1st Day

Akhirnya kesampaian juga ngepost perjalananku ke Jakarta, postnya aku bagi menjadi beberapa bagian (hkhk gak bakalan muat dah tulisan sepanjang ini aku post lewat Operamini). Kalo poto-potonya mungkin akan aku pasang belakangan saja (hehehe nunggu hasil jepretan temen-temen yang sudah di apload).

Pagi itu terpaksa aku pulang agak telat berhubung ada urusan yang musti aku selesaiin. Mesin absen sidik jari nunjukin waktu 06.15 tertanggal 11 oktober 2008. Langsung saja kupacu sepeda motorku semaksimal mungkin. Menurut info yg aku denger kereta dari Stasiun Tawang (Semarang) ke Jakarta berangkat pukul 08.00. Udah panik banget rasanya karena rencana naik kereta pagi ke Jakarta hampir pasti gagal.

Sampai di rumah dengan kalap aku mandi kemudian sarapan,langsung kusambar tas yang sudah aku siapkan semalem tanpa memeriksa lagi ada yang tertinggal apa kagak. Tujuh kurang sepuluh menit aku kabur dari rumah nyamperin temen minta dianterin ke Terminal Kudus. Harap-harap cemas karena aku belum bikin janji sama dia sebelumnya. Ternyata temenku ada di rumah, tanpa basa-basi aku minta tolong dianterin. Sepanjang jalan menuju terminal aku berharap ada taxi kosong yang mau balik ke Semarang dengan harapan aku bisa nyampe stasiun lebih cepat. Sampai di terminal tak ada taxi sama sekali. Tanpa masuk terminal aku nunggu bus ke Semarang di luar terminal. Bus Patas Nusantara Kudus-Jogja berhenti, tanpa babibu aku nyelonong masuk. Di dalam bus mataku terus memandang jam digital yang ada di depan dengan harapan sebelum jam 8 sudah sampai Semarang. Tapi harapan tinggal harapan, memasuki Sayung Demak jam digital menunjuk angka 08.00. Lemas tapi belum nyerah, kali ini aku berharap kereta terlambat berangkat (hehehe kali aja tertolong budaya ngaret).

Sampai di Terboyo (Semarang) aku langsung loncat turun dari bus pindah ke angkot jurusan Tawang. Setelah sedikit macet di pasar Johar yang rasanya ingin aku kutuki, aku sampai di stasiun Tawang jam 08.30. Aku tanya petugas parkir stasiun ternyata kereta ke Jakarta sudah berangkat (jaahh tumben gak ngaret). Menurut info dari petugas parkir ada kereta eksekutif Argo Anggrek yang berangkat pukul 12.45. Iseng aku masuk ke dalam kereta melihat daftar keberangkatan dan tarifnya. Busyeet kereta Argo Anggrek ke Jakarta 420 ribu. Wekz naik ini mah sama saja bisa berangkat gak bisa pulang (maklum uang saku pas-pasan). Setelah berpikir tenang (diselingi pipis di toilet stasiun) aku putuskan berangkat malam menggunakan bus.

Aku telpon Jimmy Jangkrik mengabarkan diriku yang terdampar di Tawang (untung Jimmy sedang di Semarang). Tapi dia tak bisa jemput karena tak ada motor (dipakai cewenya kerja). Setelah dapet petunjuk menuju kost Jimmy, aku langsung ke luar stasiun mencari buskota ke RS Kariadi. Dengan bantuan penjual kakilima aku dapet petunjuk di mana musti nunggu busnya lewat.

Lama aku menunggu,banyak buskota yang lewat tapi tak satu pun ke Kariadi, beuh mataku sudah sepet ngantuk banget (habis piket malem). Kuputuskan nyari warung kopi sambil menghubungi teman di Jakarta mengabarkan kegagalanku ngejar kereta.

Akhirnya buskota itu pun tiba, perlahan tapi pasti aku tiba di RS Kariadi. Sekarang tinggal nyari angkot ke Sampangan. Eh ada angkot berhenti di depan, langsung saja aku naik 'ke sampangan pak!'.Wekz malu aku mendengar jawaban sopir angkot 'wah yang ini mu ke Johar mas'. Bujug dah ternyata arahnya terbalik, aku langsung turun kemudian nyebrang jalan (aku lihat angkot sampangan ngetem). Kali ini aku gak mau malu, aku nanya dulu sebelum naik hehehe. Yang ini sudah benar ke Sampangan tapi angkotnya masih kosong (cuma aku doank). Untung saja sopirnya agak-agak sedeng hehehe jadi ngobrol gak keruan sama sopir angkot, hampir 30 menit ngetem tetep saja tak ada penumpang naik.

Mau tak mau akhirnya angkot jalan juga. Baru jalan 10 menit jalanan macet total (weh ternyata ada keluarga mentri yang meninggal). Lepas dari kemacetan, angkot berjalan melewati jalan alternatif. Tapi untung juga buat sang sopir di jalan alternatif ini dia dapet banyak penumpang anak-anak SD yang pulang sekolah (hkhk inget pas sopirnya ngerjain anak-anak SD dengan mengatakan tarip naik jadi 5 ribu gara-gara lewat jalan muter).

Aku turun di SPBU Tugu Soeharto sekitar pukul 10.30, langsung aku kontak Jimmyjangkrik. Tak sampai 5 menit Jimmy sudah muncul, berdua kami berjalan menuju tempat kost si Jimmy.

Di kost Jimmy aku menceritakan rencanaku ke Jakarta. Weh di sini aku dapet saran dari Jimmy, daripada kereta Argo Anggrek yang mahal mendingan naik pesawat saja, tiket pesawat yang murah sekitar 280 ribu. Langsung saja kami buka koran hari ini nyari nomor telpon biro perjalanan. Dasar apes,semua pesawat yang berangkat hari ini sudah penuh. Balik lagi dah ke rencana naik bus, sambil nunggu cewe Jimmy pulang kami onlen di reporo.

Jam 12.30 cewe Jimmy pulang, aku nanya-nanya di mana tempat agen bus terdekat, langsung saja aku dan Jimmy ke luar nyari agen bus, si Jimmy musti nganterin cewenya pulang ke Kudus (duh jadi gak enak sama cewenya Jimmy).

Sebelum ke agen bus Jimmy malah traktir aku makan siang, dia malah tak enak sama aku karena tidak bisa nemenin aku. Weleh harusnya kan aku yang nggak enak (suwun lho Jim atas bantuan dan makan siangnya,sorry udah ngerepotin)


Setelah makan siang Jimmy nganter aku ke daerah Kalibanteng untuk mencari tiket bus. Ternyata harga tiket bus pun masih tinggi, setelah nyari sana-sini akhrnya dapat yang paling murah naik Po.Haryanto eksekutif seharga 210ribu. Dengan berat hati Jimmy meninggalkanku di agen bus karena saat itu juga musti nganterin cewenya pulang ke Kudus.

Di agen bus ini benar-benar menguji kesabaranku menanti. Rencananya bus datang pukul 20.00 tapi waktu masih menunjuk pukul 14.00. Mata ngantuk tapi tak ada tempat untuk tidur, pengen onlen tapi batre sekarat. Setelah agak lama ngobrol sama penjual tiketnya aku akhirnya dikasih tempat di kantor untuk tidur. Tapi tetep saja aku tak bisa tidur, tapi sudah lumayanlah aku bisa nglempengin punggung.

Setelah mandi dan makan satu persatu calon penumpang berdatangan. Sepertinya aku mengalami apa yang dinamakan dejavu. Calon-calon penumpang yang datang sepertinya sudah pernah aku kenal/lihat di suatu tempat. Tapi pada kenyataannya tak satu pun dari mereka yang mengenaliku. Semakin malam yang datang semakin banyak tapi tak ada tanda bus yang ditunggu akan datang. Aku mengalami hal yang kurang mengenakkan di agen bus ini. Aku jadi tahu kelicikan dari bos agen bus ini. Mulai dari tiket yang jualnya ke aku kemahalan 20rb sampai tempatku yang dioper ke bus yang lain karena ada pembeli yang sudah dia kenal.(tetap bus Haryanto tapi diperkirakan paling akhir keberangkatannya). Aku sudah mulai pengen marah apalagi jam sudah setengah sembilan. Calon-calon penumpang pun sudah mulai uring-uringan.

Sekitar jam 21.00 kesabaranku berbuah. Busku yang diperkirakan datang paling akhir malah datang duluan, tanpa permisi aku langsung naek bus tersebut menuju Lebak Bulus. Jalanan malam ini macet banget di Semarang. Bus yang aku tumpangi berjalan merayap. Daripada pusing karena macet aku putuskan tidur saja.

Aku terbangun dengan kepala pening, bus berhenti di Rumah makan (sumpah aku tidak tahu di mana dan tidak mencari tahu sama sekali). Aku cuci muka trus makan malam di rumah makan ini. Untung saja peningku sudah hilang pada saat bus kembali jalan. Setelah menikmati pemandangan malam di Alas Roban aku pun kembali tertidur. ZzzzZZ..zzZzZZZz..

0 coretan kamu:

Posting Komentar