Bangkit Bersama

Saat ini bangsaku tercinta tengah merayakan peringatan 100 tahun kebangkitan nasional. Pemerintah membikin program Visit Indonesia 2008 100 years awakening. Televisi berulang kali menayangkan iklan yang membangkitkan rasa kebangsaan. Film kuno berjudul Nagabonar pun diputar ulang di bioskop-bioskop untuk menggugah rasa nasionalisme yang mulai pudar dari jiwa orang-orang Indonesia. Bahkan ada beberapa yang malu menjadi warga negara Indonesia.

Tahun ini diperingati sebagai 100 tahun kebangkitan nasional,merujuk didirikannya organisasi Boedhi Oetomo (BO) pada tanggal 20 mei 1908. Pada saat masih SD aku bertanya pada guruku kenapa berdirinya BO diperingati sebagai hari kebangkitan nasional? Guru SDku yang baik hati namun lugu menjawab karena BO adalah organisasi pertama yang berdiri di Indonesia. Kemudian aku bertanya kenapa bukan tanggal berdirinya Syarikat Dagang Islam (SDI) yang diperingati, bukankah SDI berdiri tahun 1905? Guruku nan lugu menjawab karena orientasi SDI lebih ke perdagangan dan agama,bukan berorientasi pada PERSATUAN dan NASIONALISME. Aku pun manggut-manggut terdiam, namun hatiku tak puas dan berontak mengatakan ada ketidakadilan di sini.
Ugh...berbekal pengertian dari guruku itu aku pun menganggap 20 Mei diperingati sebagai hari kebangkitan nasional. Mungkinkah orang-orang pandai di negeri ini juga mendapat pelajaran yang sama denganku waktu SD? Hingga akhirnya semua orang sepakat bahwa tonggak kebangkitan nasional adalah tanggal berdirinya Boedhi Oetomo.

Entah mengapa tiap aku belajar tentang sejarah Indonesia, aku selalu merasa bukan belajar history,melainkan belajar his-story. Semua serba kabur dan sering ada dua pandangan di dalamnya.
Misalnya hilangnya 7 kata dalam mukadimah UUD45, tentang naskah teks otentik Supersemar yang konon gak pernah ada, dan masih banyak lagi sejarah yang selalu menjadi pertanyaan di hati kecilku. Hehe tiap membaca sejarah Indonesia aku selalu berkata lirih ''ugghh.. dongeng mana sih yang benar? Membingungkan!!''

Berikut ini sebuah penuturan lain tentang Boedhi Oetomo dan Sarekat Dagang Islam.. Dan mengapa tanggal 20 Mei diragukan sebagai hari kebangkitan nasional. (Sumber: eramuslim.com)
 

Organisasi Boedhi Oetomo (BO) sama sekali tidak pantas dijadikan tonggak kebangkitan nasional. Karena BO tidak pernah membahas kebangsaan dan nasionalisme, mendukung penjajahan Belanda atas Indonesia, anti agama, dan bahkan sejumlah tokohnya ternyata anggota Freemasonry. Ini semua mengecewakan dua pendiri BO sendiri yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya akhirnya hengkang dari BO.
Tiga tahun sebelum BO dibentuk, Haji Samanhudi dan kawan- kawan mendirikan Syarikat Islam (SI, awalnya Syarikat Dagang Islam, SDI) di Solo pada tanggal 16 Oktober 1905. "Ini merupakan organisasi Islam yang terpanjang dan tertua umurnya dari semua organisasi massa di tanah air Indonesia, " tulis KH. Firdaus AN.
Berbeda dengan BO yang hanya memperjuangkan nasib orang Jawa dan Madura- juga hanya menerima keanggotaan orang Jawa dan Madura, sehingga para pengurusnya pun hanya terdiri dari orang-orang Jawa dan Madura-sifat SI lebih nasionalis. Keanggotaan SI terbuka bagi semua rakyat Indonesia yang mayoritas Islam. Sebab itu, susunan para pengurusnya pun terdiri dari berbagai macam suku seperti: Haji Samanhudi dan HOS. Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan Timur, Agus Salim dan Abdoel Moeis dari Sumatera Barat, dan AM. Sangaji dari Maluku.
Guna mengetahui perbandingan antara kedua organisasi tersebut-SI dan BO- maka di bawah ini dipaparkan perbandingan antara keduanya:

Tujuan:
- SI bertujuan Islam Raya dan Indonesia Raya,
- BO bertujuan menggalang kerjasama guna memajukan Jawa- Madura (Anggaran Dasar BO Pasal 2).

Sifat:
- SI bersifat nasional untuk seluruh bangsa Indonesia,
- BO besifat kesukuan yang sempit, terbatas hanya Jawa-Madura,

Bahasa:
- SI berbahasa Indonesia, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Indonesia,
- BO berbahasa Belanda, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Belanda

Sikap Terhadap Belanda:
- SI bersikap non- koperatif dan anti terhadap penjajahan kolonial Belanda,
- BO bersikap menggalang kerjasama dengan penjajah Belanda karena sebagian besar tokoh- tokohnya terdiri dari kaum priyayi pegawai pemerintah kolonial Belanda,

Sikap Terhadap Agama:
- SI membela Islam dan memperjuangkan kebenarannya,
- BO bersikap anti Islam dan anti Arab (dibenarkna oleh sejarawan Hamid Algadrie dan Dr. Radjiman)

Perjuangan Kemerdekaan:
- SI memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mengantar bangsa ini melewati pintu gerbang kemerdekaan,
- BO tidak pernah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan telah membubarkan diri tahun 1935, sebab itu tidak mengantarkan bangsa ini melewati pintu gerbang kemerdekaan,

Korban Perjuangan:
- Anggota SI berdesak- desakan masuk penjara, ditembak mati oleh Belanda, dan banyak anggotanya yang dibuang ke Digul, Irian Barat,
- Anggota BO tidak ada satu pun yang masuk penjara, apalagi ditembak dan dibuang ke Digul,

Kerakyatan:
- SI bersifat kerakyatan dan kebangsaan,
- BO bersifat feodal dan keningratan,

Melawan Arus:
- SI berjuang melawan arus penjajahan,
- BO menurutkan kemauan arus penjajahan,
Kelahiran:
- SI (SDI) lahir 3 tahun sebelum BO yakni 16 Oktober 1905,
- BO baru lahir pada 20 Mei 1908,
Seharusnya 16 Oktober
Hari Kebangkitan Nasional yang sejak tahun 1948 terlanjur diperingati setiap tanggal 20 Mei sepanjang tahun.

Dalam kebodohanku aku berpikir...
''apa yang telah aku berikan untuk Indonesiaku tercinta?''

1 komentar:

  1. disemua pelajaran sejarah (gak hanya indonesia,tp negara lain, bahkan sejarah agama :s), keknya memang kita mempelajari "his story"...

    BalasHapus