.
Hari ini aku bisa meninggalkan rumah sakit , luka di kepalaku yang dijahit telah lama kering, tanpa kusadari rambut gondrongku kini tinggal dua centi. Hanya tangan kananku yang masih perlu perawatan lanjutan. Platina sepanjang 15 cm tertanam di lengan kananku untuk menyatukan kembali tulangku yang patah di tiga bagian.

***

Aku telah pulang, kini tak ada lagi yang perlu kutakuti, dan tak ada lagi yang perlu aku hindari.
Aku sepenuhnya sadar, tiap manusia pasti memiliki masalah dalam hidupnya.
Dan masalah-masalah tersebut haruslah dihadapi, tak perlu dihindari apalagi sampai melarikan diri.
Aku yakin mampu menghadapi semua masalah yang ada dan akan hadir di dalam perjalanan hidupku, kalaupun aku tidak bisa menyelesaikannya hari ini, aku tetap yakin besok atau lusa masalah tersebut akan terpecahkan.

Kini aku telah kembali ke dunia ramai yang berwarna-warni dengan segala problematikanya, siap atau tidak aku musti berani menjalani hidupku.
Terkadang aku merasa rindu pada ruang itu. Rinduku untuk hening yang hilang. Namun aku yakin pada saatnya nanti aku pasti kembali ke ruangan itu.

*********

Sidorekso, 28 Juni 2009

3 komentar:

  1. Boleh kau rindukan hening itu, tapi jangan kau terlalu berharap.

    *duh ngomong opo aku, padahal yo rak mudeng,,,, :))*

    BalasHapus
  2. my wid pernah gondrong yahh *bayangin widot gondrong hihihih
    yupz ny juga kadang ingin berada diruang itu :) adem heheheh

    BalasHapus
  3. Hadah hadah om afiq kapan seh pernah mudheng :)) .....

    @ranny ; bisa diliat di poto sim kok ny ;;) gag usah susah susah ngebayangin.

    BalasHapus