1st Day

Akhirnya kesampaian juga ngepost perjalananku ke Jakarta, postnya aku bagi menjadi beberapa bagian (hkhk gak bakalan muat dah tulisan sepanjang ini aku post lewat Operamini). Kalo poto-potonya mungkin akan aku pasang belakangan saja (hehehe nunggu hasil jepretan temen-temen yang sudah di apload).

Pagi itu terpaksa aku pulang agak telat berhubung ada urusan yang musti aku selesaiin. Mesin absen sidik jari nunjukin waktu 06.15 tertanggal 11 oktober 2008. Langsung saja kupacu sepeda motorku semaksimal mungkin. Menurut info yg aku denger kereta dari Stasiun Tawang (Semarang) ke Jakarta berangkat pukul 08.00. Udah panik banget rasanya karena rencana naik kereta pagi ke Jakarta hampir pasti gagal.

Sampai di rumah dengan kalap aku mandi kemudian sarapan,langsung kusambar tas yang sudah aku siapkan semalem tanpa memeriksa lagi ada yang tertinggal apa kagak. Tujuh kurang sepuluh menit aku kabur dari rumah nyamperin temen minta dianterin ke Terminal Kudus. Harap-harap cemas karena aku belum bikin janji sama dia sebelumnya. Ternyata temenku ada di rumah, tanpa basa-basi aku minta tolong dianterin. Sepanjang jalan menuju terminal aku berharap ada taxi kosong yang mau balik ke Semarang dengan harapan aku bisa nyampe stasiun lebih cepat. Sampai di terminal tak ada taxi sama sekali. Tanpa masuk terminal aku nunggu bus ke Semarang di luar terminal. Bus Patas Nusantara Kudus-Jogja berhenti, tanpa babibu aku nyelonong masuk. Di dalam bus mataku terus memandang jam digital yang ada di depan dengan harapan sebelum jam 8 sudah sampai Semarang. Tapi harapan tinggal harapan, memasuki Sayung Demak jam digital menunjuk angka 08.00. Lemas tapi belum nyerah, kali ini aku berharap kereta terlambat berangkat (hehehe kali aja tertolong budaya ngaret).

Sampai di Terboyo (Semarang) aku langsung loncat turun dari bus pindah ke angkot jurusan Tawang. Setelah sedikit macet di pasar Johar yang rasanya ingin aku kutuki, aku sampai di stasiun Tawang jam 08.30. Aku tanya petugas parkir stasiun ternyata kereta ke Jakarta sudah berangkat (jaahh tumben gak ngaret). Menurut info dari petugas parkir ada kereta eksekutif Argo Anggrek yang berangkat pukul 12.45. Iseng aku masuk ke dalam kereta melihat daftar keberangkatan dan tarifnya. Busyeet kereta Argo Anggrek ke Jakarta 420 ribu. Wekz naik ini mah sama saja bisa berangkat gak bisa pulang (maklum uang saku pas-pasan). Setelah berpikir tenang (diselingi pipis di toilet stasiun) aku putuskan berangkat malam menggunakan bus.

Aku telpon Jimmy Jangkrik mengabarkan diriku yang terdampar di Tawang (untung Jimmy sedang di Semarang). Tapi dia tak bisa jemput karena tak ada motor (dipakai cewenya kerja). Setelah dapet petunjuk menuju kost Jimmy, aku langsung ke luar stasiun mencari buskota ke RS Kariadi. Dengan bantuan penjual kakilima aku dapet petunjuk di mana musti nunggu busnya lewat.

Lama aku menunggu,banyak buskota yang lewat tapi tak satu pun ke Kariadi, beuh mataku sudah sepet ngantuk banget (habis piket malem). Kuputuskan nyari warung kopi sambil menghubungi teman di Jakarta mengabarkan kegagalanku ngejar kereta.

Akhirnya buskota itu pun tiba, perlahan tapi pasti aku tiba di RS Kariadi. Sekarang tinggal nyari angkot ke Sampangan. Eh ada angkot berhenti di depan, langsung saja aku naik 'ke sampangan pak!'.Wekz malu aku mendengar jawaban sopir angkot 'wah yang ini mu ke Johar mas'. Bujug dah ternyata arahnya terbalik, aku langsung turun kemudian nyebrang jalan (aku lihat angkot sampangan ngetem). Kali ini aku gak mau malu, aku nanya dulu sebelum naik hehehe. Yang ini sudah benar ke Sampangan tapi angkotnya masih kosong (cuma aku doank). Untung saja sopirnya agak-agak sedeng hehehe jadi ngobrol gak keruan sama sopir angkot, hampir 30 menit ngetem tetep saja tak ada penumpang naik.

Mau tak mau akhirnya angkot jalan juga. Baru jalan 10 menit jalanan macet total (weh ternyata ada keluarga mentri yang meninggal). Lepas dari kemacetan, angkot berjalan melewati jalan alternatif. Tapi untung juga buat sang sopir di jalan alternatif ini dia dapet banyak penumpang anak-anak SD yang pulang sekolah (hkhk inget pas sopirnya ngerjain anak-anak SD dengan mengatakan tarip naik jadi 5 ribu gara-gara lewat jalan muter).

Aku turun di SPBU Tugu Soeharto sekitar pukul 10.30, langsung aku kontak Jimmyjangkrik. Tak sampai 5 menit Jimmy sudah muncul, berdua kami berjalan menuju tempat kost si Jimmy.

Di kost Jimmy aku menceritakan rencanaku ke Jakarta. Weh di sini aku dapet saran dari Jimmy, daripada kereta Argo Anggrek yang mahal mendingan naik pesawat saja, tiket pesawat yang murah sekitar 280 ribu. Langsung saja kami buka koran hari ini nyari nomor telpon biro perjalanan. Dasar apes,semua pesawat yang berangkat hari ini sudah penuh. Balik lagi dah ke rencana naik bus, sambil nunggu cewe Jimmy pulang kami onlen di reporo.

Jam 12.30 cewe Jimmy pulang, aku nanya-nanya di mana tempat agen bus terdekat, langsung saja aku dan Jimmy ke luar nyari agen bus, si Jimmy musti nganterin cewenya pulang ke Kudus (duh jadi gak enak sama cewenya Jimmy).

Sebelum ke agen bus Jimmy malah traktir aku makan siang, dia malah tak enak sama aku karena tidak bisa nemenin aku. Weleh harusnya kan aku yang nggak enak (suwun lho Jim atas bantuan dan makan siangnya,sorry udah ngerepotin)


Setelah makan siang Jimmy nganter aku ke daerah Kalibanteng untuk mencari tiket bus. Ternyata harga tiket bus pun masih tinggi, setelah nyari sana-sini akhrnya dapat yang paling murah naik Po.Haryanto eksekutif seharga 210ribu. Dengan berat hati Jimmy meninggalkanku di agen bus karena saat itu juga musti nganterin cewenya pulang ke Kudus.

Di agen bus ini benar-benar menguji kesabaranku menanti. Rencananya bus datang pukul 20.00 tapi waktu masih menunjuk pukul 14.00. Mata ngantuk tapi tak ada tempat untuk tidur, pengen onlen tapi batre sekarat. Setelah agak lama ngobrol sama penjual tiketnya aku akhirnya dikasih tempat di kantor untuk tidur. Tapi tetep saja aku tak bisa tidur, tapi sudah lumayanlah aku bisa nglempengin punggung.

Setelah mandi dan makan satu persatu calon penumpang berdatangan. Sepertinya aku mengalami apa yang dinamakan dejavu. Calon-calon penumpang yang datang sepertinya sudah pernah aku kenal/lihat di suatu tempat. Tapi pada kenyataannya tak satu pun dari mereka yang mengenaliku. Semakin malam yang datang semakin banyak tapi tak ada tanda bus yang ditunggu akan datang. Aku mengalami hal yang kurang mengenakkan di agen bus ini. Aku jadi tahu kelicikan dari bos agen bus ini. Mulai dari tiket yang jualnya ke aku kemahalan 20rb sampai tempatku yang dioper ke bus yang lain karena ada pembeli yang sudah dia kenal.(tetap bus Haryanto tapi diperkirakan paling akhir keberangkatannya). Aku sudah mulai pengen marah apalagi jam sudah setengah sembilan. Calon-calon penumpang pun sudah mulai uring-uringan.

Sekitar jam 21.00 kesabaranku berbuah. Busku yang diperkirakan datang paling akhir malah datang duluan, tanpa permisi aku langsung naek bus tersebut menuju Lebak Bulus. Jalanan malam ini macet banget di Semarang. Bus yang aku tumpangi berjalan merayap. Daripada pusing karena macet aku putuskan tidur saja.

Aku terbangun dengan kepala pening, bus berhenti di Rumah makan (sumpah aku tidak tahu di mana dan tidak mencari tahu sama sekali). Aku cuci muka trus makan malam di rumah makan ini. Untung saja peningku sudah hilang pada saat bus kembali jalan. Setelah menikmati pemandangan malam di Alas Roban aku pun kembali tertidur. ZzzzZZ..zzZzZZZz..

2nd Day

Jam 04.00 aku terbangun, melongok ke luar jendela bus, di luar masih gelap. Satu jam kemudian Sagitaa SMS nanyain aku sudah nyampai mana. Beuh bingung juga jawabnya, hehe gak ngerti di daerah mana sih, kayaknya sih di Karawang mau masuk pintu tol. Kendaraan sudah mulai macet. Sekitar jam enam bus sudah meluncur di atas tol Cikampek, Sagitaa pun sudah bersiap jemput ke Lebak Bulus, jam 7an Sagitaa mengabarkan sudah sampai di terminal Lebak Bulus, tak lama kemudian busku sudah masuk ke dalam terminal. Turun dari bus langsung aku telpon Sagitaa untuk konfirm tempat pertemuan, setelah ngerti tempat yang dimaksud aku langsung ngacir ke toilet untuk cucimuka dan gosok gigi. Berjalan kaki aku menuju gang di sebelah kanan pintu terminal. Dan disana kutemukan Sagitaa nangkring di atas Mio putihnya.


Tanpa basa-basi langsung aku dibonceng menuju arah Depok. Wekz jalanan macet banget, akhirnya aku yang pegang kemudi Mionya. Sambil jalan Sagitaa nunjukin arah menuju Limo (katanya gak lengkap kalo aku ke Depok tanpa ngunjungin Limo) . Nurut saja aku ngikutin arah yang dimaksud. Ternyata aku dibawa ke masjid kubah emas, weh tapi kedatanganku kepagian (jam 8an) padahal area baru dibuka jam 10.00. Istirahat bentar menikmati segelas kopi sambil ngobrol tujuan berikutnya (nyari penginapan). Sagitaa nyaranin aku nunggu sampai area masjid dibuka, tapi aku pikir itu tidak perlu karena sempitnya waktu. Yah cuma photo dengan background masjid kubah emas sudah cukuplah buat aku. Karena bingung nyari penginapan yang murah meriah akhirnya kami sepakat untuk nyari penginapan yang direkomendasikan Achot yakni wisma Uli Artha di jalan raya Jakarta-Bogor.

Setelah satu jam lebih muter-muter Depok (lewat rumah Sagitaa juga tapi gak mampir) nyampe juga di penginapan yang dimaksud. Begitu masuk lokasi, aroma ketidakberesan sudah tercium hehehe, tapi aku mah cuek saja. Setelah melihat-lihat kamar yang tersedia, aku memilih kamar A8. Sagitaa langsung pulang setelah aku masuk kamar, karena musti istirahat dan siap-siap untuk acara kopdaran di Plaza Semanggi. Mandi dulu ah biar seger. Eh selesai mandi ada telpon dari Zoriady yang nanyain keberadaanku (hehe gak pecaya kali Zo kalau aku nyampe di Jakarta). Selesai dengan Zo aku langsung kontak Achot kasih kabar, eh ternyata aku diketawain juga setelah bilang nginep di Uli Artha, Achot nanya aku ditawarin poto-poto cewe gak? (Hahahaha kecurigaanku pada waktu masuk penginapan terbukti). Selesai ngobrol sama Achot aku istirahat sebentar.

Jam 13.00 aku bangun (lho Sagitaa kok belum jemput? Padahal acara di Plaza Semanggi jam 14.00). Sambil nunggu Sagitaa aku menghubungi Bulekirey, lagi-lagi aku diprotes Bule karena nginep di Uli Artha (bule says: 'yah kok nginep disitu mas? Ntu kan tempat begituan!') hehehe namanya saja mau ngirit ah, kalo mau nyari hotel yang bonafid bisa-bisa kagak pulang hkhkhk. Pukul 13.30 sagita datang menjemput. Langsung saja berdua meluncur ke Plangi. Sekitar jam 15.00 tiba di Plaza Semanggi (ngaret 1jam hehehe). Sesampainya di Plaza Semanggi kita nyari tempat ketemuannya, setelah menghubungi Michikun ternyata sudah banyak yang ngumpul di Soho. Muter-muter bentar ketemu deh sama tempat yang dimaksud, di sana sudah ada Winky, Doecati, Bligitha, Michikun , Rinjani, Dodyhuang, Pantsu, dan Doniutar. Tak lama kemudian datang Cantika dan Cocholateflava trus disusul sama Zoriady, Jhadoel. Setelah 3jam lebih bikin kehebohan di Soho (sampai mau rubuh karena hebohnya) mendadak ada ide karaokean di Inul Vista. Setelah menunggu Zibarani yang datangnya paling buncit rombongan pengacau ini langsung meluncur ke Inul Vista (minus Dody yang lanjut kerja dan Wingky yang ada acara lain). Kekacauan terus berlanjut mulai dari salah naek lift, bikin pose narsis di camera cctv, sampai disuruh pindah room sama pegawai Inul Vista gara-gara roomnya overload. Masuk Inul Vista suasana semakin bertambah seru, Cantika bergoyang heboh, Rinjani dengan semangat rockernya, Cocholateflava pun tak mau kalah, Pantsu yang jadi wonderwomen di atas meja (ngakak dah gak bakalan lupa). Setelah Dodyhuang nyusul ke karaokean acara dilanjut dengan game,yang kepilih musti nyanyi & joged di atas meja. Bligitha yang dapat kesempatan tampil petama kali langsung menggebrak dengan Mbah Dukun ditambah goyang patah-patahnya yang membikin hysteria membahana. Ziba yang tampil berikutnya menyayikan lagu sunda dengan goyang jaipongnya. Dodyhuang yang dapat tempat ketiga pun tak mau kalah menampilkan goyang erotisnya. Acara terus berlanjut hingga tak terasa waktu sudah menunjuk pukul 21.00, kami pun sepakat menyudahi acara sampai di sini. Setelah sepakat kalo Semarang adalah tempat pertemuan berikutnya kami pun berpisah untuk kembali ke rumah masing-masing. Ada sedikit berita duka di saat kita berpisah, Bligitha dapat kabar kalau adiknya mengalami kecelakaan dan dirawat di RS (semoga cepat sembuh yak buat adiknya Bligitha).

Aku dan Sagitaa tidak langsung pulang, kami nyari makan dulu di Sarinah, hehe dasar aku memang dudul salah ambil jalan melulu jadi muter-muter nggak nyampai-nyampai (navigatornya juga sudah kecapekan dan ngantuk sih). Sampai di Sarinah sudah hampir jam 23.00 setelah makan di Mc D dengan nafsu makan seadanya (capek euy)


Kami langsung pulang menuju Depok. Aku anterin Sagitaa sampai dekat rumahnya, selanjutnya aku naik angkot menuju simpangan Depok (ternyata sampai tengah malam masih banyak angkot bekeliaran). Sampai simpangan aku ganti angkot menuju Uli Artha. Pukul 00.30 aku masuk ke penginapan. 
Setelah minta kunci di resepsionis dan beli air mineral, langsung saja bersih-bersih dan bersiap tidur. Waduh baru tidur sebentar sudah kebangun gara-gara gigitan nyamuk. Onlen di reporo sebentar tapi mata sudah tak tahan, mau beli anti nyamuk tapi males ke luar, akhirnya dipaksain saja tidur dengan kaki dan tangan gatal-gatal.

3rd Day

Cerita aku mulai di pagi hari 13 Oktober 2008, bangun tidur ada telpon dari Doniutar yang mengabarkan kalau Ducati dan Zibarani nginep di rumah Doni. Trus mereka berencana datang ke penginapanku. Langsung saja aku mandi untuk menyambut mereka. Sekitar pukul 8 Doni datang mengantar Ducati, Tak lama kemudian Ziba pun datang. Berempat ngobrol sana-sini sambil kontak temen-temen yang tinggal di deket penginapan (Depok dan sekitarnya).

Bagool yang pertama datang, dia kaget ketemuan di Uli Artha yang memang sudah terkenal miring reputasinya di Depok (hehehe aku mah cuek aja, yang penting ada tempat tidur). Tak lama kemudian datang Puldazz dan Syuja (anak Puldazz). Kemudian Abeereturn pun datang (busyett masih berseragam komplit euy). Karena cuma ada minuman doank, Abee langsung ngajak Ziba belanja makanan di Alfamart. Sagitaa datang pas Abee & Ziba akan berangkat. Tidak lama kemudian datang Achot. Suasana semakin ramai saja. Apalagi kemudian Pantsu datang (dijemput Doniutar). Makanan & minuman sudah komplit (thanks to Abee) , orang-orang gila sudah pada ngumpul hehehe, sibuk ngobrol & poto-poto sampai lemes dah. Oh iya si Bagool pergi jemput TX dan Rahel. Acara makan siang dengan menu nasi padang bungkus pun terasa nikmat diselingi canda dan gosip-gosip seputar reporo (sayang Puldazz tidak ikut makan siang bareng, dia musti cabut duluan untuk kerja). Sekitar pukul 13.30 Bagol, Tx,dan Rahel datang. Acara poto-poto dimulai lagi. Pokoknya seru,seru dan seru hehehe..

Sumpah tidak nyangka bisa ketemu temen-temen reporo dari berbagai kota.
Sekitar jam 14.00 acara dengan terpaksa musti berakhir, si Abee musti kembali ngantor, aku pun sudah harus check out untuk lanjut ke Lebak Bulus nyari tiket bus (untung udah dipesenin Sagitaa by phone). Duh pengen banget menghentikan waktu karena begitu singkatnya pertemuan itu berlangsung. Di depan pagar wisma Uli Artha kami semua berpisah...
Semoga bertemu lagi di lain waktu dan kesempatan.

Aku pacu Mio putih Sagitaa membelah jalanan Depok menuju terminal Lebak Bulus. Perasaan tak ingin berpisah terus menerus mengganggu benakku. Tapi kenyataan memang musti aku terima, bahwa perpisahan itu sudah tak mungkin aku tolak lagi. Rencananya Sagitaa mau nitipin Mio miliknya di mal deket terminal Lebak Bulus biar aman (soalna gak tahu tempat parkir di terminalnya hehehe). Pukul 15.45 kami sampai di mal yang dituju. Langsung saja aku arahkan mionya ke basement, sesampainya di depan loket parkir mendadak sagitaa inget kalau tidak membawa STNK, duh tidak jadi nitip dah. Yaudah dengan terpaksa kami menuju pintu keluar. Lagi-lagi kejadian tak terduga muncul,Sagitaa kebelet pipis hehehe.. Aku pun nunggu di parkiran selagi Sagitaa nyari toilet.

Tepat pukul 16.00 kami ke luar dari mal menuju terminal Lebak Bulus, sesampainya di pintu masuk terminal aku bingung mau parkir Mio di mana, setelah nanya tukang gorengan ketemu juga dah parkirannya.

Masuk ke dalam terminal sekitar pukul 16.15, langsung saja calo-calo terminal merubung ''mau kemana mas?'' 

Dengan jawaban singkat ''udah pesen tiket bang'' mereka pun mundur teratur. Di dalam terminal kami ketemu petugas dari Po.Nusantara (bus yg aku pesen), kami langsung diantar menuju loketnya. Setelah membayar tiket Jakarta-Kudus kelas SE seharga 175 ribu (dapat nomer bangku 6b) aku dan Sagitaa masuk ke parkiran bus untuk mencari bus yang nanti pukul 17.00 akan membawaku kembali pulang. Udara panas Jakarta membuat aku dan Sagitaa langsung saja naik ke atas bus (ngadem nyari ac euy). Berdua kami ngobrol di dalam bus, tak lupa Sagitaa terus berpesan agar aku hati-hati dalam perjalanan pulang.
Pukul 16.45 aku pun turun dari bus mengantar Sagitaa ke luar dari terminal, setelah aku kembali ke bus tepat pukul 17.00 bus pun mulai bergerak meninggalkan terminal. Sambil onlen di reporo aku nikmati sore Jakarta dari atas Nusantara. Pas adzan maghrib bus masuk ke terminal Rawamangun untuk ngambil penumpang (rencana berangkat dari Rawamangun pukul 18.30). Aku turun dari bus untuk bersih-bersih dan lain-lain. Berangkat dari Rawamangun aku coba ngepost acara kopdaran di forum reporoindo. Berhubung kepala sudah pening dan perut mulai mual terpaksa aku ngepost di hari pertama saja. Pilihan buatku saat itu cuma tidur hehehe maklum sudah bener-bener capek plus pening, langsung saja aku ambil selimut, pasang posisi terbaik untuk tidur.

'Pak makan malam dulu' kondektur membangunkanku pada pukul 21.30. Dengan malas aku turun dari bus, wah ternyata terdampar di sebuah rumah makan di Pamanukan. Yang aku tuju pertama kali ya toilet hehehe, baru deh aku lanjut sedikit makan malem buat ngeganjel perut biar tidak masuk angin.

Selepas hisapan terakhir sebatang LAku, bus bersiap berangkat. Begitu masuk bus lagi-lagi yang aku mau cuma tidur hehehe males yak. Selimut aku pasang dari ujung kaki sampai ubun-ubun hkhk sumpah jadi seperti bungkusan warna ijo kali. ZzzZzZZ..zzZz..

04.30 seperti biasa alarm hapeku kumandangkan Adzan bangunkanku. Wekz ternyata hari sudah berganti, clingak-clinguk memastikan posisi, ternyata sudah sampai Demak (sudah mau nyampe nih).
Tak lama kemudian(05.30) bus memasuki garasi Nusantara di karanganyar (perbatasan Demak-Kudus). 


Aku menunggu semua penumpang turun dulu baru aku beranjak dari tempat tidur eh tempat dudukku.

Di bawah, armada travel dari Nusantara sudah bersiap mengantar para penumpang bus untuk kembali ke rumah masing-masing. Aku pun bertanya pada sopir mobil mana yang searah dengan rumahku. Ternyata di mobil cuma ada 1 penumpang yang searah denganku. 

Pukul 05.45 mobil berangkat ke luar garasi Nusantara, setelah teman jalanku turun di depan pintu rumah tujuan, aku langsung minta sopirnya untuk menuju rumahku, hehehe tapi aku gak langsung minta turun di rumah, aku turun di ujung gang jauh dari rumah hkhk sekalian olahraga jalan pagi. 


Jam 06.15 aku masuk kerumah beres-beres bawaan dan SMS Sagita kalau aku sudah sampai dengan selamat sambil mempersiapkan diri menjalani aktivitasku seperti biasa.

Ketupat Sebagai Karya dan Ungkapan Budaya

Masyarakat Jawa tentu mengenal jenis makanan yang disebut ketupat, yang dalam bahasa Jawa disebut kupat. Ketupat adalah makanan yang dibuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman pucuk daun kelapa (janur) berbentuk kantong kemudian ditanak dan dimakan sebagai pengganti nasi. Ketupat ini dapat kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari. Dijajakan di pinggir-pinggir jalan, di pasar dengan sayurnya dan dikenal dengan sebutan ketupat sayur. Kenyataannya ketupat sayur ini banyak digemari. Biasanya untuk sarapan pagi.

Untuk membuat ketupat, terutama anyamannya, diperlukan daya kreatif tersendiri agar dapat menghasilkan kantong-kantong anyaman jamur yang memiliki nilai seni. Memang tidak semua orang dapat membuat ketupat dan untuk dapat membuat perlu belajar menganyamnya. Dilihat dari segi bentuknya ketupat mempunyai nilai seni. Dengan demikian ketupat menjadi karya seni budaya seorang. Apabila dilihat dari maknanya ketupat merupakan ungkapan budaya yang mengandung falsafah hidup yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, yaitu sebagai dasar dalam bersikap dan bertindak.

Nama dan Bentuk Ketupat
Sebagaimana telah disebutkan bahwa untuk dapat menghasilkan kantong-kantong anyaman janur, seseorang perlu belajar dan mengetahui cara membuatnya. Dari kreatifitas seseorang menganyam janur untuk dibuat kantong ketupat, dapat diketahui nama-nama katupat antara lain: ketupat sinta, ketupat jago, ketupat luwar, ketupat sido lungguh, ketupat bawang, ketupat khodok, ketupat bata dan sebagainya. Kurang jelas asal-usul nama ketupat tersebut, tetapi diperkirakan nama-nama tersebut erat kaitannya dengan bentuk ketupat.

Sebagai contoh: ketupat bata bentuknya persegi empat seperti bentuk bata merah; ketupat bawang bentuknya seperti bawang dan sebagainya.

Diperkirakan pula nama tersebut erat hubungannya dengan maknanya.

Sebagai contoh: ketupat luwar sebagai simbol tercapainya harapan dan karenanya bentuk ketupat luwar sangat sederhana dan mudah dilepas. Di sini diberikan makna lepasnya/tercapainya apa yang dicita-citakan.

Perlu diketahui pula bahwa untuk membuat bentuk-bentuk ketupat diperlukan jumlah janur yang berbeda. Untuk membuat ketupat bawang diperlukan dua helai janur, ketupat luwar dua helai janur, ketupat jago delapan helai janur, ketupat sinta empat helai janur dan sebagainya.

Untuk mengetahui lebih dalam mengenai nama dan bentuk ketupat memang perlu waktu dan pendalaman tersendiri. Pendalaman tentang ketupat perlu dilanjutkan dan dikembangkan sebagai karya seni menganyam janur.
Makna Ketupat
Ketupat sebagai karya budaya dikaitkan dengan suatu hasil dengan beraneka macam bentuk. Sedang ketupat sebagai ungkapan budaya adalah merupakan simbol yang di dalamnya terkandung makna dan pesan tentang kebaikan. Sebagai ungkapan budaya, ketupat antara lain memberikan makna dan pesan:

1. Ketupat terdiri dari beras/nasi yang dibungkus daun kelapa muda dan janur (bahasa Jawa). Beras/nasi adalah simbol nafsu dunia. Sedangkan Janur yang dalam budaya Jawa Jarwa dhosok adalah “Jatining nur” (sejatinya nur), yaitu hati nurani. Jadi ketupat dimaksudkan sebagai lambang nafsu dan hati nurani, yang artinya agar nafsu dunia dapat ditutupi oleh hati nurani.

Pesan yang terkandung di dalamnya adalah agar seseorang dapat mengendalikan diri, yaitu menutupi nafsu-nafsunya dengan hati nurani (dilambangkan nasi bungkus dengan janur). Sebagaimana disadari bahwa di dalam diri manusia terdapat nafsu-nafsu buruk yang dapat mempermainkan manusia itu sendiri.

Di samping itu Tuhan memberikan kepada manusia hati nurani, yaitu suara hati nurani/suara kecil yang memberikan kepada manusia peringatan-peringatan apabila akan melakukan hal-hal yang menyimpang dari garis keutamaan. Oleh karena itu hati nurani merupakan kunci kewaspadaan manusia terhadap perilakunya sehari-hari di dunia ini, hati nurani sebagai alat kendali nafsu-nafsu manusia.

Dalam hubungan ini apabila manusia tidak dapat mengendalikan nafsu-nafsu dunianya, maka seseorang akan menampakkan sifat ego dan tindak yang dilakukannya mencerminkan nafsu angkara. Ini berarti cahaya Tuhan berkurang di dalam menyinari hati manusia. Seharusnya seseorang mampu memerangi nafsu angkaranya sehingga tercapai pengendalian diri yang serasi.

Demikian makna yang terkandung dalam ketupat, yaitu memberikan pesan agar seseorang mampu mengendalikan diri dari nafsu-nafsu buruknya.

2. Ketupat yang dalam bahasa Sunda juga disebut kupat, dimaksudkan agar seseorang jangan suka ngupat, yaitu membicarakan hal-hal buruk pada orang lain karena akan membangkitkan amarah.

Dengan lambang ketupat ini dipesankan agar seseorang dapat menghindarkan diri dari tindak ngupat tersebut.

3. Ketupat, kupat dalam budaya Jawa sebagai “Jarwa dhosok” juga berarti “ngaku lepat”. Dalam hal ini terkandung pesan agar seseorang segera mengakui kesalahannya apabila berbuat salah.

Tindakan “ngaku lepat” ini telah menjadi kebiasaan atau tradisi pada tanggal satu Syawal, yaitu setelah melaksanakan ibadah puasa dengan menyediakan hidangan ketupat berikut lauk pauknya di rumah-rumah, sehingga disebut dengan ketupat lebaran. Semua ini sebagai simbol pengakuan dosa baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa maupun terhadap sesama manusia.

4. Seiring dengan makna di atas dan erat sekali hubungannya dengan tanggal satu syawal, kupat adalah “jarwo dhosok” dari “laku papat” (empat tindakan). Budaya menyediakan hindangan ketupat pada tanggal satu syawal terkandung pesan agar seseorang melakukan tindakan yang empat tersebut, yaitu: lebaran, luberan, leburan dan laburan.

Lebaran, dari kata lebar yang berarti selesai. Ini dimaksudkan bahwa satu syawal adalah tanda selesainya menjalani puasa, maka satu syawal biasa disebut dengan Lebaran. Di hari Lebaran itu diharuskan untuk makan, tidak puasa lagi, puasanya sudah selesai.

Luberan, terkandung arti melimpah ibarat air dalam tempayan, isinya melimpah sehingga tumpah ke bawah. Ini simbol yang memberikan pesan untuk memberikan sebagian hartanya kepada fakir miskin, yaitu sadaqoh dengan ikhlas seperti tumpahnya/lubernya air dari tempayan tersebut.

Hal ini dapat dilihat dalam tradisi Islam, yaitu memberikan sadaqoh atau zakat fitrah pada satu syawal.

Leburan, seiring dengan pengertian ngaku “lepat”, yaitu saling mengaku berasal dan saling meminta maaf dalam budaya Jawa pelaksanaan Leburan dalam satu syawal nampak pada ucapan dari seseorang yang lebih rendah status sosialnya kepada seseorang yang lebih tinggi status sosialnya atau dari anak kepada orang tua, yaitu ucapan “Mugi segeda lebur ing dinten menika”. Maksudnya bahwa semua kesalahan dapat lepas dan dimaafkan pada hari tersebut.

Laburan. Labur (kapur) adalah bahan untuk memutihkan dinding. Dalam hal ini sebagai simbol yang memberikan pesan untuk senantiasa menjaga kebersihan diri lahir dan batin. Jadi setelah melaksanakan leburan (saling maaf memaafkan) dipesankan untuk menjaga sikap dan tindak yang baik, sehingga dapat mencerminkan budi pekerti yang baik pula.

Demikian makna yang terkandung dalam ketupat yang dihidangkan yang makan dapat ingat akan makna dan pesan yang ada dan dapat melaksanakan pesan tersebut dalam wujud sikap dan tindak sebagai pengamalan budi luhur khususnya pada satu syawal dan dalam kehidupan sehari-hari.

5. Ketupat pada saat tertentu digunakan sebagai pelengkap sesaji dalam upacara daur hidup, yaitu untuk pelengkap sesaji selamatan empat bulan orang mengandung. Adapun jenis ketupat yang digunakan adalah ketupat jago, ketupat sinta, ketupat sido lungguh dan ketupat luwar. Belum ditemukan sumber yang mengungkap makna yang ada di dalamnya dan kiranya perlu dikembangkan penelitian lebih lanjut. Dalam upaya memberikan suatu yang baik, maka ketupat sebagai pelengkap sesaji selamatan empat bulan kehamilan diberikan makna sebagai berikut:
- Empat jenis ketupat digunakan, diperkirakan ada hubungannya dengan masa kehamilan empat bulan.
- Ketupat jago, dikandung maksud agar kelak jabang bayi yang akan lahir apabila laki-laki diharapkan dapat menjadi jago, yaitu mempunyai watak kesatriya dan mempunyai kedudukan yang tinggi.
- Ketupat sinta. Sinta adalah simbol wanita cantik dan berbudi luhur. Dalam hubungan ini diharapkan apabila anak yang akan lahir adalah wanita, memiliki paras yang cantik dan berbudi luhur.
- Ketupat sido lungguh. Ada keyakinan bahwa pada kehamilan empat bulan Tuhan Yang Maha Esa meniupkan roh pada si jabang bayi, dengan demikian dalam kehamilan empat bulan jabang bayi yang di dalam kandungan menjadi sempurna lahir batin, dalam arti sebagai manusia kecil yang telah diberi unsur jiwa dan raga. Demikian pula jabang bayi yang diberikan kedudukan (sido lungguh) sebagai manusia kecil.
- Ketupat luwar. Ketupat luwar diberikan arti lepas atau keluar. Simbol ini memberikan pesan agar kelak jabang bayi dapat lahir dengan mudah dan selamat. Juga simbol ini memberikan pesan “ngeluwari ujar”, yaitu lepasnya suatu harapan. Dalam hubungan dengan kehamilan berarti tercapainya harapan orang tua yang menginginkan anak melalui proses kehamilan. Dalam hal lain ketupat luwar digunakan sebagai sarana upacara yang terkandung maksud telah tercapainya suatu yang diinginkan.
- Dari uraian yang sangat terbatas tentang ketupat tersebut dapat diketahui sekaligus memberikan gambaran bahwa perlu adanya pengembangan lebih lanjut tentang ketupat, baik sebagai karya budaya yang dapat menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai seni, maupun sebagai ungkapan budaya yang merupakan simbol yang memiliki makna dan pesan baik.

Demikianlah ketupat perlu dimasyarakatkan dalam rangka menambah wawasan khasanah budaya bangsa.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.